
...(Keesokan Harinya) ...
Jovan telah berada di meja makan bersama Resti dan Leon.
"Oh, ya Karin apa Cahaya sudah bangun?" Kata Jovan
"Belum, Tuan saya sudah berusaha untuk membangunkan dia tapi dia gak mau bangun" Kata Karin
"Ya sudah, biar saya saja yang membangunkan dia" Kata Jovan
Jovan segera pergi menuju kamar Cahaya yang berada di lantai 2. Sampai di kamar Cahaya, Jovan melihat anaknya yang masih tidur. Dia segera membangunkan anaknya.
"Sayang, ayo bangun sudah pagi kamu kan harus sekolah" Kata Jovan
Namun tidak ada jawaban dari Cahaya. Jovan hanya menghela nafasnya berat. Tiba-tiba Karin pun masuk ke dalam kamar Cahaya dan membangunkan Cahaya.
"Non Aya, ayo bangun kan Non Aya harus sekolah" Kata Karin" Kalau Non Aya seperti ini, Mbak yakin kalau Mamah Non Aya sedih lihat Non Aya seperti ini" Lanjutnya
Mendengar perkataan Karin, membuat Cahaya bangun dari tidurnya.
"Aya mau sekolah soalnya Aya gak mau bikin Mamah sedih" Kata Cahaya
Cahaya segera pergi ke kamar mandi.
"Makasih ya, Karin berkat kamu Cahaya mau untuk sekolah" Kata Jovan
"Sama-sama, Tuan lagian ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai pengasuhnya Non Aya" Kata Karin
"Kalau begitu, saya ke meja makan dulu nanti kalau Aya sudah siap, kamu suruh dia sarapan ke bawah" Kata Jovan
"Baik, Tuan" Kata Karin
Jovan segera turun ke bawah untuk sarapan pagi.
"Oh ya, Cahayanya mana, Jovan?" Kata Resti
"Dia sedang mandi mungkin sebentar lagi dia akan kesini" Kata Jovan.
Tak lama kemudian, Cahaya pun turun bersama Karin. Mereka menuju ke meja makan.
"Selamat pagi keponakan Uncle yang cantik" Sapa Leon
Namun Cahaya hanya diam saja. Dia tidak menyapa siapapun, dia langsung memakan sarapan paginya.
"Ayo, sayang kita segera berangkat" Kata Jovan
"Aya mau berangkat ke sekolahnya sama Mbak Karin"kata Cahaya
Cahaya segera berlari menghampiri Karin.
"Ayo, Mbak kita pergi sekarang" Kata Cahaya
"Tapi... " Kata Karin
"Sudah, Karin kamu antarkan saja Cahaya sepertinya dia masih marah sama saya" Kata Jovan
Jovan pun mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan menyerahkannya kepada Cahaya.
"Ini, untuk bayar taksi" Kata Jovan
"Udah, loe simpan aja uangnya biar gue yang antar mereka" Kata Leon" Aya mau kan kalau Uncle yang anterin Aya sama Mbak Karin ke sekolah?" Lanjutnya.
"Mau, Uncle" Kata Cahaya
"Ya sudah, ayo" Kata Uncle
Mereka segera meninggalkan meja makan untuk menuju keluar rumah. Sampai diluar rumah, mereka segera masuk ke mobil. Leon melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah.
→Di Sekolah
Karin dan Leon telah mengantar Cahaya ke sekolah. Setelah berpamitan kepada Karin dan Leon, Cahaya segera berjalan menuju kelasnya.
→Dalam mobil.
"Oh ya, kenapa Cahaya bisa marah sama Jovan?" Kata Leon
"Mungkin ini karena kejadian kemarin malam, kak" Kata Karin
"Kejadian apa?" Kata Leon
"Jadi kemarin malam, Nyonya besar ingin menjodohkan tuan Jovan terus Non Aya tidak menginginkan perjodohan itu, katanya dia tidak mau punya Ibu Tiri" Kata Karin
"Kenapa dia bisa bilang begitu?" Kata Leon
"Dia bilang kalau Ibu tiri itu jahat dan dia juga gak mau posisi Mamahnya tergantikan" Kata Karin
"Tapi Papahnya melakukan ini semua demi dia, dan menurut ku Nediva itu adalah wanita yang baik" Kata Leon
"Darimana Kakak tau soal itu?" Kata Karin
"Ya, aku lihat dari fotonya dia sepertinya gadis yang baik" Kata Leon
"Kenapa, Kakak bisa berpikiran kalau dia itu baik?" Kata Karin
"Karena dia cantik dan semua gadis cantik pasti hatinya Baik" Kata Leon
"Kak, tidak semua gadis cantik hatinya baik, bisa saja hanya wajahnya yang cantik tapi hatinya tidak" Kata Karin
"Iya juga sih, kamu benar tapi ada seorang gadis yang cantik dan juga hatinya sangat baik" Kata Leon
"Siapa, Kak?" Kata Karin
__ADS_1
"Kamu" Kata Leon
Karin pun tersenyum mendengar perkataan dari Leon.
→Di Rumah Sakit.
Sebelum berangkat ke kantor, Anika menyiapkan obat untuk Bayu. Dan Bayu segera meminum obat itu.
"Oh ya, Nika kapan aku diperbolehkan pulang?" Kata Bayu
"Kata Dokter kamu boleh pulang besok" Kata Anika
"Syukurlah, kalau begitu soalnya aku sudah gak betah disini" Kata Bayu" Lagian aku juga kangen banget sama Keysha" Lanjutnya
"Nanti aku akan bawa Keysha kesini untuk jenguk kamu" Kata Anika
Bayu pun tersenyum mendengar perkataan dari Anika. Tak lama kemudian Ibu Vina pun datang menghampiri mereka.
"karena Mamah udah datang Mas, aku berangkat ke kantor dulu ya" Kata Anika
"Iya, kamu hati-hati ya" Kata Bayu
"Iya, Mas" Kata Anika
Anika segera keluar dari kamar rawat Bayu.
"Kita beruntung bisa memiliki Anika didalam kehidupan kita, dia bisa menjadi istri yang baik untuk kamu dan ibu yang baik untuk Keysha" Kata Ibu Vina
"Iya, Mamah benar aku sangat beruntung bisa mencintai wanita seperti Anika" Kata Bayu
→Di Kantor Jovan.
Jovan hanya untuk diam melamun. Dia masih memikirkan tentang anaknya yang masih sangat marah dengannya.
"Apa sebaiknya aku batalkan saja perjodohan itu, karena aku gak mau bikin anak ku sedih" Kata Jovan
→Di Sekolah
Cahaya terlihat murung, tidak seperti biasanya. Melihat Cahaya yang murung, Keysha pun menghampiri Cahaya.
"Aya kamu kenapa, koq daritadi murung aja?" Kata Keysha
"Aku lagi sedih, Key" Kata Cahaya
"Sedih kenapa?" Kata Keysha
"Papah aku akan menikah lagi" Kata Cahaya
"Itu artinya kamu bakal punya Ibu tiri dong? Ibu Tiri kan jahat" Kata Keysha
"Makanya, aku gak mau punya Ibu tiri" Kata Cahaya
"Kamu yang sabar ya, Aya tapi aku berharap semoga Papah kamu gak jadi untuk menikah lagi"kata Keysha
Sementara di rumah, Resti sedang mengobrol bersama Nediva. Dia segera mengundang Nediva untuk lebih dekat dengan Cucunya.
"Sebaiknya kamu harus dekat juga dengan Cahaya, soalnya sepertinya Cahaya gak mau kamu jadi ibunya dia" Kata Resti
"Iya, Tante nanti aku akan berusaha untuk dekati Cahaya" Kata Nediva.
"Oh ya, sebentar lagi Cahaya pulang dari sekolah, nanti mau kamu yang jemput dia ya" Kata Resti
"Aku, Tante?" Kata Nediva
"Iya, biar dia bisa dekat sama kamu" Kata Resti
"Iya, Tante" Kata Nediva
Saat melihat Karin ingin pergi keluar. Resti pun menegurnya.
"Karin kamu mau kemana?" Kata Resti
"Saya mau jemput Non Aya, Nyonya" Kata Karin
"Kamu gak perlu jemput Aya karena Nediva yang akan menjemput Aya" Kata Resti
"Tapi, Nyonya saya disuruh Tuan Jovan untuk menjemput Non Aya" Kata Karin
"Saya juga Nyonya kamu jadi kamu harus menuruti perintah saya juga" Kata Resti" Nediva, sudah sana kamu berangkat ke sekolahnya Aya" Lanjutnya
"Baik, Tante" Kata Nediva
Nediva segera keluar dari rumah. Dia masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah.
→Di Sekolah
Nediva telah sampai di sekolahnya Cahaya. Dan dia keluar dari mobilnya untuk menunggu Cahaya.
"Kalau aja bukan karena Anaknya, aku gak jemput cucunya itu, lagian kan aku bukan pengasuh cucunya, seenaknya banget nyuruh aku" Kata Nediva
Tak lama kemudian, dia melihat Cahaya keluar dari gerbang dan dia segera menghampiri Cahaya.
"Hai, Aya" Kata Nediva
Namun Cahaya tidak menggubris sapaan dari Nediva.
"Sombong banget, nih anak" Kata Nediva dalam hatinya" Ayo, kita pulang"lanjutnya
"Gak mau, aku pulangnya sama Mbak Karin bukan sama Tante" Kata Cahaya
"Tapi, Oma kamu nyuruh Tante untuk jemput kamu, sayang" Kata Nediva
__ADS_1
"Gak, pokoknya aku gak mau" Kata Cahaya
Karena sangat kesal, Nediva mencengkram pergelangan Cahaya sehingga membuat Cahaya kesakitan.
"Kalau kamu gak mau ikut sama aku, aku akan menyakiti kamu atau bahkan aku akan membuat kamu kehilangan Papah kamu, Mau kamu? "Kata Nediva
Cahaya pun menggelengkan kepalanya sambil ketakutan.
" Oh ya, satu lagi jangan pernah kamu bilang hal ini kepada Papah dan Oma kamu, kalau kamu sampai berani bilang ini, maka kamu akan tau akibatnya "kata Nediva
Nediva pun melepaskan cengkramannya kepada Cahaya. Cahaya terpaksa harus ikut dengan Nediva. Nediva pun menjalankan mobilnya meninggalkan sekolah Cahaya.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, mereka pun sampai di rumah. Cahaya segera turun dari mobil Nediva dan berlari masuk ke dalam rumahnya.
"Eh, cucunya Oma udah pulang" Kata Resti
"Oma, kenapa Oma nyuruh tante itu untuk jemput Aya? Mbak Karin mana?" Kata Cahaya
"Mbak Karin ada koq, Oma nyuruh Tante Nediva untuk jemput kamu supaya kamu bisa lebih dekat sama dia, dia kan calon ibu baru kamu" Kata Resti
"Gak, Aya gak mau Tante itu jadi Mamanya Aya" Kata Cahaya
"Kenapa? Tante Nediva kan baik terus juga cantik" Kata Resti
"Karena Aya yakin dia itu jahat, dia hanya mencintai Papah aja bukan Aya" Kata Cahaya
Cahaya pun menatap ke arah Nediva dengan tatapan marahnya.
"Tante Jahat, pergi kamu dari sini" Kata Cahaya
Karena tidak tahan, Resti pun membentak Cahaya.
"CAHAYA" Bentak Resti
Cahaya sangat syok mendengar bentakan dari Omanya. Begitu pun dengan Resti, dia tidak menyangka jika dia telah membentak cucunya.
Cahaya segera berlari menuju kamarnya sambil menangis. Di dalam kamarnya, dia menumpahkan kesedihannya.
Karin pun masuk kedalam kamar Cahaya dan menghampiri Cahaya.
"Non Aya" Panggil Karin
Melihat kedatangan Karin, Cahaya segera memeluk Karin.
"Sudah ya, sayang jangan menangis" Kata Karin
"Tapi, kenapa Oma jadi jahat sama Aya, Mbak?" Kata Cahaya
"Oma gak jahat koq, buktinya selama ini dia selalu sayang sama Non Aya" Kata Karin"
"Tapi kenapa tadi Oma marah terus bentak Aya, Mbak?" Kata Cahaya
"Karena Oma mau Cahaya lebih sopan dengan orang lebih tua dan juga Oma marah bukan berarti Oma gak sayang, tapi dia mau Non Aya supaya jadi anak yang mandiri dan kuat" Kata Karin
"Begitu ya, Mbak" Kata Cahaya
"Iya"kata Karin" Dan Non Aya jangan marah lagi ya sama Papah" Lanjutnya
"Kenapa?Papah kan jahat, Papah mau menikah sama Tante itu terus lupain Mamah Aya" Kata Cahaya
"Sayang, Papah menikah itu bukan karena Papah Non Aya mau melupakan Mamahnya Non Aya lagian Papah juga belum resmi menikah dengan Tante itu, jadi buat apa Non Aya Marah sama Papah" Kata Karin" Non Aya tau, Papahnya Non Aya sangat sayang sama Non Aya, dia merawat dan membesarkan Non Aya dengan penuh kasih sayang" Lanjutnya
"Iya, Mbak Karin benar" Kata Cahaya" Makasih ya, Mbak udah nasehat Aya, Aya sangat banget sama Mbak Karin" Lanjutnya
"Mbak juga sayang banget sama Non Aya" Kata Karin
Tanpa mereka sadari Jovan dan Leon melihat Karin dan Cahaya sedang berpelukan dan mereka juga mendengar pembicaraan antara Karin dan Cahaya tadi.
Mereka pun masuk kedalam dan menghampiri Cahaya dan Karin.
"Papah" Kata Cahaya sambil memeluk Jovan
Jovan sangat senang melihat Putrinya kembali hangat dengannya.
"Papah, maafin Aya ya karena kemarin sampai hari ini Aya udah gak sopan sama Papah" Kata Cahaya" Aya melakukan itu semua karena Aya gak mau punya Mamah baru" Lanjutnya.
"Iya, sayang gak papa, Papah udah maafin Aya" Kata Jovan" Yang penting sekarang, Aya udah gak marah lagi sama Papah dan Papah sayang banget sama Aya" Lanjutnya
"Aya juga sayang banget sama Papah" Kata Cahaya
Tak lama kemudian, Resti datang dan memeluk Cucunya itu untuk meminta maaf.
"Maafin Oma ya, sayang Oma gak bermaksud untuk bentak Aya tadi" Kata Resti
"Gak papa, Oma. Oma begitu karena Oma sayang kan sama Aya?" Kata Cahaya
"Iya, sayang Oma sangat sayang sama Aya" Kata Resti
Resti dan Cahaya berpelukan satu sama lain.
"Karin makasih ya berkat kamu Cahaya tidak marah lagi sama saya, saya sangat berhutang budi sekali sama kamu" Kata Jovan
"Iya, Karin makasih ya karena kamu Cahaya jadi memaafkan saya" Kata Resti" Dan maafkan saya tadi saya juga sempat marahin kamu" Lanjutnya
"Gak papa, Nyonya" Kata Karin
"Tidak salah Menantu saya mempekerjakan kamu disini karena kamu adalah gadis yang baik" Kata Resti
Karin tersenyum mendengar perkataan Resti. Sementara Leon terus memperhatikan Karin sambil tersenyum.
"Dia memang gadis yang baik, gue gak salah pilih dia sebagai pendamping hidup gue nanti" Kata Leon dalam hatinya.
__ADS_1
...~Bersambung~...