
Pagi ini adalah pagi yang cerah, Dila keluar kamar dengan rambut diurai karena memang dirumah. Ia duduk di meja makan, Sudah duduk Arsyi dan Ayah, Dila hanya diam. Arsyi dan Ayah terlihat sedang membicarakan tentang mobil
"Kamu emang mau mobil yang kaya gimana sayang?" Tanya Ayah dengan penuh kasih
"Aku pengen yang kaya gini yah!" Arsyi memperlohatkan mobil impiannya, Dila sedikit mengintip terlihat mobil sedang berwarna putih terlihat berkelas mungkin harganya diatas 500 juta
"Nanti kamu kirim ya gambar nya ke Ayah, Nanti sore Ayah beliin" Ucap Ayah
"Beneran Yah?" Arsyi terlihat sangat senang hingga jingkrak jingkrak sampai akhirnya ia memeluk Ayah
Dila yang melihatnya hanya menggigit bibirnya sedikit bergetar menahan tangis, Sampai akhirnya Bunda dan Febry datang. Jika ditanya siapa pembohong terbaik, Jawabannya adalah Dila. Dila, Gadis cantik dengan sejuta cerita.
Dila berlari keluar gerbang, Dirinya sudah menahan tangisnya. Ia berlari namun tidak berhenti dirumah Dika, Namun ia terus berlari hingga keluar dari Komplek.
Terlihat Papan bertuliskan TPU, Ia berlari hingga akhirnya jatuh tersimpuh disamping makam Rafa. Ia menumpahkan tangisnya disana. Hanya tempat ini yang selalu menerimanya, Walaupun keluarga Omnya berbaik hati padanya namun ia bukan tipe orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Setelah sekitar 10 menit ia menangis, Ia mengelap air matanya dengan lengannya. Ia mendongak ke Nisan makam itu
"Raf! Aku masih iri sama Arsyi, Aku gak bisa ngilangin ini! Aku gak bisa nurutin kemauan kamu Raf buat menghilangkan rasa benci dan iri aku ke Arsyi, Maafin aku" Dila menangis kembali
"Aku tau ini emang ga baik, Aku iri sama saudara aku sendiri! Tapi aku gak bisa kontrol ini Raf, Aku juga pengen disayang sama keluargaku, Aku pengen dipeluk Ayah, Aku pengen dimasakin makanan kesukaan ku sama Bunda, Aku pengen main sepeda sama Ayah, Aku pengen bikin kue sama Bunda, Aku pengen segala yang dimiliki Arsyi sama Kak Febry. Aku iri Raf" Lama Dila bersimpuh disana hingga tak terasa sudah jam 9, Sudah telat untuk kuliah.
Ia membersihkan lutut nya dari tanah, Ia berjongkok mengamati Nisam Mantan Pacarnya.
"Hahaaha.... Aku memang manusia paling bodoh Raf, Kamu bener aku emang bodoh, dongo, Gak punya otak! Harusnya aku bersyukur, Aku masih bisa makan, Aku masih bisa liat mereka tersenyum walau tanpa aku di cerita hidupnya, Aku masih bisa kuliah, Aku- Aku" Dila tak melanjutkan kata katanya
Ia hanya tersenyum, Jika sekilas orang melihat itu adalah senyuman bahagia namun tidak untuk Dila itu hanyalah sebuah topeng baginya didepan semua orang.
Kemudian Dila mengusap kembali Nisan itu.
"Raf, Aku pamit ya! Aku mau ke Panti, Jengukin Adel. Kamu yang tenang, Aku gak papa kok" Dila berpamitan pada 'Rafa'
Dila berjalan di pinggir jalan dengan mata sembab, Ia berjalan tanpa arah karena ia sudah memutuskan untuk bolos kuliah hari ini, Ia meminta Dika untuk meminta izin pada Dosen yang mengajar hari ini dan meminta tolong Nayra untuk merekam saat Dosen menerangkan.
__ADS_1
Ia berjalan dengan pandangan kosong menuju Panti Asuhan Arrahman, Sebelum samapi tadi ia membeli Snack satu kantong plastik penuh. Di Panti ini tak banyak anaknasuh karena memang panti kecil.
Ia masuk kedalam rumah terlebih dahulu sebelum bertemu anak anak, Ia ingin menemui Bu Indah pemilik dan pendiri Panti Asuhan ini.
Setelah menyalimi Bu Indah, Ia meminta izin padanya untuk bertemu Adel dan menitipkan Snack tadi pada Bu Indah agar dibagikan pada anak anak.
Di bawah pohon ada seorang gadis kecil yang berusia 9 tahun, Dengan rambut lurus panjang dan pakaian seadanya. Ia sedang duduk membaca Buku Cerita. Dila mendekati anak itu, ia memasang senyumnya sebelum ia memanggil anak itu.
"Assalamualaikum Adel" Sapa Dila
"Waalaikumsalam" Adel segera menoleh pada orang yang memberinya salam, setelah ia tau itu Dila ia segera berdiri dan memeluknya.
"Kakak kemana aja, Kok udah lama gak jenguk Adel! Kan Adel kangen" Ucap Adel sambil mendongak masih dengan pelukannya
Dila tersenyum sambil mengusap kepala anak itu, Lalu memeluknya lebih erat dari pelukan yang diberi Adel padanya tadi.
"Maafin Kakak ya, Kakak jarang kesini. Kakak juga ada kesibukan lagi" Ucap Dila
Dila melonggarkan pelukannya, Dan mengajak anak itu untuk duduk lagi.
"Beneran?" dan dijawab anggukan antusias oleh Adel
"Waaah pinternya! Lebih rajin lagi ya belajarnya biar bisa jadi orang sukses dan banggain Bu Indah, Mas Rafa, Kak Dila sama temen temen dan Adik adik lain" Ucap Dila
"Iya Kak, Adel janji deh bakal banggain Bu Indah, Kak Dila, Mas Rafa sama temen temen! Oh ya Kak, Aku kemarin dari makam Mas Rafa loh sama Bu Indah sama Bu Ririn" Ucap Adel
"Waah beneran? Berarti udah doain Mas Rafa dong, Adel mau kan setiap hari doain Mas Rafa?"
"Iya dong Adel kan sayang sama Mas Rafa, Mas Rafa itu orangnya baik banget sama Adel! Mas Rafa pergi karena Adel gak pinter ya Kak?" Polos Adel
"Enggak Adel! Mas Rafa pergi bukan karena Adel kok, Mas Rafa pergi karena kan emang udah waktunya. Semua manusia kan tinggal nunggu waktunya biat pergi juga" Jawab Dila
"Andai aja Mas Rafa belum meninggal, Pasti Aku sama Kak Dila gak sedih"
__ADS_1
"Walau pun manusia bisa berencana tapi kan Allah yang menentukan, Kita cuma bisa Doain Mas Rafa jadi kita doain biar bisa tenang" Ucap Dila
Pagi ini ia habiskan dengan mengobrol dan beemain dengan Adel. Dila sudah merasa lega dengan perasaanya walau hanya sedikit setelah jam makan siang Dila pulang.
Karena uangnya habis untuk dibelikan Snack tadi, Dila terpaksa berjalan kaki dengan jarak yang lumayan jauh. Sabar dan Ikhlas adalah kunci kesuksesan, Adalah kata motivasi bagi Dila.
Ia sudah kelelahan, Ia duduk di Halte Bus dekat Apartemen, Ya bisa lah disebut Elite karena memang dari interior gedung bagian luar saja sudah indah. Ia istirahat sekitar 5 menit hingga pada akhirnya Mobil berwarna Hitam berhenti didepan Dila.
Pengemudinya membuka kaca sebelah kiri hingga napaklah seorang Pria dengan kulit putih bersih dengan baju kerja masih bertengger karena memang ini masih jam makan siang maka ada seorang karyawan masih berkeliaran di luar.
"Dila" Sapa sang empu
Dila pun menoleh, Ia melihat laki laki itu adalah Bima
"Eh Mas Bima"
"Mau kemana?" Tanya Bima
"Ini mau pulang Mas" Jawabnya
"Naik Bus?"
"Gak Mas, Lagi istirahat ini mau nerusin jalan kaki lagi" Ucap Dila
"Loh kan jauh, Gak naik Ojek aja?" Tanyanya
"Lagi pengen olahraga aja Mas hehe"
"Bareng aja gimana, Saya juga kebetulan ada janji di Cafe depan Komplek kamu jafi bair sekalian" Ucap Bima
"Beneran nih Mas?" Sebenarnya Dila memang sudah sangat capek karena energinya sudah terkuras untuk menangis dan nermain tadi belum lagi perjalanan ini adalah perjalanan panjang ditambah tadi Perut kiri bagian bawahnya juga sempat sakit hingga pada akhirnya ia meminum obat pereda nyeri yang sudah siap sedia di tas nya.
"Iya masa bohong! Cepet ayo naik" Akhirnya Dila pun masuk kedalam mobil Bima, Ia memakai sabuk pengaman.
__ADS_1
"Habis dari mana?" Bima memulai pembicaraan setelah menancap gas
"Ada perlu sama temen Mas" Jawab Dila sekenanya