Arvella Danniells

Arvella Danniells
Eps. 12


__ADS_3

“Apalagi?” dengus Arvella kepada sosok William yang enggan segera pergi meninggalkan Apartement miliknya yang malam ini akan di tempati oleh Arvella.


Ayolah, Arvella baru saja selesai mendengarkan khotbah panjang yang di sampaikan oleh William dari semenjak memasuki mobil William, lalu kemudian berlanjut sampai ke Appartement William dan selesai pada pukul 11 malam.


Benar-benar menyebalkan!


“Pulang sana! Aku ingin tidur”ketus Arvella.


William menarik ujung rambut Arvella hingga gadis itu terpekik keras. “William!”pekiknya.


“Kau baru saja melakukan pelanggaran nona Fanaro”ujar William yang dengan isengnya memainkan rambut panjang Arvella yang terurai. Oh ya, William juga sudah selesai mengobati luka di wajah Arvella sembari menceramahinya tadi.


“Pelanggaran apa yang kau maksud?”dengus Arvella, percuma juga ia melarang tangan William untuk diam, toh semakin di larang ia akan semakin gila.


Benar-benar pria tua yang menyebalkan!


“Kau baru saja mengusirku dari Apartement ku sendiri. Dan itu sangat di larang di belahan kota manapun”


Arvella menganga, ya tuhan! Arvella lupa jika pria tua di sampingnya itu benar-benar tidak waras. Lagi pula dimana ada pelanggaran macam itu hah?


“Kurasa otakmu kurang waras”ketus Arvella.


“Jika aku tidak waras, aku tidak akan mungkin mencintai gadis bodoh seperti dirimu!”bisiknya tepat pada telinga Arvella, yang membuat seluruh tubuh Arvella meremang.


“Kau bilang apa?”tanya Arvella yang kini berbalik duduk menghadap wajah William yang terlihat kecewa karena tidak bisa memainkan rambut panjangnya.


“Pergi tidur sana! Kau harus kuliah besok!”ujar William.


“William!”desak Arvella.


William hanya mengangkat sebelah alisnya. “Apalagi? Jangan bilang kau ingin tidur dalam pelukan ku heh?”kekeh William yang sama sekali tidak membuat Arvella tertawa atau berubah ekspresi selain ekspresi penuh tanyanya.


“Oke, oke. Aku akan pulang sekarang”sahut William


“Kau tahu, bukan itu yang ku inginkan. Aku ingin kau mengulangi ucapanmu tadi”paksa Arvella.


“Arvella, ini sudah malam. Aku pergi ya!”Pamitnya, lantas pria itu mengecup bibir Arvella sekilas, yang lagi-lagi membuat Arvella terkejut.


Ya Tuhan…


Kenapa dengan William?


Arvella benar-benar tidak mengerti ada apa dengan sahabatnya itu, ia masih tidak percaya dengan semua yang terjadi barusan, pertama karena William mengatakan jika ia mencintainya, dan yang kedua, William mengecup bibirnya. Hal yang selama ini tidak pernah mereka berdua lakukan.


Ya Tuhan…


Kenapa semuanya serumit ini.


Tok…tok…tok…


Arvella menoleh ke arah pintu Apartement yang terdengar seperti sedang di ketuk dari luar, memutar kedua bola matanya, itu pasti William. Pria itu benar-benar menyebalkan, kenapa ia harus mengetuk pintu? Sedangkan ia bisa membuka sandi keamanan pintu Apartement miliknya, lalu dengan kesal ia bergerak membuka pintu Apartement tersebut.


“Apalagi?”sungut Arvella setelah membuka pintu tersebut.


Arvella nyaris berteriak, menyadari bahwa orang yang barusan mengetuk pintu itu bukanlah William. Melainkan Gallen Harisson yang datang dengan kemeja dan celana panjang yang sudah sangat basah kuyup, seperti baru saja menerobos air hujan dengan sengaja.


Ah, hujan…


Arvella jadi ingat pada saat Gallen melakukan hal yang sama, yaitu menerobos derasnya hujan hanya demi mengambil cake pesanan Audrey.


Dan ia benci akan itu.


Arvella segera bergerak hendak menutup pintu, namun Gallen menahannya dengan menggunakan kaki miliknya yang di balut sepatu sneakers dengan bordiran huruf “GH” di sampingnya.


“Kau tidak memperbolehkan ku masuk?”ujar pria itu dengan tatapan dingin yang menusuk hati Arvella.


Sialan!


Bukannya benci pada sosok pria di hadapannya, ia malah peduli melihat keadaan pria yang telah menyakitinya itu yang dalam keadaan basah kuyup.

__ADS_1


“Kenapa kemari?”tanya Arvella dengan nada acuh.


“Setidaknya biarkan aku masuk dulu”sahutnya.


“Ini Apartement William. Aku tidak bisa memasukkan orang sembarangan tanpa izinnya. Kau mengerti? Jadi biarkan aku menelpon William dulu”sergah Arvella.


“PERSETAN DENGAN WILLIAM! APA KAU TIDAK KASIHAN PADAKU YANG SUDAH KEDINGINAN?!”Teriak Gallen.


Arvella tetap menahan pintu agar tidak terbuka dengan lebar, oh ayolah, siapa yang tidak cemas dan kasihan melihat pria yang ia cintai dalam keadaan seperti itu?


Tapi Arvella harus tahan harga. Ia tidak boleh lemah dan membiarkan pria itu memporak-porandakan hatinya dengan seenaknya.


“Kenapa aku harus peduli? Kau saja tidak peduli berapa kali aku masuk rumah sakit karena ulahmu yang keter---"


“AKU SUDAH SANGAT KEDINGINAN BODOH!”Teriak Gallen lagi. Yang kali ini membuat hati Arvella benar-benar merasa iba. Lalu yang terjadi selanjutnya adalah, Arvella menyingkir dari pintu dan membiarkan Gallen membuka pintu dan masuk ke dalam.


Hatinya benar-benar sangat lemah. Dan Arvella benci itu!


“Dimana kamar mandinya? Aku ingin berendam dengan air hangat!”titahnya.


Dengan malas, Arvella berjalan lebih dulu dari Gallen. Menunjukan dimana letak kamar mandinya. Pria ini benar-benar---


“Kurasa aku tidak perlu berendam air hangat untuk menghangatkan tubuhku”gumam Gallen yang sudah bergerak memeluk tubuh Arvella dari belakang, menelusupkan kepalanya pada lekukan leher Arvella. Sedangkan Arvella masih bergeming, mendapat perlakuan Gallen yang sangat-sangat membuatnya semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran pria itu.


“Jangan macam-macam. Aku sudah lelah berurusan dengan Audrey”lirih Arvella.


Gallen tidak menjawab, pria itu masih sibuk dengan aktivitas mengendus aroma tubuh Arvella. Ia bahkan tidak peduli dengan tubuhnya yang mungkin besok akan demam karena ulahnya menerobos air hujan.


“Bolehkah aku memelukmu hingga pagi?”gumam Gallen.


Ada apa dengan pria ini huh? Kenapa mendadak manja seperti ini?


“Kau mabuk?”tanya Arvella. Oke, itu pertanyaan yang tepat bagi Arvella. Ia tidak mau berpikir tentang yang macam-macam mengenai Gallen. Karena ia sudah tahu bagaimana rasanya berharap pada sebuah harapan yang semu..


Gallen mendengus, melepaskan pelukannya dari tubuh Arvella “Tunjukan padaku dimana letak kamar mandinya?”


Oke, Sepertinya barusan Gallen benar-benar sedang mabuk.


“Pakaianku dimana?”Tanya Gallen yang kini sudah berada di depan pintu kamar mandi.


Arvella mendengus, Gallen sudah kembali ke sifat awalnya.


“Di sebelah kamar mandi itu ada kamar William, kau pakai saja pakaian milik William!”ujar Arvella


Blam.


Pintu kamar mandi itu di tutup dengan keras oleh Gallen. Dan Arvella memukul kepalanya dengan kesal. Oh ya tuhan. Dirinya itu benar-benar sangat bodoh. Harusnya ia tahan harga dan membiarkan Gallen menderita karena kedinginan.


Oh ya tuhan…


Dasar Arvella bodoh!


Arvella menatap pintu kamar mandi itu sekali lagi, lalu segera bergerak menuju kamar yang akan ia tempati malam ini.


Arvella berharap, pria itu segera pergi dari sini sekarang juga.


🍃🍃🍃🍃🍃


“Apa yang kau lakukan disini?”pekik Arvella dengan kesal.


Ah, Ya Tuhan…


Kepala Arvella sudah sangat pusing seharian ini, dan dengan tidak tahu dirinya pria bernama Gallen Harisson itu datang menerobos masuk ke Appartement William dengan basah kuyup. Lalu memeluk dan memerintahnya dengan seenaknya saja. Dan sekarang pria itu malah berbaring di dalam kamar yang akan di tempati Arvella malam ini.


Astaga!


Arvella memang beberapa menit lalu keluar dari kamarnya, membuka pintu Apartement untuk mengambil makanan yang ia pesan secara delivery dan ketika ia kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel, ia menemukan sosok pria itu sudah berbaring di atas kasur.


“Kasur di kamar William benar-benar keras dan tidak enak di pakai. Untuk itu aku memilih berbaring disini”ujarnya yang masih memejamkan matanya.

__ADS_1


Aku tidak peduli!


Ingin rasanya Arvella berteriak seperti itu, namun sudahlah—dirinya sudah sangat terlalu lelah untuk berdebat, ia akan tidur setelah menyantap makanan yang ia pesan barusan. Dengan kesal Arvella meraih ponsel miliknya yang berada tempat di bawah bantal yang Gallen tiduri.


Ah, Sial!


Arvella mendengus, kenapa hidupnya selalu berhubungan dengan Gallen si? Bahkan ponselnya pun tidak ingin jauh dari bantal yang Gallen pakai.


“Gallen…”panggil Arvella.


Namun sial, pria itu tetap saja memejamkan matanya, Arvella menelan salivannya dengan susah payah. Kemudian bergerak mengambil ponselnya yang berada di bawah bantal Gallen. Ayolah, kenapa rasanya susah sekali untuk mengambil ponselnya? Tidak kah pria itu tahu bahwa dadanya sudah sangat bergetar tak karuan karena efek terlalu lama berdekatan dengannya?


Oh ayolah, Kenapa Gallen harus berada di satu ruangan yang sama dengannya?


Arvella akhirnya bernapas lega, ketika ia berhasil meraih ponselnya. Kemudian ia terpekik kaget, ketika Gallen membuka mata dan menatap matanya dengan dalam.


Gallen tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat. Melihat ada rona merah di wajah Arvella. Rupanya gadis kuno itu masih memiliki perasaan padanya, bukankah sebelumnya ia berkata ingin menjauh darinya, seolah benar-benar sangat membencinya? Lalu kenapa sekarang ia merona hanya karena tatapannya?


“Ke---ken—kenapa kau bangun?”


Demi tuhan, Arvella sudah gugup setengah mati karena tatapan mata yang gallen berikan. Ah ya tuhan… dia benar-benar lemah bukan?


Gallen tidak menjawab, masih menatap mata Arvella yang terhalang kacamata minusnya. Ia masih menikmati wajah gugup dan merah milik Arvella. Gallen bahkan dapat melihatnya dengan jelas, bahwa gadis itu telah berkali-kali mengedipkan mata dan mengalihkan pandangannya dengan salah tingkah dari Gallen.


Belum sadar dari kegugupannya, Arvella kembali terpekik ketika Gallen menarik lengannya hingga tubuhnya terjatuh di atas tubuh Gallen, Arvella benar-benar dapat melihat wajah pria yang ia kagumi selama ini dengan jelas. Melihat dengan jelas bola mata coklat milik pria itu. Belum lagi alisnya yang lebat dan juga wajahnya yang benar-benar sangat tampan di lihat dari jarak sedekat ini.


Arvella kembali gugup ketika bibir Gallen bergerak nyaris menyentuh bibirnya, sedikit lagi kedua bibir mereka akan bertemu, namun sialnya, ponsel Arvella berdering dengan nama William yang tertera disana. Arvella segera bangkit dari posisinya kemudian bernapas lega karena William benar-benar menyelamatkannya.


“Ya William?”sahutnya ketika teleponnya sudah tersambung. Dan yang terjadi selanjutnya, Gallen hanya dapat melihat punggung milik Arvella yang menjauh dari kamar tersebut.


🍃🍃🍃🍃🍃


Arvella benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran seorang Gallen Harisson, ia benar-benar sangat sulit untuk di tebak. Selalu saja melambungkan perasaannya dan menjatuhkannya lagi dan lagi. Arvella tahu, bahwa sejak awal Gallen memang sengaja ingin mempermainkannya dengan melambungkan perasaannya lalu menjatuhkannya begitu seterusnya.


Arvella ingin membenci sosok itu, namun tubuh dan hatinya selalu saja bertentangan, selalu bertindak seenaknya.


“Aku harus apa?”ujarnya kepada keran di wastafel yang sedang mengalirkan air untuk membersihkan tangannya setelah makan tadi.


Segala macam cara telah ia lakukan untuk membuat pria itu menjauh, namun semakin dirinya menghindar, Gallen semakin gencar mendekati dan menyakitinya. Katakanlah jika dirinya benar-benar sangat labil. Toh itu adalah kenyataan.


Arvella selalu saja lemah dan tak berdaya jika sudah berhadapan dengan Gallen. Lalu bagaimana bisa dirinya membenci pria itu?


“Bisakah kau buka pintunya? Aku akan pulang sekarang.”ujar Gallen yang sudah berada di belakang tubuhnya.


Mau tidak mau, Arvella terkejut hingga membuat air yang sedang membasuh tangannya terciprat kemana-mana.


Kenapa Gallen gemar sekali membuatnya terkejut ?


Arvella dengan cepat mematikan keran airnya, dan melangkah dengan cepat untuk membuka pintu yang memang harus di buka menggunakan sandi dan tentusaja hanya dirinya dan William yang tahu.


Gallen mengangkat sebelah alisnya, melihat kegugupan Arvella karena ulahnya, gadis itu bahkan berkali-kali memasukan sandi yang salah karena saking gugupnya. Berdecak sedikit, kemudian menyingkirkan tubuh Arvella dari layar kecil yang menunjukan beberapa angka.


“Beritahu aku apa sandinya? Dan aku bisa segera keluar darisini!”ujarnya.


Arvella mendongkak menatap tubuh tinggi tegap yang selalu saja bersikap tenang, tidak dengan dirinya yang selalu gugup jika berada di dekat pria itu.


“Tanggal lahirku”gumam Arvella.


Pria itu nampak berpikir sebentar, kemudian menekan beberapa tombol angka disana, lalu tak lama pintu Appartement itu terbuka.


“Terlalu mudah”ucapnya, kemudian pria itu meninggalkan Apartement William dan Arvella yang lagi-lagi terkejut.


Bagaimana bisa Gallen tahu tanggal lahirnya?


Jangan Billang----


“Berhenti berpikiran aneh-aneh Arvella! Siapa tahu dia baru saja mengotak-atik dompetmu, dan menemukan kartu anggota mahasiswa dan melihat ada tanggal lahir mu disana!”ujarnya lagi.


Arvella sudah tidak ingin berharap lagi pada pria itu. Tapi sialnya, Arvella masih penasaran perihal Gallen yang mengetahui tanggal lahirnya.

__ADS_1


Arvella kembali menggeleng, ia harus tidur sekarang agar pikirannya kembali tenang besok.


__ADS_2