
Naadira wijaya...
Cukup lama aku menunggu ka Reva, melihat jam ditangan sudah menunjukkan pukul setengah lima sore, ka Reva belum juga datang kerumah yang ada disebrang jalan itu, apa mungkin pa sarif salah rumah? "pa sarif nggak salah rumahkan?" tanyaku khawatir kalau memang terjadi kesalahan "tidak nona, saya yakin tidak salah" jawab pa sarif yakin. Tak lama suara ponselku berdering menandakan ada telpon masuk aku melihat layar ponselku 'bi inah' aku langsung mengangkatnya.
"hallo bi"ucapku
"..... "
" aku sudah sampai ditujuanku bi, aku juga sudah memakan bekalku"
"...."
"iya bi, bibi juga hati hati ya"
Akupun memutuskan sambungan telpon dari bi inah, terdengar suara khawatir bi inah. Jelas saja ia selalu khawatir kalau aku pergi jauh karena ia adalah orang yang merawat aku sejak kecil sampai dengan sekarang. Pengabdian bi inah terhadap keluargaku sudah turun temurun sejak papah kecil yang diasuh oleh orang tua bi inah sampai dengan aku, meskipun begitu anak anak bi inah terjamin pendidikannya meskipun hanya sekolah di sekolah biasa saja karena sudah cukup kata bi inah biar uangnya ditabung saja.
"nona, tuan Reva sudah datang" ujar pa sarif. Aku melihat kearah rumah disebrang jalan itu, ya mobil ka Reva sudah terparkir disana jadi benar ini rumah tempat tinggal ka Reva, mungkin saja mobil itu datang ketika aku sedang menerima telepon dari bi inah. Akupun bergegas keluar dari mobil untuk memberikan kejutan untuk ka Reva "nona, biar nanti barang barangnya saya antar kedalam" ujar pa sarif aku hanya mengangguk setuju.
Aku berjalan menuju rumah itu, dengan pintu rumah yang tertutup akupun mengetuk beberapa kali tapi belum ada yang membukakan pintu untukku.
*Tok tok tok....
__ADS_1
Krek*....
Pintu terbuka, seorang perempuan yang mungkin umurnya tidak jauh diatas umurku terlihat masih memakai jas dokternya tersenyum kepadaku sambil membuka lebar pintu "ada yang bisa saya bantu?" tanya perempuan itu, aku mengangguk "ka Revanya ada?" tanyaku sungkan. "ada tunggu sebentar saya panggilkan dulu, silahkan duduk dulu" sambil menunjuk kursi kayu yang berada di teras rumah, perempuan itu masuk kedalam dan akupun berjalan mendekati kursi kayu itu dan duduk menunggu ka Reva datang.
Reva Rahardiyan...
Aku baru sampai ke rumah, akupun bergegas untuk mandi, disaat dikamar mandi ada suara ketukan dibalik pintu kamar mandi "va, reva" terdengar suara putri "iya apa" jawabku "diluar ada mencari kamu, cepat mandinya jangan buat tamu kamu menunggu" ujar putri, dan mungkin sudah pergi dari balik pintu kamar mandi. Siapa yang mencariku? Apakah lisa datang lagi? Ucapku kesal tapi biarkan saja dia menungguku lama agar dia pergi karena kesal menungguku.
"Reva cepatlah, kasian tamu yang sudah menunggu kamu dari tadi" sekarang ketukan itu terdengar kasar suara putripun menjadi lebih keras "iya iya sebentar lagi" jawabku sambil memakai baju santaiku dan keluar dari kamar mandi, benar saja putri terlihat kesal melihatku "dimana dia?" tanyaku "dia ada di teras depan" jawabnya dengan nada kesal. Akupun berjalan keluar tanpa menaruh handuk yang masih mengeringkan rambutku yang masih basah, saat aku berdiri diambang pintu sambil mengeringkan rambutku dengan handuk "iya siapa?" sapaku yang belum melihat seseorang disana karena masih terhalang handuk didepan mukaku.
"ka Reva"
Mendengar suara sapa itu aku langsung kaget, suara yang selalu membuat aku merindukannya, benarkah itu?
"Naadira" ucapku pelan, kaget tidak percaya tetapi disamping itu aku senang karena akhirnya Naadira datang mengunjungi ku ditempat ini. Perempuan dengan rambut yang panjang dan terdapat kering gantung diujungnya berwarna coklat terang, sweeter berwarna abu sepanjang lutut dan sepatu yang warnanya senada terlihat sporty, cantik riasan make up diwajahnya yang pas tidak tebal selalu terlihat senyum menambah manisnya.
"ka Reva" panggilnya lagi, menyadarkan ku dari lamunan, tak percaya bahwa sekarang Naadira ada disini dihadapanku, akupun memeluknya saking senangnya, dan melepaskan pelukanku dan mengajaknya masuk "eh iya, yuk masuk" ajakku,
Akupun duduk dilantai yang hanya beralaskan tikar sederhana dan Naadira pun ikut duduk disamping ku tidak ada penolakan darinya dengan hanya duduk dilantai yang beralaskan tikar "maaf disini tidak ada kursi jadinya kita duduk dilantai seperti ini" ucapku "tidak apa apa ka, tidak masalah" jawabnya tenang "maaf juga kamu sudah menunggu lama ya" sautku merasa tidak enak hari telah membiarkan Naadira menunggu "enggak papa ko" jawabnya. Senyumannya selalu berkembang.
Tidak lama putri datang membawa gelas berisi teh "silahkan diminum" sambil menaruhnya "oh iya Naadira kenalin ini putri rekan praktekku dirumah sakit dan putri kenalin ini Naadira" Naadira dan putri berjabat tangan dan setelahnya putri pergi meninggalkan kami berdua. "terima kasih kamu sudah menyempatkan waktu kamu untuk mengunjungiku" ucapku "iya sama sama, maaf karena aku baru bisa datang sekarang ka" jawabnya. "apakah kamu datang kesini ditemani pa sarif?" tanyaku khawatir kalau Naadira berangkat seorang diri terlihat dia mengangguk "iya, pa sarif ada di mobil" syukurlah kalau dia menuruti perintah ku waktu itu.
__ADS_1
Banyakan yang kami bicarakan tanpa terasa hari sudah mulai malam "ka sudah malam aku pamit pulang dulu ya" pintanya yang langsung aku tolak, tidak mungkin aku mengizinkan kamu pulang malam seperti ini meskipun dengan pa sarif sekalipun. "tidak sayang aku tidak akan mengizinkan kamu pulang, ini sudah malam kamu menginap saja disini dikamarku" ucapku "lalu kaka tidur dimana?" tanyanya "aku akan tidur dikamarnya temanku yang malam ini lembur tidak pulang" ucapku "tapi aku takut merepotkan kaka" jawabnya " tidak Naadira, kamu tidak merepotkan sama sekali. Malah kamu akan merepotkan pikiran aku kalau kamu tetap pulang sekarang" ucapku "makasih ya ka" ucapnya.
Malam ini Naadira tidak pulang dan menginap dirumah ini, Malampun sudah cukup larut, perutku terasa lapar berubuk.... Ahh suara perutku "suara apa itu? Tanya Naadira, aku tersenyum malu suara perutku yang minta untuk diisi" ucapku "ahh kaka laper ya, biar aku buatin makanan untuk kaka" ujarnya "hemmmmm boleh" ucapku, kamipun langsung pergi kedapur, "ka disini hanya ada mie instan"
"iya nggak papa"
"aku bawa beberapa bahan makanan dimobil aku bawa dulu ya"
"biar aku saja yang bawa, kamu tunggu disini" ucapku tapi begitu aku sampai diteras rumah sudah ada pa sarif "pa sarif" sapaku "iya tuan, ini nona Naadira membawa ini untuk tuan" jawabnya terlihat beberapa kresek besar yang berisikan bahan bahan makanan langsung saja aku bawa kedalam.
"kamu bawa semua ini untukku" tanyaku
"iya " jawabnya sambil mengambil sosis dari dalam kresek. Terlihat dia piaway dan hati hati dalam membuka dan memotong sosis itu menjadi beberapa bagian "biar aku bantu" pintaku "tidak usah ka, kaka duduk saja" jawabnya tapi aku tetap membantunya untuk menggoreng kentang dan sosis itu.
Setelah selesai acara makan malam, aku mengantar Naadira menuju kamarku untuk beristirahat "ini kamarku" ucapku, Naadira sudah masuk duluan ke kamar dan duduk dikasur yang tidak besar, "semoga kamu tidur dengan nyenyak, besok aku akan mengajak kamu berjalan jalan memutari kampung ini, kalau kamu mau" ucapku pelan, Naadira hanya mengangguk dan akupun berjalan keluar meninggalkan naadira lalu menutup pintu kamar.
Beberapa jam kemudian aku kembali masuk kedalam kamarku untuk melihat apakah Naadira sudah tidur ataukah masih duduk seperti yang tadi, pelan aku membuka pintu dan ternyata Naadira sudah terlelap dalam tidurnya. Aku mendekat dan menyelimuti tubuh Naadira, lalu mengusap ujung rambut kepalanya dan mencium keningnya sebentar.
Terima kasih Naadira, kamu sudah mengunjungiku dan kamu tahu kedatangan kamu ini sangat aku tunggu tunggu sampai aku tidak percaya dengan kedatangan mu hari ini, aku sayang sama kamu Naadira, good night sayang.
Akupun keluar dari kamarku dan berlalu masuk ke kamar temanku dan tidur disana.
__ADS_1
Bersambung....