Ardila Hanafi

Ardila Hanafi
8- Raphael Caesar Hendrawan


__ADS_3

Hari ini adalah hari ulang tahun seseorang yang spesial bagi Dila, Dila melangkahkan kakinya di trotoar pinggir jalan dengan membawa Kardus kue ditangannya. Hingga akhirnya langkahnya masuk menuju Tempat Pemakaman Umum. Langkah Dila terhenti pada makam bertuliskan nama Raphael Caesar Hendrawan. Dila berjongkok mengusap Nisan makam itu.


Ia membuka Kardus kuenya yang berisi Kue Ulang tahun berwarna Putih dengan Angka 22 dan Angka 4.


"Hai sayang, Happy Birthday and Happy Aniversary!" Tak terasa bulir bening menetes.dari mata hitam Dila


"I Love you Rafa! I Love you, Aku- Aku" Dila menangis sesenggukan mengingat kisah cintanya dengan Rafa.


Raphael Caesar Hendrawan, Seorang laki laki yang pernah menopang kepala Dila dengan bahunya, Yang pernah mengisi hati Dila dan yang selalu ada untuk Dila. Rafa, Laki laki yang hingga saat ini masih mengisi hati Ardila Hanafi.


Rafa adalah pacar Dila saat SMA. Dila yang saat itu kelas 10 berpacaran dengan Rafa yang sudah kelas 12. Rafa yang selalu menguatkan Dila saat memiliki beban.


Rafa adalah anak panti asuhan, Ia dulu ditinggalkan oleh ibunya di pinggir jalan dan dibawa ke Panti Asuhan.


Ia adalah orang pertama yang peduli padanya disaat semua orang menjauhinya. Ia menjadi Orang pertama yang membuat dirinya tak lagi berfikir untuk bunuh diri saat itu.


Ia lah penguat Dila saat itu, Namun ia harus berpulang akibat Kanker Darah. Dila hancur , sehancur hancurnya saat Rafa pergi untuk selama lamanya.


Rafa pergi dengan sejuta tanya Dila. Ia menyembunyikan penyakitnya hingga pada akhirnya ia meninggal satu tahun lalu.


"Raf, Aku belum bisa menerima semua ini. Aku gak sanggup melupakan segala kenangan kita" Ucap Dila


"Kabar ku masih sama seperti 1 tahun lalu saat kamu pergi untuk selama lamanya. Aku masih terpuruk Raf, Aku masih hidup dibawah bayang bayang masa lalu" Dila mengadu pada Rafa


"Kamu tau Raf, Keadaanku masih belum berubah dari dulu. Hanya saja Kak Febry saat ini sudah berubah, Ia selalu membelaku saat aku dimarahi oleh Ayah dan Bunda. Tapi itu malah membuat pertengkaran kami makin besar Raf. Aku capek dengan keadaan ini, Kamu alasan ku untuk hidup tapi kenapa kamu malah pergi ninggalin aku" Sore itu Dila habiskan dengan menangis dan mengadu di Makam mendiang pacarnya.


Hingga jam menunjukkan pukul 5 sore, Dila baru keluar dari TPU membawa kardus kue itu. Kue buatan Dila sendiri khusus untuk Rafa sang kekasih.

__ADS_1


Dila berjalan kaki menuju rumahnya, Ia ingin menikmati jalanan ramai karena menjelang Maghrib. Jarak Pemakaman dan Rumah tak terlalu jauh hingga walaupun berjalan tak terlalu lelah.


Dila melewati rumah Dika, Di Teras Dika, Tante Rita dan Om Herman duduk di Kursi Teras.


"Dil dari mana?" Sapa Dika agar berteriak


Dila pun menoleh kearah Mereka


"Dari TPU Dik, Sore Om, Tante" Jawab Dila dekaligus menyapa Om dan Tantenya


"Sore Dil, Habis nengok makam Rafa ya?" Tanya Rita


"Hehe Iya Tan, Lagi kangen" Ucap Dila dengan senyum khasnya


"Kenapa gak ngajak gue?" Tanya Dika


"Yaudah ya Om, Tan, Dik. Dila pulang dulu udah Maghrib" Sambung Dila


"Iya Dil, Hati Hati"


Malam Hari, Di sudut Kota yang berbeda. Seorang Laki laki berdiri di Balkon kamarnya dengan memegang gelas berisi Jus Mangga. Ia menerawang jauh melihat pekarangan rumahnya dari atas.


Pikirannya melayang entah kemana, Sesekali menyeruput Jus nya.


"Huhhfffffttt..." Ia membuang nafasnya kasar


Drttt,,,Drtttt....

__ADS_1


Ia melihat Handponenya di saku. Tertera nama Febry disana ia pun mengangkatnya


"Assalamualaikum, Ya?" Ucap Laki laki itu yang tak lain adalah Bima


"Waalaikumsalam, Besok loe datangkan ke Pembukaan Cafe gue?" Ucapnya diseberang


"Jam 10 kan?" Tanya Bima


"Iya Jam 10, Tapi kalau bisa loe dateng jam setengah 10 buat prepare" Ucapnya


"Yaudah, Gue besok kesana!" Ucap Bima


"Yaudah, Gue tutup" Febry pun memutus telefon mereka berdua


Bima duduk di kursi yang juga ada di balkon,


"Kenapa ya aku mikirin Adeknya Bryan?" Bima masih bingung kenapa ia selalu memikirkan Dila akhir akhir ini


"Astagfirullah" Bima beranjak masuk kekamarnya dan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan Shalat Isya'.


Sementara Dila, Ia sedang mengerjakan Tugas Kuliahnya yang sedang banyak banyaknya karena hampir akhir semester. Untung saja kemarin, Nayra sudah merekam Dosen saat mengajar. Karena kalau tidak, Habis sudah Dila. Karena ia hanya melamun saat Mata Kuliah kemarin.


Setelah selesai dengan Tugas yang menggunung ia memutuskan untuk Shalat Isya' karena sudah terlambat sekali.


Ia mengambil air wudhu di kamar mandi lalu kembali kekamar lagi dan melaksanakan Shalat Isya'.


Setelah selesai, Ia berdoa dilanjut melipat Mukena. Setelah selesai ia berbaring di ranjangnya sembari memainkan ponsel berwarna Biru dengan Cassing berwarna Biru transparan dengan sticker sticker bergbar fotonya dan Rafa saat SMA miliknya.

__ADS_1


__ADS_2