Appetite (Rahasia Istri Idaman)

Appetite (Rahasia Istri Idaman)
28


__ADS_3

Seorang pria tampak bermain curang. Ia tampak menyembunyikan beberapa kartu di balik lengan kemejanya. Ia memenangkan permainan kartu di meja itu berkali-kali, bahkan dengan percaya diri memasang taruhan tertinggi.


Zionna sudah memperhatikannya sejak lama, dan lama-lama ia tampak semakin keterlaluan. Zionna segera memanggil anak buahnya.


“Siapa pria itu?” bisik Zionna mengisyaratkan arah ke pria itu.


“Dia pemain baru, Nona… tapi dia sangat mahir bermain kartu…” bisik anak buahnya lagi.


“Ck !” Zionna berdecak kesal. Ia yakin jika pemain itu adalah penipu ulung.


Zionna menenggak cepat minumannya. Ia berjalan mendekati meja itu seraya membawa tas tangannya. Ia segera memasang wajah polosnya.


“Waw… kau sangat handal… bolehkah aku bergabung?” seru Zionna menimpali. Ia bahkan memberi isyarat pada joki meja itu, karena tentu ia mengenali siapa Zionna. Zionna juga tampak memberi isyarat pada anak buahnya yang lain, untuk memasukkan sesuatu ke dalam minuman pria itu saat ia lengah.


“Tentu saja, wanita secantikmu akan selalu di terima di manapun… silahkan duduk…” sahutnya tersipu.


“Tapi, maaf aku tidak mahir dalam hal ini… tapi aku punya cukup banyak uang…” ujar Zionna lugu mengeluarkan segepok uangnya.


“Dan ternyata kau wanita tercantik dengan uang yang banyak…” ujar pria itu melirik Zionna dari atas ke bawah.


“jangan berkata seperti itu, hanya uang dan parasku yang bisa aku banggakan… kau akan terkejut dengan kebodohanku dalam bermain…” imbuh Zionna merendah.


“Mari bersulang…” ajak Zionna mengacungkan gelasnya.

__ADS_1


Zionna melihat bagaimana pria itu menenggak habis minumannya yang telah di berikan obat oleh anak buahnya.


“Hahaha… kau benar-benar gadis yang menarik…” pujinya lagi meletakkan gelas kosongnya ke atas meja.


Zionna melihat dari dekat pria itu, dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Hampir semua yang ia kenakan adalah barang palsu kelas 1. Bahkan Zionna memiliki jam yang sama persis dengan yang di kenakan pria itu. Tampak sangat mirip, namun tetap memiliki perbedaan yang Zionna kenali.


“Silahkan pasang taruhannya…” ujar sang joki.


“50 juta…” ujar pria itu menyodorkan uangnya.


Zionna menyodorkan semua uangnya yang bernilai 150 juta.


“Semuanya…’ celetuk Zionna datar.


“Kau akan kehilangan semuanya, dan permainan jadi cepat berakhir…” gumam pria itu.


“Semua permainan harus segera di akhiri, jadi kita bisa punya waktu untuk mengobrol…” goda Zionna.


Pria itu tampak tersipu.


“Baiklah…” angguknya. Ia turut menyodorkan semua uangnya yang bernilai 700 juta.


“Aku juga, semuanya…” imbuhnya.

__ADS_1


Zionna tersenyum.


“Ternyata dia penipu bodoh…” batinnya puas.


Mereka mulai bermain. Setiap detiknya penuh ketegangan, namun tentu Zionna terus bersantai. Ia mencuri pandang ke arah gerak-gerik tangan pria itu, bahkan ia sesekali memberikan pujian yang membuat pria itu tersipu. Hingga akhirnya pria itu membuat kesalahan. Gerakan tipuan tangannya melambat, itu adalah efek obat yang ia cerna.


Zionna melihat jelas kartu di bawah tangannya.


“Sepertinya kita akan segera mengobrol empat mata…” ujar pria itu terkekeh membanting kartunya ke atas meja. Kartu kemenangannya. Ia tampak tertawa puas. Bahkan ia dapat pujian dari penonton.


“Ternyata kau benar-benar sangat hebat…” imbuh Zionna tersenyum.


“Kemana kita akan menghabiskan malam kita?” tanyanya menggoda Zionna.


“Aku punya tempat yang bagus untukmu…” timpal Zionna tersenyum.


“Aku akan mentraktirmu…” bisiknya angkuh.


Zionna tertawa.


“Ada apa??”tanya bingung.


“Sepertinya kau melakukan kesalahan…” imbuh Zionna dingin.

__ADS_1


“Apa maksudmu??” pria itu tampak kebingungan.


__ADS_2