Appetite (Rahasia Istri Idaman)

Appetite (Rahasia Istri Idaman)
22


__ADS_3

“Obat apa yang kau berikan padanya?” tanya Vann segera masuk.


Lee menoleh ke arah asal suara di belakangnya.


“Ini vitamin Nona Zionna… dia harus rutin menggunakan ini…” ujarnya singkat menutupi mata suntikan di tangan Zionna dengan plaster khusus.


“Vitamin untuk apa? Apa dia punya riwayat penyakit?”


“Tidak, Tuan… Ini hanya vitamin untuk daya tahan tubuhnya… dia mudah kelelahan karena kurang istirahat dan mengalami anemia akut…” jelas Lee seraya tetap fokus mengobati Zionna.


“Apa kau seorang dokter?” tanya Vann penasaran.


“Tidak, Tuan…”


“lalu bagaimana kau bisa melakukannya? Apa kau yakin jika caramu ini sudah benar?”


“Aku sudah menjalani pelatihan khusus untuk melakukan hal-hal seperti ini, Tuan… anda tidak perlu khawatir,”


“Setelah ini, mari kita bicara…” ujar Vann datar.


“Baik, Tuan…” angguknya kemudian.


Setelah beres membenahi Zionna, keduanya segera keluar dari sana. Vann membawa Lee ke ruang perpustakaan keluarganya. Di sana mereka duduk di meja tamu.


“Ada apa, Tuan?” tanya Lee tanpa basa-basi.


“Apa aku bisa mempercayaimu?” tanya Vann datar.


“Soal apa, Tuan?”


“Semua yang bersangkutan dengan istriku?”


“Tentu saja, Tuan…”


“Bagaimana bisa kau mengenalnya?” tanya Vann memulai pertanyaannya.


“Bukankah sebaiknya anda menanyakan ini pada Nona Zionna, Tuan?” timpal Lee hati-hati.


“Nona? Dia wanita yang sudah menikah… sudah seharusnya kau memanggilnya Nyonya…” celetuk Vann ketus.


“Maafkan aku, Tuan..”


“Seberapa dekat kau dengan istriku?”


“…” Lee mengunci rapat mulutnya.

__ADS_1


“Kenapa kau diam saja?”


“Silahkan anda bertanya tentang aku pada Nyonya Zionna, aku tidak berhak mengatakan apapun…”


“Cih, ternyata kau benar-benar sangat patuh dan pintar…” puji Vann dingin.


“…” Lagi-lagi Lee tak merespon apapun.


“Baiklah kalau begitu, pastikan saja kau menjaganya dengan baik… dan pastikan dia tidak berhubungan dengan lelaki manapun… kau paham kan maksudku? Aku sangat mudah cemburu dan sangat sensitif… aku tidak suka jika ada pria lain yang mendekatinya, bahkan dirimu sekalipun…” tukas Vann blak-blakan.


“Baik, Tuan…”


“Pergilah, tetap berjaga di sini… mungkin setelah bangun, istriku akan mencarimu…”


****


Setelah tertidur selama 2 jam di kamarnya, kini Zionna terbangun dengan keadaan lebih bugar. Tentu obat itu sangat manjur dan berpengaruh. Bahkan tubuh Zionna seakan sudah kecanduan dengan narkotika yang terkandungan di dalam obat itu.


Zionna mendengar suara gaduh di luar sana. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 11 siang. Orang-orang tengah sibuk mempersiapkan acara ulang tahun Vann malam ini. Zionna memeriksa ponselnya. Ia menerima pesan dari sekretarisnya.


“Seperti yang anda katakan, Tuan Vann mencoba berbicara padaku…” tulisnya.


Zionna menghela nafas panjang, bahkan ia menyeringai kecil.


Tokk.. Tokk..


“Apa aku membangunkanmu?” tanyanya lirih.


“Tidak… masuklah…” ujar Zionna parau.


“Ibu bilang kau sedang sakit… aku membawakan ini untukmu… ini obat yang biasa aku konsumsi saat tengah drop…” ujarnya menyodorkan bungkusan cukup besar.


“Terimaa kasih, tapi, aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang…” ujar Zionna menerima obat itu.


“Benarkah? Syukurlah jika kau sudah merasa lebih baik…” angguk Ken mengerti.


“Kalau begitu, aku keluar dulu… semoga kau lekas pulih…” ujar Ken segera pergi.


Saat ia membuka pintu, sekretaris Lee ternyata juga hendak membuka pintu itu. Mereka saling terkejut.


“Bukankah pria ini sekretarismu?” tanya Ken menebak.


Zionna melirik ke arah pintu. “Hmm…” angguk Zionna cepat.


“Biarkan dia masuk…” ujar Zionna kemudian.

__ADS_1


Ken segera mempersilahkan Lee masuk. Ia melihat Lee dengan tatapan iri. Meski hanya seorang bawahan, ia punya akses sangat intens dengan Zionna.


Ken segera menuju ke taman belakang, untuk melihat-lihat di sana. Ia kepikiran dengan Zionna dan sekretarisnya. Entah mengapa ada rasa cemburu terselip di hatinya. Tak lama duduk di taman belakang seraya memperhatikan keriuhan di sana, Ken melihat Vann tengah berbicara dengan sekretarisnya, Chia. Mereka tampak sangat serius satu sama lain.


Tak lama, Vann berjalan mendekati Ken dan menyapanya.


“Kakak libur hari ini?” tanya Vann basa-basi.


“Hmm, karena hari ini adalah hari spesial… jadi aku harus meluangkan waktuku…” imbuhnya lirih.


“Terima kasih, sudah meluangkan waktumu…” ujar Vann bersyukur.


“Kau yakin istrimu baik-baik saja? Kau tidak perlu membawanya ke rumah sakit?” tanya Ken kemudian.


“Dia baik-baik saja… aku akan mengurusnya dengan baik…”


“Baiklah, lagipula aku lihat dia sudah mulai bekerja bersama sekretarisnya…”


“Bekerja?”


“Hmmm… tadi aku lihat sekretarisnya masuk ke dalam kamar…” Ken sengaja memberitahu Vann, agar ia dapat segera menemui istrinya. Setidaknya ia juga jadi lebih tenang, jika Zionna tidak tengah berduaan bersama sekretarisnya di dalam kamar.


Vann tertegun. Ia melihat ke arah jendela kamar mereka yang tertutup rapat. Kemudian ia tampak segera berlalu masuk ke dalam rumah.


Vann melangkah besar menuju kamarnya. Tak lama, ia membuka pintu kamar dan mendapati Lee duduk di atas meja kerja, sementara Zionna baring di atas tempat tidur seraya melihat sebuah berkas di tangannya.


“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Zionna datar.


Vann yang terengah di buat salah tingkah.


“Hmmm.. anu… apa yang kau lakukan? Bagaimana keadaanmu?” tanyanya canggung.


“Aku baik-baik saja…”


“Kau sedang bekerja?”


“Hmm.. ada hal mendesak yang harus aku kerjakan…” angguk Zionna cepat.


“Ah… benarkah? Tidak bisakah kau menundanya?” tanyanya salah tingkah. Ia bahkan tak tau harus bertanya soal apa pada istrinya.


“Sudah aku katakan, jika ada hal mendesak yang harus aku selesaikan..” timpal Zionna penuh penekanan.


“Ah… baiklah… maafkan aku… kalau begitu, silahkan lanjutkan pekerjaanmu… pastikan saja kau tidak kelelahan atau merasa sangat tertekan…” imbuh Vann kemudian melangkah mundur.


“Baiklah…” angguk Zionna tak acuh segera kembali fokus pada berkas kerjanya.

__ADS_1


“Kalau begitu aku keluar dulu..”


“Ya… silahkan…” Zionna tak melilhatnya lagi. Ia tampak kembali fokus pada pekerjaannya.


__ADS_2