
Arvella memang benar-benar gadis yang paling bodoh sedunia, entah bagaimana caranya, ia berada disini. Di studio foto besar nan terkenal milik Gallen Harisson, itu sama saja membuat pria itu merasa menang dan beranggapan dirinya masih tergila-gila pada pria itu.
Walau sebenarnya memang begitu…
Meski wajahnya tidak menunjukan ekspresi apa pun, Arvella yakin pria itu sedang tertawa dalam hati karena merasa menang. Demi tuhan! Arvella kemari hanya karena ingin menemani Shavira seperti biasanya. Bukan dengan alasan ingin melihat wajah Gallen. Karena mulai sekarang Gallen bukan lagi prioritasnya. Lagi pula kepalanya sudah sangat pusing untuk memikirkan pria itu.
“Kau disini?”tanya Arvella pada sosok pria berpakaian formal yang jelas sedang memperhatikan Shavira yang sedang sibuk dengan kameranya.
Pria itu tersenyum, “Kau siapa?”tanya pria itu.
“Aku Arvella Greyson, putri bungsu keluarga Greyson”akunya.
Pria di sampingnya itu mengerutkan dahi, seingatnya keluarga Greyson hanya memiliki 3 orang anak. Dan tentu ia bingung dengan gadis yang tiba-tiba mengaku sebagai putri bungsu keluarga Greyson.
“Namaku Bryan Kaslavo.”ujarnya.
Arvella mengangguk, “Sudah sejauh mana hubungan kalian?”tanya Arvella lagi.
Bryan sedikit terkekeh, astaga kenapa gadis ini lucu sekali?
“Masih tahap pendekatan”jawabnya.
“Kau serius? Kalian belum ada niatan untuk menikah?”pekik Arvella.
Bryan menggelengkan kepalanya, sekarang ia tahu darimana sikap unik putri bungsu keluarga Greyson itu berasal, tentunya dari gadis ini.
“Kau sedang apa disini?”tanya Bryan
__ADS_1
“hm? Menemani Shavira”singkatnya.
Bryan diam, tidak meneruskan obrolannya dengan gadis yang mengaku sebagai puteri bungsu keluarga Greyson barusan. Bryan sibuk mengamati sosok pria yang bersama Shavira dan raut wajah gadis di sampingnya.
“Kau sangat mencintainya ya?”Tanya Bryan.
Arvella menoleh, kemudian menggelengkan kepalanya dengan tegas. “Ti—Tidak! Apa kelihatan sekali ya jika aku menyayanginya?”ucapnya polos.
Bryan kembali terkekeh, astaga gadis ini benar-benar sangat polos. Kemudian dia mengangguk, yang lagi-lagi membuat Arvella salah tingkah karena ketahuan mencuri pandang kepada Gallen.
“Sekalipun aku berbohong?”tanyanya lagi.
Bryan kembali mengangguk, “Benar, kau pernah dengar pepatah mengatakan bahwa ‘mata adalah jendela hati’?”tanya Bryan.
Arvella mengangguk. “Kau benar, oh ya tuhan…kenapa hidupku serumit ini!”erangnya prustrasi
“Masing-masing manusia selalu di berikan takdir dan nasib yang berbeda-beda. Tidak semua kisah sama, tapi percayalah satu hal. Tuhan tidak pernah memberikan ujian di luar batas kemampuan hambanya…”terang Bryan.
“Bersabarlah, aku pamit ada meeting sekarang. Jaga dirimu baik-baik”ujar Bryan sembari tersenyum dan mengacak rambut Arvella dengan gemas.
Arvella mencebikan bibirnya, Bryan benar-benar membuatnya kesal. Lihatlah sekarang rambutnya sudah sangat berantakan karena ulah kekasih sahabatnya itu.
“Kalian akan pergi bersama?”tanya Arvella, ketika melihat Shavira ikut berjalan di belakang Bryan.
“Iya aku akan ke kantor Bryan. Apa kau mau ikut?”tanya Shavira.
Baru saja Arvella ingin menyahut, sosok Gallen sudah berada di belakangnya “Arvella kau pulang denganku! Sekalian aku ingin mengembalikan jaket milik Audrey”ujarnya, kemudian pria itu menarik pergelangan tangan Arvella dengan kasar, meninggalkan sepasang manusia yang menatapnya heran.
__ADS_1
“Gallen selalu saja kasar terhadap Arvella”geram Shavira.
Bryan mengecup pucuk kepala Shavira dan mengajak gadis itu segera pergi meninggalkan Studio Photo milik Gallen Harisson.
🍃🍃🍃🍃🍃
Harusnya sejak awal dirinya memberontak dan menolak ajakan pria yang sedang fokus menyetir di sampingnya itu. Berdekatan dengan Gallen hanya akan membuat dirinya semakin terhina dan terlihat rendah di mata pria itu. Bahkan saat ini pria itu sedang berbincang dengan Audrey lewat ponselnya.
“Sudahlah, lagi pula kalian tinggal serumah bukan?”
“Iya, tapi kenapa kau harus semobil dengan si kuno itu?”
“Sudahlah Audrey..” dan bla..bla..bla..
Arvella sudah tidak lagi mendengarkan pembicaraan mereka, ia sibuk mengamati dashboard mobil Gallen, disana terdapat banyak miniatur Action figure seperti Captain America, hingga Superman. Dan sebuah jam tangan yang membuat Arvella tertarik.
Tunggu dulu…
Arvella sepertinya kenal dengan jam itu. Astaga! Itu jam tangan pemberiannya, kado ulang tahun darinya untuk Gallen. Jadi selama ini pria itu menyimpannya? Ah, ya Tuhan…Arvella baru sadar, jika selama ini Gallen selalu memakai jam tangan pemberiannya itu.
Astaga! Kenapa ia baru sadar?
“Gallen, bukankah ini jam pemberianku di hari ulang tahunmu setahun yang lalu?”tanya Arvella dengan mata yang berbinar. Ya tuhan… ia senang mengetahui fakta jika Gallen menyukai jam tangan pemberiannya.
Gallen mengerutkan dahinya sebentar, kemudian menutup pembicaraannya dengan Audrey di telepon. Menoleh pada jam tangan yang berada di dashboard mobilnya.
“Ah, aku lupa membuangnya!”ucapnya. Sembari mengambil jam tangan itu, lalu sebelah tangannya membuka kaca pintu mobil yang di samping Arvella sedikit, dan tanpa di duga pria itu melempar jam tangan pemberian Arvella ke semak-semak yang berada di pinggiran jalan.
__ADS_1
Arvella kembali merasakan nyeri di hatinya, ketika melihat bagaimana Gallen membuang jam tangan pemberiannya tanpa perasaan. Tahukah ia jika Arvella susah payah mengorbankan uang tabungan miliknya hanya demi membeli jam tangan limited edition itu? Dan pria itu malah membuangnya begitu saja tanpa perasaan, Arvella memalingkan wajahnya, menghadap kaca jendela dengan air mata yang meluruh.
Arvella sudah tidak sanggup lagi, jika boleh meminta, Arvella ingin tuhan mengambil nyawanya detik ini juga.