
Ketika kami sedang menikmati makanan kami tiba-tiba datang empat orang siswi dengan begitu sombongnya.
"Eh Ris, liat tu si orang miskin selalu makan dibayarin dengan itu tu juragan" cetus seorang siswi kepada tiga orang temannya dengan ketus sambil menunjukan ke arah kami dengan menggunakan bibirnya. Ya dia Rena cewek paling arrogant disekolah yang selalu membuat masalah dan selalu berambisi untuk mendapatkan apa yang di inginkannya.
"Ia itu Ren gak malu banget selalu mengharap uluran tangan dari orang lain". Jawab seorang temannya yang bernama Eva.
"Maklumlah orang miskin ya gitu hidupnya, selalu mengharap dari orang" jawab temannya yang lain sambil mereka tertawa.
"Heh bisa diem gak lo kriting" jawab Adiba dengan tiba-tiba sambil berdiri dan menunjuk Rena yang berambut kriting.
"Bisa melawan juga lo ya" balas Rena.
"Lo kira gue takut, lo pikir lo siapa berani ngomong seenak jidat lo" bantah Adiba.
"Sudah-sudah, malu tau diliatin orang" bujuk ku sambil melihat ke sekeliling dan memegang lengan Adiba.
"Habisnya dia duluan sih" sambung Echa.
"Echaaa," lirik ku pada Echa berharap dia tidak bersuara agar keributan tidak semakin bergulir.
"Gak bisa Dila, ni orang makin didiemin makin ngelunjak" jawab Adiba emosi.
"Ya ni ngomongnya sembarangan, gak pernah dikumur tu mulut kali" sambung Echa.
"Enak saja, tapi memang benarkan kalian cuman manfa'atin Echa saja, biar makan di traktir gitu. Makanya jangan miskin jadi orang" jawab Rena.
"Ya Allah Ren, ngomong tu hati-hati, jangan suka nyakitin hati orang. Walaupun kami miskin tidak seperti kalian, kami tetap bersyukur dengan apa yang kami punya dan kami tidak nyusahin hidup orang apalagi minta-minta," jawab ku dengan nada yang sedikit kecewa.
"Halaah gak usah ceramah deh Dila, tapi nyatanya benar kan" jawab Eva.
"Heh jangan buat gue emosi dan melayangkan satu tanda di pipi kalian ya, lebih baik kalian pergi dari sini sebelum kesabaran ku habis" timpal Adiba, yang mengangkat tangan kanannya bertanda bahwa ia bersiap untuk menampar Rena.
"Emang ini kantin punya nenek moyang lo ya, ya terserah kita dong kita mau pergi atau nggak toh kita makan disini juga bayar" sambung Eva sambil melipat tangannya di atas perut.
"Iya ni kita juga mau makan disini" saut temannya yang lain.
"Makan tapi carik masalah" jawab Echa.
"Diba, Echa, udah ah yang sabar ngadapin orang kayak mereka lebih baik kita pergi"pinta ku karena tak ingin masalah ini berlarut-larut.
"Tuuhh liat kawan lo tau diri juga dia" potong Rena.
"Hei..hei sudah-sudah jangan berisik disini. Daripada ribut-ribut lebih baik neng Rena pergi dari sini bawa rombongan nya sekalian" perintah mbok Parmi yang sedari tadi mendengar percakapan kami.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, yuukk teman-teman kita pergi dari sini lagian gak level makan 1 kantin dengan orang miskin ntar kita juga ketularan miskin lagi" sambung Rena kepada kawan-kawannya. Kemudian kami terdiam dan saling menatap satu sama lainnya.
Bel berbunyi pertanda waktu istirahat telah usaiĀ dan kami semua meninggalkan kantin sekolah setelah membayar pesanan, sambil menunggu guru mata pelajaran masuk kedalam kelas kami bercerita membahas tentang pelajran sekolah dan tiba-tiba bel berbunyi sehingga kami saling menatap dengan penuh heran dan penasaran ada apa gerangan sehingga waktu pulang lebih cepat dari biasanya, sementara kami masih bertanya tanya ternyata para guru ada pertemuan entah membahas soal apa kami juga tidak ada yang mengetahui.
sesampainya dirumah
"Assalamualaikum, ayah ibu" sapa ku sambil mengetuk ngetuk pintu.
"Waalaikumsalam" jawab seseorang dari dalam rumah.
"Key, ayah dan ibu kemana?" tanya ku kepada anak kecil yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama itu, dia itu Keyla adik ku satu satunya.
"Biasa ka', pergi ke kebun" jawabnya.
"Oo,,ya sudah, kamu kok dirumah emang gak sekolah?".
"Enggak ka', guru-guru ada acara makanya kami libur".
"Oo gitu, ya sudah kita masak yuk" ajak ku kepada adik perempuan ku itu.
"Ayuk kak" jawabnya dengan penuh semangat.
Setelah kami selesai masak dan membersihkan rumah tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam" jawab kami dengan kompak. Kemudian kami membuka pintu dan melihat kedua orang tua kami pulang dari kebun dan kami mencium punggung tangan mereka sambil melemparkan senyum.
"Lo anak-anak ayah kok pada dirumah, emang pada gak sekolah?" tanya ayah.
"Gak yah, harini kami cepat pulang, gara-gara guru disekolah ada suatu kegiatan rapat tapi gak tau rapat apa" jawab ku.
"Terus Keyla?" tanya ibu.
"Keyla juga bu" jawabnya.
"Hah Keyla juga, jadi Keyla satu sekolah sama kak Dila, sejak kapan?" jawab ibu sambil tertawa kecil.
"Gak gitu bu, maksud Keyla, guru-guru disekolah pada pergi katanya ada kegiatan makanya kami disuruh pulang" jelas Keyla dengan muka memerah.
"Mungkin ada sesuatu yang akan dilaksanakan disekolah" tebak ayah.
"Bisa saja yah" sambung ibu.
"Apapun yang ingin dilaksanakan disekolah yang penting ayah dan ibu makan dulu, karena Dila udah masak jadi kita gak perlu rapat dulukan untuk makan siang". Jawabku sembari kami tertawa.
__ADS_1
Setelah kami selesai makan,
"Yah, Keyla mau cerita" kata adikku.
"Ya sudah kalau mau cerita tapi ayah mandi dulu ya" lalu ayah beranjak dari tempat duduknya.
Setelah selesai mandi, ayah duduk di ruang tamu.
"Keyla" panggil ayah.
"Iya yah" jawab adikku yang langsung keluar dari kamarnya dan duduk di dekat ayah.
"Mau cerita apa tadi?"
"Ini yah, tadi waktu di sekolah Keyla terpilih untuk mengikuti lomba pidato di sekolah".
"Bagus dong" kata ibuku yang tiba-tiba datang dengan membawa segelas teh untuk ayah dan meletakkannya diatas meja, lalu ibu pun ikut duduk disamping ayah.
"Tapikan bu".
"Tapi apa?" jawabku yang membawakan sedikit makanan ringan.
"Keyla kan gak berani, Keyla takut nanti ditertawakan orang" jawab Keyla.
"Apa yang harus ditakutkan?" jawab ayahku sambil mengambil teh dan menyeruputnya.
"Berdiri di depan umum" jawab Keyla.
"Berdiri didepan umum kok takut, ya tinggal berdiri aja gak usah pidato" ledekku sambil tertawa kecil.
"Ayah liat kak Dila" kata adikku merengek.
"Semasih kamu tidak berbuat salah tidak perlu khawatir, tidak semua orang terpilih untuk menjadi sesuatu yang istimewa" jawab ayah.
"Berarti Keyla istimewa dong yah" jawab Keyla nampak bersemangat.
"Iya dong, makanya Keyla terpilih dan diberi kepercayaan sama guru di sekolah untuk mewakili sekolah, kamu seharusnya bersyukur. Lagian kan ada ayah, ibu dan Ka' Dila yang ngajarin kamu" sahut ayah.
"iya Key,yang penting kamu mau berusaha, semangat dan optimis" jawabku.
"Makasih ya kak, ayah dan ibu" kata adikku sambil memelukku.
"Sama-sama adik kakak yang cantik" jawabku.
__ADS_1
Begitulah keluarga kecilku yang selalu bercengkrama, ayah dan ibuku selalu menyempatkan diri untuk mendengarkan cerita anak-anaknya dan memberikan dukungan bahkan terkadang nasehat yang selalu diberikan.