Arvella Danniells

Arvella Danniells
Eps.23


__ADS_3

Arvella kembali bertepuk tangan dan bersorak ria ketika lagi-lagi bola basket yang Gallen pegang itu kembali masuk ke ring. Dulu Arvella hanya melihat pertandingan basket pria itu dari kejauhan, namun sekarang dirinya bahkan telah duduk di bangku paling depan dan bertepuk tangan serta bersorak dengan keras tanpa perasaan malu seperti dulu.


Kini mata gadis itu benar-benar hanya terfokus kepada sosok pria dengan kaus punggung 12 yang kembali berebut bola berwarna coklat itu dengan yang lainnya, sambil sesekali memberikan kedipan genit kepada Arvella yang sedang memperhatikannya. Yang lagi-lagi membuat wajah gadis itu kembali bersemu.


Gallen benar-benar menyebalkan!


Tapi Arvella suka itu, suka dengan semua sikap hangat pria dengan nomor punggung 12 itu. Arvella tidak pernah menyangka jika sosok pria yang selama ini ia kagumi adalah tipe pria yang romantis dan sangat-sangat possessif sekali. Pria itu bahkan tidak membiarkan Arvella duduk berdebelahan dengan laki-laki lain, atau duduk di antara pria. Gallen benar-benar sangat posesif dan sedikit menyebalkan bagi Arvella.


“Apa yang kau lakukan?”tanya pria itu setelah pertandingan basketnya selesai.


Arvella mengerutkan keningnya, mengerut tidak suka kepada tingkah Gallen barusan yang langsung menarik dirinya dengan paksa ketika dirinya sedang berbincang dengan kakak kelasnya sewaktu di SMA dulu.


“Kau sedang ingin bermain-main rupanya!”sinis pria itu yang membuat bulu kuduk Arvella bergidik takut.


Arvella menggeleng, “Aku hanya berbincang sebentar dengan kakak kelasku di SMA dulu. Memangnya apa salahnya?”ujar gadis itu.


Gallen tertawa, kemudian kembali menarik lengan Arvella dengan kasar. Hingga tanpa sadar mereka berdua sudah menjadi pusat perhatian banyak orang. Arvella terus meronta dan memohon kepada pria itu agar berhenti memperlakukannya dengan sangat kasar. Namun semuanya hanyalah sia-sia. Karena faktanya, kekuatan pria lebih kuat dari wanita.


“Gallen! Kau akan membawaku kemana?”ujar Arvella.


“Masuk!”ujar pria itu dengan nada dingin hingga membuat gadis itu kembali takut.


“Masuk Arvella!”ujarnya lagi, namun kali ini dengan nada setengah berteriak.


Arvella mengangguk, menuruti keinginan pria itu yang memintanya untuk segera masuk ke dalam mobil milik pria itu. Setelah itu Gallen juga ikut menyusul masuk dan membanting pintu mobilnya dengan keras hingga membuat Arvella benar-benar merasa ketakutan sekarang.


Tidak ada yang bersuara diantara keduanya, Gallen benar-benar terlihat sangat marah, terlihat dari wajah pria itu yang terlihat sangat memerah menahan amarah. Arvella memainkan jemarinya di yang berada di atas paha gadis itu. Arvella sebenarnya ingin marah, ingin berteriak di hadapan wajah Gallen si pria yang benar-benar sangat pencemburu itu. Namun, ia tidak ingin melakukan itu sekarang, karena Gallen akan bertambah semakin marah dan menuduhnya yang tidak-tidak.


“Turun!”pria itu kembali berujar dengan nada dingin.


“Kenapa kemari?”tanya Arvella.


Gallen kembali membawa Arvella ke sebuah rumah kecil. Tempat dimana Gallen mengungkapkan perasaan cinta kepada Arvella.


Arvella menggelang keras, tidak mungkin jika Gallen akan mengakhiri semuanya sekarang. Mereka baru saja berhubungan selama satu minggu.


“Turun!”sekali lagi pria itu berujar.


Dan Arvella segera turun dari mobil pria itu. Gallen masih menatap matanya dengan tajam, bahkan pria itu tidak ingin menjawab pertanyaan apa pun yang di lontarkan oleh Arvella.

__ADS_1


“Gallen aku---Hmmpphh—”


Gallen benar-benar tidak membiarkan Arvella mengatakan apa pun, pria itu menyudutkan tubuh Arvella ke badan mobil miliknya dan mencium bibir Arvella dengan rakus. Ia benar-benar sedang cemburu. Darahnya benar-benar terasa sangat mendidih ketika melihat Arvella tersenyum dan berjabat tangan dengan pria lain di depan matanya.


Gallen juga sudah tidak sabar ingin menghampiri Arvella yang nampak berbincang sembari tertawa kecil kepada pria itu, dia tidak mau miliknya di lirik pria lain, apalagi sampai di sentuh.


Gallen tidak akan pernah rela…


“Jangan---memancing---amarah---ku”sahut Gallen setalh ciuman itu berakhir.


Arvella segera meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Gallen benar-benar sudah gila! Bagaimana jika Arvella kehabisan napas tadi huh?


Gallen benar-benar gila!


“Gallen, aku sudah mengatakannya padamu. Dia hanya kakak kelasku ketika SMA”ujar Arvella setelah berhasil bernapas dengan teratur.


Gallen memutar kedua matanya.


“Kau itu milikku Arvella! Dan itu artinya, tidak boleh ada yang menyentuhmu sama sekali!”


Arvella mendengus kesal. Oh astaga! Yang benar saja? Kenapa tidak sekalian saja Gallen mengurung dirinya selamanya.


Dasar menyebalkan!


Gallen melotot, Gallen jelas tidak suka. Arvella pasti sengaja ingin bertemu dengan pria barusan dan meminta maaf karena perlakuannya barusan. Arvella itu benar-benar terlalu polos!


“Tidak!”ujar Gallen yang dengan santainya berkacak pinggang di hadapan Arvella


.


Arvella melotot dengan marah. “Kalau begitu aku akan pulang sendiri!”ketusnya.


“Siapa yang mengizinkanmu pulang. Nyonya Harisson?”


Arvella berdehem, menyembunyikan perasaannya yang sedikit senang ketika Gallen menyebuynya ‘Nyonya Harisson’ dasar menyebalkan! Gallen selalu saja bisa membuat amarahnya surut dengan cepat hanya karena ucapan sederhana seperti barusan.


“Aku ingin pulang saja! Kau kira aku akan luluh dengan panggilanmu barusan? Cih kau pikir aku anak SMA yang baru saja di mabuk cinta?”


Gallen hanya menganggukkan kepalanya, menanggapi ucapan Arvella dengan santai. Padahal Gallen yakin jika saat ini perasaan gadisnya itu sedang berbinga-bunga karena panggilannya barusan. Benar-benar menggemaskan!

__ADS_1


“Baiklah…baiklah, aku tidak akan melarangmu sekarang!”ujar Gallen sembari mengangkat kedua tangannya, mengisyaratkan kepada gadisnya jika ia sudah menyerah.


Arvella mendengus kasar. ‘Sabar Arvella…Sabar!’


Menjadi kekasih Gallen benar-benar harus ekstra sabar, apalagi dengan kelakuan pria itu yang benar-benar menyebalkan dan posesif.


“Ya sudah, pulang sana…”tambah Gallen.


Arvella menghentakkan kakinya dengan kesal, ‘Sabar Arvella…Sabar!”batinnya.


“Kenapa masih disini? Kau bilang ingin pulang..”sahut Gallen lagi.


Astaga!


Arvella Benar-benar sudah sangat kesal kepada pria itu, ayolah…Arvella hanya pura-pura merajuk tadi. Lagi pula ia sama sekali tidak tahu jalan pulang dari sana. Dan Gallen malah menganggap semuanya itu serius.


BENAR-BENAR MENYEBALKAN DAN SANGAT TIDAK PEKA!


“Sudah sana pergi!”sahut Gallen lagi, padahal dalam hati pria itu tertawa melihat tingkah gadisnya yang sedang merajuk itu. Ah, ya tuhan!


Arvella kembali mendengus “Ya sudah, ayo masuk!”kesal gasis itu yang sudah berjalan mendahului Gallen yang sedang terkekeh dengan tingkah gadis itu.


“JANGAN MENERTAWAKAN KU!”Teriak gadis itu.


Astaga. Gallen benar-benar sangat gemas dengan tingkah gadisnya itu, kemudian ia menyusul langkah Arvella yang sudah sampai di depan pintu rumah miliknya. Arvella yang masih kesal karena Gallen, memalingkan wajahnya ke samping kanan, enggan bertatapan dengan wajah Gallen si pria menyebalkan dan super tidak peka itu.


Gallen berusaha menahan tawanya sembari membuka pintu rumah itu yang masih terkunci, sungguh Arvella benar-benar telah memberikan banyak warna di kehidupannya, dan selama itu pula ia selalu tertawa dengan lepas karena gadisnya itu. Arvella benar-benar berefek sangat luar biasa untuk seorang Gallen Harisson.


Cklek!


Pintu rumah itu terbuka, dan Arvella bergegas masuk meninggalkan Gallen yang masih tekekeh kecil di luar. Gadis itu benar-benar sama sekali tidak memperdulikannya. Gallen menggelengkan kepalanya berkali-kali. Gadisnya itu benar-benar sangat luar biasa sekali.


“Jangan duduk disini. Kau duduk disana saja!”ketus Arvella yang menunjuk ke sebuah kursi sofa berukuran sedikit kecil yang berjarak lumayan jauh dari tempatnya duduk.


Gallen tidak menanggapi, pria itu malah dengan nekatnya berbaring di atas pangkuan Arvella “Aaah nyamannya…aku suka ini!”ujar Gallen dengan nada santai tak bersalah.


Gallen memang benar-benar…


Dan bahkan kini pria itu sudah memejamkan matanya, astaga yang benar saja! Jadi pria itu mengajaknya kemari hanya untuk menjadikannya bantal seharian. Astaga, astaga, astaga. Arvella benar-benar sudah sangat kesal setengah mati kepada pria itu, namun apa yang bisa ia lakukan? Semakin ia kesal, semakin bertambah pula rasa cintanya kepada pria itu.

__ADS_1


Arvella sedikit menunduk, memperhatikan kedua mata Gallen yang sedang terpejam. Arvella tahu jika pria itu sangat kelelahan sekali, mengingat selama dua hari ini pria itu nyaris tidak tidur mengurus pekerjaannya sebagai photographer dan pemilik photo studio tentunya ia sangat sibuk, apalagi saat ini bisnisnya sedang sangat ramai dan sibuk. Menghembuskan napas panjang, lengan gadis itu bergerak membelai rambut hutam milik Gallen yang terlihat sedikit lebih panjang dari sebelumnya, dan sepertinya Gallen memang tidak berniat untuk memotong rambutnya. Padahaal biasanya pria itu ridak pernah membiarkan rambutnya panjang sedikitpun.


Seminggu menjadi kekasih seorang Gallen Harisson benar-benar telah membuatnya mengerti dan mengetahui semua tentang pria itu, di mulai dari tingkah dan perilaku asli pria itu, hingga semua makanan dan minuman kesukaan pria itu. Arvella menutup mulutnya dengan telapak tangannya ketika dirinya menguap, ah ya tuhan! Kenapa dirinya juga merasa sangag mengantuk sekarang? Lalu lambat laun kedua mata gadis itu ikut terpejam, menemani sang kekasih yang sudah terlebih dulu pergi ke alam mimpi.


__ADS_2