Ardila Hanafi

Ardila Hanafi
24- Mama Sarah sihh...


__ADS_3

Hingga siang mereka masih berkutat di Dapur, Sementara Bima dan Papa Surya sedang main Catur di belakang rumah, Tepatnya di samping Kolam Renang.


Setelah Kue terakhir matang, Mama Sarah dan Dila membawa Kue tersebut ke Halaman Belakang menyusul Bima dan Papa Surya.


"Wah Seru nih, Main caturnya" Goda Mama Sarah


"Waaahh Mama, Liat nih Ma anakmu udah kalah dua kali sama Papa. Bima cemen ya Dil" Terlihat Papa Surya juga menggoda Bima


"Bukannya Bima kalah Pa, Bima cuma ngalah aja sama yang tua" Dan disambut jeweran dari sang Mama


"Awwhh Ma, Sakit Ma, Ampun....Ampun!!" Ucap Bima terus berteriak karena kesakitan, Akhirnya Mama Sarah pun melepaskan jewerannya di telinga Bima.


"Papa emang tua, Tapi Papa lebih ganteng dari pada kamu! Liat, Papa udah laku. Lah kamu? Hahaha, Dila mau Mama nikahin sama Bara aja ah. Umurnya gak terlalu jauh gak kaya sama kamu" Ucapnya meremehkan sang putra


"iiiih Mama, Gak gitu. Dila buat Bima, Bara kan udah punya pacar masa Syeren Mama buang gitu aja"


"Oh iya ya, Kok makin gak jelas Mama, Yaudah Mama sama Dila tadi buat kue kesukaan Papa sama Bima, Blasck Forest and Red Velved ya gak Dil?"


Papa Surya dan Bima mengambil satu potong kue dan memakannnya. Satu suapan melesat kedalam mulut masing masing, Dari ekspresinya lumayan

__ADS_1


"Enak Pa?" Mama ikut duduk disamping Papa Surya


"Enak Ma, Kapan kapan bikin lagi ya!" Ucapnya lalu dengan lahap memakan suapan selanjutnya


"Tadi Yang buat Dila, Mama cuma nyiapin bahannya doang!" Ungkap Mama Sarah


"Berarti kapan kapan buatin Papa lagi ya Dil kuenya, Enak banget gak kaya ditoko toko" Ucap Papa Surya


"Iya Om, Kapan kapan Dila buatin lagi!" Ucapnya ramah


"Loh Dil kok gak duduk, Sini duduk deket Bima! Bima sih gak peka, Masa dari tadi Bidadari dibirin berdiri" sedangkan Mama menarik tangan Dila agar duduk disamping Bima.


"Makanya cepet halalin biar tiap hari makan Kuenya! Keburu Dilanya diambil yang lebih Muda Bim" Sindir Mama Sarah


"Mah, Stop bullying for me! Kalau Dila mau Bima ajak nikah sekarang, Minggu depan deh Bima nikahin. Nanti kita sekalian buat resepsi kalau Dila mau sekarang, Tapi kan Dila masih butuh waktu Ma. Bima gak mau maksain Dila kalau dianya belum siap!" Terlihat sorot memohon pada sang Mama


"Dila mau kan nikah sama Bima? Mama udah anggep kamu itu anak kandung Mama terlepas dari keliar kamu. Mama pengen nambah anak perempuan, Anak perempuan Mama jauh semua. Nanti kalau Dila mau nikah sama Bima nanti pindah kesini ya nemenin Mama. Mau ya nikah sama Bima, Kalau kamu belum siap bulan depan kalian nikah gakpapa" Tangan Sarah sudah menggenggam tangan Dila diatas meja, Sementara sang empunya malah bingung.


Di satu sisi, Ia ingin memiliki Keluarga yang sayang dirinya Ia merindukan kasing sayang amat sangat merindukan, Di sisi lain perasaannya untuk Bima masih sebatas pelindung dan sebagai Kakak Laki laki yang sangat melindungi adik perempuan kesayangannya.

__ADS_1


"Kalau buat Dila pribadi, Dila seneng ada Mas Bima. Mas Bima bisa jadi Kakak, Sahabat, Pelindung dan Calon pasangan yang baik. Dila merasa gak pantas kalau jadi pasangan Mas Bima, Dila gak cantik, Dila dengan orang tua yang pilih kasih, Dila dengan kondidi fisik yang kurang, Dengan ekonomi Dila yang apa adanya, Dila yang penuh kekurangan dengan Mas Bima yang gak ada kurangnya.


Dila mau memantaskan diri Dulu Mah" Ucap Dila mengusap tangan Sarah


"Dila udah pantas jadi menantu Mama, Udah pantes jadi Istri buat Bima. Kamu cantik, Bisa masak, Bahkan bisa setegar sekarang. Berarti kamu perempuan dengan mental kuat, Kamu udah pernah ngerasain asam pahitnya hidup. Buat Mama, Dila udah perfect dengan kekurangan dan kelebihan yang kamu punya nak!"


Dila menitikkan air mata, Ia berdiri dan mengitari meja sedetik kemudian ia memeluk Mama Sarah. Mama Sarah pun berdiri mengusap punggung wanita muda itu. Dila menangis sesenggukan di pundak wanita paruh baya yang masoh tetap saja cantik dengan usianya yang tak lagi muda.


"Dila anak Mama, Gak usah dipaksain ya nak kalau emang jodoh Bima semoga dilancarkan. Dila sama Bima kan juga baru kenal, Gak papa kalau belum bisa bareng. Menikah memang bukan perkara mudah nak, Maafin Mama yang udah nyudutin Dila ya nak....." Ucap Sarah, Dila hanya mengangguk anggukan kepalanya saja masoh menagis


"Dil, Aku sayang banget sama kamu. Aku pernah pacaran taoi beda dengan kamu. Beberapa kali aku Shalat Istiqarah dan aku menemukan petunjuk yaitu kamu. Aku akan buat kamu bahagia dan gak menangis karena aku, Kalaupun kamu nangis karena nangis bahagia dengan anak anak kita kelak" Bima memegang tangan Kiri Dila yang berada di pingging Sarah


"Aku berharap kamu mau jadi ibu dari anak anak aku nanti, Jadi makmum Shalat ku, Mendidik anak kita bersama dan menua bersama" Dila menoleh kearah Bima, Wajahnya sembab karena menangis. Ia lepas pelukannya di badan Mama Sarah.


"Dila mau jadi istri Mas Bima, Beberapa Dila juga Shakat Istiqarah dan dapat petunjuk. Kalau jodoh aku Mas Bima, Tolong Sayangi Dila, Bimbing Dila, Lindungi Dila dan Jangan pernah tinggalin Dila!" Ucap Dila memohon


"Iya, Mas Janji bakal sayangi, Bimbing, Lindungi, Dan gaka kan pernah ninggalin Dila kecuali maut yabg memisahkan" Kini gantian Bima yang Dila peluk.


Kegiatan mereka dilankut dengan Shalat berjamaah di Mushala kecil dirumah Bima.

__ADS_1


__ADS_2