Arvella Danniells

Arvella Danniells
Eps.1


__ADS_3

“AKU SUDAH MENGATAKAN PADAMU RIBUAN KALI! BAHWA AKU TIDAK INGIN MELIHAT WAJAHMU LAGI!!”


BRAK !


Kotak berisikan Blackforest itu kembali di banting di hadapannya lagi, memancing ribuan mata untuk mendekat dan melihat ke arah suara. Disana, berdiri sosok Gallen Harisson yang terlihat marah besar pada sosok gadis di hadapannya. Gadis itu bernama Arvella, gadis bodoh yang pantang menyerah untuk mendapatkan hati seorang Gallen Harisson.


Arvella kembali merasakan sakit di hatinya ketika lagi-lagi Gallen membuang kue buatannya yang telah di buat dengan susah payah itu tanpa perasaan, seperti biasanya.


Namun bukan Arvella namanya, jika setelah kejadian ini ia akan menyerah. Dia tidak seperti itu. Ayolah, ia sudah terbiasa dengan segala penolakan dari pria sedingin es batu ini.


Kali ini, dengan napas memburu, Gallen menginjak Blackforest yang sudah keluar dari tempat makan itu dengan keras, hingga remuk tak bersisa. Seperti perasaan Arvella yang kembali hancur lebur sekarang.


“Tidakkah kau mengerti, Aku muak melihatmu. Aku muak mendengar semua orang membicarakan dirimu yang mencintaiku! Aku muak padamu, melihat wajahmu saja aku tidak sudi. Apalagi memakan makanan ini!”


Lagi...


Gallen menginjak kue itu dengan keras seolah menunjukkan kekesalannya pada Arvella.


Arvella masih berdiri di sana, dengan mata yang kembali berlinang air mata. Sebenci itukah Gallen padanya ?


Hingga ia sama sekali enggan melihat wajahnya dan juga melihat segala perjuangan yang telah ia lakukan selama dua tahun ini?


“Kau dengar ini Kuno! Tolong jauhi aku, dan jangan pernah muncul lagi di had—


“TIDAK BISA! Aku tidak bisa...karena aku mencintaimu! ”sela Arvella. Yang mengundang tawa semua orang yang berada di sekitar sana. Dan itu cukup membuat seorang Gallen semakin geram saja.

__ADS_1


“CUKUP! JANGAN KATAKAN HAL ITU LAGI! AKU BENCI PADAMU!” Ketusnya sembari mendorong Arvella dengan keras. Hingga yang terakhir ia ingat adalah---Shavira menampar wajah Gallen dengan keras, lalu setelah itu semuanya berubah menjadi gelap.


🍃🍃🍃🍃🍃


Arvella sudah terbiasa menerima semua perlakuan kasar dari pria yang di cintainya, ia bahkan pernah masuk rumah sakit karena Gallen. Gadis itu memijit pelipisnya, sepertinya hari ini ia tidak akan bisa mengikuti pelajaran di kampus, punggungnya benar-benar terasa sangat ngilu sekali.


Gallen benar-benar mendorongnya dengan sangat keras.


“Kau mau ke mana? “tanya Shavira.


“Aku ingin pulang saja Shavira, tubuhku benar-benar terasa sangat remuk ”lirih Arvella.


Shavira mendekat, memberikan pelukan hangat kepada sahabatnya, Shavira benar-benar tidak mengerti mengapa Arvella tidak berhenti saja mengejar Gallen? Shavira juga tidak mengerti mengapa Arvella masih saja mencintai pria tidak berperasaan itu dengan tulus? Kenapa ia tidak memikirkan dirinya sendiri saja?


“Aku akan mengantarmu ya. “tawar Shavira.


Shavira melepaskan pelukannya, menggeleng dengan keras. Sahabatnya itu benar-benar sangat keras kepala sekali. Kenapa dia selalu saja ingin melakukan apa pun sendirian?


“Kau sedang sakit Arvella! Dan kau bilang, kau akan pulang sendirian? KAU GILA!”


“Shavira—aku hanya tidak ingin merepotkan---"


“KAU SAHABATKU ARVELLA! DAN KAU SAMA SEKALI TIDAK PERNAH MEREPOTKAN KU! ”teriak Shavira. Shavira tidak pernah mengerti tentang Arvella, gadis itu selalu saja mengatakan tidak ingin merepotkan dirinya. Padahal demi tuhan, Shavira tidak pernah merasa terbebani atau merasa di repotkan.


Karena Arvella dan dirinya adalah sahabat...

__ADS_1


“Tidak usah, aku butuh waktu untuk sendiri Shavira ”ujarnya.


“Sampai kapan? Sampai kapan kau akan memendamnya sendirian? Sampai kapan? “tukas Shavira.


“Ku kira kita berdua adalah sahabat...”ujar Shavira.


Arvella tetap diam, memang sejak awal dirinya tidak ingin melibatkan dan merepotkan banyak orang termasuk Shavira di kehidupannya. Ia sudah terbiasa sendiri, terbiasa di abaikan, terbiasa di sakiti dan di bully. Jadi ia sudah kebal dengan semua itu.


“Mulai sekarang, semua terserah dirimu! ”ujar Shavira yang berjalan meninggalkan ruang kesehatan.


Arvella menghela napas panjang, kemudian menghembuskannya. Menatap langit-langit ruang kesehatan, berharap bisa menghalau air matanya yang sudah tergenang sedari tadi. Arvella tahu jika Shavira benar-benar tersinggung dengan ucapannya, tapi Arvella sungguh benar-benar tidak ingin melibatkan Shavira dalam hal ini.


Setelah merasa perasaannya sedikit lega, gadis itu bangkit berdiri dari brankar yang tadi ia tiduri sembari meringis pelan. Ya tuhan...Gallen benar-benar mendorongnya dengan kasar tadi. Arvella melangkahkan kakinya dengan pelan, walau rasa pusing tadi masih menderanya. Sumpah demi tuhan, kepala Arvella semakin terasa pening, semakin ia melangkah, kepalanya semakin pening dan kini pandangannya sudah mulai berkunang-kunang.


Sialan!


Arvella mengumpat dalam hati, ia tidak boleh pingsan di sini, setidaknya ia harus pingsan nanti ketika sudah berada di dalam taxy. Gadis itu kembali melangkah dengan pelan, bahkan saat ini ia harus berpegangan kepada tembok untuk menopangnya tubuhnya agar tidak jatuh. Pandangan Arvella benar-benar semakin berkunang-kunang di ikuti oleh tubuhnya yang sudah lemas dan hampir limbung.


“Gallen? ”lirih Arvella, ketika merasakan Gallen mengangkat tubuhnya dengan ala brydal style. Membawa gadis itu ke parkiran dan membawa gadis itu masuk ke dalam mobilnya, mendudukkan dirinya di kursi belakang.


Arvella benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Bagaimana bisa seorang Gallen Harisson datang di saat yang tepat?


“Jangan berpikir macam-macam. Aku melakukannya karena Shavira yang meminta! ”sahutnya dengan dingin. Kemudian pria itu mulai fokus menyetir.


Arvella mengangguk, benar. Harusnya ia tidak berpikir macam-macam, lagi pula mana mau pria itu menolongnya setelah membuat tulang belakangnya benar-benar terasa remuk?

__ADS_1


Sungguh sangat tidak mungkin!


__ADS_2