
Zionna berjalan mendekat ke arah Vann. Ia memegang sebuah gelas berisi wine. Ia berjalan perlahan dengan elegan. Saat hampir tiba, ia pura-pura tersandung, sehingga ia pura-pura tersungkur ke depan.
Namun, tangannya dengan cepat mencengkram kerah dress Chia dengan sangat kuat, hingga merobek dress Chia. Robekan itu merusak pakaian Chia cukup parah, bahkan hampir memperlihatkan dadanya. Sementara, wine yang ia pegang tadi sengaja ia guyur ke arah tubuhnya hingga wine itu membasahi sebagian tubuh Zionna.
Vann yang terkejut, reflek segera membantu istrinya untuk berdiri. Tetapi, saat ia melihat pakaian Chia yang sobek besar, membuat ia segera membuka jas-nya dan menutupi tubuh Chia. Ken dengan sigap menghampiri mereka, ia melepas jasnya dan menutupi tubuh Zionna yang basah oleh wine.
Vann yang melihat itu tampak sangat senang.
“Apa yang kakak lakukan?” tanya Vann ketus.
“Apa kau ingin aku membiarkan orang-orang memandangi tubuh istrimu yang basah kuyup?” tukas Ken merangkul lengan Zionna.
“bahkan kau sangat cekatan melindungi tubuh sekretarismu, seolah dia lebih berharga daripada istrimu !” tukas Ken segera membawa Zionna pergi.
Vann yang panik dan salah tingkah segera menarik pergelangan tangan Zionna.
“Baby !” serunya.
Zionna segera menepis keras tangan Vann.
“Aku ingin berganti pakaian…” imbuh Zionna lirih memasang ekspresi sangat dingin. Ia kemudian kembali melangkah di dampingi Ken menuju ke dalam mansion.
Semua orang yang melihat kejadian itu pun terdiam, membuat suasana menjadi sangat canggung. Vann segera masuk ke mansion menyusul Ken dan Zionna.
“Terima kasih, kakak sangat bisa mengikuti alurnya,” ujar Zionna puas.
“Tentu saja, sudah aku katakan jika kita sangat serasi…”
Kriiekkkk…
Pintu kamar terbuka lebar, Vann segera masuk ke dalam dengan wajah kebingungan.
“Kakak, keluarlah… aku ingin bicara dengan istriku…” pinta Vann lirih.
Ken tampak segera menurut. Ia segera pergi keluar.
“Kau baik-baik saja?” tanya Vann dengan nada hati-hati.
“Apa aku terlihat baik-baik saja di matamu?” tukas Zionna ketus.
“Maafkan aku…”
“Maaf untuk apa?” tanya Zionna.
Vann terdiam. Ia bahkan tidak bisa menjelaskannya.
“Bahkan kau tidak tau harus meminta maaf untuk apa…” tukas Zionna ketus.
Vann hendak memeluk Zionna, namun dengan cepat Zionna menahan tubuh itu dengan tangan kanannya. Ia menolak tubuh Vann keras.
“Jangan coba-coba untuk menyentuhku !” geram Zionna.
“Aku sudah memperingatimu, tapi sepertinya kau mengabaikan aku…”
__ADS_1
“Babe…” mata Vann tampak berkaca-kaca.
“Aku sangat menyesal, aku seharusnya melindungimu dan hanya terus melindungimu… maafkan aku…”
Zionna menatapnya dingin.
“Aku akan ke rumah orang tuaku malam ini…” ujar Zionna kemudian berbalik badan.
Dukkkk…
Suara hentakan terdengar dari arah belakang. Vann membanting lututnya ke atas lantai. Kini ia berlutut di hadapan istrinya. Ia terus memohon seraya menangis pelan.
“Baby, aku mohon maafkan aku… jangan pergi kemanapun… jangan tinggalkan aku, aku mohon maafkan aku…” pintanya memohon penuh ampunan.
Zionna menatapnya datar. “Seharusnya kau tidak mengecewakan aku, karena aku sudah berusaha untuk memberikan yang terbaik untukmu..” ujar Zionna lirih.
“Aku tau, aku salah… aku sangat bodoh… aku benar-benar sangat tolol… aku mohon, maafkan aku…” Vann terus tertunduk seraya memohon.
Zionna segera memeluk Vann erat. Vann langsung membalas pelukan itu erat dengan putus asa.
“Maafkan aku, baby…” isaknya tertahan.
“Kalau begitu, pecat dia…” bisik Zionna datar.
“A.. apa?” Vann terkejut mendengar bisikan itu, ia menatap Zionna kaget.
“Kenapa? Kau tidak bisa melakukannya?” tanya Zionna dengan tatapan mengintimidasi.
“Tentu, tentu aku akan segera memecatnya… aku akan menuruti semua keinginanmu… aku tidak ingin kita saling salah paham seperti ini…” angguk Vann cepat.
“Baiklah, lakukan saja apapun yang membuatmu nyaman, aku akan menuruti semuanya…” angguk Vann pasrah.
Zionna segera mengecup bibir Vann mesra. Ia ******* bibir itu penuh gairah dan semakin bergairah. Vann pun menerima setiap ******* itu dengan nikmat. Tangannya mulai mengusap mesra punggung istrinya. Menciumi setiap inch kulit wajah dan leher istrinya. Ia segera mengangkat tubuh itu ke atas sofa di sisi tempat tidur. Ia membuka kemejanya perlahan. Sementara Zionna hanya menatapi tubuh berototnya dengan tatapan nakalnya. Mereka saling bercumbu, tak peduli semua orang tengah mencari keduanya di luar karena acara masih berlangsung.
“Aku harus ke negara A untuk beberapa hari…” gumam Zionna lirih seraya mengusap dada bidang suaminya.
“Kapan? Apa benar-benar ada masalah?” tanya Vann segera terduduk. Ia yakin jika suasana hati Zionna saat ini memang sedang buruk.
“Malam ini… sekretarisku sudah memesankan tiket untukku… bahkan dia tidak bisa menangani masalah ini, itu sebabnya aku harus segera kesana…” jelas Zionna menyembunyikan tubuh polosnya di balik selimut.
“Mari kita pergi bersama…” ujar Vann.
“Tidak, kau harus tetap di sini, kau harus bersiap untuk project baru itu… ayahku mungkin akan segera mengajakmu bertemu untuk membahas project ini…” tolak Zionna.
“Kau yakin baik-baik saja?”
“Apa kau lupa? Aku hidup sebatang kara di negara itu cukup lama… jangan khawatirkan aku…” imbuh Zionna terkekeh.
“Apa sekretarismu akan ikut?”
“Tentu saja, dia akan membantuku selama di sana…”
“Aku sangat iri padanya…” keluh Vann bergumam.
__ADS_1
“Setelah kembali kemari, aku akan mengganti sekretarisku, agar kau tak lagi merasa gelisah karenanya…”
Vann tertegun. Ia tak menyangka jika Zionna akan melakukan itu.
“Kau yakin?”
“tentu saja…” angguk Zionna yakin.
“Kau akan memecat sekretarismu, maka aku akan mengganti Lee dengan sekretaris wanita…”
“Thanks, baby… kau sudah sangat mengerti aku,” ucap Vann tulus memeluk manja istrinya.
****
Di perjalanan menuju bandara.
Zionna di antar Jack, sang ayah.
“Kenapa kau kembali ke negara A?” tanya Jack curiga.
“Ada yang harus aku bereskan…” jawab Zionna datar.
“Aku tau apa yang akan kau lakukan…” timpal Jack menghela nafas.
“Kalau begitu jangan banyak tanya lagi…”
“Kau benar-benar akan pergi?” tanya Jack meyakinkan Zionna.
Zionna menghela nafas panjang, seolah ia enggan menjawabnya.
“Bagaimana jika suamimu tau?” Jack merasa sangat khawatir. “Kau akan menghancurkan semua rencana kita !”
“Jika ia tau? Bukankah artinya kita harus merubah target kita??” tebak Zionna enteng.
“Lihatlah, wanita gila ini kumat lagi !!” gerutu Jack kehabisan akal menghadapi putri sulungnya.
“Aku akan mengakhiri semuanya di sana, lalu segera kembali kemari…”
“Pastikan saja kau kembali dengan utuh !” tukas Jack kesal.
“Tentu saja.”
Jack melihat ke arah Zionna dengan ragu.
“Ada apa?” tanya Zionna yang merasa risih dengan tatapan Jack.
“Wanita tadi, baik-baik saja kan?” tanyanya ragu-ragu.
“Ah… wanita sialan itu? Untungnya dia masih baik-baik saja…”
“Jangan ganggu dia, itu akan merugikanmu…” saran Jack.
“Kenapa? Memangnya siapa dia? Kenapa dia bisa merugikanku??” gerutu Zionna memelototi Jack.
__ADS_1
“Dia anak dari selingkuhan Pitt…” bisik Jack.
Deggg !!!