
Naadira wijaya...
Aku duduk sambil membaca buku di bangku yang berada di bibir danau, irana sedang pergi ke kamar kecil dulu cukup lama mungkin mengantri fikirku.
Sambil menunduk membaca melihat isi buku, aku merasakan ada seseorang yang mendekatiku mungkin itu irana tapi tak sengaja aku melihat kalau ada yang berbeda terlihat sepasang sepatu berada di hadapan saat ini, pelan aku mengangkat kepalaku untuk melihat seseorang yang sedang berdiri dihadapanku sekarang.
"ka Reva" ucapku pelan bercampur kaget, "Naadira" pangginya "boleh aku duduk" pintanya, segera aku mengangguk memperbolehkan "silahkan ka". Sekarang kami sudah duduk berdampingan, aku tidak melanjutkan membaca buku tapi aku menatap danau yang berada di depanku ini.
"apa kabar? " tanya ka Reva padaku " baik ka, kaka sendiri bagaimana?" tanya ku balik, terdengar helaan nafas berat dari pria yang berada di samping ku saat ini "cukup berat untuk mengatakan baik" setelah mendengar jawabannya aku melirik melihat ka Reva terlihat wajahnya tidak begitu semangat ada apa?.
"ada apa? Kenapa kaka terlihat tidak semangat seperti ini?" tanyaku, sekarang mata kami bertemu "karena aku akan pergi untuk praktek, dan itu artinya aku akan meninggalkan seseorang yang aku cintai!" aku hanya mengerut kan keningku tidak mengerti toh kenapa malah menemui aku bukannya menemui perempuan itu, ka Reva lagi curhat sepertinya. "terus kenapa kaka tidak menemui perempuan itu?" tanya ku penasaran.
__ADS_1
Ka Reva semakin melihat ku dengan tahapan penuh harapan "apakah kamu tidak menyadari perasaanku? Apakah kamu tidak menyadari perasaanmu sendiri Naadira??" tanyanya aku semakin tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan "maksud kaka apa?". Terdengar lagi helaan nafas berat dari pria yang sekarang sedang menatapku penuh arti ka Reva meraih kedua tanganku dan menggenggam dengan erat oleh kedua tangannya "Naadira aku mencintaimu aku menyayangimu"
Deg..
ungkapan itu membuat aku kaget dan semakin membuatku bingung, ka Reva apakah kamu sedang mengigo dalam tidur mu? "Naadira apakah kamu nyaman bersama ku?" sekarang yang aku dengar adalah pertanyaan bukan pernyataan, aku nggak tau harus berkata apa, apakah aku harus mengatakan ya atau tidak, aku takut ini hanya mimpi.
Cepat aku melepaskan tangan ku dari genggam Reva dan beranjak berdiri berjalan menuju tepi danau "ka bangunlah dari tidur kaka, kaka sedang bermimpi" ucapku dengan nada menenangkan diri tidak lama Reva pun mendekati ku dan meraih kedua bahuku sekarang kita lagi lagi saling berhadapan "aku nggak sedang bermimpi Naadira" ucapnya "aku sadar selama ini aku sudah menyimpan perasaan terhadap kamu, aku mencintaimu aku menyayangimu Naadira. Apakah kamu tidak menyadari hal itu" terdengar bahwa Reva bersungguh sungguh mengungkapkan perasaannya padaku.
Setelahnya aku merasakan ada kecupan dipucuk kepalaku, setulus itukah perasaan Reva sama aku? Sebesar itukan rasa cinta dan sayang Reva sama aku?.
Terdengar suara ponsel berbunyi itu suara ponsel Ka Reva, ia pun melepas pelukannya dan segera menjawab panggilan itu.
__ADS_1
Hanya terdengar jawaban iya lalu mematikan panggilan, aku hanya melihatnya dan sekarang dia menggenggam tanganku erat "aku harus pergi sekarang tunggulah aku pulang dan kunjungi aku disana" tanpa menunggu jawaban ku ka Reva langsung melepaskan genggamannya dan berlalu pergi meninggalkan aku, tapi kenapa hati kecil ingin sekali melihat dan mengantar keberangkatannya "ka Reva tunggu" panggiku dengan nada tinggi, terlihat ka Reva menghentikan jalannya dan menengok kearah ku, tanpa berfikir lama aku berjalan mendekati ka Reva "boleh aku ikut mengantar kepergian kaka?" tawarku yang disambut dengan senyuman dan genggaman tangan ka Reva.
Lalu kamipun berjalan beriringan menuju fakultas kedokteran.
Sementara itu ditempat lain chandra, Daniel, Glenn dan irana terlihat begitu bahagia dengan keberhasilan rencana mereka, ya awalnya merasa takut tidak akan berhasil tapi akhirnya berhasil dengan sempurna.
Merekapun dengan cepat mengikuti Reva dan Naadira dari belakang dengan pelan tanpa mereka sadari.
Ada perasaan bahagia dari diri mereka, terutama Reva yang sekarang bisa berada disamping Naadira, harapannya terkabul, keinginan Naadira menemani kepergiannya dan menambah semangat untuk cepat menyelesaikan tugas praktek agar bisa selalu disamping Naadira.
Harapan besar sahabat mereka hanya satu, semoga mereka selalu bersama dan bahagia.
__ADS_1
Bersambung.....