
“Tentu saja, aku akan mengundang kakak ipar untuk berkunjung saat apartment itu telah siap untuk di tempati,” ujar Zionna tersenyum hangat.
Selena dan Evy saling melirik satu sama lain.
“Lalu siapa pria tadi yang bersamamu di mall?” tanya Selena memperlihatkan layar ponselnya yang menunjukkan foto Zionna dan Lee.
Zionna hanya tertawa kecil. “Ah... dia sekretarisku…” jawab Zionna terkekeh.
“Hah?! Sekretaris? Pria ini?? Mana mungkin ada pria setampan ini menjadi sekretaris...” tukas Evy tak percaya.
Zionna hanya terus tertawa tanpa henti.
“Jika kalian tidak percaya, itu urusan kalian berdua..” tukas Zionna berlalu pergi masuk ke dalam.
Selena dan Evy tampak sangat kesal saat Zionna justru meledek keduanya dengan foto itu. Tak lama mobil Vann tampak masuk ke halaman. Selena dan Evy menunggu Vann segera keluar dari mobilnya. Tadi, setelah Zionna membeli mobil baru, ia segera meminta supir Vann untuk menjemput mobil itu di parkiran basement apartment mereka.
“Adik ipar.. kau sudah pulang?” sapa Selena basa-basi.
“Iya, kak..” angguk Vann lesu berjalan menghampiri kedua kakak iparnya yang tengah berdiri di ambang pintu masuk rumah.
“Bagaimana apartment kalian?” tanya Selena lagi memancing.
“Ah.. Zionna bilang sudah 65 persen... kami bisa segera pindah ke sana saat semua sudah selesai…” jelas Vann.
Sebelum mobilnya di jemput tadi, Zionna sempat membahas perihal apartment itu, sehingga ia tau berapa banyak perkembangannya dari yang telah Zionna siapkan untuk tempat tinggal mereka kelak.
“Kau membiarkannya dia melakukan semuanya sendiri? Kau tidak membantunya?” tanya Evy penasaran.
“Dia ingin melakukan semuanya sendiri... dia ingin aku fokus bekerja untuk mempersiapkan pengerjaan project baru bulan depan,” jelas Vann tenang.
“Kau yakin dia melakukan semuanya sendiri?” tanya Selena lirih.
“Tentu saja.. memangnya kenapa kakak ipar bertanya seperti itu?” tanya Vann bingung.
“Lihatlah...” ujar Selena memperlihatkan foto tadi.
Sontak Vann tertegun. Ia langsung berpikiran yang tidak-tidak. Bagaimana tidak? Lee adalah pria tampan dengan tubuh proposional dan kekar. Meski Vann jauh lebih tampan, namun tetap saja. Siapa yang tidak cemburu jika istri mereka pergi dengan pria tampan lainnya.
__ADS_1
“Dari mana kakak ipar mendapatkan foto-foto ini?” tanya Vann dingin.
“Kebetulan kami melihatnya sedang berbelanja di mal... jadi aku kira kau tau siapa pria ini.. apa dia benar-benar tidak memberitahumu siapa pria ini?” ujar Selena memancing.
“Aku masuk dulu..” celetuk Vann berlalu masuk ke dalam. Ia mengabaikan kedua kakak iparnya itu. Selena dan Evy tampak senang dengan reaksi marah Vann. Mereka merasa berhasil membuat Vann dan Zionna bertengkar, karena pertengkaran itu akan segera terjadi.
Setibanya di dalam. Vann mendapati semua orang sudah ada di meja makan, bahkan mereka tengah kedatangan tamu yaitu orang tua dari Evy.
“Vann kau sudah pulang?” sapa ibunya saat melihat Vann yang baru saja masuk.
“Baby... kemarilah…” sahut Zionna memanggil mesra sang suami seraya tersenyum hangat.
Sontak semua pikiran buruk dan kecemburuan Vann hilang dan melayang seketika. Rasa marahnya seakan mereda saat mendengar suara manja dari sang istri. Vann segera menuju kursinya, Zionna juga tampak menyajikan makanan dan minuman untuk sang suami dengan telaten.
“Dia benar-benar istri idaman... bahkan dia sangat telaten mengurus kebutuhan suaminya...” puji ibu Evy memperhatikan.
“Benarkan? Kalian juga setuju dengan penilaianku... Sudah aku bilang, aku sangat beruntung memiliki menantu sepertinya... maksudku... Evy dan Selena tentu juga sangat telaten dalam urusan rumah tangga seperti Zionna... Tapi, dia sedikit berbeda…” ujar Pitt dengan maksud memberi sindiran.
Ken terdengar menghela nafas panjang saat menyantap makan malamnya. Kecemburuannya terhadap Vann kini perlahan muncul. Ia bahkan punya keinginan untuk memiliki istri seperti Zionna. Meski terlahir kaya, ia tetap sangat mandiri dan membanggakan.
Setelah acara makan malam bersama, orang tua Evy pamit untuk pulang, sementara yang lainnya segera kembali masuk ke dalam kamar masing-masing. Setibanya di kamar, Zionna segera menuju ruang ganti pakaian. Ia melepaskan perhiasan serta melepas pakaiannya karena hendak pergi mandi.
“Memangnya mereka mengendarai mobil apa?” tanya Zionna menggerai rambutnya.
“Mobil sport abu-abu di halaman... kau tidak melihatnya?” tanya Vann.
“Ah... itu mobilku...” timpal Zionna dengan tatapan bingung.
“Mo—mobilmu ? Kau membeli mobil sport itu?” tanya Vann kaget.
“Kenapa kau terkejut begitu? Kan aku sudah memberitahumu sebelumnya…” jawab Zionna santai seraya menyisir rambutnya.
Vann tertegun.
“Aku tau… aku pikir itu hanya mobil SUV mewah biasa…”
“Sejujurnya sudah lama aku menginginkannya… kebetulan sekali aku sedang butuh sebuah mobil…” Zionna berusaha menjelaskan dengan baik.
__ADS_1
Vann tiba-tiba merasa kecewa pada Zionna, karena sang istri tak bergantung padanya. Zionna melakukan dan mendapatkan semua keinginannya sendiri. Bahkan saat menerima kado darinya tadi pagi, Zionna tampak tidak begitu senang.
“Kau tidak suka mobilnya?” tanya Zionna menerka saat melihat raut wajah Vann yang cemberut.
“Ah... bukan begitu... aku sangat suka... hanya saja... aku merasa sedih karena kau belum meminta apapun dariku... kau melakukan semuanya sendiri... aku merasa tidak berguna…” keluh Vann lirih.
“Apa yang kau bicarakan? Kau sedih karena hal itu?” tanya Zionna kaget.
“Hmm... aku juga ingin kau bermanja denganku dan meminta sesuatu yang kau inginkan dariku…” ungkapnya lirih.
“Hahahaha..” Zionna tertawa lepas. Ia segera menghampiri Vann. Mengusap wajah tampan suaminya. “Kau menggemaskan sekali...” gumam Zionna seraya mengecup pipi Vann hangat.
“Kalau begitu besok pagi buatkan aku sarapan yang sangat enak…” pinta Zionna manja.
“Hanya itu?” tanya Vann meyakinkan.
“Hmm... hanya itu... itu sudah membuatku sangat senang…” ujar Zionna tulus.
“Baiklah... aku akan membuatkan yang teristimewa untukmu...” angguk Vann setuju. Ia kemudian memeluk tubuh ramping Zionna erat dan hangat.
“I love you, Baby...” ujarnya lirih.
“Me too, Baby…” balas Zionna lirih membenamkan wajahnya pada dada bidang Vann yang berotot.
****
Benar saja, pagi-pagi buta Vann membuat keributan di dapur hingga membangunkan semua orang di mansion, kecuali Zionna yang masih tertidur pulas. Setelah begadang semalaman, ia sibuk melayani gairah sang suami, lalu di sibukkan dengan pekerjaannya hingga subuh.
“Apa yang kau lakukan pagi-pagi buta begini…” gerutu ibunya menghampiri Vann di dapur.
“Maaf, Bu... aku sedang membuat sarapan untuk istriku..” ujarnya terkekeh.
“Cih... apa dia hanya menyiapkan sarapan untukmu di awal pernikahan saja?” timpal Selena ketus karena ikut terganggu dengan suara bising itu.
“Aku yang ingin melakukan ini untuknya... bagaimanapun kemarin istriku sudah bersusah payah menyiapkan tempat tinggal kami… jadi setidaknya aku juga harus memanjakannya…” timpal Vann membela istrinya.
“Tentu saja... kau melakukan hal yang benar, Nak... ternyata putra bungsuku sudah sangat dewasa...” puji ibunya senang.
__ADS_1
Lagi-lagi Selena di buat iri dan kesal karena Zionna. Ia merasa semenjak kehadiran Zionna. Ia merasa telah terabaikan dan tersaingi.
****