
"Echa,gimana?" ucapku menanyakan hasil dari perlombaan dan menemui kedua sahabatku itu yang menunggu ku lama sejak tadi,karena kesibukan menjadi panitia sehingga membuatku tidak mempunyai waktu untuk melihat pertunjukan terbaik dari Echa.
"Alhamdulillah aku dapat juara 1"jawab Echa dengan agak sedikit kecewa
"Bagus dong,selamat ya kamu itu memang yang terbaik tapi juara 1 ko' sedih?"
"Untuk apa dapat juara tapi kamu gak lihat karya aku,yang terpenting bagi aku cuman kalian. Aku gak perduli mau dapat juara berapa" jawabnya dengan sedih
"loo ko' gitu sih,ma'af ya tadi aku sibuk sampai-sampai gak liat karya kamu. please ma'afin ya" bujuk ku dengan berharap agar mendapatkan ma'af dari Echa.
"Ya sudah kali ini aku ma'afin tapi kamu harus ikut kami makan ke cafe. Ingat gak boleh nolak" ancamnya
__ADS_1
"Ya udah deh",kemudian kami beranjak dan pergi makan ke cafe untuk merayakan kemenangan Echa. Sesampainya di cafe kami memesan makanan dan kemudian pelayan itu pergi dengan membawa menu yang kami inginkan,sambil menunggu pesanan itu sampai Echa terlihat sangat gelisah dengan sesekali melihat kearah ponselnya dan berkali kali menelpon seseorang yang entah siapa. Setelah berkali-kali dia menelpon dan akhirnya telpon itu tersambung juga,
"halo kak,kenapa sih kok dari tadi gak diangkat-angkat?" tanya Echa dengan sangat emosi serta raut wajah yang kesal dan setelah itu dia terdiam pertanda sedang mendengarkan penjelasan seseorang yang diseberang sana."Ya tapikan aku pengen kakak disini juga,udah nungguin lhoo" suaranya kembali terdengar dan lalu terdiam lagi,"Yaudah deh kalau gitu",lanjutnya dan kemudian menutup telponnya.
Dengan sedikit emosi yang hampir saja meluap tetapi harus ditahan karena melihat keadaan di tengah keramaian,Echa menaruh ponselnya dan bibirnya sedikit manyun menandakan bahwa dia sangat sedang kesal.
"Ada apa Cha?,kenapa emosi begitu?" tanyaku agar dia mau bercerita dan meringankan sedikit bebannya.
"Emang siapa sih?" tanyaku penasaran
"Pak dokter,pacarnya Echa itu" jawab Adiba, sontak saja aku kaget. (hah dokter?,sudah sejauh inikah hubunganku dengan sahabatku sehingga aku tidak tau bahwa dia berpacaran dengan dokter) gumamku dalam hati.
__ADS_1
"Haahh dokter?" tanyaku dengan terkejut,
"Iya Dila,kamu itu ketinggalan berita makanya jangan terlalu sibuk jadi wanita karir" ucap Adiba menjelaskan.
"Iya ma'af deh,yaudah jangan marah lagi. Lagian dia tadi kan udah ngawanin kamu melihat karya kamu" jelasku mencoba membujuknya.
" Ya tapikan aku pengen dia disini bersama kita"
"Echa,kamu harus mengerti dengan posisinya sebagai dokter. Dia harus siaga melayani banyak orang memangnya kamu mau orang yang sakit diluaran sana tidak dapat tertolong sementara mereka lebih membutuhkan dia daripada kamu?" aku menjelaskan agar Echa mau mengerti dengan keadaan kekasihnya itu dan tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
"Ya juga ya Dila,yaudah deh kita makan yuk aku lapar" kata Echa yang lalu melihat kearah makanan yang baru saja sampai kemudian kami makan dengan begitu lahap sambil sesekali bercerita dan saling melempar tawa.
__ADS_1