Appetite (Rahasia Istri Idaman)

Appetite (Rahasia Istri Idaman)
14


__ADS_3

Pagi itu Vann sengaja membawa Zionna ke perusahaannya terlebih dahulu. Ia hendak memberikan sesuatu pada Zionna. Namun, kemarin kado itu tertinggal di dalam brankas. Saat tiba di sana sang Sekretaris yang bernama Chia tampak ingin menghampirinya. Namun Vann segera menghentikan langkahnya dengan memberi kode tangannya.


“Jangan ganggu aku dulu... aku ingin privasi dengan istriku… bawakan saja teh hijau herbal hangat ke ruanganku sekarang...” perintah Vann tegas.


Bahkan Zionna tak mempedulikan keduanya sama sekali. Zionna langsung nyelonong masuk saat Vann berbicara dengan sekretarisnya.


“Sorry, Baby... silahkan duduk... aku akan mengambilkan sesuatu untukmu...” ujar Vann segera menuju lemari besar di belakang kursi kerjanya.


Di dalam sana tersembunyi sebuah brankas yang cukup besar. Vann tampak mengeluarkan sebuah kotak berwarna biru muda. Ia segera membawakannya pada Zionna.


“Sureprise !!” seru Vann tersenyum lebar seraya memperlihatkan kotak itu.


“Apa ini??” tanya Zionna dengan ekspresi datar.


Vann segera membukanya dan memperlihatkan isinya yang merupakan sebuah gelang berlian edisi khusus. Gelang itu hanya ada 10 di dunia dan satu-satunya di negara K. Vann memerintahkan sekretarisnya untuk mengikuti lelang gelang itu di negara H karena, lelang di negara K telah berlalu.


Saat Zionna datang kesana kemarin, sebenarnya Chia baru saja kembali dari acara pelelangan itu dan segera memberikan gelang tersebut pada Vann, namun saat ia masuk ke ruangan Vann, ia mendapati dasi Vann sangat berantakan. Itu sebabnya ia meminta izin untuk memperbaiki dasi tersebut. Bahkan mereka tampak bersenda gurau karena Chia menggoda Vann yang tampak sangat senang setelah berhasil memenangkan gelang itu untuk istri tercintanya.


“Ini hanya ada 1 di negara ini,” ujar Vann bersemangat.


Zionna tertegun. Bahkan gelang itu sama persis dengan yang di berikan oleh Ken. Namun ia tidak bisa mengatakannya begitu saja, karena akan menyebabkan salah paham di antara mereka.


Zionna tertegun memandangi gelang itu.


“Thanks Baby..” imbuh Zionna segera meletakkan hadiah tersebut di atas meja.


Vann memeluk erat Zionna dengan hangat.


“Kau... satu-satunya wanita yang ada di hatiku... dan hanya kau yang aku cintai, Zionna,” gumam Vann hangat.


“Hmm… aku tau,” sahut Zionna lirih.


Vann mencium tengkuk Zionna lembut.


Tokk.. tok.. tok..


Chia membuka pintu ruangan Vann seraya membawakan 2 cangkir teh hangat dan kudapan. Zionna terus memandangi wanita itu dengan tatapan dingin.


“Silahkan Tuan, Nyonya..” ujarnya mempersilahkan. Namun tatapan matanya terus tertuju ke arah kotak gelang mahal itu.

__ADS_1


“Bagaimana menurutmu tentang gelang ini?” ujar Zionna saat ia menyadari Chia tampak sangat tertarik dengan gelang itu.


“Ge—gelang ini sangat indah, Nyonya..” jawabnya terbata.


“Apa menurutmu aku cocok mengenakannya??” tanya Zionna lagi.


“Tentu saja…” angguknya setuju.


“Kau menginginkannya??” tanya Zionna dingin.


“Baby... apa yang kau bicarakan?” seru Vann merasa tidak enak hati.


“Kenapa? Kau tidak menginginkannya? Bukankah kau bilang ini sangat indah?” tanya Zionna lagi mengabaikan seruan Vann.


“Baby, what’s going on?? Kau tidak suka dengan gelang ini?” tanya Vann kebingungan.


“Aku sangat menyukai gelang ini, tapi aku tidak menyukai tatapan wanita ini,” timpal Zionna ketus.


Vann langsung melihat ke arah Chia yang tertunduk ketakutan.


“Karena gelang ini sangat indah, itu sebabnya dia sangat kagum.. kau jangan salah paham dulu.. dia wanita yang baik,” ujar Vann berusaha membela Chia.


“Bu—bukan begitu… Baby... jangan salah paham dulu..” bantah Vann berusaha menenangkan Zionna.


Drrrttt… drrttt..


Ponsel Zionna bergetar dari dalam tas, ia segera menerima panggilan itu.


“Halo... benarkah? Baiklah aku segera kesana...” ujar Zionna lirih. Ia kemudian segera menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas.


“Kalau begitu aku pergi dulu..” ujar Zionna segera bangkit.


“Kau mau pergi??” tanya Vann kaget.


“Kau harus bekerja, dan aku juga harus mengurus apartment kita,” ujar Zionna menjelaskan.


“Kalau begitu bawalah ini... jangan lupa di pakai ya,” ujar Vann segera memberikan kotak gelang itu ke tangan Zionna dengan penuh harap.


Zionna segera menyimpan gelang itu tanpa merespon.

__ADS_1


Zionna berjalan mendekati Chia. “Sebaiknya jaga selalu matamu saat aku ada di sisi suamiku... aku sangat sensitif dengan hal-hal seperti ini, dan aku sangat benci jika ada orang lain yang menginginkan milikku...” bisik Zionna dingin sehingga membuat Vann dan Chia tercekat.


“Ma.. Maafkan aku, Nyonya... aku bersalah… aku akan lebih menjaga sikapku…” mohonnya terus tertunduk.


Sementara Vann tak sanggup bergeming, ia hanya mengikuti langkah Zionna hingga ke depan pintu ruangannya.


“Jangan antar aku, sebaiknya kau segera mulai bekerja,” ujar Zionna lembut, kemudian melayangkan kecupan hangat pada bibir suaminya.


“Sampai jumpa di rumah..” ujar Zionna segera pergi.


Vann selalu di buat jantungan oleh Zionna. Meski tengah marah, Zionna tetap berlaku romantis pada suaminya. Zionna selalu tau cara memberinya serangan jantung dadakan yang membuatnya jatuh cinta berkali-kali pada sang istri. Ia pun juga segera meminta Chia untuk pergi dari ruangannya.


****


Zionna mengendarai mobil Vann untuk menuju tempat real estate yang kemarin. Sebelumnya supir Vann ingin mengantarnya, namun Zionna enggan di temani oleh orang asing. Selama di perjalanan ia saling terhubung melalui telepon dengan sekretarisnya.


“Jadi benar dugaanku… wanita sialan itu terhubung dengan nenek sihir itu...” ujar Zionna senang. “Biklah... ini jadi sangat menyenangkan... bawa semua uang yang ada di brankas, lalu segera susul aku ke bank... bawakan aku 1 buah koper besar untuk uangnya... dan jangan lupa surat perjanjian yang aku minta kemarin...” ujar Zionna kemudian segera mengakhiri panggilannya. Zionna segera menuju bank internasional untuk menarik uang tunai dalam jumlah sangat besar.


Setibanya di sana Zionna segera di sambut dan segera di alihkan ke ruang meeting VVIP bank, ia juga langsung di hampiri oleh sang manager bank.


“Selamat datang, Nyonya Zionna,” sapanya ramah.


“…” Zionna hanya mengabaikan sapaan itu seraya duduk di kursi tamu.


“Kalian sudah menyiapkannya?” tanya Zionna lirih.


“Sudah, Nyonya... hanya perlu menunggu proses penghitungan ulang sebelum di masukkan ke dalam tas anda... anda sudah membawa tasnya?” tanyanya sopan.


“Sudah, sebentar lagi sekretarisku akan segera tiba..” ujar Zionna datar.


“Baik, Nyonya... ini berkasnya... silahkan anda baca dan tanda tangani…” ujarnya lagi seraya menyodorkan 8 lembar dokumen pada Zionna.


Zionna segera membaca cepat dokumen-dokumen itu sebelum akhirnya ia tanda tangani. Dokumen itu berisi surat pernyataan penarikan uang tunai dalam jumlah besar.


Tak lama menunggu, sekretaris Zionna muncul di sana. Pria bertubuh tinggi kekar nan seksi itu muncul seraya menjinjing koper besar yang masih kosong. Ia tampak segera menghampiri Zionna.


“Ini, Nona...” ujarnya menyerahkan koper itu.


“Masukkan semua uangnya ke dalam sini...” ujar Zionna pada sang manager bank.

__ADS_1


__ADS_2