
Bab 11
Saat tengah berada di perjalanan, Zionna menerima panggilan dari rekan ayahnya. Mereka mengajak Zionna bertemu untuk melihat 3 unit pilihan yang ada di pusat kota. Zionna segera menuju alamat yang di berikan oleh agen real estate itu. Setibanya di sana, Zionna di sambut oleh seseorang yang tidak ia sangka-sangka.
Zionna berkacak pinggang dengan kesal.
“Apa kau agen real estate kenalan ayahku??” gumam Zionna ketus.
“Ma—maafkan aku Nona Zionna.. aku tidak tau jika tadi itu adalah anda..” ujarnya tertunduk takut. Wanita tadi adalah wanita yang melemparkan sapu tangan bekas pada Zionna.
Zionna tertawa terbahak-bahak tanpa alasan.
“Apa kau yang memiliki tempat ini??” tanya Zionna lagi.
“I—iya,Nona.” Ia mengangguk cepat.
“Berapa banyak uang yang kau butuhkan??” tanya Zionna kemudian.
“Apa?” wanita itu tampak kebingungan.
“Bukankah kau menjual properti ini untuk mendapatkan uang??”
“Hmm… sebenarnya aku sedang butuh uang untuk membantu bisnis hotel milik suamiku,” ragu-ragu ia menjelaskan.
“Ah… kau pasti butuh banyak uang..” gumam Zionna iba.
“Iya,Nona... aku berharap anda akan membeli salah satu di antara ketiganya... aku jamin semua nya akan sangat sesuai dengan selera dan keinginan anda.” Harap wanita itu terus tertunduk takut. Jack sebelumnya sudah berpesan jika putrinya sangat sensitif bahkan mendekati dengan kata ‘sangat gila’.
“Hahaha... benarkah? Bagaimana kau sangat yakin dengan ucapanmu? Bahkan kau tidak tahu seleraku seperti apa,” gelak Zionna.
“Tapi, kenapa kau terus menunduk? Kau membuatku merasa tidak nyaman.. apa kau jijik melihatku karena aku terlihat seperti tempat sampah bagimu?” tukas Zionna menarik dagu wanita itu.
“Ti—tidak,Nona... aku mohon maafkan aku !!” pinta wanita itu terus memohon pengampunan pada Zionna.
Zionna tersenyum.
“Baiklah... aku akan membeli ketiga apartment itu... namun dengan satu syarat...”
“Benarkah?? Terima kasih,Nona... terima kasih banyak… aku akan memenuhi semua syaratmu,Nona !!” serunya bersemangat.
“Kenapa kau sangat bersemangat?? Bahkan kau tidak tau syarat apa yang akan aku minta..” gumam Zionna menyeringai.
“Aku berjanji akan memenuhinya... asal anda benar-benar membeli semuanya,” ujarnya penuh harap.
“Tentu saja, uang bukan masalah bagiku... tapi apa kau yakin akan sanggup dengan persyaratanku?” tanya Zionna lagi.
“Iya, Nona.. aku yakin !!” serunya mengangguk penuh keyakinan.
“Wah... ternyata kau benar-benar sudah sangat putus asa,” angguk Zionna mengerti.
“Aku mohon… bantulah aku, Nona..”
“Berapa harga ketiga apartment itu??”
“Masing-masingnya 60 Miliar, Nona..”
“Ah... jadi semuanya hanya 180 miliar??” tanya Zionna lagi.
__ADS_1
“Benar, Nona…” angguknya cepat.
“Apa itu cukup? Aku bisa memberimu lebih...” Zionna memberi tawaran yang benar-benar tidak bisa di tolak oleh siapapun.
“Ti—tidak, Nona... itu sudah lebih dari cukup,” gelengnya sungkan.
“Baiklah... aku akan membawakan uangnya besok,” angguk Zionna setuju.
“Be—benarkah ?”
“Apa sekarang aku juga terlihat seperti pembohong bagimu?” timpal Zionna ketus.
“Ti—tidak, Nona... maaf aku sudah meragukan dan menghinamu…”
“Itu bukan masalah,” geleng Zionna tersenyum puas.
“Jadi… apa syarat yang anda inginkan, Nona?” tanyanya dengan nada hati-hati.
“Aku akan memikirkannya malam ini,” ujar Zionna santai.
“Ba—baiklah, Nona… aku akan melakukan yang terbaik untuk anda,” angguk nya cepat.
***
Sepulangnya dari sana, Zionna segera menelepon sekretaris Lee, agar ia menyiapkan sejumlah uang tunai. Pria itu adalah sekretaris Zionna yang paling setia. Ia selalu mengawasi dan melindungi Zionna dimanapun ia berada agar Zionna selalu aman dan terlindungi. Zionna juga meminta informasi tentang wanita yang bernama Celine tadi, lengkap beserta rincian aset miliknya.
Zionna kembali ke mansion Jack. Saat di jalan ia menerima pesan dari vann, ia mengatakan jika sementara waktu, orang tua Vann meminta mereka berdua tinggal sementara di mansion. Zionna pun segera melanjutkan langkahnya menuju kamar, karena sore itu mansion tampak sangat sepi. Ia segera merebahkan tubuhnya dengan malas di atas tempat tidur.
Zionna merogoh tasnya dan menenggak 2 pil tidur sekaligus. Ia ingin beristirahat dengan pulas sore itu setelah melewati hari yang menguras emosi dan kewarasannya.
****
Ia memeriksa file itu sekilas, ia tertegun saat menemukan sesuatu di sana. Ia menyeringai sinis. Kemudian menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas. Ia pun segera bangkit untuk keluar kamar, ia mendengar suara semua orang tengah berada di ruang makan, untuk makan malam bersama.
Pitt melihat ke arah Zionna yang berjalan pelan menghampiri mereka.
“Zionna… kau sudah bangun? Apa kau sedang tidak enak badan?” seru Pitt membuat semua mata tertuju padanya.
Vann tampak segera bangkit dan menarik kursi untuk Zionna duduki.
“Aku hanya sedikit kelelahan, Ayah..” imbuh Zionna segera bergabung di meja makan.
“Tentu saja kau kelelahan... kau bahkan tidak cukup istirahat setelah datang ke negara ini,” sahut ibunya menimpali.
Zionna hanya tersenyum simpul.
“Ayah… Jadi, bagaimana? Bisakah ayah mertua membantuku??” ujar Selena kemudian.
“Suruh saja suamimu ini membantunya... kenapa hal seperti ini juga harus melibatkanku !” tukas Pitt terdengar kesal.
“Aku tidak akan membantunya lagi... aku sudah terlalu sering membantu mereka... bukankah kakak iparmu akan menjual aset propertinya? Biarkan mereka sedikit berusaha..” gerutu Ken menenggak air mineralnya.
“Sayang... kau tau kan menjual properti tidak semudah itu, apalagi harganya sangat mahal..” imbuh Selena mengeluh pada Ken.
“Coba saja tawarkan pada adik ipar... bukankah mereka sedang mencari tempat tinggal?” seru Evy menimpali seraya menoleh pada Zionna.
Zionna tampak kebingungan. “Ada apa kak?”
__ADS_1
“Apa kau sudah menemukan rumah atau apartment yang cocok? Kakak iparku sedang menjual propertinya karena membutuhkan uang untuk membantu usaha suaminya,” jelas Selenae.
“Ah... benarkah?? Dimana lokasinya?”
“Di pusat kota.. namanya Royal Village.”
Zionna tertegun. Ia teringat dengan pesan dari sekretarisnya tadi. Salah satu nama unit apartment yang ia borong juga berasal dari royal village. Dan, Ia juga ingat dengan informasi tambahan di pesan tersebut, jika wanita itu adalah kakak Selena.
“Maaf, tapi aku sudah membeli beberapa unit apartment,” ujar Zionna lirih seraya menyantap makan malamnya.
“Kau sudah mendapatkan apartment untuk kita?” tanya Vann menimpali..
“Hmm... tapi aku belum memeriksanya... besok aku akan melihatnya.” Zionna masuh bersikap dingin dan tak acuh pada Vann.
“Kau memborong 3 unit apartment tanpa memeriksanya?” timpal Selenae shock.
“Hmm…” angguk Zionna singkat.
“Bagaimana jika mereka menipumu?? Jangan gampang percaya pada siapapun di negara ini…”
“Mereka tidak akan berani menipuku... ayahku yang merekomendasikannya... lagipula aku juga belum membayarnya, besok aku akan memeriksa semua unit lalu baru membayarnya…” jawab Zionna santai.
“Ah... jadi itu dari kenalan ayahmu? Memangnya berapa banyak uang yang kau habiskan untuk ketiganya??” seru Evy ikut merasa penasaran.
“180 miliar…”
Degg !!
Semua orang membelalak kaget seraya menatap Zionna.
“Hahaha... kau menghabiskan uang suamimu sebanyak itu hanya untuk apartment yang belum kau lihat wujud dan bentuknya??” ledek Selena tertawa.
“Maaf… Tapi… Aku tidak membelinya dengan uang suamiku...” timpal Zionna datar.
Selena terdiam seketika.
“Apa kakak ipar pikir aku tidak punya cukup uang untuk membeli apartment itu? Bahkan itu tidak seberapa untukku...” ujar Zionna tersenyum dingin.
Uhuk..uhuk..
Selena tersedak. Ia bahkan tak lagi sanggup berkata-kata.
“Ah… aku mengerti… kau mengajukan pinjaman ke bank kan?” ujar Selena terkekeh masih berusaha meremehkan dan menjatuhkan Zionna.
“Tidak.. aku akan membayarnya secara cash dengan tabunganku… bahkan kreditku masih sangat bersih… aku belum pernah meminjam uang ke bank manapun sebelumnya… aku tipikal wanita yang suka membeli segalanya secara tunai…” celetuk Zionna menyombongkan dirinya.
“Wah… jadi ternyata adik iparku ini benar-benar konglomerat kelas satu di negara ini… lagipula ia pewaris tunggal Bowie Group.. uang segitu pasti tidak akan mempengaruhi jumlah nol di rekeningnya…” imbuh Chris kagum.
“Sudahlah ! Lagipula wajar saja jika ia punya banyak uang… dia punya banyak usaha yang berjalan sukses… jadi, sudah pasti ia memiliki banyak uang…” timpal Pitt menghentikan Selena yang berusaha menyudutkan Zionna.
“Zionna, jika nanti kau ada kebutuhan atau kekurangan uang atau apapun itu… katakan saja padaku… aku akan memberikannya padamu, kau tidak perlu meminta pada ayahmu lagi, atau minta saja pada suamimu, Vann pasti akan mengurusnya…” Pitt berusaha menghibur sang menantu idaman.
“Tapi… Kenapa kau menggunakan uangmu? Itu akan menjadi tempat tinggal kita.. Aku bisa membelikannya untukmu,” ujar Vann kemudian.
“Tidak perlu… aku bisa menanganinya,” ujar Zionna lirih. Bahkan ia tak menatap Vann sama sekali. Vann merasa Zionna masih marah dan kesal padanya atas kejadian tadi siang.
Ken yang melihat situasi canggung di antara keduanya membuat ia merasa sedikit senang.
__ADS_1
****