Arvella Danniells

Arvella Danniells
Eps. 9


__ADS_3

Gallen melakukan pertolongan dengan cepat kepada Arvella, dengan menangkap tubuh Arvella yang hampir saja jatuh membentur lantai, kemudian untuk kedua kalinya Gallen melakukan hal itu, membopong tubuh ringan Arvella seperti tempo lalu, namun bedanya kali ini bukan membawanya ke ruang kesehatan, melainkan membawanya ke kamar milik gadis itu. Baru saja Gallen hendak memberikan aroma wewangian ke indra penciumannya, kedua mata Arvella sudah terbuka.


Hening…


Tidak ada yang berbicara diantara keduanya, Arvella sedikit beringsut menjauhkan tubuhnya dari Gallen.


“Kenapa?” lirih Arvella. “Kenapa kau terus menarik ulur perasaanku? Harusnya kau biarkan saja aku tersesat disana, harusnya kau biarkan saja tubuhku jatuh membentur lantai, dan har—Hmmpphh” Arvella memukuli dada Gallen dengan keras ketika lagi-lagi dengan kurang ajarnya Gallen mencium bibirnya dengan paksa seperti tempo hari, Arvella benar-benar benci dengan reaksi tubuhnya sendiri.


Kenapa ia begitu lemah?


“Harusnya dari dulu kau tidak pernah hadir di kehidupanku Arvella. Harusnya kau tidak pernah—"


“Pergi!”teriak Arvella yang di selingi dengan isakannya.


Gallen masih bergeming, masih menatap Arvella yang sudah merubah posisinya menjadi duduk dengan tatapan mata yang menyiratkan kelelahan dan kebencian kepada Gallen. Belum lagi kini airmata gadis itu sudah mulai berjatuhan.


“PERGI DARI KAMAR KU!!”Teriaknya lagi.


Namun Gallen masih tetap bergeming, “Pergi sekarang. Atau aku---"


“Aku tidak akan pergi” potong Gallen.


Arvella mengacak rambutnya dengan kesal. Ayolah, apalagi yang diinginkan pria itu? Apakah masih belum cukup ia melihat Arvella menderita selama ini? Apakah belum cukup?


“Kenapa? Karena kau belum puas menyakiti ku? Ku mohon Gallen, aku ingin berhenti. Aku lelah Gallen…Aku lelah…”Isaknya lagi.


“Kalau begitu istirahatlah”ucap Gallen.


Arvella benar-benar kesal hingga tangisnya semakin keras. Apalagi yang ingin pria itu lakukan? Arvella sudah benar-benar lelah. Arvella ingin berhenti bukan ingin beristirahat sejenak lalu kembali mengejarnya lagi. Arvella ingin berhenti. Tidakkah pria itu mengerti?


“Selamat beristirahat…”ujar Gallen.


Dan, Cup. Gallen memberikan sebuah kecupan pada kening Arvella. Yang membuat Arvella semakin menangis, kenapa tuhan selalu saja mempermainkannya? Dan Gallen, kenapa pria itu sangat suka sekali menarik ulur perasaannya? Tolong, Arvella sudah sangat lelah sekarang, jangan membuat Arvella kembali berharap jika ujungnya selalu saja ia yang tersakiti.


*Sudah cukup semuanya.


Cukup sampai disini*.


Arvella memalingkan wajahnya, membiarkan Gallen keluar dari kamarnya. Dan kemudian yang terjadi selanjutnya adalah, ia kembali menangis sendirian.


🍃🍃🍃🍃🍃


Arvella benar-benar ingin sendirian sekarang, ia bahkan mengunci kamarnya seharian ini, tidak memperbolehkan siapa pun termasuk Gretta dan Adam masuk ke kamarnya. Yang Arvella lakukan sekarang hanyalah menangis seharian ini, ia sudah tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan untuk menjauh dari Gallen. Pria itu terus saja menarik ulur perasaannya, memberinya harapan dan kemudian.menghempaskannya hingga rasanya hatinya benar-benar rapuh dan hancur.

__ADS_1


Pria itu dengan seenaknya mempermainkan perasaannya, dengan seenaknya mencium dirinya dan membuat dirinya kembali berharap tidak jelas seperti ini. Arvella sudah lelah, sudah sangat lelah dengan semuanya. Dengan Gallen dan takdir yang terus mempermainkannya.


“Nak buka pintunya!”seru Adam dan Gretta di depan pintu kamarnya yang terkunci.


Arvella mengabaikan itu semua, ia memukul dadanya dengan keras. Berharap semua rasa sakit yang selama dua tahun ini ia tahan akan berkurang. Jika boleh meminta, Arvella ingin memutar waktu kembali ke masalalu. Dan tidak kuliah di kampus yang sama dengan Audrey , dengan begitu ia tidak perlu bertemu dengan Gallen dan jatuh cinta padanya. Dan ia tidak akan pernah merasakan rasa sakit yang begitu dahsyat seperti ini.


Arvella masih ingat bagaimana dulu dengan malu-malunya ia mengungkapkan perasaannya kepada Gallen sewaktu masih jadi mahasiswa baru, yang di balas dengan makian keras dan menyakitkan dari Gallen.


‘Kau ini manusia macam apa? Manusia jenis purba yang pergi ke kampus dengan pakaian culun seperti itu. Dan juga kacamata besar seperti itu! Kau sama sekali bukan tipe ku. Dasar kuno!’


Harusnya sejak hari itu dirinya menyerah saja, dan tidak perlu berjuang sampai sejauh ini.


Malam ini Arvella benar-benar ingin sendiri, membiarkan kamarnya dalam keadaan gelap, gadis itu membuka pintu balkon kamarnya. Ia duduk di lantai yang dingin sembari menatap langit yang malam ini juga sendirian tanpa bulan dan bintang yang memghiasi. Dalam sunyi, Arvella menangis lagi. Meruntuki kebodohannya yang sudah kelewat batas itu.


Andai saja…


Andai saja sejak dulu ia berhenti ketika Gallen menolaknya.


Namun semuanya hanya andai-andai saja.


Arvella memicingkan matanya, fokus menatap sosok hitam tegap tinggi yang berjalan ke arahnya, hingga lama kelamaan, Arvella dapat melihatnya dengan jelas, tidak mungkin ia salah lihat, sosok yang baru saja berada di hadapannya adalah Gallen Harisson. Yang entah bagaimana caranya ia bisa berada di sana, padahal Arvella mengunci pintu kamarnya.


Tidak!


Arvella menggeleng keras, mengenyahkan halusinasinya itu. Menyembunyikan kedua wajahnya kepada kedua lututnya, kemudian ia kembali menangis . Hingga perlahan ia merasakan tubuhnya di peluk seseorang dari belakang, dan merasakan bahwa orang itu sedang mengecupi pucuk kepalanya dengan lembut berkali-kali.


Tubuh Arvella terpaku, Arvella kenal betul dengan suara itu. Meski hanya suara bisikan Arvella tidak mungkin salah mengenali suara itu.


Tidak mungkin…


Bagaimana bisa pria itu berada di dalam kamarnya?


Arvella kembali menggelengkan kepalanya dengan keras, jelas-jelas tadi siang ia melihat bahwa pria itu sudah keluar dari kamarnya, lalu bagaimana bisa pria itu ada di dalam kamarnya sekarang?


Bagaimana bisa?


“Jangan menangis…”sosok itu kembali berbisik dan memeluk tubuh Arvella dengan erat, menyalurkan kehangatan pada tubuh Arvella yang sedikit mendingin di terpa angin malam.


Arvella tetap bergeming, lagi pula percuma jika ia melawan, ia sudah sangat lelah sekarang jadi biarkan malam ini pria itu melakukan apa pun yang ia inginkan.


Arvella benar-benar sudah sangat lelah…


🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


Arvella mengerjapakan matanya berkali-kali ketika sorot terang matahari menyinari kamarnya, kemudian menatap penuh tanya kepada gorden-gorden kamarnya yang terbuka. Dan juga dirinya yang terbangun di atas kasur berselimutkan sweater maroon entah milik siapa. Arvella bahkan masih ingat jika semalam ia tertidur di pelukan Gallen, jangan bilang, Gallen yang memindahkannya ke kasur dan sweater yang ia pakai juga adalah milik pria itu.


Jadi semalam itu bukanlah mimpi?


Jadi semalam pria itu benar-benar berada di sini dan memeluknya?


Arvella menggelengkan kepalanya, membuka sweater yang membungkus tubuh rampingnya. Benar. Ada nama GH di bagian depan sebelah kanan sweater itu. Tidak salah lagi, sweater ini benar-benar milik Gallen Harisson.


Oh ya tuhan…


Apalagi ini? Kenapa pria itu melakukan hal ini, apakah memang sengaja ingin membuat Arvella kembali terjebak dalam harapan semu lagi?


Dalam kebingungannya, Arvella menoleh ketika mendengar suara pintu kamar mandinya terbuka. Menatap sosok itu, sosok yang baru saja keluar dari sana dengan rambut basahnya. Sungguh Arvella tidak ingin terpesona lagi pada sosok itu, namun hati dan tubuhnya mengkhianatinya. Arvella bahkan terus menatap sosok yang tengah sibuk mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil yang biasa Arvella pakai untuk menggulung rambutnya jika sedang basah.


Arvella benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran sosok itu, kenapa ia masih berada disini?


“Kau sudah bangun?”tanyanya


Arvella mengangguk pelan, jantungnya yang sudah berdebar keras, semakin berdetak dengan keras ketika sosok itu mencondongkan tubuhnya ke arah Arvella, Arvella dengan refleks memejamkan kedua matanya ketika lengan pria itu mendarat di keningnya.


“Demamnya sudah turun...”gumamnya.


Harusnya setelah itu Gallen melepaskan tangannya dari kening Arvella, namun tangan pria itu malah mengusap wajah Arvella dengan lembut, mengusap lembut pipi kanan Arvella yang terlihat memerah.


Harusnya setelah itu Gallen berhenti melakukan hal itu, namun yang Gallen lakukan adalah naik ke atas ranjang Arvella, duduk di hadapan Arvella dan memberikan kecupan ringan pada bibir Arvella yang kemudian berlanjut memberikan lumatan-lumatan kecil pada bibir Arvella, hingga membuat gadis itu terlena dan tanpa sadar Arvella menerima ciuman Gallen. Hatinya kembali berdesir, ini bukanlah ciuman kasar seperti sebelumnya, melainkan ciuman panjang yang sangat lembut.


Dan Gallen kembali memporak-porandakan hati dan perasaannya lagi…


Seakan sadar dari apa yang terjadi, Arvella membuka kedua matanya dan mendorong tubuh Gallen dengan keras, nyaris sampai terhunyung ke belakang. Harusnya ia menolak semua yang Gallen lakukan kepada dirinya, harusnya ia mampu melawan ketika Gallen mulai menempelkan telapak tangannya pada kening miliknya, harusnya—harusnya…


Harusnya ia tidak lemah seperti barusan…


Gallen masih bergeming melihat reaksi dari wajah Arvella, lalu tak lama gadis itu bangkit melemparkan sweater maroon miliknya dan pergi memasuki kamar mandi dan membanting pintu itu dengan kasar dan mungkin menguncinya juga.


Gallen masih bergeming disana, hingga sosok Audrey mengagetkannya.


“Kau sudah mengambil barangmu yang tertinggal kemarin?”tanya Audrey.


Gallen menunjukan sweater maroonnya itu kepada Audrey, “Sudah. Ayo pergi ke kampus bersama”ajak Gallen.


Dan dengan senang hati Audrey mengangguk, lalu menggenggam lengan Gallen menariknya agar segera keluar dari kamar Arvella. Lalu kemudian Gallen pergi dan menutup pintu kamar Arvella, meninggalkan Arvella yang menangis sendirian di dalam kamar mandi.


Arvella mendengar semuanya, dan sekali lagi Arvella meruntuki kebodohannya. Memukul kepalanya berkali-kali berharap semua hal tentang Gallen hilang dari ingatan dan juga hatinya.

__ADS_1


Arvella benci pada dirinya sendiri, ia dengan begitu murahannya mau saja membiarkan Gallen melakukan apa pun terhadap dirinya. Hari ini Arvella bersumpah akan menjauhi semua yang berhubungan dengan Gallen.


Ia bersumpah…


__ADS_2