Appetite (Rahasia Istri Idaman)

Appetite (Rahasia Istri Idaman)
19


__ADS_3

Di perjalanan, Lee tampak menyodorkan sebuah amplop berisi kumpulan foto. Sejak tadi ia menyembunyikan amplop itu di sebalik jasnya. Zionna melihat-lihat foto itu secara seksama.


“Apa ayahku terlibat?” imbuh Zionna lirih.


“Aku sedang memastikannya, Nona..” jawab Lee hati-hati.


“Awasi terus pria tua ini... jangan sampai dia menjebakku atau mempermainkanku..” geram Zionna meremas foto-foto itu.


“Baik, Nona..” angguk Lee seraya terus fokus menyetir.


“Oh iya... cari kan aku informasi tentang Ken... aku ingin memastikan sesuatu... aku ingin tau seberapa banyak hasil pancinganku saat ini,” imbuh Zionna menyandarkan kepalanya di kursi penumpang mobil sportnya.


“Baik, Nona..”


***


Setibanya di apartment baru miliknya, Zionna segera memerintahkan Lee untuk pergi menyelidiki Ken. Ia berencana ingin mengerjakan semua pekerjaan di apartment dengan para agen lain. Ia menata dapurnya dengan sangat apik. Bahkan ia sampai lupa waktu.


Drrttt.. drrrttt..


Ponsel Zionna di dalam saku bergetar. Ia segera merogoh sakunya. Ia tertegun nomor asing muncul di sana. Ia segera menerima panggilan itu tanpa ragu.


“Halo..”


“Hai.. apa aku mengganggumu?” tanyanya basa-basi.


“Hmm.. siapa ini?” tanya Zionna bingung.


“Ah.. ini aku, Ken…”


“Oh… maaf…”


“Tidak apa-apa, seharusnya aku memberitahumu terlebih dahulu…”


“Aku akan mengingat nomormu...” ujar Zionna kemudian.


“Mengingat nomorku? Kau tidak akan menyimpannya?”


“Aku tidak menyimpan nomor ponsel siapapun…” imbuh Zionna santai.


“A—apa? Apa ini lelucon atau sejenis kehebatanmu?” Ken di buat tak percaya.


“Ini memang kehebatankuaku, nomor ponsel, email, alamat rumah, aku bisa menghafal semuanya hanya dalam hitungan detik dan menit…”

__ADS_1


“Wow !! Aku rasa kata sempurna tidak cukup untuk mendeskripsikan tentang dirimu…” puji Ken salut.


“Jangan berlebihan…” tukas Zionna lirih.


“Apa aku mengganggumu? Apa kau sedang sangat sibuk?”


“Tidak, aku hanya sedang memilih panci mana yang akan aku pajang di lemari dan mana yang akan aku gunakan..”


“Memangnya berapa banyak panci yang kau punya?” tanya Ken terkekeh.


“Ada 3 set dengan warna dan ukuran yang berbeda.. bukankah semua orang membutuhkan berbagai ukuran panci saat sudah menikah??” tanya Zionna polos.


“Entahlah... bahkan Selena tak pernah membeli satu set panci manapun,” gumam Ken lirih.


“Ah… maaf... sepertinya informasi yang aku terima salah,” imbuh Zionna terkekeh.


“Apa kau sudah makan siang?” tanya Ken dengan nada hati-hati.


“Makan siang? Apa sekarang sudah waktunya makan siang?” tanya Zionna melirik arlojinya.


“Kau bahkan tampak sangat serius dengan panci-panci itu sampai melupakan waktu.”


“Shit ! Ya, gara-gara panci sialan ini..” gerutu Zionna terkekeh.


“Apa kau ingin makan sesuatu? Aku bisa mengantarkannya kesana..” ujar Ken basa-basi.


“Tentu saja tidak repot sama sekali..” ujar Ken terdengar bersemangat.


“Baiklah.. aku akan mnegirimkan alamat apartmenku padamu..” jawab Zionna santai.


“Kau ingin makan apa?”


“Apapun selain sushi..” jawab Zionna enteng.


“Kau tidak suka sushi?”


“Aku sangat membencinya..” ujar Zionna cepat.


“Baiklah.. bagaimana dengan hidangan barat?”


“Itu jauh lebih baik..”


“Baiklah.. aku bersiap sekarang.. sampai nanti..”

__ADS_1


“Hmm.. sampai nanti..”


Panggilan itu segera berakhir.


***


Vann tampak tergesa-gesa sesaat setelah menyelesaikan meetingnya. Ia berencana untuk mengunjungi Zionna di apartment mereka. Ia juga akan membawa set sushi mahal untuk makan siang mereka berdua. Ia bahkan tidak tau jika sang istri sangat membenci sushi.


Ting.. Nung.. Ting… Nung..


Bel apartment nyaring berbunyi. Setengah berlari Zionna menuju pintu sesaat setelah melihat ke layar cctv depan pintu dan mendapati Ken tengah berdiri di depan sana.


“Kakak ipar tiba lebih cepat dari yang aku duga.. apa kakak bergegas datang kemari??” ledek Zionna terkekeh.


“Ah.. tidak juga..” geleng Ken tersipu.


“Silahkan masuk, apartment ini masih berantakan..” imbuh Zionna santai.


“Aku maklum...” angguk Ken seraya melihat-lihat.


“Kau memilih sendiri semuanya?” tanyanya bengong saat melihat ke dalam apartment itu. Nuansa abu-abu hitam dan putih membuat apartment itu sangat elegan dan mewah, meski Zionna hanya menggunakan furniture seadanya, namun kombinasi yang ia gunakan terlihat sangat tepat dan tampak sempurna.


“Tentu saja,” angguk Zionna bersemangat.


“Wow !! Sudah aku duga kau punya selera yang luar biasa..” puji Ken kagum.


“Ah... ini bukan apa-apa... aku hanya membeli apa yang diperlukan dan mencocokkan semuanya dengan setiap warna saja,” tukas Zionna tertawa kecil.


“Pak… Kalian boleh istirahat makan siang, silahkan pesan apapun seperti biasa...” seru Zionna ramah seraya menyodorkan black card-nya pada mandor pekerja di sana. Mereka tampak girang, dan segera berlalu keluar setelah berpamitan. Entah apa menu makan siang mereka kali ini, yang jelas mereka sangat senang bekerja bersama Zionna, karena Zionna sangat royal dan baik.


Ken sejak tadi berdiri di depan jendela yang sangat lebar dan luas, seakan sisi dinding itu tak di lapisi apapun. Ia memandang pemandangan indah yang ada di depan matanya.


“Bukankah ini sangat indah?” ujar Zionna berdiri di sampingnya.


“Tentu saja, ini sangat menenangkan…”


“Aku menghabiskan banyak uang untuk pemandangan ini,” imbuh Zionna menyombongkan diri.


“Bagaimana kau bisa menemukan apartment ini?” tanya Ken penasaran.


“Ah... ayahku mengenalkan seorang agen real estate… tentu ini berkat relasi ayahku..”


“…” Ken mengangguk mengerti. “Ayahmu juga pasti memiliki selera yang baik sepertimu..” puji Ken lagi.

__ADS_1


“Tidak juga..” geleng Zionna terkekeh.


Ken menatap ke arah Zionna dengan tatapan intens. Matanya berbinar. Dan tampak menggigit kecil bibir bawahnya.


__ADS_2