
Dila masih menngu Dika, Hingga akhirnya di jam 2.07 Dika datang bersama teman mereka juga Raditya.
"Nunggu lama Ya Dil? Sorry, Nih Radit pake suruh nungguin boker lagi" Sungut Dika
Radit yang merasa tidak melakukan pun dengan sengaja menyikut perut Dika dengan keras.
"Heh! Gue tadi cuci tangan ye, Bukan Boker!" Sungut Radit juga
"Udah udah, Yuk Dik pulang gue laper belum makan siang, Baru makan gorengan sebiji" Ucapnya pada Dika
"Kita duluan Ya Dit! See You" Ucap Dila juga namun ditujukan pada Radit
Di Perjalanan.
"Uang jajan lo masih gak Dil? Kalau habis gue tambahin, Kan jatah gue ditambahin Mama juga kan" Ucap Dika sambil menyetor motornya
"Gak usah! Masih kok, Tenang aja mungkin besok dikasih sama Bunda" Jawabnya
"Kalau belum dikasih juga, Ngomong sama gue atau Mama biar gue tambahin"
"Sebenernya gue pengen kerja, Tapi sama Ayah Bunda gak boleh, Tapi mereka juga jarang ngasih uang jajan buat gue. Bingung sih kadang gue." Ucap Dila
"Gue aja yang gak ngrasain aja sedih, marah, Gak karuan deh. Apalagi loe yang ngalamin, Pasti lebih sedih marah
"Huffttttt" terdengar nafas panjang Dila
"Kalau mau nangis peluk gue aja Dil, Gue bakal nglindungin loe walaupun loe sama gue cuma sepupu, Tapi loe udah jadi bagian dari cerita hidup gue Dil! Nangis aja"
Akhirnya Dila menumpahkan kesedihannya di punggung sepupunya itu, Sebelum sampai di Kompleks rumah mereka, Dika berhenti sejenak di samping Taman Komplek untuk meredakan Tangis Dila sebelum dilihat oleh orang tuanya maupun orang tua Dila.
Dika membalikkan tubuhnya, Menatap mata Dila yang sedikit memerah. Ia mengusap air mata gadis itu. "Udah Cup, Nannti dilanjutin aja dikamar. Gue nganter loe sampe depan rumah loe ya!"
"Nanti Lo puter balik dong"
__ADS_1
"Gakpapa, Nanti Mama tau kalau koe nangis kalau mampir dulu"
"Yaudah gakpapa, Thanks ya Dik udah jadi saudara gue, Udah jadi pelindung gue walaupun bukan Kakak kandung gue" Ia memeluk Dika sejenak
"Iya, Gue seneng bisa bantu sepupu gue yang cantik ini" ucapnya sambil mencolek pipi Dila
"iiiih Dika! Dila kan lagi sedih jangan di goda Dik!" Ucapnya sambil menampilkan senyumannya ditengah matanya yang masih berkaca kaca
"Yaudah dong! diapun air matanya"
"Iya Dika" Dila pun mengusap air matanya hingga bersih tak bersisa
Dika pun mengantarkan Dila hingga didepan gerbang rumah Dila, Dila turun dari motor Dika.
"Ati ati naik motornya, jangan ngebut" Ucap Dila
"Astagfirullah Dila, Rumah kita cuma beda 3 rumah. Kalau pun gue mau ngebut jugantar kebablasan. Ada ada aja emang loe" Dika pun memutar balikkan motornya
Dila pun juga masuk kedalam rumahnya, Ia berjalan melewati ruang keluarga dan melihat Bundanya sedang menonton Tv bersama Arsyi. Ia mendekat Ke Bundanya
"Assalamualaikum Bun" Lalu menyaliminya
"Dari mana aja, Kok baru pulang" Ucap Karin sedikit ketus sambil melihat jam dinding yang sudah menunjukkan jam setengah 3
"Tadi nungguin Dika ada urusan dulu" Ucap Dila
"Loe kok sukanya nyusahin saudara sih Dil, Kan bisa naik Ojek atau angkot" Ucap Arsyi sinis
"Oh ya ya Kak, Tapi uang Dila gak cukup kalau mau naik Ojek, Tadi aja uangnya cuma bisa buat gorengan sebiji sama es teh doang" Ucap Dila.
"Yaudah aku ke kamar dulu" Dila pun melangkahkan kaki nya menuju kamarnya di dekat dapur, Kamar dengan luar 3×3. Ia menaruh tas kuliahnya di atas meja belajar, Lalu mengambil handuk dan mandi. Dilanjut dengan Sholat Ashar, Selera makannya telah hilang dibawa pergi oleh lalat.
Ia merebahkan Tubuhnya sejenak, Pikirannya melayang entah kemana. Ia duduk kemudian mencari cari tabungan berbentuk Ayamnya di Lemari. Akhirnya ketemu, Ia membawa Celengan itu ke meja belajar.
__ADS_1
Ia mengambil palu di gudang samping kamarnya, Ia mengetuk palu itu ke celengannya. Celengan nya semasa SMA hingga semester 3 lalu. Ia menatap isinya, Kebanyakan berisi uang 10 ribuan dan 5 ribuan. Hanya terlihat uang 50 ribuan 4 lembar. Lalu menghitung uang itu, Ia mengulangi hitunganya 3 kali.
Jumlahnya 985.000 yah? Buat usaha apa ya? Kue online? Tapi buatnya dimana? Rumah Dika? Nanti nyusahin Tante Rita sama Om Herman lagi dong. Jangan! Jualan apa ya? Tanyanya dalam hati,
Nanti diskusi ah sama Dika, Tak terasa sudah saatnya Shalat Magrib. Dila pun menunaikan Shalatnya sendirian lagi.Setelah Shalat ia pun Murajaah satu halaman.
Jam 18.25 saatnya keluarganya berkumpul untuk makan malam. Dila keluar kamar dan melihat meja makan telah diisi Febry dan juga Arsyi yang sedang menunggu Bunda memasak dan juga menunggu ayah yang masoh di kamar.
Dila duduk disamping Kakak Laki Lakinya, Febryan. Lelaki itu tampak diam, Hanya sesekali memeriksa hpnya, Sedangkan Arsyi, Dari tadi perempuan itu hanya memainkan Hpnya sesekali cekikikan dan merengut kesal. Mungkin saja dirinya sedang Chat dengan teman temannya.
Karin membawa dua mangkuk besar makanan, Yang satu berisi Oseng kangkung yang saatuny lagi Udang Asam Manis favorit Arsyi.
"Dil, Bantuin Bunda dong! Masa kamu duduk doang gak bantuin, Ambil makanan yang didapur" Ucap Karin kemudia duduk di samping Arsyi.
"Iya Mah" Dila pun berjalan menuju dapur, Dilihatnya Ternyata Nasi Putih dan Ayam Crispy favorit Febry. Ternyata Makanan kesukaan nya tidaka da satupun. Hanya ada Makanan kesukaan Ayah, Arsyi dan Febry saja.
Huffft,, Dila pun membawa makanan itu ke meja makan, Kemudian ia pun duduk kembali disamping Febry. Ayah sudah datang, Ia duduk di tengah.
Bunda tetlihat mengawali dengan mengambilkan Nadi untuk Ayah. Kemudia berganti mengambilkan Febry kemudia mengambilkan Arsyi. Lagi lagi Dila hanya bisa tersenyum, Ia pun mengambil sendiri Nasinya, Ia mengambil sedikit karena cukup sulit karena berada didekat Ayah. Semuanya mengambil lauk lauk kesukaan masing masing, Dila hanya mengambil Ayam Crispy karena memang dekat dengan dirinya, Semuanya sulit sedikit sungkan untuknya jika harus berusaha menggapai makanan lain.
Mereka berlima menghabiskan makanan masing masing dengan sedikit pembicaraan yang dimulai oleh Ayah, Ayah bertanya pada Arsyi apakah akan mengambil S2 atau tidak, Dan jawabannya adalah tidak. Setelah lulus sarjana Arsyi ingin bekerja di Bank karena ia mengambil jurusan Akuntansi. Ayah juga bertanya pada Febry apakah ada kesulitan ketika bekerja sebagai Manager disalah satu perusahaan perhotelan.
Sedangkan Dila? Ia bahkan tidak ditanya sekalipun Oleh Ayahnya. Ia memaklumi, Karena memang sejak dirinya kecil hingga sebesar ini ia lebih dekat dengan keluarga Om dan Tantenya ketimbang kekuarganya sendiri.
Arsyi, Bunda dan Ayah telah selesai makan, Mereka kembali kekamar masing masing. Febry belum beranjak dari Meja makan, Sedangkan Dila yang harus membereskan makan malam mereka, Dari menjadikan satu piring piring kotor di Meja dan harus membersihkan dapur yang tadi ia melihat Panci dan wajan wajan kotor masih ada di Wastafel.
Dila membawa Piring piring kotor, Disusul oleh Febry yabg membantu membawa Mangkuk mangkuk kotor bekas Lauk.
"Kak Febry ke kamar aja! Biar Dila aja yang beresin, Nanti Bunda marah" Ucap Dila menatap Febry
Febry hanya menatap Dila, Menatap sangat dalam. Sedetik kemudia Dila sudah ada di rengkuhan Kakak Laki Lakinya.
"Kak?" Dila mendongak menatap mata Febry
__ADS_1