
"Owwhh" Hanya itu yang keluar dari mulut Bima, Ia sendiri bingung harus bertanya apalagi.
Dila mengecek handphonenya setelah selesai ia menelungkup kan Hpnya hingga yang terlihat Case nya.
"Itu di Case Hp pacar kamu Dil?" Tanya Bima rada canggung bila menyangkut ranah pribadi
"Mantan Mas" Ucap Dila
"Kok masih di pasang Fotonya?" Bima.. Bima... Kepo banget sih
"Em udah meninggal Mas" Dila memalingkan pandangannya kearah jendela
"Eh maaf Dil, Saya gak tau kalau udah meninggal"
"Gapapa kok Mas"
"Emang kapan meninggalnya?" Isshhh masih aja kepo si Bima.
"Hampir satu tahun lalu" Hening, Dila dan Bima tak ada yang memulai percakapan lagi. Hingga akhirnya mobil Bima sampai di Depan Rumah Dila
"Makasih ya Mas, Udah nganterin sampe rumah" Ucap Dila
"Iya, sama sama"
Dila pun turun dari mobil Bima
"Saya duluan ya" Pamit Bima
__ADS_1
"Iya Mas, Ati Ati" Ucap Dila, Akhirnya mobil Bima menghilang dari pamdangan Dila.
Dila pun masuk kedalam rumah, Ia melewati Ruang tamu dan Ruang keluarga yang masih sepi. Mungkin Bunda dan Arsyi belum pulang pikirnya.
Ia melihat meja makan yang kosong, Nakun karena tapi ia sudah makan di Panti ia tak jadi memasak. Ia masuk kekamarnya, Menaruh tasnya di ranjang mengambil handuk dan pakaian ganti. Ia keluar kamar dan masuk kekamar mandi samping dapur.
Ia melakukan ritual mandi sederhananya, Hanya memakai sabun batang biasa dan Sampo Sachetan. Tak ada sabun cair ber aroma dan Shampo botolan mahal, yang memiliki barang itu hanya Kakak dan Orang tuanya saja.
Didalam kamar mandi pun hanya ada ember, gayung dan Closet jongkok. Tak ada Bathub, Shower atau pun Closet duduk.
Walau rumah mereka tergolong mewah, Namun perlakuan Orang tuanya tak sebaik yang di tunjukkan pada public. Ayahnya adalah pemilik Perusahaan yang cukup besar.
Di rumah tak ada pembantu sama sekali dan tak ada tulang kebun, Dila lah yang mengerjakan semua. Selain membersihkan kamar Arsyi, Ayah Bunda dan Febry.
Dila telah keluar dari kamar mandi, Ia memakai setelah baju Kaos berwarna cream dan Celana legging Hitam yang tak lagi baru dengan rambut terurai sedikit basah.
Ayo Dil semangat, Tinggal Dua atau Tiga semester lagi kamu udah lulus S1. Dila sebenarnya memperoleh Besaisea namun hanya setengah itu pun bukan program dari Kampusnya ia memperoleh itu dari SMA nya dulu yang membuka penerimaan beasiswa setengahnya.
Rafa dulu jiga mendapatkan Beasiswa itu, Jurusan Komunikasi. Namun di semester 6, Ia jarus pergi dengan rasa milik Dila.
Di tempat lain, Seorang laki laki selesai bertemu dengan pasiennya yang mengalami depresi akibat pemerkosaan yang dialaminya. Bima membantu gadis itu dengan terapi terapi Psikolognya.
Setelah selesai sekitar jam setengah 4 Bima keluar dari sebuah ruang private di Sebuah Caffe. Ia masuk kedalam mobilnya dan melaju pulang ke Rumahnya.
Ia memasuki Rumahnya, Ada seorang wanita paruh baya sedang menyirami tanaman di depan rumah. Bima turun dari mobilnya dan mendekati wanita itu.
"Mama kok diluar sih? Kan Mama masih sakit" Ucapnya sambil merangkul bahu Sarah, Mama Bima.
__ADS_1
"Astagfirullah Bima! Bikin Mama kaget aja, Harusnya salam dong nak kalau dateng" Tuturnya
"Assalamualaikum Mama ku cantik, Kenapa kok diluar kan masih sakit" Ucapnya perhatian
"Waalaikumsalam, Mama udah baikan Bim. Malah kalau Mama diem aja nanti malah gak sembuh sembuh, Mama kan nosen kalau dikamar terus" Ucap Sarah
"Yaudah yuk masuk biar Mbak Nanik yang lanjutin nyiram tanaman Mama" Bima menuntun wanita paruh baya itu dengan kasih sayang. Memang Mamanya belum terlalu tua, Bima anak kedua dari 4 bersaudara. Selisih umur Bima dan Kakak perempuannya hanya 1 setengah tahun. Namun Kakaknya sudah menikah muda kini sudah memiliki anaknyang diberi nama Vina dan Vian.
Sedangkan adiknya yang nomor 3 adalah Laki laki, Bernama Bara yang bekerja sebagai pegawai Bank Swasta di Bandung yang berselisih 3 tahun dengan Bima dan Adik bontot mereka yang sedang melanjutkan Studi S1 Nya di Jogja yang bernama Clara ia sudah semester 7 yang akan Wisuda akhir semester ini.
Bima menuntun Mamanya masuk kedalam kamarnya, Ia mendudukkan Mamanya di Ranjang.
"Mama istirahat aja, Jangan capek capek kan belum pulih" Ucapnya, Karena memang Sarah beberapa waktu lalu memang tak enak badan
"Mama cuma pengen kamu cepet Nikah Bim, Anak Mbak Vasya aja udah besar besar masa kamu kalah Bim, Cepwt cari calon istri nanti jadi perjaka tua loh" Tutir Sarah
"Masih diusahakan Ma, Masih mau PDKT. Bima kaya ngerasa yakin gitu sama perempuan itu, Dia adeknya Febryan Ma" Adu Bima pada sang Mama.
Memang anak anak di keluarga Bima sangat dekat dengan Mama dan Papa Surya. Karena didikan mereka yang lembut membuat anak anak mereka menurun sifat mereka berdua.
"Beneran yakin kan? Jangan mainin hati perempuan nak, Kalau kamu mainin hatinya sama aja kamu mainin hati Mama, Hati Mbak Vasya hati Clara. Kamu gak maukan kalau Mbak Vasya di mainin hatinya sama Mas Bian, Terus Clara juga dimainin sama laki laki nanti"
"Gak mau dong Ma, Bima udah yakin kok Bima juga udah istiqoroh. Tapi Bima bingung mulainya gimana sama dia" Ucap Bima
"Kalau kamu mau Mama ngomong sama Papa biat langsung ngelamar adiknya Bryan. Istilahnya ngejaga, Tapi ya terserah dia nanti kalau nolak ya udah. Kalau dia masih bingungkan jiga bisa pengenalan dulu" Ucap Sarah
"Nanti Bima pikirin lagi deh Ma, Tapi kalau itu yang terbaik Bima iya aja. Yang penting dia gak terpaksa" Ucap Bima
__ADS_1
Sore ini ia habiskan dengan curhat dengan sang Mama tentang masalah hati dirinya.