Appetite (Rahasia Istri Idaman)

Appetite (Rahasia Istri Idaman)
9


__ADS_3

Hidangan sarapan pagi itu membuat semuanya tampak terperangah. Zionna bangun awal untuk menyiapkan sarapan pagi bersama para koki di mansion.


“Wah.. apa ini??” seru Evy terperangah.


“Maaf... apa ini berlebihan?” tanya Zionna sungkan.


“Kau melakukannya??” seru Pitt kagum.


“Aku hanya sedikit membantu,” ujar Zionna tersipu.


“Apa kebiasaanmu memang mencari muka seperti ini??” timpal Selena sinis. Sejak tadi malam ia sangat kesal dan mulai membenci Zionna.


Zionna tertegun mendengar ucapan itu, Ken yang melihat hal itu segera menarik tangan istrinya untuk segera pergi dan melewati sarapan mereka.


“Maaf, kami harus segera berangkat..” ujar Ken pamit.


“Ayo...” Ken menarik tangan Selena menyeretnya keluar.


“Masih pagi mereka sudah membuat kebisingan,” gumam Pitt segera duduk di meja makan.


“Jangan hiraukan mereka,” bisik Vann mengusap kepala Zionna lembut.


Zionna hanya mengangguk pelan. Tentu, hal seperti itu membuatnya sangat tidak senang. Namun ia harus menahan diri untuk sementara waktu.


“Apa rencanamu hari ini, Zionna?” tanya Pitt menyantap sarapannya.


“Aku akan melihat beberapa apartment di pusat kota,” jawab Zionna seraya menyantap sarapannya.


“Kalian akan tinggal di apartment?? Aku kira kalian akan tinggal di mansion ayahmu,” timpal Ana ibu mertuanya.


“Ah… aku lebih nyaman tinggal sendiri daripada dengan mereka... Lagipula Vann tidak akan nyaman jika tinggal bersama orang tuaku,” jelas Zionna hati-hati.


“Bagaimana menurutmu, Vann??” seru Ana meminta pendapat putranya.


“Aku akan mengikuti pilihannya... aku ingin istriku tinggal dengan nyaman…” Vann memberikan tanggapan yang cukup tegas.


“Tentu saja kau harus membuatnya nyaman... jangan sampai mengecewakan istrimu,” seru Pitt menimpali.


Paul dan Evy hanya menatap keduanya dengan tatapan sinis. Mereka kini merasa terabaikan oleh pasangan pengantin baru ini.


****


Zionna berdiri di tengah terik panas pagi menemani sang ayah bermain golf.


“Apa kita harus main golf di cuaca seperti ini?” gerutu Zionna kepanasan.


“Bukankah kau suka langit yang cerah? Cuaca ini bisa membantumu menghasilkan narkob* dengan kualitas terbaik,” timpalnya meledek.


“Zaman sudah canggih.. bahkan aku tetap bisa menghasilkan narkob* dengan kualitas terbaik di musim dingin,” jawab Zionna santai menyombongkan diri.

__ADS_1


“Aku dengar polisi menemukan seorang pria tewas mengenaskan di pembuangan sampah pinggir dermaga,” ujar Jack seraya mengayunkan tongkat golfnya, mengenai bola putih kecil itu, mengantarnya terbang melayang.


“Nice shoot !” seru Zionna riang mengabaikan ucapan ayahnya.


“Zionna.. kau tidak lagi ada di negara A... kau tidak bisa berbuat sesukamu di sini !” gerutu Jack menggeram.


Zionna menghela nafas panjang.


“Lalu apa gunanya memiliki seorang ayah yang kaya raya dan berpengaruh di negara ini? Bukankah kau bisa menutup mulut mereka untukku? Seperti yang biasa kau lakukan selama ini?” timpal Zionna tenang, seraya mengatur posisi stick golf-nya hendak memukul bola.


“Setidaknya aku tidak pernah mengotori tanganku sendiri untuk menghabisi mereka...” geram Jack lagi.


“Shit ! Jadi, sekarang kau sudah bisa mengakuinya? Selama ini kau bersusah payah bersandiwara di depanku,” timpal Zionna tercengang mendengar pengakuan kejahatan Jack secara tidak langsung.


“Wah, aku merasa sangat senang sekarang… kini aku merasa jika aku benar-benar putrimu, karena kita punya kemiripan yang signifikan.” Zionna terkekeh senang dengan raut wajah jokernya.


“Bajingan tengik,” umpat Jack mengomel.


“Aku akan memberikan project pengembangan kota distrik 3 pada Vann,” imbuh Zionna lagi memukul keras bola golf-nya hingga terbang melambung tinggi.


“What?? Kau gila?!! Kau tau berapa nilai project itu??” seru Jack shock. Ia bahkan tampak membanting stik golfnya kesal.


“Aku punya rencana,” imbuh Zionna tenang.


“Tidak ! Jangan pertaruhkan project itu untuk rencana gilamu,” timpal Jack tidak setuju.


“Bukankah kita punya tujuan dan misi yang sama? Lalu Kenapa kau meragukanku? Bukankah sudah seharusnya kau mendukungku sepenuhnya?” gumam Zionna mendekati Jack dengan tatapan dinginnya.


“I—iya.. tapi… jangan pertaruhkan project ini… kau tau apa yang sudah aku lakukan untuk mendapatkannya?” mohon Jack tertunduk.


“Aku tidak peduli dengan apa yang sudah kau lakukan dan kau korbankan… aku akan melakukan semuanya dengan caraku, jadi sebaiknya kau ikuti saja alurnya dengan baik.” Zionna mengelus kepala ayahnya lembut dengan tatapan intimidasi yang mengerikan.


“Aku mohon, berikan apapun padanya, tapi jangan project ini.” Jack terus memohon.


“Jika semuanya berjalan dengan baik, project itu tidak akan berarti apa-apa… Kenapa kau sangat cemas?”


“Kau yakin semuanya akan berjalan lancar?”


“Apa aku pernah gagal?” timpal Zionna menatap Jack intens.


Jack menggeleng cepat.


“Benarkan?! Maka dari itu, tutup mulutmu dan berhenti memintaku untuk menemanimu bermain golf di cuaca sepanas ini.” gerutu Zionna sinis.


Ia segera pergi meninggalkan Jack yang hampir kena serangan jantung karena ulahnya. Ia bahkan mati ketakutan pada putrinya sendiri.


Setelah berkemas, mereka berencana akan makan siang bersama di restoran pilihan Jack.


“Vann sudah masuk kerja?” tanya Jack memeriksa ponselnya.

__ADS_1


“Tentu saja, bahkan dia sangat gila kerja di saat baru saja menikah..” gerutu Zionna lirih.


“Lalu apa yang kau harapkan?? Terus-terusan berada di atas ranjang??” timpal Jack meledek.


“Apa kau pikir aku menikmati hubungan **** itu?” celetuk Zionna menatap Jack sinis.


“Sehebat apapun dia, itu membuatku mual dan terasa menjijikkan,” ungkap Zionna menggeram.


Jack mengunci mulutnya rapat, sudah seharusnya dia diam atau membuat Zionna murka padanya.


“Aku akan mencari apartment hari ini,” celetuk Zionna lagi.


“Kenapa kau tidak tinggal di mansion saja? Kau bisa tinggal di mansionku yang ada di pusat kota..”


“Tidak.. aku ingin hidup dengan tenang tanpa siapapun di apartment itu, bahkan mansion itu terlihat seperti tempat penampungan pekerja rumah tangga.”


“Baiklah, nanti aku akan mencarikannya untukmu.” Jack tak ingin berdebat lagi.


“Pastikan aku punya ruang rahasia di dalamnya..” imbuh Zionna lagi.


“Ruang rahasia? Baiklah..” angguk Jack setuju.


“Kita mau makan dimana?” tanya Zionna melihat jalanan dari balik jendela mobil ayahnya, Jack.


“Di restoran sushi favorite-ku.”


“Ah... kau tau aku benci sushi-kan?” celetuk Zionna lagi-lagi menggerutu.


“Apa kau sengaja melakukan ini padaku? Setelah mengajakku bermain golf, sekarang makan sushi?”


“Hei !! apa kau tidak bisa sehari saja tidak marah-marah padaku?” bentak Jack pusing mendengar semua keluhan Zionna.


Sontak Zionna melirik ke arahnya dengan tatapan datar.


“Kau membentakku??” tanya Zionna lirih.


“Ti—tidak, maksudku… setidaknya kau cukup berbicara dengan pelan dan baik tanpa marah-marah.. kau membuatku takut,” gumamnya beralasan.


“Baiklah, ayah” ujar Zionna bernada sangat lembut dan manis.


“Putrimu ini… sangat sangat sangat membenci sushi... bisakah kita makan siang dengan menu yang lain?” ujar Zionna sangat lemah lembut seraya tersenyum.


“Wah.. ternyata melihat dan mendengarmu seperti ini jauh lebih menakutkan daripada mendengarmu marah-marah seperti biasanya,” imbuh Jack memalingkan wajahnya ngeri.


“Aishh… dasar tua bangka menyebalkan..” ketus Zionna segera merogoh sakunya saat merasakan getaran pada ponselnya. Zionna tertegun sesaat menatap layar ponsel itu.


“Suamimu menelepon??” tanya Jack penasaran.


“Nomor asing” imbuh Zionna lirih.

__ADS_1


“Cih.. apa kau masih punya kebiasaan tidak menyimpan nomor telepon orang lain?” tanya Jack penasaran.


“Tentu saja, untuk apa aku repot-repot menyimpan nomor ponsel semua orang, jika aku bisa mengingat dan menghapalnya hanya dengan satu kali melihatnya…” jawab Zionna enteng segera menerima panggilan itu.


__ADS_2