
Naadira wijaya...
Mungkin beberapa hari ini aku harus bisa memutuskan untuk pergi menemui ka Reva, tapi akan aku selesaikan terlebih dahulu tugas kuliahku.
Sehujurnya tidak banyak tugas yang aku terima setiap harinya dan aku bisa menyelesaikannya dengan cepat, hanya saja aku ingin lebih tahu dan memperdalam ilmuku dengan membaca buku buku yang ada diperpustakaan ingin sekali aku menyibukkan diri dengan hal-hal yang dapat membuatku bermanfaat.
Setelah keputusan untuk berangkat memenuhi keinginan ka Reva hari ini sudah bulat, dan aku berencana untuk membeli beberapa persediaan bahan makanan untuk ka Reva, aku melakukan mobilku meninggalkan area kampus menuju supermarket, 'tapi aku nggak tau apa yang ka Reva suka! Apa aku kerumah ka Reva dulu untuk menanyakannya ke pa sarif penjaga rumah ka Reva. Tapi akukan nggak tau rumah ka Reva dimana, dasar kamu dira. Gerutukku kesalku dalam hati.
Aku sudah mendatangi Office beberapa perumahan yang tidak begitu jauh dari kampus, dan menanyakan ka Reva di daftar penghuni perumahan tapi tidak ada satupun yang bernama Reva. Cukup jauh aku melajukan mobilku hingga tiba di kawasan perumahan elit yang berada ditengah kota aku coba mendatangi dan menanyakan kembali daftar penghuni perumahan, "maaf pa apa disini ada penghuni yang bernama Reva?" Tanyaku kepada bapa penjaga "sebentar nona saya cek terlebih dahulu" jawabnya sambil melihat layar monitor yang ada didepannya "maksud nona tuan Reva Rahardiyan?" jawabnya, ya benar akhirnya nama itu tertera didaftar "ya benar pa" ucapku "rumah tuan Reva ada disamping jalan sana nona hanya perlu belok kanan dan lurus saja, nanti nona menemukannya" ucapnya sambil menunjukkan arah kemana aku harus pergi. Akupun langsung mengangguk mengerti dan msuk kedalam mobilku, mencari rumah yang dimaksud tadi.
Setelah beberapa saat aku melihat ada seseorang pria paruhbaya sedang bercengkramah dengan pria seumurannya, aku berniat bertanya perihal rumah ka Reva, akupun keluar dari mobil dan berjalan mendekati kedua pria yang sedang berdiri tidak jauh dari hadapanku .
"maaf pa, saya mau bertanya, rumah Reva Rahardiyan ada disebelah mana ya pa? "tanyaku sopan, kedua pria itu langsung saling menatap dan tersenyum.
__ADS_1
" nona ini rumah tuan Reva, dan saya pa sarif penjaga rumahnya" jawab salah satu pria itu. Sontak aku kaget dan melihat rumah yang tidak begitu besar namun terlihat mewah siapakah sebenarnya ka Reva itu?
Apakah nona cantik ini adalah nona Naadira kekasih tuan muda yang beberapa waktu lalu pernah tuan muda katakan untuk melayani gadis cantik bernama Naadira.
"nona apa ada yang bisa saya bantu untuk nona?" lanjutnya dengan pertanyaan. Aku cepat mengangguk "ya, boleh kita bicara sebentar" pintaku, dan pria yang mengaku pa sarif pun mengangguk. Aku berjalan beberapa langkah diikuti oleh pa sarif, aku berhenti tepat didekat mobilku dan berbalik pa sarif sudah berada di belakang ku.
"maaf pa, saya Naadira" aku memulai dengan perkenalan. Terlihat kaget dari wajah pa sarif karena mendengar nama yang selalu pa sarif tunggu untuk tua muda. "tujuan saya menemui bapa karena saya mau minta bantuannya untuk ikut saya" lanjutku
"baik nona, saya akan mengikuti dan membantu nona?" jawabnya, yang sekarang membuatku bingung apakah pria tua ini sudah tau siapa saya?, "kenapa nona melamun?" tanyanya "apa pa sarif sudah mengetahui saya? Kenapa pa menerima ajakan saya tanpa bertanya dan mencurigai saya?" tanyaku.
"pa, saya yakin kalau bapa tahu tentang apa yang ka Reva suka, maka bapa temani saya untuk belanja ya karena besok pagi saya mau mengunjungi ka Reva" ucapku "baik nona, besok pagi saya akan datang ke rumah nona untuk mengantarkan nona kepada tuan Reva" jawab pa sarif "apa pa sarif juga sudah tahu alamat rumah saya?" tanyaku dan dibalas dengan anggukan "sudah nona, tuan muda sudah mengatakannya" jawabnya.
Apa saja yang telah ka Reva katakan ke pa sarif? Sampai pa sarif sudah tahu seperti ini.
__ADS_1
Mobil sudah terparkir saya dan pa sarif keluar dari mobil dan berjalan masuk kedalam supermarket. Benar saja tanpa lama troli yang tadinya kosong sudah terlihat penuh, pa sarif ternyata sangat mengetahui kesukaan ka Reva.
Setelah berbelanja sekarang kitapun pulang, aku meminta pa sarif untuk mengantarku pulang karena hari sudah sore juga dan biar mobilku bisa langsung dibawa pa sarif besok pagi untuk menjemputku.
Keesokan paginya aku sudah bangun dan bersiap untuk pergi tinggal menunggu pa sarif datang, bi inah sudah berada dirumah sejak pagi pagi buta untuk membersihkan dan menyiapkan sarapan. Akupun sudah sarapan dan aku meminta bi inah untuk menyiapkan beberapa makanan untuk aku bawa, sebagai bekal.
Setelah semuanya sudah selesai dan siap tak lama pa sarif datang "mari nona" ajak pa sarif. Aku mun masuk kedalam mobil diantara oleh bi inah "hati hati nona, selamat sampai tujuan" kasih sayang bi inah kepadaku sangatlah besar, selalu khawatir disaat aku akan melakukan perjalanan sendiri meskipun ditemani supir sekali pun "iya bibi" senyumku.
Bimbingan inah meletakkan beberapa bekal makanan untuk menemaniku dalam perjalanan. Dan mendekat ke arah pa sarif "saya titip nona ya, jaga nona muda saya" pinta bi inah yang membuatku terharu mendengarnya dan pa sarif hanya mengangguk mengerti.
Mobil sudah mulai berjalan meninggalkan perkotaan tak lupa aku memberikan kabar kepada sahabatku irana bahwa hari ini aku akan mengunjungi ka Reva dan dibalas dengan dukungan dan semangat yang aku terima dari irana. sudah 7jam berlalu perjalanan menuju tempat ka Reva dan akupun sempat tertidur dikursi belakang. Tapi aku terbangun dari tidurku karena mobil yang aku kendarai seperti sedang berjalan melewati bebatuan dan benar saja aku melihat jalan yang sedang aku lewati itu jalan yang dipenuhi lubang dan bebatuan.
"nona sebentar lagi kita sampai" ucap pa sarif, menyadari aku sudah bangun dari tidurku "baik pa" ucapku.
__ADS_1
Haripun sudah menunjukkan pukul 3 sore, mobil sudah memasuki daerah perkampungan, tidak lama mobil berhenti didepan rumah yang berada di seberang jalan "nona ini rumah tempat tuan Reva tinggal" ujar pa sarif, aku melihat keluar dan memandangi rumah tersebut terlihat suasananya sepi "ko sepi ya pa" tanyaku "mungkin tuan belum pulang nona, apa saya perlu menelepon tuan Reva nona? " tanya pa sarif. "tidak perlu pa biar saya menunggu saja, pa sarif nggak bilang ke ka Reva kalo pa sarif akan pergi menemuinya kan?" tanya ku takut kalau dia sudah memberi tahu atas kedatanganlu, "tidak nona" jawabnya singkat. Syukurlah aku akan memberikan kejutan untuk ka Reva.
Bersambung....