
Pitt kembali duduk di ruang makan, dimana anak dan menantunya yang masih minum-minum di sana.
“Ayah... apakah ayah tidak terlalu berlebihan pada mereka berdua??” tukas Selena cemburu.
“Berlebihan apanya??” tukas Pitt membela diri.
“Ayah dan ibu mengganti semua perabotan kamar mereka, bahkan saat kami pindah kemari ayah dan ibu tak memberi kami satupun perabotan yang baru..” jelasnya kesal.
“Hei, apa kau mabuk?? Pergi ke kamarmu sana !” Pitt mengusir Selena yang tengah marah padanya.
Selena segera pergi meninggalkan semuanya di meja makan dengan sangat kesal. Sementara Evy yang merasa canggung dengan situasi itu segera menyusul Selena naik ke lantai 2 menuju kamar mereka.
“Apa ayah senang punya menantu seperti Zionna??” ujar Pitt memutar gelas wine nya di atas meja.
“Tentu saja.. kau tau berapa banyak kekayaan yang akan ia warisi??” gumam Pitt.
“Setidaknya jangan terlalu menampakkan kesenangan ayah di depan istri kami...” timpal Chris menimpali.
“Bagaimana jika mereka mengatakan yang tidak-tidak pada keluarga mereka dan menimbulkan masalah...” gerutu Chris ketus.
“Cih... bahkan aku yang membayar tagihan kartu kredit istri kalian... mereka berdua benar-benar tidak berguna… Jadi, sebaiknya pastikan mereka tidak bertingkah selama tinggal di sini !” Seru Pitt murka.
“Apa ayah yakin Zionna tidak akan sama dengan Evy dan Selena?? Dia juga pasti akan menggerogoti keluarga ini..” keluh Chris berdebat.
“Apa kau memang sebodoh ini?? Bahkan keluarganya 3 kali lipat lebih kaya dariku, untuk apa mereka menggerogoti keluarga ini, hah?” bantah ayahnya berteriak.
“Ayah benar-benar sudah hilang akal karena uang,” celetuk Chris kesal.
“Diam kau ! Sebaiknya kalian urus perusahaan dengan baik !! bahkan kalian tidak becus mengurus perusahaanku !! apa kau tidak malu pada adik kalian Vann?? Aku selalu mengucilkannya tapi dia selalu memuaskanku dalam berbagai hal… bahkan kini dia telah menikahi wanita terbaik di negeri ini !!” ujar Pitt keras.
Pitt dan Chris hanya menggeretakkan gigi karena kesal. Mereka segera pergi meninggalkan ayah dan ibunya.
Sementara di dalam kamar, Zionna tengah menguping pembicaraan itu dari dalam kamar mandi. Ia tersenyum puas. Ia kemudian melepas earbud dari telinganya. Ternyata ia telah memasang alat penyadap di bawah meja saat makan malam tadi tanpa di sadari oleh siapapun.
****
Setelah menyelesaikan pekerjaannya melalui laptop yang selalu ia bawa, Zionna melirik arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Ia bahkan tak bisa tidur sama sekali. Zionna melirik ke arah Vann yang tengah tertidur sangat pulas. Zionna membuka jendela kamarnya yang mengarah ke taman belakang. Disana, ia melihat seseorang tengah duduk di taman belakang sambil merokok.
“Bagaimana rasanya??” ujar Zionna mengagetkan Pitt dari arah belakang. Zionna memutuskan menghampiri Pitt di sana. Saat itu, Pitt tengah menghisap rokok pemberiannya.
“Apa yang kau lakukan di sini?? Kau belum tidur??” tanyanya kaget.
“Aku baru saja selesai mengurus pekerjaanku,” jawab Zionna duduk di sebelah Pitt.
“Kau bekerja sampai selarut ini?”
__ADS_1
“Perbedaan waktu cukup menyulitkanku… lagipula kita harus bekerja tanpa mengenal waktu jika ingin memiliki banyak uang…” gumam Zionna lirih duduk di samping Pitt.
Pitt menyodorkan sebatang rokok dari dalam kotak hitam itu. Zionna meraihnya meletakkan ke sudut bibirnya. Pitt menyalakan api untuknya. Zionna tampak menikmati tiap hisapan rokoknya.
“Wow… kau tampak sangat berbeda dengan rokok itu… seakan aku tengah melihat sisi lain dari dirimu,” imbuh Pitt terpukau.
“Berbeda??” tanya Zionna menoleh padanya.
“Ya, maksudku… kau terlihat sangat keren... hahaha... padahal tadi kau terlihat sangat anggun saat makan malam…”
“Ah... tentu saja, setidaknya aku harus menjaga sikap di depan orang tua... bukankah begitu??” ujar Zionna.
“Hmm... ya... tentu...” angguk Pitt setuju.
Pitt kembali menoleh ke arah Zionna. Menatapnya intens. Ia memperhatikan setiap garis wajah Zionna seraya mengaguminya.
“Apa yang kakak ipar lihat??” tanya Zionna acuh saat menyadari jika Ken tengah memperhatikannya.
“Ah... ti--tidak ada,” gelengnya cepat mengalihkan pandangannya dengan salah tingkah.
“Jangan menatapku terlalu lama, itu akan membahayakanmu...” timpal Zionna menyeringai.
“Apa kau menyukai Vann??” tanyanya kemudian.
“Hanya karena itu?”
“Aku suka pria yang baik, patuh dan tidak banyak bicara.” Zionna terkekeh seolah ia sosok yang gemar bergurau.
“Sesederhana itu?” Ken terdengar tidak puas dengan jawaban yang Zionna lontarkan.
“Aku selama ini tinggal sendiri di negera antah berantah… Jadi aku butuh pria baik untuk memperhatikan aku.. Kenapa harus patuh? Tentu karena aku tidak suka di bantah... lalu kenapa harus tidak banyak bicara?? Hmm.. mungkin karena ayahku pria yang cerewet, jadi aku tidak suka ada orang lain yang banyak bicara selain ayahku.” Zionna membuat Ken sontak tertawa mendengar jawaban polosnya.
“Lalu bagaimana jika kau menemukan pria dengan kriteria yang sama seperti Vann?? Apa hatimu akan berubah?” tanya Ken kemudian.
“Maksudku kriteria seperti itu juga banyak di luar sana.”
“Entahlah… aku tidak pernah memikirkan hal-hal seperti itu,” geleng Zionna santai menghisap putung rokok di tangan kirinya, kemudian ia segera mematikan api rokoknya.
Ken mengangguk mengerti.
“Aku iri pada adikku,” imbuh Ken kemudian.
“Dia sangat kompeten... dan kini juga sangat beruntung karena mendapatkan wanita sepertimu... bahkan kini ayahku juga sudah memperlakukanmu sangat spesial.”
“Karena aku masih baru di keluarga ini.. . cepat atau lambat sikap ayah dan ibu mertua akan berubah padaku,” timpal Zionna santai.
__ADS_1
“Lagipula kakak ipar bisa menjadi lebih kompeten daripada Vann... bekerjalah dengan sungguh-sungguh… buat ayah mertua merasa kakak ipar lebih pantas mendapatkan apa yang seharusnya kakak dapatkan… karena kakak putra tertua di keluarga ini.. kakak ipar berhak mendapat lebih banyak perhatian daripada yang lain.”
“Apa menurutmu begitu??”
“Tentu saja... semua jawabannya sangat sederhana... tapi melakukannya tentu tidak akan mudah… tapi... teruslah bertahan... sampai menjadi pemenangnya...”
“Apa kau akan mendukungku?” celetuk Ken kemudian.
“Tentu saja, kakak ipar adalah keluargaku... tentu saja aku akan mendukung kakak ipar,” angguk Zionna menyemangati.
Ken menghela nafas panjang.
“Aku merasa lega karena ada yang mendukungku...”
“Apa istrimu tidak mendukungmu??”
“Dia bahkan tidak bisa mengurus dirinya sendiri...” bual Ken ketus.
“Bahkan anak kami hampir 80 persen di besarkan oleh pembantu... bukankah itu menyedihkan? Ia bahkan tidak tau apapun soal Clara,” gerutu Ken.
“Kasihan sekali… Clara pasti sangat kesepian,” gumam Zionna prihatin.
“Baby ?” seru seseorang dari arah belakang mengagetkan keduanya. Mereka menoleh ke arah belakang, mendapati Vann berdiri di sana dengan mata sembab.
“Kau sudah bangun?” tanya Zionna kaget.
“Hmm... aku mencarimu kemana-mana... apa yang kau lakukan di sini?” gerutunya.
Zionna segera bangkit menghampiri Vann, merangkulnya manja.
“Maaf... aku baru selesai mengerjakan pekerjaanku dan ingin mneghirup udara segar… tapi kemudian aku melihat kakak ipar ada di sini..” jelas Zionna lirih.
“Ayo kembali ke kamar,” ajak Zionna menarik tangan Vann kembali masuk ke dalam.
“Kenapa kau bau asap rokok??” tanya Vann menghentikan langkahnya seraya mengendus tubuh istrinya.
“Maaf… itu asap rokokku...” timpal Ken melindungi Zionna.
Vann menatap Ken tidak senang. “Sebaiknya, kakak tidak merokok di dekatnya... itu tidak baik untuk kesehatannya...” tukas Vann sinis.
“Baiklah, maafkan aku.” Ken mengangguk pelan, ia melirik ke arah Zionna yang tampak sangat berterima kasih padanya.
Vann segera merangkul pinggang Zionna membawanya masuk ke dalam. Ken melihat bagian belakang tubuh Zionna hingga mereka menghilang masuk ke dalam mansion. Ia mengusap wajahnya kasar. Lalu kembali membakar sebatang rokok lagi sebelum akhirnya masuk ke dalam.
****
__ADS_1