Arvella Danniells

Arvella Danniells
Eps. 4


__ADS_3

Namanya Willian Jansen, pria tampan dan segala prestasi segudangnya. Pria itu mampu memikat banyak mata dan hati para kaum hawa di kota ini. Siapa yang tidak mengenal sosok ini, sosok pria yang benar-benar nyaris sempurna di dunia ini.


William adalah salah satu sahabat Arvella setelah Shavira Greyson tentunya. Mereka sudah saling mengenal sejak lama. Usia mereka jelas sangat berbeda, Arvella 5 tahun lebih muda darinya. Tapi entah mengapa keduanya merasa sangat cocok menjadi teman hingga sekarang padahal usia mereka terpaut lumayan jauh.


“Nancy! Aku perkenalkan padamu. Ini temanku Arvella, jika lain kali kau melihat dia kemari, harus mengizinkannya masuk ke ruanganku! Mengerti?”ujar William. Ya, saat ini dirinya dan Arvella sedang berada di kantor William. Dan kalian pasti tahu bukan, apa yang sedang di lakukan pria tampan itu pada sekretarisnya?


Tentusaja memarahinya. Apalagi memangnya?


Nancy mengangguk, mengiyakan apa yang baru saja atasannya ucapkan. Sedangkan gadis bernama Arvella itu justru terkekeh kecil menanggapi tindakan William yang menurutnya sangatlah berlebihan.


Ayolah, ini hanya masalah sepele will…


“Aku tidak mau jika suatu saat kau menanyakan hal bodoh seperti ‘Apakah sebelumnya anda sudah membuat janji?’ aku tidak mau itu terulang lagi!”tegasnya.


Astaga William…


Arvella lama-lama mulai muak dengan sikap posesif William. Ayolah, gadis mana yang senang jika di perlakukan posesif seperti ini? Jikapun ada, maka itu bukamlah dirinya.


“William. Jangan terlalu berlebihan”tandas Arvella.


Kini William berbalik menatapnya, membuat wajah tegang Nancy menjadi lega. Setidaknya Arvella sudah menyelamatkannya. Dan pikiran Nancy mulai bertanya mengenai hubungan macam apa yang terjadi di antara dua manusia di hadapannya itu?


Tidak mungkin kan jika hanya teman?


“Aku tidak berlebihan Arvella. Aku hanya ing---Arvella jangan mengalihkan pembicaraan ya!”Ketusnya, ketika Arvella menyeretnya untuk masuk ke dalam ruangannya.


Dan Nancy benar-benar melongo melihat pemandangan tersebut.


“Sepertinya gadis itu sangat istimewa bagi Mr.William…”begitu pikirnya.


Tentu di dunia ini bukan hanya Nancy yang berpikir seperti itu, semuanya selalu berpikiran sama dengan Nancy. Mengingat hanya gadis bernama Arvella yang mampu melakukan hal-hal gila dan tidak wajar pada William, dan William tidak pernah bisa untuk menolaknya.


Seluruh karyawan, staff hingga security di perusahaan ini juga pernah memiliki pemikiran seperti itu. Namun setelah lama mengenal sosok Arvella mereka mengerti mengapa William bersikap sangat posesif pada Arvella. Karena Arvella sosok gadis yang unik dan juga menyenangkan.


Setelah lama keduanya berdebat panjang mengenai tindakan posesif William pada Arvella, keduanya saling diam. Raut kesal jelas terlihat di wajah keduanya, mereka berdua memang sama-sama keras kepala, sama-sama tidak mau kalah. Dan hal itu bukan hanya terjadi sekali dua kali, melainkan sudah lama sekali sejak mereka saling mengenal satu sama lain.


Baru saja Arvella ingin bersuara, dering telepon di atas meja William berbunyi.


“Ya”


"……………."

__ADS_1


“Dia sudah disini?”


"……………."


“Suruh dia masuk”


William terlihat menutup teleponnya dan kemudian berdiri, sedikit merapikan jas miliknya yang jelas sudah tidak karuan bentuknya karena ulah Arvella.


Arvella menoleh ketika pintu ruangan William terbuka, seketika wajahnya berubah menjadi penuh tanya melihat siapa yang baru saja masuk ke dalam ruangan William.


“Gallen…”gumamnya


“Selamat datang Gallen Harisson”sapa William.


Gallen mengangguk sopan, kemudian matanya menatap tajam ke arah Arvella yang terus memperhatikannya. Ayolah, kenapa dia selalu bertemu dengan gadis bodoh ini?


Ah, dunia memang benar-benar sempit!


“Will, lebih baik aku keluar saja, kurasa ada hal serius yang ingin kalian berdua bicarakan”tandas Arvella.


Ia memilih pergi sebelum Gallen murka, semuanya sudah jelas dan Arvella mengerti jika tatapan Gallen barusan itu menyuruhnya untuk pergi jauh dari hadapannya.


“Ayolah Will, aku hanya ingin ke kantin. Jangan mulai lagi!”Kesal Arvella.


“Baiklah. Aku akan menyusulmu nanti jika urusanku sudah selesai.”ucap William.


Arvella mengangguk, kemudian memilih keluar dari ruangan William. Ia merasa sangat risih dengan tatapan Gallen yang seolah terus saja memintanya pergi menjauh. Arvella sekarang menyerah, menyerah dari semuanya. Menyerah memperjuangkan Gallen Harisson yang seolah memang tidak pernah di ciptakan untuknya.


Harusnya Gallen berbalik mencintainya, mengingat semua perjuangannya selama 2 tahun terakhir ini. Namun takdir seolah terus mempermainkannya, takdir seolah memperlambat semua harapannya, mau tidak mau mulai saat ini Arvella harus berhenti.


Berhenti mengejar Gallen,


Berhenti mengimbangi langkah Gallen,


Berhenti mencintainya,


Dan berhenti untuk semuanya..


Ya benar, Arvella harus berhenti mulai sekarang. Urusan bisa atau tidaknya, biarlah jadi urusan nanti. Yang harus ia lakukan adalah menjauh sejauh-jauhnya dari kehidupan Gallen.


Arvella terkejut ketika merasa lengannya di cekal dengan keras, ia nyaris saja berteriak jika orang itu tidak membekap mulutnya dan membawanya ke dalam ruangan tangga darurat.

__ADS_1


“Gallen…apa yang kau lakukan?”desisnya.


Gallen menatap tajam Arvella dengan tangan yang masih mencengkram kuat pergelangan tangan Arvella. Ia seolah tak perduli dengan ringisan yang keluar dari mulut Arvella.


“Harusnya aku yang bertanya, sedang apa kau disini huh? Menjadi jalang sewaan pria bernama William itu?”sinisnya.


Arvella jelas melotot, bukan lagi karena merasa sakit di pergelangan tangannya, melainkan karena ucapan Gallen yang mengatakan jika dirinya adalah seorang jalang sewaan William. Kini bukan lagi pergelangan tangan Arvella yang terluka, tetapi juga hatinya.


“JAGA UCAPANMU!”Teriak Arvella dengan mata yang balas menatap Gallen dengan sama tajam.


Gallen berdecih, tertawa sinis. “Lalu apa yang di lakukan sepasang manusia di dalam ruangan yang sama? Apalagi jika bukan sex. Ayolah Arvella jangan bersikap layaknya seorang perawan. Aku---


PLAK!


Arvella menampar wajah Gallen. Merasa marah oleh ucapan Gallen yang sangat keterlaluan itu, apa dirinya memang seburuk itu di hadapan Gallen? Apa ia memang tercipta untuk di maki oleh pria ini? Kenapa?


Kenapa tuhan selalu mempermainkannya?


Kenapa tuhan tidak pernah adil padanya? Kenapa?


Arvella kali ini benar-benar tidak terima dengan penghinaan yang Gallen lakukan kepadanya, jika Gallen memghinanya seperti mengatainya Kuno. Mungkin ia akan terima, tapi kali ini? Arvella benar-benar tidak terima. Dan Gallen sudah benar-benar keterlaluan.


Tidak!


Dirinya bukanlah seorang jalang.


Sama sekali bukan.


Gallen yang merasakan tamparan di wajahnya reflek merasa terkejut dan melepaskan cekalan lengannya pada pergelangan tangan Arvella. Ia menatap wajah Arvella, sedikit tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Gadis itu menamparnya, dan menatap dirinya dengan mata yang memerah nyaris menangis, yang ia yakin sebentar lagi tangisnya akan tumpah.


Kali ini Arvella terlihat sangat berbeda, dan Gallen merasakannya. Merasakan jika gadis di hadapannya ini bukan lagi gadis bodoh yang selama ini mengejar cintanya, yang ia lihat sekarang adalah, Arvella yang marah besar kepadanya.


Keduanya masih bergeming, belum ada satu kata pun yang keluar, Arvella masih menatap Gallen dengan tajam begitupun sebaliknya. Gallen yang biasa menyakiti Arvella dengan senang hati kini merasa enggan, merasa sedikit takut dengan tatapan Arvella.


“Aku pamit”ucap Arvella. Namun baru saja Arvella ingin membuka pintu keluar, Gallen kembali menariknya, menyudutkan dan mengurung tubuh Arvella dengan tubuhnya di tembok. Lalu tanpa di tebak pria itu mencium bibir Arvella, kemudian memaksa Arvella membuka mulutnya dan ia dengan leluasa mulai memagut bibir bawah Arvella dengan rakus.


Arvella tentu tidak bisa berkutik, yang ia rasakan saat ini adalah. Ia merasa senang dan terhina sekaligus. Ia senang karena Gallen akhirnya mencium dirinya, dan terhina sekaligus karena ia tetap saja jatuh ke dalam pesona Gallen. Dan itu benar-benar memalukan.


Gallen menyudahi pagutannya, kemudian menempelkan keningnya pada kening Arvella, dengan napas yang memburu, keduanya saling bertatapan. Arvella merasakan tubuhnya benar-benar sangat lemas karena kerakusan Gallen barusan, dan juga tatapan mata Gallen yang jelas kali ini menatapnya dengan berbeda, bukan tatapan tajam seperti biasa yang sering Gallen berikan.


Setelah napas mereka mulai teratur, Gallen kembali mencium bibir Arvella. Kali ini hanya sampai bersentuhan saja. Namun tetap saja itu membuat Arvella kembali terkejut. Lalu tanpa kata Gallen meninggalkan Arvella yang masih terkejut disana sendirian.

__ADS_1


__ADS_2