Angsa Tak Bertuan

Angsa Tak Bertuan
BAB 1


__ADS_3

Hembusan angin bertiup lembut mengibaskan jilbabku yang terurai sepanjang dada,sebagai khodrat seorang wanita yang hukumnya wajib menutup aurat. Aku yang sedang duduk diatas kursi panjang sendirian di siang hari di bawah pohon yang rindang,sedang terpaku menatap ke beberapa pasang angsa yang sedang berenang di atas air danau yang begitu tampak sejuk dan dinikmati oleh angsa-angsa itu dibawah teriknya matahari. Sambil menikmati pemandangan itu aku memegang sebuah foto lawas yaitu poto semasa sekolah dengan menggunakan seragam sekolah berwarna putih abu-abu, dimana didalam poto itu terlihat jelas tiga orang remaja putri disebuah sekolah SMA dengan tersenyum serta baju putih yang terdapat berbagai tulisan serta berbagai coretan tinta sebagai pertanda tamat atau kelulusan telah tiba. Tiba-tiba mataku tertuju pada se ekor angsa yang berdiam diri ditepi danau dengan menatap angsa yang lainnya, seolah-olah pertanda bahwa angsa itu sedang menunggu pasangan nya sebagai tuan pemilik hati yang tak kunjung datang hanya sekedar memanggil,bercanda seperti angsa lainnya. Tetapi harapan itu tampak punah,pudar seiring dengan menghilangnya senja yang semakin kelam. Karena tuan sang pemilik hati tak kunjung datang membawa kabar gembira seperti yang diharapkan.

__ADS_1


Mengingatkan aku pada kisah yang beberapa tahun silam,dimana tiga sahabat remaja putri yang duduk dibangku SMA,tiga sahabat yang selalu ada didalam suka maupun duka,tiga sahabat yang mempunyai karakter yang berbeda,tiga sahabat yang saling mengerti,yang saling berbagi cerita,yang saling mensupport satu dengan yang lainnya,yang terkadang bisa menjadi saudara,menjadi kawan dan bisa juga menjadi lawan. Ya...itulah kami yang sekarang terpisah dengan menjalani kehidupan masing-masing dengan visi,misi dan tujuan hidup yang berbeda. Aku yang saat ini bekerja sebagai salah satu karyawati disalah satu perusahaan yang sibuk dengan sejuta pekerjaan,namun aku juga sibuk dengan usaha sampingan sebagai pengisi waktu luang disaat waktu renggang yang ku pergunakan untuk mendapatkan pundi-pundi uang sebagai uang saku tambahan,mungkin karena kesibukan yang aku jalani sehingga membuat aku menjadi seorang wanita yang tidak seberuntung orang lain termasuk kedua sahabatku itu yaitu Adiba dan Echa. Walaupun aku sibuk dengan berbagai aktifitas yang kujalani tetap saja hatiku terasa kosong, hampa, yang terkadang membutuhkan sandaran hanya untuk berbagi cerita disaat aku lelah. Namun itu semua tidak ku dapatkan bukan karena aku memilah-milah dengan mencari pria yang lebih segalanya dari aku, tetapi aku lebih nyaman dengan kesendirian yang saat ini masih menyelimuti dengan sisa cinta yang ku punya terhadap seorang pria, yang sampai saat ini masih mengisi relung hatiku bahkan tiada tersisa ruang kosong untuk pria lainnya.

__ADS_1


Diantara kami bertiga echa merupakan gadis yang sangat berada dibanding dengan aku dan adiba yang berasal dari keluarga sederhana. Namun, kisah cintanya tak seberuntung Adiba, karena dia sampai saat ini masih betah dengan kehidupan percintaan nya yaitu cinta lamanya dari SMA dulu sampai saat ini, tetapi mereka masih belum berkeinginan untuk membawa hubungan percintaan nya ke jenjang lebih serius tepatnya seperti pernikahan. Di akibatkan karena kesibukan masing-masing yang mereka jalani, ya seperti yang aku ketahui kalau Echa sekarang sedang menjalani dan menikmati pekerjaannya sebagai disainer ternama dan terkenal di negara sendiri bahkan sekarang meramba ke manca negara, dan dia juga memiliki beberapa butik ternama baik di dalam maupun diluar kota. Begitu juga dengan pasangannya yang berprofesi sebagai dokter, sehingga membuat kedua sejoli ini masih belum yakin untuk menikah. Dan aku seorang gadis yang memiliki kulit hitam manis, dengan mata yang agak sipit, memakai kerudung untuk menutupi aurat ku sebagai perempuan. Memang diantara kami bertiga hanya aku yang memakai kerudung dari kedua sahabatku itu. Ayahku bekerja sebagai petani  sementara ibuku membantu ayahku dikebun, namun ibuku juga seorang penjahit yang menerima  jahitan pakaian dirumah, tak sedikit juga para tetanggaku menitipkan pakaiannya kerumah ada yang sekedar hanya mengecilkan baju ada pula yang menjahit baju dengan berbagai model yang di inginkan dan aku memiliki seorang adik perempuan yang bernama Keyla, yang masih bersekolah di Sekolah Menengah Pertama. Walaupun keadaan kami seperti ini, namun kami tetap bersyukur atas karunia yang Allah berikan karena memiliki keluarga yang sangat harmonis, saling mendukung dengan dipenuhi rasa cinta dan sayang yang tiada pernah putus, dan yang terpenting kami masih bisa mendapatkan rezeki yang halal tanpa meminta-minta, seperti kata ayah, selagi kita masih mau dan giat berusaha maka semuanya akan ada jalan. Yaaaaaa sebagaimana pepatah mengatakan, banyak jalan menuju roma, maka semuanya akan dipermudah asalkan kita terus berusaha.

__ADS_1


__ADS_2