
Dila sedang menyirami pohon Kamboja, Sore ini cuaca cerah tak mendung sama sekali. Ditemani oleh seorang Dika yang hanya menunggunya di Ayunan ditemani keripik kentang di Tangannya serta laptop di pangkuannya.
"Dik, Lo gak bantuin gue sih?" Dila sebal
"Gue lagi ngerjain proposal pengajuan Study Banding fakultas kita semester depan, Dilanda kesedihan!!" Jawab Dika sekaligus mengejek Sepupu sekaligus Sahabatnya
"Loe kok nyolot sih Dik!" Dila sudah kebal dengan Sepupu satu satunya itu.
"Eh semester depan mau Study Banding kemana rencananya?" Tanya Dila kepo
"Organisasi mau ngajuin kedua tempat Ke Salah satu Univ di Jogja dilanjut ke Rumah Sakit Jiwa Prof. Soerojo kalau gak di acc ya alternatifnya mungkin di jakarta sini aja sih" Ujar Dika
"Owwh oke, Biayanya berapa?" Tanya Dila
"Belum tau sih, Rencananya transportnya naik Bis paling gak 3 hari 2 malem sekaligus sama jalan jalannya. Tapi kan belum tentu di Acc Dil"
__ADS_1
"Okey, Nanti gue coba bicara sama Ayah Bunda" Ucap Dila
"Kalau gak dikasih ngomong sama Gue dil"
"Gak ikut gakpapa kan? Kalau gakpapa gue gak usah ikut aja deh" Ucap Dila
"Loe harus ikut, Nanti gue bilang ke Mamsky sama Papsky!" Ucap Dika
"Terserah loe aja deh, Gue gak bakal ikut kalau gak dibolehin sama Ayah yaudah" Dila melanjutkan mentiram tanamannya.
Ia mengerjakan tugasnya masih ditemani Dika yang juga masih menulis proposal pengajuan study banding dan juga tugas kuliahnya. Hingga sehabis Magrib, Dika pulang kerumahnya sendiri.
Sehabis Shalat Dila jeluar kamar menuju Meja Makan, Di Meja Makan baru ada Ayah dan Febry. Arsyi masih dikamar dan Bunda masih di Dapur untuk menyiapkan makan malam. Arsyi datang dengan Handphone di genggamannya lalu ia taruh di meja dilanjut ia duduk dihadapan Dila.
Bunda datang membawa Dua Mangkuk Besar, Dila langsung berdiri untuk membantu Ibunya itu. Dila mengekor dibelakang Bunda membawa tempat Nasi dan Piring. Ia bagikan piring itu, Lalu duduk di Kursinya. Tak banyak bicara, Mereka memakan makanan itu hingga tandas tak bersisa. Sebelum Ayah dan Bunda pergi Dila segera mengatakan bahwa ada yang ingin ia katakan.
__ADS_1
Arsyi dan Febry sudah kembali kekamar lebih dulu, Dila segera mempeesiapkan mental. Ia ingin meminta izin pada Ayahnya untuk mengekost, Ia bekerja di Caffe kakaknya serta ia juga sudah memiliki tekad untuk membuat Usaha sendiri untuk membiayai Kukiah dirinya, bayaran Semester ini belum dibayar oleh Ayahnya ia was was kalau tidak dibayar maka dari itu ia memilih mengekost agar bebas jika menggunakan ruangan.
"Yah, Bun Dila mau izin buat Ngekost! Dila bayar sendiri kok, Dila janji gak nyisahin Bunda sama Ayah" Ucapnya
Nampak mimik wajah Tian dan Karin terlihat bahagia, Entah apa yang ada diotak mereka. Mungkin sudah muak merawat Dila selama 8 tahun ini.
"Terserah, Kalau bisa lebih cepat lebih baik karena kamu cuma nyusahin aja hidupnya dari kecil. Kota sial juga karena kamu, Ayah dan Ibu saya meninggal jiga karena kamu!" Ucap Tian muak dengan Dila
"Dila janji kok buat gak nyusahin Ayah sama Bunda lagi, Makasih udah Izinin Dila buat Ngekos" Dila hendak menyalimi tangan Ayah dan Bundanya namun sudah lebih dulu pipinya ditampar oleh sang Ayah. Ia tak terkejut, Ia sudah biasa dengan kekerasan.
Dila mendongak menatap Ayah dan Bundanya bergantian, Sesaat kemudian ia langaung masuk kekamarnya sendiri. Tubuhnya merosot tak mampu menopang beban tubuhnya, Taka da airmatadi pelupuk matanya, Badannya sudah cukup kebal dengan perlakuan Ayahnya. Saat Dila SMP dan SMA, Ayah dan Bunda malah lebih sering main tangan karena saat itu Dila selalu menuntut kasih sayang hingga akhirnya malah ia yang tersakiti, Semenjak berpacaran dengan Rafa ia mulai menjauh dari Ayah dan Bundanya takut jika akan di pukul atau ditampar olehnya.
Ia usap bekas tamparan Ayahnya, Ia tak memiliki salah apapun pada Ayahnya. Ia segera memasukkan baju bajunya kedalam Koper dan perlengkapan kuliah dan lain lainnya pula. Ia membawa 1 Koper dan 1 Tas Ransel. Ia belum mengubungi Bima kalau ia sudah mau pergi dari rumah ini, Beberapa hari ini ia sibuk mencari Kost dekat kampusnya agar tak memerlukan Transport, Ia bertanya pada teman temannya sekelas apakah ada kamar Kost kosong ditempat mereka Kost dan ada beberapa Kost temannya ada yang kosong namun ia tertarik pada Kost dengan biaya rekatif murah namun dengan fasilitas layak.
Ia mengambil Hpnya yang sedang di Charger, Hp usnag miliknya itu. Ia cari nama Bima, Hanya Bima yang bisa ia andalkan. Bahkan Dila lebih dekat dengan Bima dari pada Febry. Ia mengetikkan pesan bahwa ia ingin dijemput besok pagi jam 7 karena ia akan pindahan dan membawa barang barangnya ke Kost.
__ADS_1
Setelah lelah berpikir ia pun tidur dengan nyenyak menunggu hari esok tiba dan memulai hidup baru.