Antara Cinta Dan Dusta 2

Antara Cinta Dan Dusta 2
ACDD 2-2


__ADS_3

→Di Rumah


Cahaya telah sampai dirumahnya. Kedatangan disambut oleh Omanya yaitu Resti.


"Oma" Kata Cahaya


Cahaya segera menghampiri Omanya dan memeluk Omanya.


"Oma, Aya kangen banget sama Oma" Kata Cahaya


"Oma juga kangen banget sama Aya" Kata Resti


"Omanya saja yang dikangenin, Opa gak dikangenin?" Kata Bram


Cahaya segera menghampiri Opanya dan memeluk Opanya juga


"Aya juga kangen banget sama Opa" kata Cahaya


"Opa juga kangen banget sama cucu Opa yang paling cantik ini" Kata Bram" Sini duduk disamping Opa" Lanjutnya.


Cahaya pun duduk disamping Opanya.


"Opa dan Oma punya sesuatu buat Aya" Kata Bram


"Apa itu, Opa?" Kata Cahaya


Bram mengambil sebuah tas belanja disampingnya dan menyerahkannya kepada Cahaya.


"Ini apa, Opa?" Kata Cahaya


"Aya buka saja sendiri" Kata Bram


Lalu Cahaya pun membuka tas belanja itu dan dia sangat senang ketika mengetahui isi tas belanja itu adalah Boneka teddy bear, kesukaannya.



"Wah, boneka makasih ya Opa,Oma" Kata Cahaya memeluk opanya


"Sama-sama, sayang" Kata Bram dan Resti


"Aya suka gak sama bonekanya?" Kata Resti


"Suka banget, Oma boneka bagus banget" Kata Cahaya


"Ya sudah, sekarang Cahaya ganti baju, cuci tangan, cuci kaki terus setelah itu makan siang ya, Oma sudah masakin makanan kesukaan kamu" Kata Resti


"Oke Oma, kalau begitu Aya ke kamar dulu ya Oma,Opa " Kata Cahaya


"Iya, sayang" Kata Bram dan Resti.


Cahaya segera berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai 2. Selama 10 menit, Cahaya pun menuju ke meja makan.


"Nah, sekarang Cahaya makan ya" Kata Resti


Cahaya pun memakan makan siang yang dibuat oleh Omanya. Setelah makan siang, Cahaya bermain bersama Omanya,Opanya dan Karin.


"Oma,Opa tadi disekolah, Aya disuruh menggambar tentang  keluarga" Kata Cahaya


"Oh ya, mana sini, Oma mau lihat" Kata Resti


Cahaya segera berdiri dan mengambil buku gambarnya untuk memperlihatkan gambarannya.

__ADS_1


"Ini, Oma" Kata Cahaya


Resti pun mengambil buku gambar cucunya itu dan melihat hasil gambaran cucunya itu.


"Bagaimana, Oma, Opa,Mbak Karin bagus kan gambarnya?" Kata Cahaya


"Bagus, sayang bagus banget, cucu Oma ini memang pintar" Kata Resti


"Iya, gambarnya sangat bagus, cucu opa ini memang pintar" Kata Bram


"Gambar bagus, Non Aya memang pintar" Kata Karin


Tiba-tiba wajah Cahaya menjadi murung.


"Aya, kenapa koq wajahnya murung?" Kata Resti


"Aya sedih, Oma" Kata Cahaya


"Sedih, kenapa? Ayo, beritahu Oma,Opa,dan Mbak Karin?" Kata Resti


"Aya mau banget punya keluarga yang lengkap, ada Mamah, ada Papah. Aya iri sama teman-teman Aya yang mempunyai seorang Ibu" Kata Cahaya" Kenapa sih, Oma Mamahnya Aya harus pergi meninggalkan Aya" Lanjutnya


Resti dan Bram sangat sedih mendengar perkataan dari cucunya. Resti segera memeluk cucunya itu.


"Sudah ya, Aya jangan sedih lagi" Kata Resti" Aya tau meskipun Mamah Aya gak ada disini tapi dia akan selalu dihatinya Aya, kan?" Lanjutnya


Cahaya pun mengangguk mendengar ucapan dari Omanya.


"Sekarang, Aya tidur siang ya" Kata Resti


"Iya, Oma" Kata Cahaya


Lalu Cahaya segera berjalan menuju kamarnya diikuti oleh Karin.


"Kasihan sekali ya, Mi cucu kita itu sejak kecil dia sama sekali tidak pernah merasa nya kasih sayang seorang ibu" Kata Bram


"Iya, Pi Mami juga kasihan sama Aya" Kata Resti" Maka dari itu, Mami selalu menjodohkan Jovan dengan anak sahabat Mami agar Aya bisa mendapatkan kasih sayang seorang ibu" Lanjutnya.


"Ya sudah, kita tunggu saja dia untuk membahas masalah perjodohan ini" Kata Bram


"Iya, Pi" Kata Resti


Mereka pun melanjutkan obrolan mereka sambil menunggu kedatangan Jovan.


→Kantor Jovan


Saat ini, Jovan sedang mengistirahatkan dirinya dengan menyandarkan tubuhnya ke kursi kerjanya karena seharian ini dia banyak mengerjakan pekerjaannya. Sambil istirahat, dia pun melamun. Dia sedang memikirkan istrinya yang pergi meninggalkan dirinya dan juga anaknya.


"Nayla kenapa kamu harus pergi meninggalkan aku dan juga Cahaya, anak kita" Kata Jovan dalam hatinya


Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangannya dan mengagetkan dirinya.


"Woy" Kata orang itu


"Eh, loe Leon" Kata Jovan


Leon? Dia adalah sepupu Jovan, keponakan dari Maminya Jovan.


"Kenapa loe, gue lihat tadi loe ngelamun?" Kata Leon" Apa loe masih mikirin istri loe itu?" lanjutnya


Jovan hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaan dari Leon.

__ADS_1


"Ayolah, loe harus move on lagian masih banyak cewek cantik diluaran sana" Kata Leon


"Tidak ada yang seperti istri gue" Kata Jovan


"Oke, istri loe itu adalah yang terbaik" Kata Leon" Oh ya, gimana kabar keponakan gue yang cantik itu?" Lanjutnya


"Dia baik" Kata Jovan" Oh ya, kapan loe balik dari London?" Lanjutnya


"Baru kemarin" Kata Leon


"Ya udah, nanti loe main aja ke rumah gue, pasti Cahaya senang banget lihat loe datang" Kata Jovan


"Oke, nanti gue akan kesana untuk menemui keponakan gue yang cantik itu" Kata Leon.


Tiba-tiba Ferisha masuk ke dalam ruang kerja Jovan. Melihat Ferisha, membuat Leon langsung kagum.


"Permisi, Pak siang ini kita ada meeting penting dengan perusahaan Hedrison" Kata Ferisha


"Baik, terimakasih" Kata Jovan


"Sama-sama, Pak" Kata Ferisha" Kalau begitu, saya permisi dulu" Lanjutnya


Ferisha pun keluar meninggalkan ruang kerja Jovan.


"Eh, itu tadi siapa?" Kata Leon


"Dia sekretaris gue yang baru" Kata Jovan


"Dia cantik juga ya" Kata Leon


"Biasa saja" Kata Jovan


"Biasa aja gimana? Dia itu cantik banget, bro" Kata Leon


"Udah ah, gue mau meeting dulu kita lanjutin obrolan kita nanti dirumah gue" Kata Jovan


"Iya" Kata Leon


Jovan keluar meninggalkan ruang kerjanya untuk meeting sementara Leon pergi untuk mendekati Ferisha.


"Hello, cantik" Sapa Leon


"Hello, Pak" Jawab Ferisha


"Oh ya, kenalin aku Leon, sepupunya Jovan" Kata Leon


"Saya Ferisha" Kata Ferisha" Jadi Bapak sepupunya Pak Jovan?" Lanjutnya


"Iya, tapi jangan panggil Pak dong panggil saja Leon biar lebih akrab" Kata Leon


"Iya, Pak eh maksudnya Leon" Kata Ferisha


"Kalau gitu aku pergi dulu ya" Kata Leon" Bye, cantik" Lanjutnya


"Bye" Kata Ferisha


Leon pun pergi meninggalkan meja kerja Ferisha.


"Sepupunya saja tertarik sama aku, kenapa dia gak? Bagaimana caranya aku mendekati dia? Oh ya, dia kan punya anak? Apa sebaiknya aku dekati saja anak? Oke aku akan lakukan itu" Kata Ferisha dalam hatinya.


~Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2