Ardila Hanafi

Ardila Hanafi
17- Kau Tak Pernah bisa Merasakan Pahitnya Hidupku!


__ADS_3

Bima dan Dila berjalan beriringan, Mereka sudah melewati banyak sekali makam hingga akhirnya sampai dimakam yang masih tanah walaupun sudah lama di kubur.


Nisa berjongkok diikuti Bima disampingnya, Dila mengusap Nisan di pusara Rafa. Bima hanya melihatnya saja, Ia bingung mau berkata apa.


"Ini makam Rafa, Orang yang selalu ada untuk aku saat aku terpuruk. Bahkan saat dia tau semua tentang aku dia gak Jijik. Disaat semua orang gak mau temenan sama aku cuma dia dan Dika yang mau sama aku. Setelah aku melihat ratusan bahkan ribuan laki laki, Aku baru melihat Ayah kandungku. Disaat semua orang mengatakan Ayahnya cinta pertama baginya, Ayahku adalah patah hati pertama bagiku. Karenanya aku bingung mencari pasangan yang bagaimana, Aku cuma mau pesen aja sama kamu!"


"Kalau kamu sama aku ataupun gak sama aku, Jadilah laki laki yang baik dan jadilah ayah yang bisa melindungi dan menyayangi semua anak perempuan. Kalau gak bisa adil mending gak usah punya anak sekalian" Ucapnya


Dila bersimpuh di pusara Rafa, Ia menunduk persekian detik kemudian sudah terisak. Bima mengusap bahu Dila, Dila hanya diam tak melawan namun hanya diam saja sembari menangis.


Setelah beberapa menit ia menangis Dila mengusap air matanya, Ia menegakkan kembali pandangannya. Menoleh pada Bima dan tersenyum.


"Yaudah yuk, Masih banyak hal belum kita eksplore" Ucapnya sambil menarik tangan Bima


Mereka masuk ke Mobil, Saat ini sudah jam 10 lebih Dila sudah sangat lelah karena menangis seharian.


"Sekarang, Giliran kamu Mas yang cerita hidup kamu. Aku udah cape" Ucaonya smabil menyandarkan badannya pada Jok Mobil.


"Hidup ku gak terlalu menarik, Tapi kalau mau denger gak pa. Biar gak ada yang ditutupin lagi" Bima membenarkan posisi duduknya


"Gimana kita ke Caffe atau taman aja biar enak, Kalau di Mobil rasanya kirang nyaman" Usul Bima


"Ke Taman aja, Yang ada Ayunannya yang bisa aku dudukin pokoknya!" Ucap Dila


"Siap" Bima

__ADS_1


Usai memgendarai moblinya beberapa menit Bima membawa ke Taman yang ia tahu banyak sekali mainan terutama Ayunan. Mereka keluar Mobil, Mereka berdua berjalan beriringan menuju satu Ayunan besar. Dila duduk di Ayunan sebelah kanan sedang Bima disebelah kiri.


"Mulai" Ucap Dila


"Oke, Aku anak kedua dari empat bersaudara, Aku punya Kakak perempuan namanya Mbak Vasya, Adik paki laki yang namanya Bara sama Adik perempuan aku namanya Clara. Kami dibesarkan penuh kasih oleh Mama dan Papa, Tapi saat aku SD aku tak memiliki teman bahkan sering di Bully hingga akhirnya aku lulus SD, Setelah lulus kami pindah ke Solo beberapa Bulan hingga akhirnya kelas 2 aku pindah lagi ke Jakarta. Aku sekolah ditempat yang sama dengan Febryan. Kami berteman sejak itu, SMA aku sekolah disekolah yang sama lagi dengannya hingga akgirnya saat aku Daftar SBMPTN di tempat Kuliah Febryan juga" Bima menjeda ucapnnya untuk menarik nafar panjang


"Aku gagal masuk PTN impian aku sejak SMP bahkan aku sempat di tolak beberapa Kampus hingga akhirnya aku Daftar Univ di Jogja aku keterima disana, Aku kuliah disana 3,5 tahun hingga lulus S1. Aku daftar S2 di Jakarta, Tepatnya di Univ kamu Aku lulis dan dapat Sertifikat Praktek, Pertama kali aku ngajuin di Rumah Sakit Jiwa di Bandung, Aku kerja disana 2 tahun dan akhirnya aku pindah praktek ke Rumah Sakit yang sekarang. Gak ada yang menarik, Hanya saja banyak kenangan yang gak akan ku lupakan" Ucap Bima menatap Dila


"Mungkin kalau aku terlahir dikeluarga Mas Bima, Jadi Adek atau Kakaknya mungkin hidupku gak melelahkan seperti sekerang" Dila menghela nafas sangat panjang dan membuangnya dengan kasar.


"Kalau kamu kadi istri aku, Aku bakal bahagiain kamu aku gak janji tapi alu akan berusaha karena laki laki itu yang dilihat perbuatannya bukan omongannya" Ucap Bima lembut


"Kalau kami nikah sama aku, Terlalu beresiko Mas. Banyak kekuranganku, Banyak mengalami trauma bahkan aku pernha mengalami gangguan kecemasan,Anxiety dulu. Banyak banget kekuranganku, Bahkan amaku pernah ngerasa gak akan ada laki laki yang mau sama aku dengan kondisi 'Cacat' ku selain Rafa" Dila memberhentikan ayunannya yang semula mengayun


"Bahkan sampai saat ini, Aku idah lumayan deket sama Kak Febry. Aku tetep iri sama Dia, Aku iri sama kedua kakak aku. Banyak hal yang pengen aku lakuin seperti diajarin sepeda sama Ayah, Belanja sama Bunda, Rekreasi bareng bareng, Naik motor sama Ayah, Jalan jalan berdua aja sama Bunda. Aku bahkan pernah gak pengen Nikah karena takut punya anak dan gak bisa bahagiain Dia" Wajahnya seperti ketakutan


"Aku iri sama mereka" Ucapnya lirih di sela tangisannya.


Bima terus mengelus punggung gadis ini, Sesekali tangannya beranjak mengusap air matanya. Dila tetap menangis sesenggukan.


"Aku pengen nyusul Popo sama Omo aja!" Ucap Dila lirih smabil berusaha melepaskan kungkungan pria dewasa itu. Bima takembiarkan Dila yang masih histeris pergi, Ia takut Dila berbuat gegabah. Dila terus meronta, Ia seperti sedang kesurupan.


"Istigfar Dila!" Bima mengingatkan, Namun Dila tetap menangis sambil meronta.


"Disini udah gak ada yang sayang aku Mas, Gak ada yang bisa bahagiain alu lagi disini, Orang yang bisa bahagiain aku udah pergi semua. Aku memang anak pembawa sial" Dila semakin Histeris, Bima malah semakin mengeratkan rengkuhannya. Ini cara terbaik, Jika ia memaksakan menasehatinya malah Dila akan semakin Histeris

__ADS_1


"Kamu gak tau Mas 20 tahun hidupku, Yang kamu tahu cuma cerita. Kamu gak pernah ngalamin yang aku alamin, aku iri, Aku iri sama Arsyi dan Febry. Kalau aku gak bisa hidup bahagia kenapa Semua orang bahagia, Kalau aku gak bahagia seharusnya aku mati aja" Ucapnya masih histeris


Bima gendong tubuh lemas Dila, Ia bawa kemobil. Takut nanti mengundang kerumunan. Ia nyalakan ACnya, Ia masih menatap wajah cantik Dila yang sudah nemerah akibat menangis. Gadis itu masih sesenggukan, Bima ambilkan air mineral yang masih di segel di Dashboard mobilnya lalu ia buka dan minumkan pada Dila. Gadis itu masih menagis walau lirih, Namun sudah lebih baik dari tadi.


"Aku- Aku, Heeeeeuuuuuuu Aku pengen cari Kost. Aku udah gak kuat dirumah" Ucap Dila masih dengan tangisnya. Wajahnya memerah semua terutama hidungnya.


Bima terlihat mengusap air mata yang terus keluar, Bima bingung. Ia tak mau Dila tinggal di Kost Kostan karena memang rawan apalagi seorang Gadis dan ini di Jakarta.


Bima masukkan kedalam hijab Dila anak rambutnya yang keluar karena terus meronta tadi.


"Nanti dibicarain, Sekarang tenang dulu. Katanya mau ngajak aku kw banyak tempat. Udah dong nangisnya kalau gitu!" Rayu Bima dan dijawab anggukan oleh Dila.


Beberapa menit alhirnya Dila sudah tak lagi menangis dan wajahnya pun sudab sedikit kembali normal. Dila menoleh kearah Bima yang terus saja menatapnya dengan tatapan hangat.


Sekarang sudah jam 11, Peeit mereka sudah lapar terutama bagi Dila.


"Kita makan siang dulu ya, Nanti kita lanjut nanti aja" Ucap Bima yang dibalas anggukan oleh Dila.


"Kamu suka apa?" Tanyanya


"Aku suka ayam bakar, Di Jalan Sayyidiman" Ucap Dila dengan suara bindeng khas orang habis menangis


Bima pun menuruti kemauan gadis itu dengan senang hati, Karena memang menereka satu selera dalam hal makanan hanya saja Bima biasanya akan beli di Jalan Dieponegoro.


Dila snagat sering ketempat makan ini, Jika setalh berjalan jalan dengan Tante Rita sekeluarga. Bukan tanpa alasan Rita memilih sellau makan disini, Karena ia tau ponakannya suka dengan Ayam Bakar disini. Sedangkan Dila saja makan Ayam Bakar bisa dihitung dalam kurun waktu setahun.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2