
aku terus berusaha dan berdo'a dengan sepenuh hati dan dengan airmata yang tiada henti aku terus berteriak meminta tolong berharap ada yang mendengarkan ku,usahaku tidak sia sia karena tiba tiba pintu gudang itu terbuka dan aku melihat seorang guru datang dan membuka kan pintu itu.
"Ya Allah nak,ngapain kamu digudang ini?" tanya guru itu dengan terkejut karena mendapatiku yang duduk dilantai gudang dengan seragam sekolah yang sudah kotor akibat terkena debu debu yang bertebaran didalam ruangan tersebut
"aku dikurung disini bu,aku takut" jawabku sambil menangis
"kamu dila kan,siswi dari SMA Melati?"
"ya bu"
"ayo ayo kita keluar dari sini".
kemudian ibu itu memeluk ku sambil membawaku keluar dari gudang itu menuju ke ruang UKS sekolah dan setelah itu membawaku ke kantor untuk menyelidiki tentang kasus ini.
"siapa yang melakukan ini nak?" tanya kepala sekolah,namun aku hanya terdiam
"baiklah kalau kamu diam begini,semua ini tidak akan selesai lebih baik kita melihat cctv saja"
lalu kepala sekolah dan beserta guru melihat hasil rekaman cctv dan betapa terkejutnya mereka ketika melihat hasil rekaman itu
"apa,jadi pelakunya lisa?,bu cepat panggil lisa kemari" titah kepalah sekolah kepada seorang guru yang ternyata guru itu merupakan pembina osis karena lisa adalah salah satu anggota osis.tak lama kemudian lisa datang memenuhi panggilan kepala sekolah,setelah melakukan penyelidikan kemudian kepala sekolah beserta guru guru itu meminta ma'af padaku karena kejadian yang tidak menyenangkan ini.
"gue kecewa ya sama lo lis,bisa bisanya lo ngelakuin hal yang keji begini,lo buat malu sekolah kita" papar azzam,
"ma'af zam,aku khilaf aku begini karena aku cemburu liat kamu dekat sama dila"
"perbuatanmu itu melewati batas,tingkahmu menunjukan bahwa kamu bukan seperti seorang pelajar. kamu menyakiti orang lain,kan aku sudah bilang perasaan itu gak bisa dipaksain. kalau begini aku tidak mau punya teman sepertimu"
"ma'af zam,aku sadar sekarang aku salah. jangan benci padaku,aku sekarang sudah mendapatkan balasannya,aku di skor dari sekolah dan sekarang kamu menjauhiku"
__ADS_1
"itu karena perbuatanmu sendiri lis,karena kau telah menanamnya maka kau harus memanen nya,kau harus siap dengan segala resiko yang telah kau perbuat".
"ma'afkan aku zam,azzaaaamm" teriak lisa sambil menangis pilu,namun azzam terus berlalu tidak memperdulikannya.
lalu azzam dan rian menemui dila kerumahnya yang masih dalam keadaan shock karena peristiwa itu
"assalamualaikum" ucap azzam memberi salam
"waalaikumsalam,eh ada nak azzam dan rian. ayo masuk" jawab ibu
"dila ada bu?"
"ada,silahkan masuk"
"baik bu"
"dilaa,ni ada azzam dan rian"
"dilaa,kamu baik baik aja?"tanya azzam
"alhamdulillah baik ka',makasih udah repot repot datang kesini"
"kami gak merasa direpotin kok"sambung rian
"echa dan adiba udah lama disini?"tanya rian,namun pertanyaan rian tidak dihiraukan oleh kedua sahabat ku ini. mereka memandang rian dan azzam dengan tatapan sinis
"diba,echa tuuu kalian ditanyain lo ma ka' rian" ucapku namun adiba hanya terdiam begitupun dengan echa.
"dilaa,kami datang kesini mau meminta ma'af atas kejadian kemarin yang menimpamu disekolah" ucap azzam dengan rasa bersalah
__ADS_1
"baguslah kalau kalian sadar" jawab adiba dengan tiba tiba
"huuss diba apaan sih,kok gitu?" tanya ku heran
"kenapa baru sekarang minta ma'af?" tanya echa
"ya kan gak papa cha,lagian aku juga udah baik-baik aja kok" jawabku
"baik-baik gimana? kamu begini karna Lisa siswi dari sekolah mereka ini. apa begini cara mereka memperlakukan siswa lain?,katanya sekolah hebat,sekolah paling unggul dari yang lain tapi begini kelakuan siswanya" ucap Adiba dengan penuh emosi
"Adiba sudah,jangan memponis begitu. Ini cuman kesalahan dari seorang siswa saja gak semua siswa begitu,ini masalah pribadi siswa bukan masalah sekolahnya" aku mencoba menjelaskan untuk menenangkan kedua sahabatku ini agar permasalahan ini tidak berlarut. Aku paham jika mereka bersikap seperti itu karena mereka tidak terima jika aku disakiti.
"iyaa masalah pribadi karena Lisa mencintaimu kan ka'?" tanya Echa."lihat akibat ulah temanmu itu ka' dia nekat menyakiti sahabatku" ungkap Echa
"Tapi aku tidak mencintainya Cha,aku hanya mencintai kamu" jelas ka' Azzam seketika membuat Echa terdiam
"Aku tidak bisa terima dengan ini semua,Lisa harus menerima akibatnya" potong Adiba dengan tiba-tiba
"jangan Diba kamu mau ngapain?"tanyaku
"bukankah aku sudah memperingatinya untuk tidak menyakitimu tapi dia menantangku dengan membuatmu begini,ini semua sudah diluar batas Dila sudah kelewatan dan aku tidak bisa mema'afkannya" ucap Diba dengan sangat geram seakan-akan jika Lisa berada didepannya mungkin dia akan memberinya pelajaran.
"Diba kamu tenang dulu,jangan berbuat gegabah aku tidak mau kamu kenapa-kenapa". halang ka' Rian yang mencoba menenangkan kekasihnya itu
"kenapa ka'? jangan coba-coba menghalangiku,jangan mentang-mentang dia siswa dari sekolah kalian teruskalian membelanya?"
"bukan begitu Diba,nanti yang ada masalah ini tambah rumit. Lisa itu anak orang kaya dan dia bisa ngelakuin apa saja yang dia mau. aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu padamu"
"terus kenapa kalau dia anak orang kaya,aku tidak takut"
__ADS_1
"Diba,sebaiknya kamu tenang dulu istighfar Diba. kita tidak perlu melakukan hal apapun lagian dia sudah mendapatkan hukuman atas perbuatannya,dia sudah di skor dari sekolah itu dan aku tidak akan ketemu dia lagi selama aku disana. jadi kamu tenang ya" aku berusaha menenangkan sahabat ku yang satu ini yang sangat dikuasai oleh emosi karena bisa-bisa dia menjemput Lisa dan tidak segan dia akan melayangkan satu pukulan kepada siapapun yang menyakiti orang yang disayanginya.
Setelah Adiba dan Echa tenang dan padam dari emosinya,kemudian kami saling bercerita,ke empat orang ini menghiburku dengan berbagai cerita dan tingkah lucu mereka sehingga aku merasa jauh lebih baik dari sebelumnya dan setelah aku merasa baik aku kembali ke sekolah melanjutkan kegiatan pertukaran pelajar sampai acara tersebut berakhir dan kembali ke sekolah semula.karena melihat prestasiku yang berkembang pesat guru-guru di SMA Bintang sering menyuruhku datang kesana,mereka menggap ku sebagai salah satu bagian dari SMA tersebut dan aku bangga dengan pencapaian yang aku raih sehingga membuatku terus belajar untuk meraih cita-cita yang aku inginkan.