Ardila Hanafi

Ardila Hanafi
16- Kehidupan memang tidak selalu indah


__ADS_3

Hari ini hari minggu, Setelah membersihkan rumah Dila segera mandi dan Berganti pakaian. Jika minggu pagi, Dirumah jarang yang sarapan hingga Bunda tak masak mau tak mau Dila harus masak sendiri jika Minggu.


Namun hari ini, Ia sudah terlalu lelah karena kemarin malam teman teman Arsyi datang dan membuat ruang tamu dan ruang keluarga sangat kacau. Hingga ia harus menyapunya dua kali dan harus mengepel pula.


Hari ini karena akan melakukan banyak kegiatan ia akhirnya memilih Kaus Putih Panjang dengan Jaket Jeans Denim agar kalau gerah bisa buka jaket dan jika dingin ia bisa memakainya. Dengan Celana Panjang Hitam dan Pashmina Biru Dongker hampir senada dengan Jaketnya serta yas selempang untuk menaruh Dompet, Hp serta Obat untuk jaga jaga jika ia kelelahan nantinya.


Ia keluar rumah, Di depan gerbang berhentilah mobil Sedan Hitam, Saat dirinya keluar terlihat semesta seperti memainkan sihir, Bima memakai setelan Kaos berwarna Putih panjang, Celana Hitam, Sneakers Putih dan Kaca mata Hitam.


Dila mendekat kearah Bima, Ia tersenyum pada laki laki itu.


"Udah siap?" Tanyanya penuh kasih sayang


"Udah, Yok jalan" Dila dan Bima akhirnya masuk kedalam Mobil.


"Mau kemana? Bensin udah full nih, Nunggu tuan Putri siap kepelaminan aja yang belum" Ucapnya becanda


"Iiiihhh, Au ah jalan aja!" Dila sedikit cemberut


"Oke oke, Kita mau kemana nih Tuan Putri??"


"Gak mau ah tuan putri, Pengennya jadi penyihirnya"


"Hahaha, Yaudah ini mau kemana?" Tanyanya


"Ke Mini market dulu, depan sana" Ucap Dila menunjuk Mini market ujung gang


"Siap"

__ADS_1


Bima menjalankan mobilnya pelan, Hingga berhenti didepan Mini Market.


"Ikut masuk gak?" Tanya Dila


"Ikut dong" Bima mengikuti Dila yang turun dari Mobil, Mereka memasuki Toko itu.


Dila mengambil beberapa Roti, Dan banyak camilan ciki ciki serta Susu dan Minuman dingin. Bima hanya mengekor sesekali menunjukkan Camilan Favoritnya agar Dila tau dan Dila yang peka mengambilkannya untuk bayaran mengajaknya berkeliling hari ini.


Dila membawa keranjang belanjaanya ke Kasir untuk membayar, Ia mengeluarkan dompet untuk jaga jaga. Sementara kasir sedang menghitung total belajaanya.


"Totalnya 455.000" Ucap sang Kasir, Dengan cekatan Bima memberikan 5 lembar uang merah pada Kasir sebelum Dila mengeluarkan uangnya.


"Mas! Jangan" Dila melotot tak suka, Ia tak suka jika harus dibayari oleh Bima


"Udah gapapa, Uang kamu disimpen aja. Biar ini aku bayar" Ucapnya tulus


Dila pun mengalah tak mau memarahi Bima didepan orang, Yang akan merusak citra baik Bima nantinya.


"Mau minum?" Tanya Dila


"Nanti aja, Belum haus" Ucap Bima sedikit menoleh


Dila membuka Snack, mengambilnya dengan tangannya


"Buka mulutnya!" Perintah Dila pada Bima, Bima pun menoleh lalu membuka mulutnya. Dila menyuapi Bima, Walaupun sebenarnya mereka tak sedekat itu


Tapi karena keduanya bertekad untuk memulai, Dila jiga pandai memulai pembicaraan walau ada sedikit rasa canggung.

__ADS_1


Dila pula memakan Rotinya karna lapar, Hingga akhirnya Dila munyuruh Bima menepikan mobilnya dipinggir jalan. Dila mengajak Bima keluar dari mobil, Mereka menyandarkan bandannya di mobil.


"Kenapa kesini?" Tanya Bima


"Disinilah semua hidupku jadi berubah" Dila menatap sendu sebrang jalan sana


"Disinilah aku mengalami kecelakaan, Disinilah aku kehilangan Popo sama Omo. Karena disinilah aku harus kehilangan Ginjal aku, Karena tempat ini aku harus tinggal dirumah keluargaku. Ditempat ini, Aku Popo sama Omo kecelakaan" Air mata Dila menetes


"Disinilah aku terakhir kali ketemu Popo sama Omo, Kami kecelakaan beruntun disini. Dihari kelulusan SD ku, Gak ada yang bisa ngerti keadaan aku saat itu, Hanya keluarga Dika yang peduli padaku. Gak ada yang lain, Ayah Bunda? Kak Febry, Arsyi? Hanya ada aku Tante Rita, Om Herman dan Dika saat itu" Dila menangis sambil menatap pembatas sebrang jalan, Pembatas itu dibuat karena mobil Kakeknya terperosok masuk kesemak semak besar.


Bima sedikit merentangkan tangannya, Agar Dila mau memeluknya. Dila mendekat kearah Bima, Lalu tersenyum walau Matanya terus mengeluarkan air mata. Ia langsung menabrak dada bidang laki laki dewasa itu. Bima tersentuh sekaligus tersenyum dan mengelus punggung Dila lembut.


Dila menarik badannya drai rengkuhan Bima.


"Maaf Mas, Baju nya basah,, Sroooottt" Dila menyedot ingusnya


"Eh maaf mas" Bima pun mengambilkan Tissue di dashboard mobilnya


Dila menerima uliran Tissue dari Bima dan mengelap Ingus dan Air matanya.


"Walaupun aku gak pernah kekurangan apapun, Aku jiga pernah Berada dititik terendah Hidup Dila. Karena aku dulu gagal masuk Univ Impian, Saat itu aku Stress, Bingung gak tau mau ngapain. Tapi melihat Hidup kamu, Seperti belum apa apanya dengan yang aku alami" Jelas Bima


"Aku selali dibeda bedain sama Ayah Bunda bahkan Kak Febry dan Kak Arsyi. Aku dari bayi sampai SD dirawat sama Kakek dan Nenek ku, Tak ada Orang Tua dalam proses pertumbuhanku Bahkan mereka gak hadir dalam Prases Pendewasaan ku" Ia menatap lurus jalanan depan


"Aku pernah mencoba bunuh diri" Ucap Dila sarkas


Bima langsung menoleh, Yang semulanya mengikuti pandangan Dila.

__ADS_1


"Pasti semua orang bilang kalau aku kurang iman, Kurang deket sama Allah, dan sebagainya. Tapi mereka gak pernah ada di Posisiku, Dulu pas aku SMP dan SMA Ayah sama Bunda keras banget sama aku, Kalau aku salah dikit selalu ditampar bahkan di pukul pake Kayu. Aku hampir lompat dari lantai 3 sekolahku. Kalau gak mantan aku yang menarik aku, Mungkin aku udah gak ada disini" Ucapnya lalu berbalik dan masuk ke Mobil, Bima pun mengikutinya.


Bima menjalankan mobilnya setelah Dila menyuruhnya melajukan mobilnya ke suatu tempat.


__ADS_2