
Bab 23
Zionna merogoh tasnya. Ia mengeluarkan 3 gepok uang bernilai 100 juta. Ia melemparkan uang itu pada anak buahnya yang terkulai lemas di lantai dengan penuh luka. Punggungnya habis di pukuli dengan sangat keras oleh Zionna.
“Obati lukamu…” seru Zionna lirih.
Pria itu tampak berusaha bangkit. Ia tampak segera memungut uang itu.
“Jika kau masih ingin bekerja, maka bekerjalah dengan becus… jika tidak… aku akan menghabisimu…” imbuh Zionna mengancam.
“Ba—baik, Nona…” angguknya lemah. Anak buah Zionna yanag lain segera merangkul pria itu, dan menyeretnya keluar dari sana.
“Bungkus mereka, kirimkan pada pria tua sialan itu…” ujar Zionna memerintahkan anak buahnya yang lain untuk menyingkirkan 2 mayat yang masih bergelantungan itu.
Drrrtttt… drrrtttt…
Lee segera merogoh tas Zionna, meraih ponselnya dari dalam sana.
“Tuan Vann menelepon anda, Nyonya…” ujar Lee menyodorkan ponselnya pada Zionna.
“Ah… bajingan ini benar-benar menyebalkan…” umpatnya menggeram. Ia segera memberi kode pada anak buahnya untuk keluar dari ruangan itu. Mereka segera berhamburan keluar. Lee yang terakhir keluar segera menutup pintu ruangan itu. Sesaat kemudian, Zionna segera menerima panggilan itu.
“Hai, Babe…”
“kau sudah sampai?? Kenapa tidak meneleponku??” gerutu Vann manja.
“Maaf, aku langsung pergi bekerja… aku baru saja berencana ingin meneleponmu…” ujar Zionna basa-basi.
“Sungguh? Kau pasti sangat sibuk… apa pekerjaanmu sudah selesai??”
“Belum… aku baru saja menyelesaikan satu masalah, masih ada beberapa lagi yang harus aku selesaikan…”
“Benarkah?? Aku berharap kau bisa segera pulang, aku sangat merindukanmu…”
“Hmm.. aku akan pulang secepatnya… aku juga merindukanmu…”
“Baiklah kalau begitu, kabari aku selalu… jaga dirimu dan jaga kesehatanmu…”
“Baiklah, kau juga…” Zionna segera mengakhiri panggilan itu.
Uwwueekkkk….
Zionna memuntahkan isi perutnya.
“Ahh… sialan !!! Aku harus merasa mual seperti ini gara-gara bajingan sialan itu !!!” umpat Zionna menggerutu kesal pada suaminya itu. Ia mengusap mulutnya kasar.
“Lee !!” seru Zionna memanggil sekretarisnya.
Lee segera masuk menghampirinya. “Ada apa, Nyonya??”
“Bisakah kau berhenti memanggilku seperti itu?? Kau membuatku merasa semakin mual…”
“Maaf, nona…”
“Bawakan ‘barang’ bagus itu 10 kantong, bawa ke mobil… lalu antar aku ke mansion… dan beritahu juga pada semua anggota club untuk berkumpul malam ini di casino…” perintah Zionna segera berlalu pergi.
“Baik, Nyonya…” angguk Lee mengerti.
****
__ADS_1
Ken baru saja menyelesaikan meetingnya. Perusahaan mereka kehilangan kerugian karena telah kalah tender dari project distrik 3. Project yang di menangkan oleh perusahaan ayah Zionna. Ken murung sepanjang hari. Mereka menerima kerugian cukup besar setelah banyak proses yang di siapkan untuk memenangkan project itu.
Tookkk… Tokkk…
Pintu ruangannya terbuka lebar. Selena muncul di sana. ia tampak gusar.
“Ada apa?” tanya Ken malas.
“Apa kau sudah tau?” tanyanya tergesa-gesa.
“tau apa?” tanya Ken tak acuh.
“Jalang itu, ternyata membeli semua apartment kakak ipar dan bahkan mencuri perusahaan hotel keluargaku…” gerutu Selena kesal.
“Jalang?? Siapa yang kau maksud??”
“Tentu saja istri Vann !”
“Apa?” Ken tampak terkejut. “Kau yakin?”
“Tentu saja, aku baru saja bertemu ayahku… kakakku di usir setelah ayah kami tau jika ia telah menjual semua saham perusahaan hotel keluarga pada ****** itu…” ujar Selena sangat kesal.
Ken tampak tertegun.
“Bagaimana dia bisa melakukannya??” tanya Ken kini penasaran.
“Dia pasti mengancam kakakku, bahkan kakakku tidak berani membuka mulutnya…” tebak Selena menggerutu.
Lagi-lagi Ken terdiam.
“Ini semua salahmu ! jika saja kau membantu kakakku, dia tidak akan kehilangan semua apartment dan hotelnya !!” tukas Selena memarahi suaminya.
“Kenapa kau membahas hutang itu !!! bukankah sudah sepantasnya kita saling membantu??”
“Saling membantu?? Bahkan kalian belum pernah membantuku dengan apapun !!” geram Ken sinis.
“Sebaiknya kau pergi dari sini !!!” usir Ken dingin.
“Sayang?”
“Pergilah !! Jangan ganggu aku !!” seru Ken membentak.
Selena segera berlalu pergi dengan perasaan marah. Ia bahkan membanting pintu ruang kerja Ken.
Ken menghela nafas panjang. Ia melemparkan vas bunga hias di atas meja kerjanya keras ke arah dinding. Ia semakin kesal karena istrinya. Ia kemudian teringat akan sosok Zionna.
Ia segera meraih ponselnya di atas meja. Menekan nomor ponsel Zionna hendak meneleponnya. Tak butuh waktu lama, panggilan itu segera tersambung.
“Halooo…”
“I—ini aku…” ujar Ken mengatur nafasnya.
“Hmm.. aku tau… ada apa kakak meneleponku?”
“bagaimana perkerjaanmu? Apa semuanya berjalan lancar?”
“Tentu, sekarang aku sedang berendam dalam bathub… aku akan ada meeting sebentar lagi, jadi aku harus merasa sedikit rileks…” Zionna berbicara dengan suara lirih.
“Syukurlah, jika semua berjalan dengan lancar…”
__ADS_1
“Apa kakak ingin mengatakan sesuatu padaku??”
“Tidak… aku hanya sedang memikirkanmu…”
“Hahaha… benarkah? Apa yang sedang kau pikirkan tentang aku??” gelak Zionna dari seberang dengan nada nakal.
“Kau membuatku sangat penasaran…”
“Penasaran? Penasaran soal apa??”
“Semuanya…” jawab Ken lirih.
Drttttt…
Ponsel Ken bergetar, ia segera memeriksa layar ponselnya. Ia menerima sebuah pesan. Ia membuka pesan itu, ternyata pesan dari Zionna. Ia mengirimkan sebuah foto. Foto gambar setengah badannya yang terendam dalam bathub berisi penuh busa dan kelopak bunga mawar. Bahkan di depannya pemandangan pusat kota menjadi background foto itu.
“Apa kakak sedang memikirkan itu??” goda Zionna lirih.
Ken terdengar menghela nafas.
“Apa kau sedang menggodaku??” gumam Ken menelan salivanya.
“Bukankah kakak menginginkanku?? Bahkan sekarang sedang memikirkan aku…”
“Tentu saja…”
“Anggap saja ini sebagai penghibur untukmu… simpanlah untuk dirimu sendiri, bahkan aku tidak mengirimkannya pada suamiku…” ujar Zionna terkekeh.
“Berarti aku cukup beruntung…”
“Nona… semuanya sudah siap…” samar terdengar suara seorang pria di dekat Zionna.
“Kau sedang bersama orang lain??” tanya Ken penasaran.
“Hmm… sekretarisku baru saja tiba… aku harus bergegas…” jawab Zionna santai.
“Dia bahkan juga melihat kau tengah berendam??”
“Hahaha… bahkan dia tidak akan pernah nafsu padaku meski aku mencumbunya…” gelak Zionna terkekeh.
“A—apa maksudmu??” Ken kebingungan dengan tanggapan Zionna.
“Dia bukan penyuka wanita…” jawab Zionna santai.
“Shit…” umpat Ken lirih.
“Hahaha… dia tidak akan peduli dengan pendapat orang lain mengenai dirinya… bagiku dia pria terbaik… dia sangat baik dan setia… jadi aku tidak berhak menghakimi seleranya… itu sebabnya dia bisa berada di dekatku bahkan saat aku telanjang sekalipun… ia tidak akan terpengaruh…” jelas Zionna seraya berkemas.
Ken hanya terdiam.
“Kalau begitu, sudah dulu… aku mau pergi sekarang…”
“Baiklah, semoga pekerjaanmu lancar… sampai nanti…”
“Sampai nanti…”
Panggilan itu segera berakhir. Entah kenapa Ken merasa sangat tenang. Bahkan ia tertawa seakan tak percaya. Ia melihat layar ponselnya. Foto pemandangan indah itu membuatnya merasa sangat bergairah pagi itu.
“shit !” umpatnya segera menyimpan foto itu dalam berkas rahasia di ponsel pintarnya.
__ADS_1