Appetite (Rahasia Istri Idaman)

Appetite (Rahasia Istri Idaman)
21


__ADS_3

Ken tampak memperhatikan Zionna dengan seksama. Ia tampak khawatir pada Zionna.


“Seharusnya kakak memberitahuku jika ingin mampir kesini... kita bisa datang bersama...” ungkap Vann menyadarkan Ken . Vann sejak tadi memperhatikan Ken yang daritadi tak henti-henti memperhatikan Zionna dengan intens.


“Aku bisa datang sendiri... lagipula Zionna juga adikku... aku bisa datang kapan saja...” jawab Ken enteng.


“Datang kapan saja? Itu terdengar tidak menyenangkan… Aku tidak senang jika kakak menemuinya seperti ini…” tukas Vann sinis.


“Baby... ada apa? Kenapa kau sinis begitu?” celetuk Zionna.


“Matanya... aku tidak suka melihat tatapan matanya saat melihatmu...” geram Vann.


Zionna melihat ke arah Ken. Ken tampak menyeringai kesal.


“Memangnya ada apa dengan tatapan mataku??” bantah Ken membela diri.


“Tatapan haus dan serakah itu… tatapan yang sangat aku kenal…” imbuh Vann lagi.


“Cih... kau ingin bertengkar denganku?” ancam Ken menggeram.


“Hentikan !!” seru Zionna keras.

__ADS_1


Ken segera bangkit dari duduknya.


“Sepertinya kehadiranku sangat mengganggumu… aku pergi...” ujar Ken lirih.


“Kakak ipar... maaf...” ujar Zionna sungkan.


“Tidak apa-apa... pastikan kau menghabiskan makan siangmu...” ujar Ken segera berlalu.


“Ah.. satu lagi..” ujar Ken berbalik melihat Vann.


“Istrimu sangat membenci sushi.. Cih, bahkan kau tidak tahu hal sesepele itu...” imbuh Ken meledek. Sontak membuat Vann tercengang. Dan Zionna hanya terdiam tak bergeming.


“Apa kalian sudah saling kenal sejak lama?” tanya Vann kemudian.


“Tidak..” geleng Zionna cepat.


“Apa kau membenci sushi?”


“Hmm...” angguk Zionna cepat.


Vann menghela nafas panjang.

__ADS_1


“Maaf seharusnya aku menanyakan hal ini lebih dulu padamu..” gumam Vann lirih.


“Ini bukan apa-apa... wajar saja kita tak saling mengenal satu sama lain... kita bahkan baru saling mengenal sesaat setelah menikah...” tukas Zionna.


“Kakak ipar juga baru mengetahuinya...” tambah Zionna lagi meluruskan.


“Maafkan aku...”


“Jangan meminta maaf... ini bukan apa-apa... ini salahku… seharusnya aku memberitahumu lebih awal...”


****


Keesokan harinya…


Di akhir pekan, ayah dan ibu Vann membuat acara ulang tahun untuk putra mereka. Mereka mengundang para keluarga dan rekan bisnis mereka. Acara megah itu di adakan di mansion mereka. Zionna pagi itu sedang tidak enak badan. Ia merasa sedang tidak sehat. Pagi itu Vann hendak membawa Zionna ke rumah sakit, namun Zionna menolak. Ia memilih untuk beristirahat lebih lama di dalam kamar.


Ibu Vann telah membuatkan ia ramuan tradisional yang telah turun temurun. Obat itu biasanya manjur untuk menurunkan demam. Zionna juga sudah menghubungi sekretarisnya, ia meminta Lee untuk membawakan obat khususnya. Obat ini lebih seperti obat penenang yang sebenarnya mengandung sedikit narkotika di dalamnya. Namun, racikan tepat membuatnya menjadi sebuah multivitamin yang super.


Biasanya Zionna selalu rutin menggunakan obat itu seminggu 1 kali. Ia memang sudah lama tidak menggunakannya karena ia sedang di sibukkan dengan perannya sebagai istri idaman. Ia bahkan hampir melupakan jati diri sebenarnya.


Lee segera masuk ke dalam kamar tidur Vann dan Zionna. Ibu Vann mengantarkan Lee ke kamar mereka saat tau jika sekretaris Zionna telah datang membawakan obat. Lee segera memasangkan infus ke tangan Zionna, ia juga tampak menyuntikkan obat ke dalam infus itu dengan dosis yang telah di atur. Zionna yang terbaring lesu tampak sangat pucat dan keringat dingin. Bahkan ia tak sanggup membuka matanya. Tak lama Vann masuk ke kamarnya. Sebenarnya, ia sudah cukup lama berdiri di depan pintu, ia hanya terus memperhatikan Lee dari luar. Ia mengawasinya dengan serius.

__ADS_1


__ADS_2