Ardila Hanafi

Ardila Hanafi
5- Caffe


__ADS_3

Hari Minggu adalah hari dimana Kaum rebahan merdeka, Namun tidak untuk Dila. Hari ini ia akan membicarakan Konsep Caffe yang akan ia, Dika dan Febry dirikan.


Dila tengah bersiap siap, Hari ini ia menggunakan Atasan berwarna Coklat Muda, Jean berwarna Hitam serta Pashmina Coklat Muda dengan Tas Slempang berwarna Hitam.


Andika bukan anak Setan! Calling.....


"Ya, Assalamualaikum" Ucap Dila


"Waalaikumsalam, Woy cepet!! Gue karatan nih, Gue angkut pake grobak baru tau rasa loe!" Ucap Dika


"Iya Iya, Abang Dika ini juga mau keluar kamar udah loe calling me, Udah daaahhh" Dila segera mematikan telfon secara sepihak


Dila keluar dari kamar, Ia melihat Ayah dan Bundanya sedang ada di ruang keluarga sambil menonton Doraemon, Ade ade aje kata Author mah.


"Yah, Bun. Dila mau izin, Ngerjain tugas. Sama Dika juga kok" Ucap Dila


"Yaudah sana!" Ucap Bunda sambil mengibaskan tangannya mengisyaratkan agar Dila cepat pergi.


Dila pun memilih untuk segera keluar rumah, Di depan rumah ada Arsyi dengan Gilang, Pacarnya.


"Mau kemana Dil?" Tanya Gilang pada Dila


"Kerpok kak, Aku duluan ya!" Dila meninggalkan dua sejoli itu. Nampak Arsyi sangat marah pada Gilang karena telah menyapa Dila.


Dila membuka gerbang rumah Dika, Terlihat Dika duduk di kursi teras sambil memainkan Handphonenya.


"Jadi berangkat ga nih?" Selonong Dila


"Jadi dong! Yok" Dika menaruh hpnya di saku celana kanannya


"Omsky sama Tansky ada gak? Mau pamit nih" Tanya Dila


"Papsky sama Mamsky gue gak ada dirumah, Katanya mau mancing" Ucap Dika


"Owh Okey!!"


Mwreka berdua meluncurkan Motornya menuju Kios yang akan disewa untuk dijadikan Caffe. Perjalanannya memakan waktu 15 menit karena sedikit macet, Mungkin jika ahri biasa dan tidak jam Pulang dan Pergi hanya 10 menitan saja.


Dila turun dari motor Dika, Ia mengedarkan pandangannya. Ia melihat Febry sedang berbicara serius dengan seorang laki laki muda, Jika dilihat dari wajahnya mungiin seumuran dengan Kakaknya yaitu 27 tahun.


Dika dan Dila mendekat ke Febry dan mungkin temannya.

__ADS_1


"Kak, Emm Mas" Sapa Dila


"Bang Bry, Mas" Sapa Dika pula


"Dila, Dika ini kenalin temen Kakak. Bima" Ucap Febry pada dua adik nya


"Dika, Sepupu Bang Pebri" Ucap Dika saat bersalaman dengan Bima "Bima"


"Dila" Ucap Dila juga saat bersalaman dengan Bima


"Bima" Ucap Bima lagi


"Jadi gini dek, Rencananya bakal buat Caffe di sini. Nanti tinggal beli bangku, Alat Masak, Bahan makanan minuman sama Lampu lampu mungkin" Ucap Febry


"Terus Dila bisa bantu Kakak apa? Boleh gak Dila juga buat Kue?" Tanya Dila


"Kamu kalau abis kuliah bisa bantu bantu disini, Yang penting gak ganggu kuliah kamu" Jawab Febry


"Terus adek mu ini mau kau jadikan apa?" Tanya Dika


"Kamu bantuin Dila aja, Kalian kan bareng juga kuliahnya"


"Sekarang udah gak bang, Dila naik Ojol kalau gak naik Angkot" Jawab Dika


"Okey kak! Sekarang aku bisa bantu apa?" Tanya Dila


"Kamu reset menu yang kira kira disukai anak anak muda aja. Nanti Kakak pertimbangin sama Bima" Ucap Febry


Dila hanya mengangguk angguk saja, Masih dilanjut obrolan ringan antara Bima, Febry dan Dika. Dila? Ia hanya diam menyimak saja.


"Dil, Kakak duluan ya. Mau cari Furniture dulu, Nanti kalau udah dapet Kakak kabarin" Pamit Febry


"Okey, Hati hati ya kak" Febry pun keluar menuju mobilnya. Sementara Bima masih telfonan entah dengan siapa.


"Dil, Gue disuruh Radit jemput dia. Motornya mogok, Dia dicegat sama preman di jalan sepi. Gak papakan loe naik Ojol, Ntar ongkosnya gue ganti" Ucap Dika


"Gapapa kok, Kasian Radit! Cepet loe sana" Usir Dila


Dika pun dengan tergesa, berlari menuju motornya di parkiran. Ia melajukan motor sedikit kencang.


Sedangkan Dila, Setelah bergelut dengan pikirannya. Ia memutuskan untuk menaiki Angkot untuk perjalanan pulangnya. Ia berdiri dari kursinya dan berjalan keluar dari Kios itu bersamaan dengan Bima yang sudah selesai Telfonan.

__ADS_1


Dila berjalan sedikit di pinggir jalan untuk menunggu Angkot lewat, Ia celingak celinguk menunggu serta berdoa agar Angkot segera lewat.


Bima masuk kedalam Mobil miliknya, Ia memutar balikkan mobilnya di Parkiran yang luas itu. Ia nelihat Dila sedang menunggu di pinggir jalan. Ia membuka jendela mobil sebelah kirinya,


"Lagi nunggu apa?" Tanya Bima pada Dila, Dila pun menoleh keBima


"Lagi nunggu Angkot Mas" Jawab Dilla


"Yang sepupu kamu tadi kemana?" Tanya Bima


"Njemput temen, Lagi di palak preman Mas" Ucap Dila menyahuti perkataan Bima


"Aku anter aja gimana? Mendung, Bentar lagi Ujan" Tawar Bima


"Gak usah Mas, saya naik angkot aja!"


"Ayo naik, Bentar lagi Hujan Angkotnya gak mungkin lewat" Ucap Bima


"Gapapa mas, Mas duluan aja" Jawab Dila sesopan mungkin, Karena Pria didepannya lebih tua darinya pastinya.


"Saya bakal anterin sampe depan rumah, Apa perlu saya izinin ke Kakak kamu" Bujuk Bima


"Hhmmmz Yaudeh" Akhirnya Dila menyerah, Ia masuk ke dalam Mobil Bima


Keheningan menyelimuti Mobil itu, Dila maupun Bima tak membukan pembicaraan sama sekali. Hingga pada akhirnya, Bimalah yang memulai,


"Kuliah semester berapa?" Tanya Bima


"Baru semester 4, Tapi niatnya mau ambil enam semester aja biar cepet lulus" Jawab Dila


"Ambil jurusan apa?" Tanya Bima kembali


"Psikologi mas, Kalau Mas kerja dimana?" Tanya Dila


"Saya Psikolog, Praktek di Husada" Jawab Bima "Ambil Psikologi, emang tertarik atau ikut temen temen aja?" Lanjut Bima


"Bisa dibilang tertarik, Saya pengen jadi Psikolog dari SMP" Jawab Dila


Mereka berbincang ringan, Bima hanya menanyakan Dila anak keberapa dan jawabannya adalah anak ketiga pastinya.


Mereka telah sampai di depan rumah Dila, Dila mengucapkan terimakasih pada Bima.

__ADS_1


"Makasih ya Mas, Maaf ngrepotin" Ucap Dila sebelum keluar dari mobil Bima


__ADS_2