
Secangkir kopi dengan asap yang mengepul telah berada di hadapannya, namun pria itu tetap bergeming, seolah enggan untuk menatap secangkir kopi tersebut. Pikirannya terus menerawang ke tempat lain, mnerawang kepada sosok gadis yang selama ini mengganggu hidupnya. Arvella Fanaro, gadis kuno yang terang-terangan menyatakan cinta kepadanya, gadis kuno yang dengan tanpa pamrih mengejar dirinya dan juga cintanya.
Gallen masih ingat dengan pertemuan pertama mereka, saat itu Arvella adalah mahasiswa baru, satu tingkat dengan Shavira. Di antara seluruh mahasiswa baru, Arvella lah yang menjadi pusat perhatiannya sejak awal. Gadis itu sangat berbeda dengan mahasiswa lainnya, ia yang paling mencolok dengan rambut coklat dan kacamata minus besarnya. Gallen sering melihat wajah gadis itu yang merona setiap kali mereka bersitatap. Benar-benar menggemaskan.
Lalu sekitar 5 bulan kemudian, gadis itu menghampiri dan mengatakan bahwa ia menyukai dirinya, hal yang konyol menurutnya.
“Kak, aku sudah lama menyukaimu. Apakah kau mau menjadi kekasihku?”
Gila! Benar-benar Gila.
Gallen benci menjadi pusat perhatian banyak orang, seperti sekarang, semua orang bersiul mengejek dirinya yang di taksir oleh mahasiswa baru dengan penampilan konyolnya.
Gallen tidak suka!
“Kau bilang apa barusan? Kau menyukaiku?”
Gadis itu mengangguk dengan pipi yang bersemu merah.
“Ck, gadis kuno sepertimu ingin menjadi kekasihku? Jangan bermimpi!”
Gadis itu nampak kecewa dengan jawabannya, “Aku akan berusaha menunjukan seberapa besar rasa cintaku untukmu, sampai nanti kau mau menjadikan ku sebagai kekasihmu!”
Gallen menarik kerah Almamater yang di pakai gadis itu, kemudian menyeretnya dan membawa gadis itu ke halaman kampus.
“Dengar ini kuno! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah sudi menjadikan mu sebagai kekasihku!!”teriak Gallen. Lantas dirinya segera meninggalkan gadis itu disana sendirian.
Tidak!
Gallen tidak benar-benar pergi, tanpa sepengetahuan siapa pun, ia diam-diam memperhatikan gadis itu yang kini sedang menangis di pelukan Shavira. Ah, Shavira… ia baru sadar jika sudah lama sekali jantungnya telah berhenti berdebar ketika bersama Shavira. Gallen tidak pernah pergi sedetikpun dari gadis bernama Arvella itu, ia selalu memperhatikan semua yang di lakukan gadis itu selama ini.
Karena sejak awal, gadis itu bukan hanya mengganggu hidupnya, tetapi juga hati dan pikirannya.
Pria itu bangkit, setelah meletakan selembar uang seratus ribuan di bawah cangkir kopi miliknya yang sama sekai tidak tersentuh. Pria itu bergegas pergi dari sana, melupakan keberadaan Audrey di rumah sakit tersebut. Dengan langkah cepatnya, ia berhasil menaiki motor besarnya dan membawanya pergi dengan kecepatan penuh, ia tidak perduli dengan derasnya hujan yang mulai membasahi dirinya dan menghalangi pandangannya , pria itu terus melaju tanpa batas. Tidak memperdulikan dirinya yang mudah terserang deman, ia tidak perduli.
Hingga tak lama kemudian ia telah sampai di sebuah Apartement yang di tempati Arvella kemarin, persetan dengan dirinya yang menjadi pusat perhatian semua orang karena seluruh pakaiannya sudah basah. Toh lagi pula ia pernah melakukan hal yang sama dengan datang ke Apartement ini dengan pakaian basah kuyup.
Sialan!
Gallen benar-benar ingin mengumpat dan mendepak lift sialan yang berjalan dengan sangat lambat ini. Tidakkah lift sialan itu tahu jika dirinya sedang terburu-buru huh?
__ADS_1
Ting!
Akhirnya lift itu berdenting dan tak lama pintu itu terbuka, dan Gallen segera berlari menerobos orang-orang yang hendak keluar juga dari sana. Ia terus berlari dan sialnya, kenapa rasanya lorong-lorong ini terasa sangat panjang untuk sampai ke Appartement yang di tempati Arvella.
Sialan! Benar-benar sialan!
Gallen memukul pintu Appartement milik William dengan keras, dengan napas memburu ia mengetikkan kode sandi Appartement tersebut. Namun sialnya, sandi itu telah di ganti.
SIAL!
Kenapa rasanya hari ini tuhan memberikannya banyak kesialan?
“ARVELLA!! BUKA PINTUNYA. AKU TAHU KAU ADA DI DALAM!”Teriak Gallen.
Tidak ada sahutan.
Gallen benar-benar merasa dejavu, kemarin ia juga berdiri di depan pintu dengan keadaan yang sama seperti sekarang, menunggu sang nama membuka pintu. Arvella sudah begitu sangat baik dengan membukakan pintu dan menyuruhnya masuk, padahal bisa saja kemarin Arvella tidak melakukan itu, padahal Arvella bisa membiarkannya terkena demam, bukan malah membiarkannya masuk dan membiarkannya memeluk tubuh Arvella untuk meredakan sedikit rasa dingin di tubuhnya. Harusnya Arvella tidak berbaik hati kepadanya.
Dan harusnya ia sadar, jika cinta Arvella benar-benar sangat besar untuknya.
Gallen kembali memukul pintu di hadapannya, “ARVELLA TOLONG BUKA PINTUNYA!! ARVELLA!!”Teriaknya lagi. Namun hasilnya tetap nihil. Arvella tidak membuka kan pintu untuknya kali ini.
“Aku kedinginan, bolehkah aku masuk?”ujarnya lagi.
Tapi lagi-lagi tidak ada sahutan. Dan Gallen benar-benar frustrasi, benar-benar takut gadis itu sudah benar-benar lelah dan berhenti mengejarnya, Gallen benar-benar takut jika Arvella benar-benar telah meninggalkannya.
Gallen sangat takut itu terjadi…
Tidak! Arvella-nya tidak boleh pergi.
Tidak boleh.
Gallen kembali memukul pintu Appartement itu dengan keras, tidak memperdulikan rasa sakit di tangannya, pria itu terus memukulnya dengan keras hingga kedua punggung tangannya benar-benar mengelupas dan mengeluarkan darah.
“ARVELLA!! BUKA PINTUNYA!!”
Gallen meringis pelan, kedua punggung tangannya benar-benar sudah sangat terluka parah.
“Arvella… aku tahu kau mendengarku”
__ADS_1
Pria itu menatap tajam kepada dua orang security yang berlari menuju ke arahnya, Gallen kembali memukul pintu itu dengan semakin keras. Tidak perduli jika setelah ini kedua tangannya benar-benar terluka sangat parah.
“JANGAN MENYENTUHKU!”Teriak pria itu.
Namun Gallen tidak berdaya bahkan ketika kedua security itu menyeretnya pergi dari sana.
Di balik pintu, Arvella menangis. Ia sempat mengintip dari lubang yang memang di sediakan untuk melihat siapa yang datang, ia terkejut ketika mendengar pintunya di pukul dengan keras, dan ketika melihat dari sana, ia kembali terkejut karena lagi-lagi Gallen datang dengan pakaian basah.
Arvella disana, tetap berdiri di balik pintu ketika pria itu berteriak memanggil namanya, ketika pria itu terus memukul pintu dengan keras Arvella ingin membuka pintu dan memeluk tubuh pria itu agar tidak lagi merasa kedinginan, Arvella ingin menggenggam tangan besar yang pasti sedang terluka parah karena memukul pintu terus-menerus dengan keras.
Arvella tidak sanggup melihat Gallen terluka…
Arvella sempat meminta William mengganti password Apartementnya dengan tanggal lahir William, karena Arvella tidak mau pria itu kembali memporak-porandakan hatinya lagi.
Tapi kenyataannya, pria itu masih bertahta di hatinya.
“ARVELLA! KAU HARUS DENGAR INI. AKU---AKU MENCINTAIMU!!”Teriak Gallen
Arvella semakin terisak, ia tidak boleh kembali lemah dan terbuai oleh ucapan penuh dusta dari mulut pria itu. Sudah cukup! Ia sudah terlalu sakit karena pria itu.
Sudah cukup!
Semuanya harus di akhiri, dan perasaannya harus di buang jauh-jauh.
Semuanya sudah berakhir…
Arvella segera meraih ponselnya, menatap sebuah nomor yang sudah lama tidak pernah ia hubungi, ia mencoba memanggil dan ternyata nomor itu masih berlaku.
“Ayah, Aku ingin pulang…”isaknya, setelah panggilannya terhubung.
“Aku ingin pulang, Aku lelah Ayah… Aku ingin pulang Ayah…”
Tuuut!
Arvella menangis dengan keras setelah ia memutuskan panggilannya secara sepihak. Ia ingin pulang, ingin istirahat dan ingin melupakan semua yang terjadi disini.
Ia sudah lelah…
Arvella sudah benar-benar lelah dan menyerah…
__ADS_1