
Bab 6
Pagi itu mereka sarapan roti bakar dengan saus karamel dan secangkir kopi, serta ada salad buah dan juga salad sayur. Vann menata meja makan dengan seadanya, ia tak mahir dalam hal itu. Ia hanya berinisiatif untuk melakukannya demi membuat Zionna kagum.
“Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Vann menyeruput kopinya.
“Cukup lancar... tapi tetap saja, jika aku tidak di sana mereka sedikit kewalahan,” jawab Zionna melahap salad buahnya.
“Hmm... apa aku boleh tau apa saja aktivitasmu sehari-hari sebelumnya?”
“Tentu, aku pergi bekerja senin sampai jumat, dari pukul 8 pagi sampai malam... Jamnya tidak pernah tentu... Aku bisa pulang pukul 10 malam atau bahkan hingga pukul 3 pagi.. Saat libur aku benar-benar tidak menyentuh pekerjaanku di perusahaan apapun yang terjadi...”
“Wow ! Lalu apa yang kau lakukan saat libur?”
“Aku melakukan apapun yang ingin aku lakukan”
“Apapun?”
“Hmm... mendaki gunung, berkuda, memanah... hal-hal seperti itu...”
“Benarkah?? Wah, aku benar-benar insecure. Semakin aku tau semakin membuatku berdebar,” ujar Vann polos dengan wajah penuh kekaguman.
“Hahaha… Itu hal yang biasa,” gelak Zionna.
“Olahraga apa yang kau suka?” tanya Vann lagi penuh penasaran.
Zionna tampak berpikir keras. “Aku suka semua kegiatan olahraga.”
Vann benar-benar di buat takjub. “Kalau begitu aku akan merubah pertanyaanku... Olahraga apa yang tidak kau suka??”
“Well, itu lebih mudah untuk ku jawab... aku sangat benci olahraga panjat tebing... karena itu melukai tangan indahku ini,” ujar Zionna seraya menggerak-gerakkan jemarinya lucu.
Vann terkekeh “Kalau begitu, mulai sekarang jangan melakukan apapun yang menyakiti tanganmu... Aku tidak suka melihat kau terluka.”
Zionna tersenyum. “Baiklah, sayangku.”
“Lalu, apa yang kau lakukan saat malam hari?” lagi-lagi Vann masih menanyakan pertanyaan lain.
“…” Zionna tertegun. Raut wajahnya berubah menjadi datar.
“Memangnya apa yang harus aku lakukan saat malam hari selain tidur?” tanya Zionna kemudian menyeringai.
Vann menemukan ekspresi Zionna yang lainnya, ia benar-benar memiliki banyak ekspresi yang sulit untuk di artikan.
“Bukan begitu... mana tau kau melakukan hal lain. Contohnya, aku suka membaca buku sebelum tidur...”
“Sudah aku duga, aku bisa tau itu tanpa kau memberitahuku... Bahkan kau membawaku ke perpustakaan untuk kencan pertama kita,” ledek Zionna terkekeh.
__ADS_1
“Maaf... aku benar-benar tidak punya referensi tempat lainnya,” imbuh Vann tidak enak hati.
“Kenapa kau selalu meminta maaf padaku... bahkan kau tidak melakukan kesalahan apapun padaku,” tukas Zionna terkekeh. “Kalau begitu, aku akan merubah kebiasaanmu membaca buku sebelum tidur”
“Apa yang akan kau lakukan?”
“Tentu saja, melakukan hal-hal panas dan bergairah seperti malam sebelumnya,” goda Zionna tertawa.
“Kau benar-benar nakal.” Vann di buat tersipu malu oleh Zionna.
“Apa kau tidak ingin menanyakan apapun soal aku??” tanya Vann penasaran.
“Aku tidak perlu melakukannya,” geleng Zionna santai.
“kenapa?” Vann bengong.
“Karena aku ingin mengenalmu perlahan dengan caraku sendiri,” jawab Zionna mantap.
“…” Vann tersipu. “Apa kau yakin tidak pernah berkencan sebelumnya??”
“Memangnya kenapa??”
“Kau sangat manis dan romantis seperti ini... Rasanya mustahil bagiku jika kau tidak pernah berkencan” Vann tampak mencurigai masa lalu Zionna.
“Tidak ada yang mustahil dalam kamusku... Aku bahkan juga sangat gugup bersikap seperti ini, karena ini bukan kebiasaanku... Aku hanya berusaha membuka diriku padamu... Aslinya... Aku orang yang sangat melelahkan, bahkan ayahku saja selalu kesal meski baru bertemu denganku... Itu sebabnya dia membuangku ke negara A,” jelas Zionna santai seraya menyirami roti bakarnya dengan saus karamel.
“Kau pikir aku bercanda??” tukas Zionna dengan wajah serius.
“Be--benarkah?” Vann tampak merasa bersalah atas ucapannya.
“Tentu saja tidak…” ejek Zionna lagi-lagi mengerjai Vann.
“Aku ini anak kesayangannya... Mana mungkin dia bisa menyingkirkanku begitu saja hahaha...”
“Cih... kau ini... membuatku takut saja.”
“Jadi... sebaiknya kau selalu berbuat baik padaku... atau Tuan Jack akan sangat murka padamu,” ancam Zionna dengan nada manis.
“Aku janji... aku akan selalu baik padamu... jangan kau ragukan itu... percaya saja padaku,” ujar Vann penuh percaya diri.
****
Malam itu, Zionna dan Vann datang bersama, Zionna mengenakan dress fit body berwarna senada dengan kemeja Vann. Bagian atas dress-nya sedikit terbuka, ia tampil sangat cantik, seksi dam mempesona.
Setiba di depan mansion keluarga Vann, Vann meminta Zionna menunggu di halaman, karena ia harus menerima panggilan telepon dari perusahaannya.
“Hai...” sapa Ken dari arah dalam mansion. “Kalian sudah tiba…”
__ADS_1
“Hai...” sahut Zionna ramah.
“Mana si idiot itu?” tanya Ken asal. Zionna melemparkan tatapan dinginnya, sehingga membuat Ken terintimidasi.
“Ah... maksudku Vann... dimana dia?” ujarnya mengulang pertanyaannya.
“Dia sedang menerima telepon,” jawab Zionna kembali tersenyum.
“Selamat datang di keluarga ini, maaf aku belum sempat mengucapkannya kemarin,” celetuk Ken basa-basi.
Zionna hanya mengangguk pelan. Ia sadar jika Ken tak henti-hentinya memandangi tubuhnya dengan tatapan nakal.
“Dimana kakak ipar?”tanya Zionna basa-basi.
“Mereka semua sudah menunuggu kalian di dalam... Aku keluar untuk merokok,” ujar Ken menunjukkan rokoknya.
Zionna merogoh tasnya lalu menyodorkan sesuatu pada Ken.
“Cobalah ini… Kakak ipar pasti akan menyukainya...” Zionna menyodorkan sebungkus rokok merk Bl*ck D*vil.
“Menurutku ini rokok terbaik yang pernah ada... rokok ini di impor langsung dari Belanda... aku bisa memesankannya untuk stok kakak ipar jika kakak menyukainya.” Zionna berusaha bersikap ramah sebaik mungkin.
“Cih... kau ternyata juga seorang perokok?” tukas Ken kaget.
“Hanya di saat tertentu.” Zionna menatap punggung bidang Vann yang tengah membelakangi mereka seraya menelepon.
“Kenapa kau menyukai rokok ini??” tanyanya melihat kotak rokok itu dengan seksama, mengalihkan pandangan Zionna dari Vann.
“Ah... Rokok ini mengandung vanila dengan rempah-rempah chai, dan baunya sangat khas jadi aku benar-benar menyukainya...”
“Kalau begitu aku akan mencobanya, terima kasih...”
Zionna mengangguk tersenyum lebar.
“Apa dia tau?” tanya Ken memberi isyarat ke arah Vann yang tampak berjalan menuju mereka.
Zionna menggeleng cepat. “Sebaiknya rahasiakan ini,” bisik Zionna lirih.
“Baiklah” angguk Ken menyeringai.
“Ayo kita masuk…” Vann segera merangkul lengan Zionna mesra masuk ke dalam mansion.
Makan malam itu sangat mewah. Kedua orang tua Vann tampak sangat terpesona dengan Zionna.
“Selamat datang di keluarga kami... semoga kita akan selalu akur satu sama lain,” ujar Pitt, ayah Vann terkekeh.
“Tentu saja ayah... aku akan selalu berbakti pada kedua mertuaku dan akan menjadi menantu yang tidak akan pernah mengecewakan kalian.”
__ADS_1
“Ah... kau manis sekali... orang tuamu pasti mendidikmu sangat baik... kau sangat cantik dan juga punya kepribadian yang luar biasa,” puji ibu Vann senang, membuat Selena dan Evy menatap sinis ke arah Zionna dan merasa iri. Bahkan sebelumnya mereka tidak pernah di puji seperti itu.