
Bab 10
“Halo...” jawab Zionna segera menerima panggilan itu.
“Halo, Zionna... ini aku Pitt...” suara Pitt terdengar aneh di seberang.
“Ah.. halo…ayah mertua.. ada apa meneleponku?” sahut Zionna merubah nada bicaranya menjadi sangat sopan dan lembut.
“Kenapa kau memanggilku ayah mertua? Panggil aku ayah saja,” timpal Pitt terkekeh.
“Hmm.. maafkan aku ayah.. ngomong-ngomong ada apa ayah meneleponku?”
“Apa kau sudah makan siang?” tanyanya basa-basi.
“Belum, tapi sekarang aku sedang bersama ayahku… kami akan makan siang bersama…”
“Oh.. benarkah? Kau sedang bersama dengannya??” tanya Pitt terdengar kaget.
“Hmm.. kami baru saja selesai bermain golf bersama..” jelas Zionna.
“Di cuaca seterik ini??” serunya kaget.
“Hahaha... begitulah ayahku... dia pria yang sangat keras kepala... mengajakku bermain golf di cuaca panas seperti ini… bahkan kepalaku hampir saja mendidih,” imbuh Zionna tertawa seraya menatap Jack sinis.
Jack hanya menggerutu seraya menghindari tatapan Zionna yang menatapnya penuh rasa kesal.
“Bagaimana jika kita makan siang bersama?” ujar Ken menyimpulkan.
“Makan siang bersama?” tanya Zionna seraya melihat ke arah Jack. Jack tampak mengangguk cepat.
“Baiklah… ayahku juga sangat senang mendengarnya...” ujar Zionna kemudian.
“Baiklah kalau begitu.. bagaimana kalau kita makan di restoran sushi favorit ayahmu?” tanya Jack kemudian.
“Restoran sushi?” Zionna tampak melotot kaget.
Sementara Jack yang mendnegar percakapan itu terlihat tertawa tertahan dengan wajah penuh kepuasan.
“Kenapa? Kau tidak suka??” tanya Pitt kemudian.
“Hahaha... tentu saja aku suka... aku suka makan apapun, ayah,” sahut Zionna menggeram, berusaha menahan kekesalannya.
“Baiklah kalau begitu aku bersiap sekarang, sampai jumpa di sana... katakan pada ayahmu aku yang akan mentraktir…” ujar Pitt senang.
“Baiklah… hati-hati di jalan...” Zionna segera memutus panggilannya.
“Wah.. apa pengusaha zaman sekarang memang sangat rakus dan tidak sabaran? Bahkan mereka menjadikan makanan mentah sebagai makanan mewah dan terfavorit,” celetuk Zionna tidak percaya.
“Hahaha... setidaknya aku tidak munafik sepertimu, kau menggerutu soal pilihanku, tapi kau sangat tunduk dan patuh pada mertuamu...” Jack meledek Zionna habis-habisan.
“Jadi.. apa aku harus menunjukkan sifat asliku sekarang??” ancam Zionna ketus.
“Tidak… tidak… jangan !! Maafkan aku..” bantah Jack cepat.
“Sushi sialan !!” umpat Zionna menggeram.
Jack hanya menutup rapat mulutnya, berusaha menahan tawanya.
__ADS_1
****
Setibanya di sana mereka segera memesan 2 set menu termahal dan termewah, sementara Zionna tidak memesan apapun.
“Seharusnya aku mengajak makan siang bersama dengan penuh persiapan..” ujar Pitt sungkan.
“Ah.. tidak apa-apa.. sekarang kita adalah keluarga… jadi... jangan bersikap terlalu formal dan canggung..” tukas Jack basa-basi.
“Zionna... bagaimana jika kau juga mengajak Vann makan siang bersama??” seru Pitt mengusulkan.
“Ah... aku berencana ingin mengunjunginya ke perusahaan seraya membawakan makan siang untuknya... ini hari pertama ia masuk kerja, ia pasti cukup sibuk sekarang... jika aku mendadak memberitahunya, dia pasti akan sangat terkejut dan terburu-buru…”
“Kau sangat pengertian... maaf... bahkan aku tidak memperhatikan hal seperti itu...” puji Pitt salut.
Zionna hanya tersenyum seraya duduk diam dengan sopan. Saat makanan mulai di sajikan, Zionna seketika merasa sangat mual. Bahkan ia sangat muak dengan bau dari makanan mentah di atas meja itu.
“Silahkan, mari kita makan..” seru Pitt mulai menyantap makanan di meja. Begitu juga dengan Jack. Sementara Zionna membelalak menahan rasa mualnya.
“Kau baik-baik saja? Sudah aku bilang, seharusnya kita ke restoran makanan barat saja..” imbuh Jack basa-basi pada Zionna.
Zionna hanya menyeringai. Ia mengerti maksud Jack yang sebenarnya menyindir Zionna.
“Kenapa? Kau tidak suka makan sushi??” seru Pitt menyahut.
“Hmm... Maaf, ayah...” angguk Zionna sungkan.
“Astaga... seharusnya kau memberitahuku... kita bisa makan siang di hotelku… di sana makanan baratnya sangat nikmat... haruskah kita pindah kesana??” tanya Pitt khawatir.
“Ah... tidak perlu, Ayah… aku sebaiknya segera pergi, aku akan membeli makan siang di luar sekalian menemui Vann, aku makan siang bersamanya saja,” ujar Zionna mengelak.
Ia ingin segera pergi dari tempat itu.
“Hmm... aku pamit dulu.” Zionna segera bangkit dari duduknya seraya melangkah cepat meninggalkan tempat itu.
Setibanya di luar Zionna langsung memuntahkan isi perutnya.
“Shit !!” umpatnya menggeram seraya menyapu bibirnya yang kotor dengan sapu tangan, lalu segera membuang sapu tangan itu ke sembarang tempat. Lalu seseorang tampak menghampiri Zionna seraya menegurnya.
“Maaf Nona, anda tidak boleh membuang sampah sembarangan..” ujarnya sopan.
Zionna menatap sinis wanita dengan stelan blazer berwarna kuning cerah tersebut.
“Kalau kau terganggu, buang saja sendiri,” tukas Zionna ketus segera menghampiri taksi yang sedang parkir di sana.
Gadis itu tampak memungut sapu tangan itu lalu berlari menghampiri Zionna yang baru masuk ke dalam taksi tersebut, ia segera melemparkan sapu tangan itu ke pangkuan Zionna.
“Sekarang aku sudah membuangnya di tempat yang tepat,” ujarnya tersenyum menyindir.
Zionna melotot kaget dengan sifat berani wanita itu.
“Kau mau mati??” geram Zionna lirih.
“Kenapa? Kau tidak senang?? Kau akan membunuhku karena aku sudah menegurmu??” bantahnya berani dengan tatapan dingin.
Zionna seakan kehilangan kata-kata karena ia tengah di perhatikan oleh beberapa orang yang melintas dan bahkan supir taksi itu. Zionna menggeretakkan giginya. Ia berusaha menahan amarahnya yang hampir meledak.
“Aku ingin sekali merobek mulutmu hingga ke duburmu..” geram Zionna membatin.
__ADS_1
Wanita itu terus menatapnya dingin.
“Mari jalan..” ujar Zionna lirih pada supir taksi. Ia tak ingin rumor buruk tentangnya tersebar.
Ini kali pertama ia merasa terhina oleh gadis sialan seperti itu. Namun tentu saja ia sudah mengingat nama wanita itu dengan sangat jelas ‘Celine’. Nama itu terpampang jelas di id card yang ia kalungi.
****
Dalam perjalanan, Zionna mampir di sebuah restoran untuk memesan 2 set steak daging sapi premium. Setibanya di perusahaan Vann, Zionna segera di hampiri para security.
“Maaf, Nona.. anda mau kemana??”
“Aku ingin bertemu Vann..”
“Tuan Muda Vann? Apa anda sudah membuat janji??” tanyanya lagi.
“Apa aku perlu membuat janji untuk menemui suamiku sendiri??” timpal Zionna sinis.
“Ah... maaf… maafkan kami Nyonya… kami tidak tau,” ujarnya menunduk menyesal.
Zionna segera menerobos masuk ke dalam lift, di temani salah seorang penjaga.
“Apa suamiku ada di ruangannya??” tanya Zionna lirih.
“Iya, Nyonya... ia baru saja kembali dari makan siang dengan klien...” jelas penjaga itu.
“Oh…” angguk Zionna pelan.
Setibanya di lantai 30, pria itu segera mengantarkan Zionna menuju ruangan Vann. Bahkan sekretaris Vann tak tampak di mejanya, membuat pria itu segera mengetuk pintu ruangan Vann. Zionna segera menerobos masuk tanpa menunggu aba-aba ataupun izin dari Vann.
Saat masuk kesana Zionna tertegun, mendapati seorang gadis muda yang cantik tengah mengikatkan dasi pada Vann seraya bercanda gurau.
Vann terperanjat kaget, ia reflek segera menepis tangan wanita itu.
“Baby?? Ada apa kau kemari? Kenapa tidak meneleponku dulu?” tanyanya kaget segera menghampiri Zionna yang tampak kesal. Para penjaga dan sekretaris itu segera berhamburan keluar.
“Apa aku perlu izinmu untuk datang kemari??” tanya Zionna dingin segera duduk di sofa dan meletakkan makanan yang ia bawa di atas meja, Vann tampak mati ketakutan. Ia takut Zionna akan salah paham padanya.
“Tentu saja tidak... kau bisa datang kemari kapan saja kau mau,” ujarnya tegas.
“Hmm.. kau jangan salah pah—”
“Kau sudah makan siang??” tanya Zionna memotong ucapan Vann.
“Su—sudah…” angguk Vann sungkan saat ia sadar jika Zionna tengah membawa bungkusan berisi makanan.
“Kau belum makan? Kalau begitu aku bisa makan lagi... aku masih sangat lapar,” ujar Vann menghibur.
“Tidak perlu... aku baru ingat jika aku punya janji,” tukas Zionna segera bangkit dari duduknya.
“Kau mau kemana? Kau punya janji dengan siapa??” tanya Vann penasaran.
“Apa aku perlu memberitahumu?” celetuk Zionna dingin.
Vann tertegun. Ia tercengang, bahkan ia kebingungan hendak merespon seperti apa.
“Aku akan pergi melihat rumah,” imbuh Zionna menambahkan dengan nada datar lalu segera pergi begitu saja.
__ADS_1
Vann segera menyusul Zionna, mengantarnya hingga keluar gedung. Semua orang berbisik dan bergumam ketika melihat Zionna yang di rangkul Vann mesra.
Bahkan saat naik ke dalam taksipun Zionna tetap tak bergeming, Vann benar-benar mati ketakutan dengan situasi itu. Ia bahkan belum tau apapun soal Zionna. Ia tak tau harus melakukan apa untuk membujuknya.