
Malam itu Zionna duduk termenung di balkon kamar. Vann menghampirinya. Mengusap bahu Zionna yang terbuka. Mengusapnya lembut seraya mengecupnya hangat.
“Kau marah padaku??” tanya Vann lirih.
“Marah? Soal apa?” Nada Zionna benar-benar terdengar sinis.
“Kejadian di kantorku... aku dan sekretarisku tidak ada hubungan apa-apa... yang kau lihat hanya salah paham,” jelas Vann hati-hati.
“Hmm... aku mengerti,” gumam Zionna singkat.
“Lalu, kenapa kau terlihat sedang marah dan kesal?” tanya Vann penasaran.
“Aku sedang memikirkan sesuatu,” imbuh Zionna menepis tangan Vann yang terus mengusapnya dengan nakal.
“Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu merasa lebih baik??” tanya Vann kemudian duduk di sisi Zionna.
“Aku ingin melakukan sesuatu, bisakah kau selalu mendukungku?”
“Tentu saja, aku akan selalu mendukungmu… memangnya apa yang ingin kau lakukan?”
“Aku ingin mengakuisisi sebuah perusahaan… namun sepertinya itu akan sedikit sulit...”
__ADS_1
“Kenapa? Lalu, apa yang bisa aku bantu?? Perusahaan mana yang kau inginkan?” tanya Vann penasaran.
“Aku akan memberitahumu nanti... aku sedang mempelajari setiap detailnya... kau tidak perlu melakukan apapun untukku, aku hanya butuh dukunganmu,” ujar Zionna penuh percaya diri.
“Baiklah... aku pasti akan selalu mendukungmu, jangan khawatir…”
Zionna segera memeluk erat suaminya. Membenamkan wajahnya di lekukan garis leher Vann. Zionna mencium area itu hangat. Semakin dalam dan bergairah. Tangan Vann pun mulai menggerayangi tubuh seksi istri pujaannya. Tubuh yang selalu membuatnya candu. Tubuh yang membuatnya merasa ketagihan dan terobsesi. Mereka saling menggoda satu sama lain. Vann mengangkat tubuh istrinya, menggendongnya, lalu menjatuhkannya di atas ranjang. Ia mulai mengecup ujung kaki Zionna perlahan. Kemudian perlahan naik ke atas hingga ke ujung pangkalnya. Ia mulai mengecupnya perlahan dengan lembut, hingga berakhir dengan ******* penuh gairah.
Mereka saling bercumbu dengan sangat bergairah dan eroris. Bahkan mereka mencapai puncak kenikmatan hingga berkali-kali.
***
Zionna keluar menuju perkarangan di taman belakang. Waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Ia duduk di kursi taman seraya mengeluarkan rokoknya diam-diam. Ia membakar ujung rokoknya dengan tenang. Menikmati setiap hisapan nikotin dari rokok itu.
“Hai..” sapa Zionna tersenyum.
Menyodorkan bungkusan rokok miliknya. Ken segera duduk di samping Zionna, mengambil sebatang rokok milik Zionna.
“Kau tidak lelah? Setelah bergelud dengan sangat bergairah tadi??” tanya Ken dengan nada meledek.
“Ah.. kakak ipar mendengarnya?” tanya Zionna santai.
__ADS_1
“Cih, aku bahkan melihatnya… aku duduk di sini sejak tadi… karena pemandangan dan suara gaduh itu aku harus menyingkir dari tempat favoritku ini,” gerutu Ken ketus.
“Hahaha... maaf...” timpal Zionna santai.
“Hei, setidaknya pastikan menutup jendela kamar kalian lain kali…” timpalnya lagi.
“Baiklah, maafkan aku… itulah sebabnya aku ingin segera pindah... aku butuh privasi..” ujar Zionna menghisap rokoknya dalam.
“Tentu saja, dan pastikan kalian memilih apartment yang kedap suara…” celetuk Ken lagi.
“Hahahaha…” Zionna hanya tergelak lepas.
“I—itu pasti terasa sangat luar biasa kan,” gumam Ken lirih.
“Apanya?”
“Yang kalian lakukan tadi...” timpalnya lirih seraya menatap Zionna intens.
“Tentu saja, lagipula kakak ipar juga bisa melakukannya dengan istrimu…” celetuk Zionna terkekeh.
“Cih.. Dia…sangat payah urusan ranjang,” gumam Ken lagi.
__ADS_1
“Haruskah aku mengajarinya?” timpal Zionna santai menatap Ken dengan tatapan nakalnya.
Ken membalas tatapan Zionna dengan lekat.