Appetite (Rahasia Istri Idaman)

Appetite (Rahasia Istri Idaman)
25


__ADS_3

Zionna segera naik ke pesawat. Ia segera duduk di tempatnya, di sebelahnya Lee duduk mendampinginya.


“Jangan beritahu siapapun jika aku akan datang…” imbuh Zionna mengingatkan.


“Tentu saja, Nyonya…” angguk Lee patuh.


“sejak kapan kau memanggilku Nyonya?” tanya Zionna risih.


“Ah… Tuan Vann memintaku untuk mulai memanggil anda nyonya, karena anda wanita yang sudah menikah…” jelas Lee hati-hati.


Zionna menghela nafas kesal. “Menjijikkan sekali…” gumam Zionna menggunakan sleeping mask nya. Ia segera mengatur posisi kursi penumpang mahalnya untuk poisis tidur. Ia akan melewati malam itu dengan beristirahat.


Vann duduk di taman belakang seraya memandangi ponselnya. Ia tengah memandangi wallpaper ponselnya. Foto pernikahannya.


“Kau belum tidur?” sapa seseorang membuyarkan lamunannya.


Vann menoleh ke belakang. Ternyata Chris.


“Hmm…” angguk Vann cepat.


“Ini pertama kalinya aku melihat kau duduk di sini…” ujar Chris duduk di samping Vann.


“Aku sedang tidak bisa tidur…” gumam Vann lirih menyimpan ponselnya.


“kenapa? Apa karena tidak ada istrimu??”


Vann tersipu malu.


“Tenang saja, ini hanya efek dari rasa pengantin baru… nanti lama-lama kau akan mulai lelah dan bosan dengan istrimu…” ledek Chris.


“Cih… apa kakak sedang membicarak dirimu sendiri??” tukas Vann.


“Kita semua tau, kita bertiga menikah karena perjodohan, dan semua tanpa rasa cinta… jadi… kau pasti akan mengalami apa yang aku dan Ken alami…”


“Aku rasa, kami berbeda… kami saling mencintai…” ujar Vann tegas.


“Ah… benarkah? Kalau begitu aku anggap kalian beruntung…”


“Bagaimana bisnis kakak? Aku dengar kalian sedang melakukan project mobil ramah lingkungan?” tanya Vann basa-basi. Padahal mereka tidak pernah peduli satu sama lain.


“Ya, begitulah… aku masih mencari supply onderdil dan suku cadangnya…”


“Semoga project kakak berjalan lancar….”


“Hmmm.. kau juga…”


****


Setelah terbang selama belasan jam. Akhirnya mereka tiba di negara A pada siang hari. Zionna dan Lee segera menyewa taksi untuk menuju tempat tujuan mereka, yaitu sebuah restaurant ternama di negara A.


Tak butuh waktu lama untuk tiba di sana. Sesaat setelah tiba. Zionna sudah berdecak kesal saat melihat restaurant itu tampak kotor dari luar. Ia segera turun dari taksi setelah Lee membukakan pintu mobil untuknya.


Penjaga pintu restaurant itu terperanjat kaget saat melihat sosok yang datang ke sana. Ia segera membuka pintu seraya menunduk ketakutan. Penjaga yang lainnya segera membantu lee membawakan tas bawaan mereka.


Dukkkk…


Zionna memukul keras kepala belakang pria yang tengah membungkuk di hadapannya.

__ADS_1


“Apa kau tidak lihat debu di sisi jendela-jendela itu?? Aku membayarmu bukan hanya untuk menjaga pintu sialan ini !! Tapi juga menjaga kebersihan di luar sini…” gerutu Zionna langsung ngedumel.


Mendengar kegaduhan itu, karyawan lain tampak mengintip keluar. Sontak mereka semua langsung terkejut dan berlarian menghampiri Zionna. Namun, Zionna langsung memberi isyarat pada mereka untuk berhenti dan pergi. Di sana tengah ada pelanggan. Ia akan menghajar mereka di dalam.


Zionna menuju dapur, lalu menuju gudang stok bahan makanan. Disana terdapat sebuah pintu rahasia di balik kulkas besar 2 pintu. Lee membukakan pintu itu, mempersilahkan Zionna masuk. Lampu berwarna merah remang-remang menghiasi ruangan itu menuju sebuah tangga turun. Mereka melewati tangga lalu bertemu lorong yang cukup panjang. Di ujung lorong, terdapat pintu dengan kunci keamanan dengan kunci khusus.


Lee segera membukanya. Dan, pemandangan luar biasa pun terlihat di sana. di dalam sana terdapat sebuah lab khusus. Tempat itu jauh berbeda dengan restaurant yang ada di atas. Ruangan itu di penuhi box kaca khusus yang berisi orang-orang berpakaian APD lengkap, mereka tengah melakukan eksperimen di dalam sana. Menciptakan narkotika jenis terbaru, dengan efek yang lain daripada yang lain.


Mereka yang melihat kehadiran Zionna tampak segera menunduk hormat padanya. Zionna terus jalan melewati tempat itu menuju ruang lain. Saat pintu itu terbuka. Terdapat sebuah ruangan dengan lapisan plastik di sekelilingnya. Zionna tertegun sesaat saat melihat ke dalam. 2 orang pria tampak di ikat tergantung tanpa busana. Bahkan tubuh mereka penuh luka dan bersimbah darah.


“Berapa lama mereka seperti ini??” tanya Zionna santai segera membuka blazernya.


“Su…sudah 15 jam, Nona…” jawab seorang anak buah Zionna bertubuh tinggi kekar.


Bukkkk !!!


Zionna melayangkan tinjuan kerasnya ke arah tengah perut pria itu, tepat menyerang titik ulu hatinya. Pria itu langsung terbungkuk menyeringai kesakitan.


“Sudah aku katakan… jangan buat keributan selama aku tidak ada…” gumam Zionna menggeram.


“Apa kau tuli???” seru Zionna marah. Ia segera mengikat rambutnya menggulung, serta ia menggulung lengan kemeja navy nya.


“Bangunkan mereka…” perintah Zionna segera duduk di bangku yang baru saja di sediakan Lee. Ia juga segera membakar sebatang rokok yang ia keluarkan dari tas Lee.


Byuuurrrrr..


Kedua pria itu di guyur dengan air es, hingga mereka terlonjak kaget dan segera tersadar. Mereka bahkan membelalak kaget saat melihat Zionna telah duduk di hadapan mereka.


“Apa kalian yang mencoba menipuku??” tanya Zionna tanpa basa-basi.


“Ma—maafkan kami, Nona !!!! Ini salah paham… kami tidak menipumu… mereka berbohong !!!” seru salah satunya.


“Ma—maafkan kami, Nona !!!!” serunya ketakutan.


“Apa atasan kalian tau soal ini??” tanya Zionna lagi.


“Ti—tidak, Nona !! Kami melakukannya sendiri !! Maafkan kami, Nona !!!!” seru keduanya memohon bersamaan.


Zionna tampak meminta sesuatu pada Lee. Sekretaris Lee tampak segera emberikan ponsel rahasianya pada Zionna. Ia tampak segera menghubungi seseorang.


“Haloo..” jawab seseorang dari seberang. Zionna segera men-loadspeaker ponsel itu.


“hai, ini aku…” seru zionna kemudian.


“Ah.. No—Nona Zionna??” sahutnya terbata.


“Kenapa anda terbata seperti ini?? Apa anda tidak merindukanku??” ledek Zionna.


“Ah… bukan begitu… sudah lama aku tidak mendengar kabarmu…”


“Tentu saja, aku harus mengepakkan sayapku… aku harus terus berkembang…”


“I—iya… tetapi… ada apa anda meneleponku??” tanyanya dengan nada hati-hati.


“Oh iya, aku ingin memberitahumu jika paket yang kau kirimkan padaku, sepertinya aku akan membuang mereka… mereka tak lagi berguna…” jelas Zionna santai.


“Pa—paket?? A—apa maksud anda anak buahku??”

__ADS_1


“Hmm.. tentu saja… mereka membuatku sangat kesal…” imbuh Zionna dingin.


“Nona… ma—maafkan mereka… anda pasti salah paham… bahkan aku tidak tau apa yang sudah mereka lakukan… tolong tenang dulu…”


“Ah… jadi kau tidak tau?? Mereka mencuri ‘barangku’ dan mencoba menjualnya pada geng Potter… kau tidak tau??”


“A—aku benar-benar tidak tau, Nona…”


“Sungguh??” tanya Zionna lagi meyakinkan seraya meraih pistol dari pinggang salah satu anak buahnya yang berdiri tak jauh dari di sisi Zionna.


“Sungguh !!! Aku tidak berbohong !! Mereka melakukannya sendiri…”


“tapi, bukankah seharusnya kau mengawasi mereka? Karena mereka anak buahmu… kau harus mengajari mereka dengan benar…”


“Ma—maafkan aku, Nona… aku berjanji akan mengawasi mereka dan memberi mereka pelajaran…”


“Oke… baiklah kalau begitu… Tapi… biar aku saja yang memberi mereka pelajaran…”


Dooorrr…. Dorrrrr…


2 tembakan tepat sasaran dari Zionna, langsung menewaskan keduanya seketika. 2 peluru panas meluncur ke masing-masing kepala kedua pria itu.


“Aku akan mengirim kembali paketmu ini, sebaiknya kau bereskan mereka…” imbuh Zionna kemudian segera memutus panggilan itu.


Zionna melemparkan pistol itu ke atas lanati. Mengelap tangannya pada jas Lee. Lalu memeriksa kuku di kedua tangannya.


“Kalian membuatku datang kemari hanya karena 2 ekor tikus ini…” gumam Zionna lirih.


“Siapa yang bertanggung jawab atas keributan ini??” tanya Zionna dingin dengan tatapan mematikan.


“A… aku, Nona…” sahut seseorang dari balik kerumunan anak buah Zionna di dalam sana.


Zionna mengintip pria itu, lalu mengisyaratkannya dengan gerakan kepala untuk mendekat. Pria itu melangkah tertunduk.


“Apa kau petugas baru itu??” tanya Zionna memastikan.


“I—iya, Nona…” angguknya cepat.


“sudah berapa lama kau bekerja?”


“3 bulan, Nona…” jawabnya gugup/


“Bukankah seharusnya kau sudah bisa bekerja dengan becus?”


“Ma—maafkan aku, Nona…”


“Buka pakaianmu…”


“A—apa?” pria itu terkejut dengan perintah Zionna.


“Apa perlu aku yang membukanya??” ujar Zionna datar.


“Ti—tidak, nona…”pria itu segera membuka pakaiannya perlahan, satu persatu, dan hanya meninggalkan ****** ********.


Zionna tampak memerintahkan Lee untuk mengambil tongkat bisbol di pojok ruangan. Semua benda tajam maupun tumpul tersusun di pojok sana. Alat itu di gunakan untuk menyiksa maupun menghukum anak buahnya atau bahkan musuh mereka.


Lee segera menyerahkan tongkat bisbol itu pada Zionna. Zionna tampak segera bangkit.

__ADS_1


“Aku sangat tidak sabaran, dan aku benci ketika orang lain mengecewakan aku !!!” geram Zionna mengayunkan tongkat bisbol itu keras.


Bukkkkkkk !!!


__ADS_2