Angsa Tak Bertuan

Angsa Tak Bertuan
BAB 2


__ADS_3

" Hai Dila" terdengar suara dari kejauhan yang memanggil namaku, di saat aku menoleh ternyata suara itu berasal dari Echa,sembari melambaikan tangan kanan nya dengan senyuman yang indah itu menambah kecantikan sang primadona sekolah yang mendekatiku dan kemudian berdiri disamping ku, sementara aku yang berdiri disamping motor dengan dikendarai oleh seorang lelaki paruh baya.


"Hai ayah" katanya dengan melemparkan sebuah senyuman dan mencium punggung tangan ayah ku.


"Hai juga Echa, gimana kabarmu sehat nak?" jawab ayah.


"Alhamdulillah sehat ayah, ayah dan ibu sehat?" tanyanya kembali.


"Alhamdulillah sehat?", jawab ayah sambil melihat-lihat ke sekeliling kami seperti sedang mencari sesuatu.


"Ada apa yah?" tanya ku penasaran.


"Kenapa hanya berdua saja, Adiba kemana?".


"Ooo Adiba, kirain ayah mencari siapa. Adiba belum datang ayah palingan sebentar lagi" sahut Echa.


"Iya yah, mungkin masih diperjalanan" sambung ku.


"Oohh ya sudah kalau begitu ayah pulang dulu, belajar yang rajin dan fokus ya, kalian harus jadi anak hebat, anak yang pintar, ingat carilah ilmu dengan ikhlas maka Insya Allah kalian akan memetik hasilnya kelak, kalian akan memperoleh apa yang kalian inginkan asalkan kuncinya ikhlas dan bersungguh-sungguh". Nasihat ayah kepada kami berdua.


"Siap ayah," jawab Echa dengan semangat dan menaruh tangannya ke kepala seperti sedang hormat disaat upacara bendera.


"Insya Allah ayah, kami akan membuat ayah bangga, do'akan kami ya ayah" pinta ku kepada ayah.


"Selalu nak, ayah dan ibu selalu mendo'akan yang terbaik untuk anak-anak ayah" kata ayah sambil tersenyum. "ya sudah ayah pulang dulu, Echa sampaikan salam ayah kepada Surya" sambung ayah.


"Baik ayah" jawab Echa sambil tersenyum.


kemudian ayah menghidupkan motornya dan berlalu pergi meninggalkan aku dan Echa yang masih berdiri didepan pintu gerbang sekolah sambil melihat ke arah ayah sampai ia menghilang. Begitulah Echa dengan ayah ku yang begitu akrab sehingga dia sudah menganggap ayahku seperti orang tuanya sendiri dan begitu juga dengan Adiba.


***


Selain kami yang bersahabat ternyata orang tua kami juga bersahabat dari semenjak mereka sekolah dulu sehingga hubungan keluarga kami bertambah erat. Tetapi Echa dan Adiba sangat dekat dengan keluargaku mungkin karena orangtua ku lebih bisa memahami dan mengerti serta sifat yang bersahaja sehingga membuat kedua sahabatku itu merasa lebih nyaman untuk menceritakan segala hal kepada orangtua ku.

__ADS_1


Lain halnya dengan orangtua Echa yang jarang sekali mempunyai waktu luang, karena kesibukan urusan pekerjaan sehingga Echa sering merasa kesepian dan kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya.


Lain juga halnya dengan Adiba yang di didik dengan sedikit keras namun tak jarang juga orang tua Adiba memaksakan kehendaknya kepada Adiba hanya karena alasan agar apa yang orangtua nya alami tidak dialami lagi oleh sang anak, Adiba harus sukses dan berhasil dalam mencapai cita-citanya begitu juga dengan kedua adiknya, sehingga membuat Adiba agak sedikit tomboy dan lebih berani daripada aku dan Echa.


"Hei" suara Adiba mengagetkan kami berdua. "liat apaan sih serius amat" sambungnya sambil mengikuti gerak mata kami.


"Astagfirullahal azim", jawabku sambil mengelus dada, karena terkejut mendengar suara Adiba yang begitu keras.


"Ni anak ya satu, bukannya ngucapin salam ke' atau apa ke', ini datang-datang buat jantung hampir copot saja" lirik Echa kesal.


"Cieeee ngambek nie, lagian serius amat sih emang lagi liatin apaan sih?".


"Liatin ayah" jawabku dengan lembut.


"Hahh maksudnya Ayah Roy?" tanya nya kaget.


"Ya iyalah Adiba, ayah Roy datang ngantarin ni si muslimah yang satu ini" jelas Echa sambil menunjuk ke arah ku dan tersenyum.


"Siapa suruh lama datang, weeekk" jawab Echa meledek sambil menjulurkan lidahnya ke arah Adiba.


"Eh sudah sudah, ayuk masuk diliatin orang lo kita ini". Potong ku untuk menengahi perdebatan kedua sahabat ku ini.


"Tapi kan Dila liat tu dia duluan" rengek Adiba


"sudah ayuk masuk, nanti pintu gerbangnya di tutup", kemudian aku menarik tangan keduanya dan kami berlalu masuk.


Beginilah tingkah kedua sahabat ku ini yang tidak pernah akur, namun jika tanpa mereka hari-hariku terasa sunyi.


Sesampainya didalam kelas kami duduk dibangku masing-masing dan tak lama kemudian bel berbunyi pertanda akan dimulainya pembelajaran. Selama pelajaran berlangsung kami belajar dengan sungguh-sungguh dan fokus karena berkeinginan untuk membuat orangtua bangga, menjadi anak yang sukses dan bisa mengangkat derajat orang tua.


Tak terasa bel berbunyi dan waktu istirahat tiba.


"Lelah juga ya Dila, aku capek" kata Echa mengeluh.

__ADS_1


"Eits gak boleh ngeluh dong, nikmatin aja setiap prosesnya pasti bisa ko' Cha yang penting ikhlas dan Bismillah aja" jawabku menyemangatinya, maklum lah Echa hidup serba berkecukupan sehingga membuat dia malas untuk melakukan apa-apa sendirian bahkan untuk mengerjakan tugas sekolah aja dia cukup dengan membayar seseorang untuk mengerjakan tugasnya.


"Emang dasar anak manja, ya gini orang terlanjur kaya sedikit-sedikit mengeluh" ledek Adiba.


"Huuusss Diba jangan gitu ah" kata ku mengigatkan.


Echa memang butuh bimbingan karena selama ini dia kurang pengawasan dari orang tua sehingga dia tidak pernah serius untuk belajar, dia datang ke sekolah juga hanya karena ingin menghilangkan rasa bosan didalam rumah dan berjumpa dengan ku serta Adiba, sehingga kami harus sekuat tenaga untuk menyemangati dan membuatnya bangkit agar dia bersungguh-sungguh dalam belajar.


"Udahlah Dila kita bayar orang aja yuk untuk ngerjain tugas itu, aku yang bayar deh" bujuk Echa dengan sejuta rayuannya.


"Echa kamu gak pengen melihat hasil kerja keras kamu sendiri, apa kamu gak ingat sama pesan ayah kalau kita harus bisa membuat orang tua kita bangga dengan hasil kerja keras kita sendiri? usaha dan hasil keringat sendiri, bukan selalu mengandalkan tenaga orang lain" nasehatku padanya.


"Ia dengar itu, lagian kamu pasti bisa Echa kamu punya kemampuan hanya saja kamu gak yakin, harus PD dong" jawab Adiba menyemangati.


"Tumben bijak" ledek Echa.


"Yeee aku kan memang bijak cuman kamu aja yang gak sadar".


"Ngomong-ngomong masalah bayar membayar eemm,, Rchaaaaa" lirik Adiba sambil mengedip kan kedua mata.


"Spa kok ngedip-ngedipkan mata gitu, pasti ada maunya" kata Echa menebak.


"Lapeeerrrrrrrr" sambung Adiba merengek.


"Yee,,,,,, yaudh yuk ke kantin" ajak Echa.


"Nah gitu dong, baik banget sih si primadona sekolah" kata Adiba sambil berjalan menuju ke kantin.


Sesampainya di kantin kami duduk dan menyantap makanan yang kami pesan kepada mbok Parmi. Mbok Parmi merupakan penjual yang sudah lama di kantin sekolah kami.


"Silahkan dimakan neng, selamat menikmati" kata mbok Parmi dengan senyuman sambil menaruh tiga mangkok mi dan minuman teh dingin ke atas meja.


"Makasih mbok" jawabku dengan senyuman. Lau dia tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan kami.

__ADS_1


__ADS_2