
Pria itu menatap Zionna dengan bingung.
Zionna membalikkan kartu yang ada di tangannya.
“Bagaimana ini? Aku juga punya kartu yang sama denganmu…” gumam Zionna datar.
Pria itu tampak membelalak kaget. “Ba—bagaimana ini bisa terjadi?” ia tampak gugup.
Syuuuutttttt !!
Sebuah pisau lipat menancap tepat di punggung tangannya di atas meja.
“Arggghhhh !!!!!” pekiknya keras. Bahkan orang-orang di sekitar yang melihat itu menjadi ngeri dan lari ketakutan.
“Apa yang kau lakukan di meja suciku ini?? Seharusnya kau tidak melakukan hal kotor seperti ini…” bisik Zionna ke daun telinga pria itu.
“Argh !! Ma—maafkan aku, Nona !!!” pekiknya kesakitan.
“Bawa dia..” perintah Zionna datar pada anak buahnya.
Pisau yang tertancap di tangannya di cabut paksa oleh mereka. Pria itu terus mengerang kesakitan. Ia segera di angkut dan di seret paksa oleh anak buah Zionna.
“Maaf atas keributan ini, Tuan dan Nyonya… silahkan lanjutkan permainan kalian, aku akan memberi bonus ganti rugi, masing-masing 20 juta untuk kalian…” seru Zionna bangkit dari duduknya. Seraya menunjukkan uang di atas meja kartu itu, untuk di bagikan.
Para kliennya tampak bersorak senang dengan hal itu.
Zionna segera menuju ruang basement-nya.
Setibanya di sana ia melihat pria itu telah di ikat di atas kursi. Ia tampak ketakutan.
“Kenapa kau melakukan ini padaku?? Ma—maafkan aku !!” pekiknya terus memohon.
“Jangan minta maaf padaku… seharusnya kau minta maaf pada orang-orang yang sudah kau tipu…” gumam Zionna berkacak pinggang.
“Aku baru saja mengganti pakaianku, apa aku harus menggantinya lagi??” celetuk zionna kesal melihat tangannya terkena noda darah pria itu.
Tadinya, sesaat sebelum ia menuju ruang casino, ia telah berganti pakaian, karena pakaiannya kena noda darah dan noda muntahnya sendiri.
__ADS_1
“Ampuni aku… aku mohon.. aku berjanji aku tidak akan melakukannya lagi… a—aku juga akan mengembalikan uang mereka secepatnya…” nego pria itu memohon.
Zionna terkekeh, lalu mengehla nafas panjang.
“Kau benar-benar tidak bisa membaca situasinya?? Kau tidak akan keluar dari sini… kenapa kau bisa berpikir untuk mengembalikan uang mereka??” ujar Zionna dengan tatapan mengerikannya.
“Siallll !! Dasar wanita ****** !!! Dasar bajingan psikopat !!! Lepaskan aku !!!!” pekik pria itu memberontak.
Zionna hanya tertawa puas.
“Berteriaklah sepuasmu !!” gelak Zionna terkekeh. Ia kemudian melihat ke arah anak buahnya.
“Kuliti tangannya…” perintah Zionna santai.
“A—apa?? Apa kau sudah gila?? Ma—maafkan aku !! jangan mendekat !!!” pekik pria itu meronta-ronta. Ia terus menggila. Berusaha memberontak di balik ikatan erat itu.
Anak buah Zionna mendekati pria itu. Mulai menguliti tangannya perlahan. Zionna melihat aksi mengerikan itu dengan santai, bahkan ia menggigiti kukunya dengan kidmat. Ia benar-benar tak merasakan apapun. Tak ada sedikitpun rasa iba atau kasihan di hatinya. Bahkan ia menikmati adegan mengerikan dan menjijikkan itu.
“Jika sudah selesai, bersihkan itu, beri pengawet, dan pajang seperti biasa…” imbuh Zionna lirih lalu segera pergi setelah ia mendapat sebuah pesan dari ayahnya.
****
Drrrttt… drrrtttt…
Ponselnya bergetar. Nama Vann muncul di sana. ia tertegun. Ia mengabaikan panggilan itu, hingga Vann berhenti meneleponnya di panggilan ketiga. Selanjutnya panggilan sang ayah menghantuinya. Pria tua itu benar-benar tak menyerah meski telah di abaikan hingga panggilan ke 6 nya. Dengan malas Zionna segera menerima panggilan itu.
“Ada apa?”
“Dasar anak nakal !!! kenapa kau mengabaikan teleponku dan telepon suamimu??” serunya marah.
“Aku sedang pusing !!” keluh Zionna lirih.
“Masalah apalagi yang kau timbulkan??”
“Itu bukan urusanmu… bahkan teleponmu saat ini membuatku tambah pusing…”
“Dasar !! kau benar-benar semakin membuatku kesal… cepat hubungi suamimu… dia sangat khawatir… dia bahkan terus menghubungiku untuk menyuruhmu cepat pulang…”
__ADS_1
Zionna menghela nafas kesal.
“Benar-benar menyusahkan…” imbuh Zionna lirih segera mengakhiri panggilannya.
Ia segera mematikan ponselnya. Ia bahkan mengeluarkan baterai ponselnya keluar saking kesalnya.
****
Deggg !!
Mata Zionna membelalak kaget. Entah sejak kapan ia tertidur di atas sofa. Ia melihat sekeliling, bahkan semua lampu kamar hotelnya ia matikan. Lampu balkon samar menerangi kamar itu. Bahkan pintu balkon masih terbuka lebar. Ia segera bangkit. Saat hendak menutup pintu balkon. Ia mematung. Seseorang berdiri di balkonnya.
“Siapa kau?” tanya Zionna lirih berusaha membuka matanya lebar-lebar.
Sosok itu berdiri menghadapnya.
“Siapa kau !!!” seru Zionna keras.
Pria itu berjalan mendekat, Zionna segera meraih lampu hias di atas meja, segera menyerang pria itu dan berusaha memukul kepalanya keras. Kamar yang gelap membuatnya kesulitan mengenali sosok yang ia yakini seorang pria itu. Pria itu menepis tangan Zionna, namun Zionna dengan cepat menerjang kaki pria itu. Pria itu tersungkur. Zionna memukul keras kepala belakang pria itu dengan lampu, namun ia berusaha melindungi kepalanya seraya berusaha segera bangkit.
Krieekkk..
Pintu kamarnya terbuka, seseorang menembakkan sorotan lampu senter yang menyilaukan matanya, Zionna menutup matanya. Pria tadi segera bangkit, menendang keras perut Zionna hingga ia terpental ke lantai. Pria itu segera melarikan diri bersama temannya. Zionna mengerang kesakitan. Ia segera bangkit, berlari keluar kamar. Melihat sekeliling namun tak melihat siapapun di sana. ia segera kembali masuk ke dalam kamarnya, menghubungi sekretarisnya yang segera menghampirinya.
Bukkkk…
Zionna menendang keras tulang kering kaki anak buahnya. Bahkan kaki Lee.
“Apa yang kalian lakukan?? Kenapa kalian semua ada di lobi??” bentak Zionna murka.
“Maaf, Nona… kami menerima laporan penyusup dan terdeteksinya bom di lobi…” jelas Lee tertunduk.
“Apa??” Zionna menggaruk kepalanya kesal.
“Bajingan itu berani menyerangku… bahkan mereka berhasil menyusup kemari…” geram Zionna.
“Kami akan segera menyelidikinya, Nona…” ujar Lee menenangkan.
__ADS_1
“Cepat temukan mereka, dan penggal kepalanya !!!” perintah Zionna menggeram.
“Benar-benar bajingan sialan…” gumamnya lagi.