
Masih dengan wajah penuh ronanya, Arvella memasuki mobil milik pria pujaannya. Arvella di buat terus merona oleh perlakuan Gallen hari ini, pria itu benar-benar sangat mencemaskannya. Gallen bahkan membukakan pintu mobilnya dan menyuruh Arvella untuk masuk dan duduk di sampingnya.
Gallen benar-benar penuh kejutan hari ini, setelah pagi tadi membuatnya cemburu setengah mati, kini pria itu mendadak sangat perhatian kepadanya. Apakah Gallen sudah mulai mencintainya? Entahlah, Arvella tidak ingin memikirkan itu, ia hanya ingin menikmati detik-detik penuh kebahagiaan dari perhatian yang Gallen berikan.
“Bagaimana bisa kau berada di tempat itu?”tanya Gallen dengan tatapan lurus menatap jalanan.
Arvella menoleh, terhanyut pada pesona Gallen yang sedang serius menyetir hingga lupa apa yang baru saja Gallen tanyakan kepadanya. Jika seandainya Gallen benar mencintainya, maka Arvella akan dengan senang hati kembali berjuang untuk tidak pernah melepaskan Gallen sampai kapanpun.
“Arvella!”sahut Gallen.
Arvella mengerjapkan matanya, tersadar dengan apa yang ia lakukan. Astaga! Harusnya ia tidak boleh terlihat masih sangat mengagumi pria di sampingnya itu. Oh ya tuhan… Dasar Arvella pelupa!
“Ya?”tanya Arvella.
Gallen berdecak, “Aku barusan bertanya padamu, bagaimana kau bisa berada di tempat itu?”ujar Gallen.
“Oh itu, aku tersesat.”bohong Arvella.
Gallen nampak mengernyitkan dahinya, “Jangan bodoh Arvella. Kau menaiki taxy bukan? Lalu bagaimana bisa kau tersesat?”
Arvella menoleh dengan cepat ke arah Gallen, dengan kening yang berkerut.
Tunggu?
Bagaimana bisa Gallen tahu jika ia pergi dengan taxy?
Apa jangan-jangan Gallen mengikutinya?
Arvella menggelengkan kepalanya, mengenyahkan semua khayalan tingkat tingginya itu, lagi pula mana mungkin Gallen akan melakukan hal itu? Jika iya maka itu akan terjadi kelak ketika keduanya sudah sama-sama memakai tongkat dan beruban.
“Aku tadi mengikutimu…”ucap Gallen, seolah tahu apa yang sedang di pikiran gadis di sampingnya itu.
Ucapan Gallen mau tidak mau membuat dada Arvella berdebar, jadi khayalannya barusan itu benar?
__ADS_1
Jadi Gallen benar-benar mengikutinya? Apakah ini nyata? Jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan Arvella sekarang.
“Sejak kapan?”tanya Arvella.
“Audrey memintaku untuk mengejarmu, karena tuan Fanaro akan segera pulang dari perjalanan bisnisnya.”jelas Gallen.
“Oh…”hanya itu yang keluar dari bibir Arvella.
Jadi semuanya karena Audrey? Sadarlah Arvella!
Arvella tertawa dalam hati, sudah berapa kali ia berkhayal tentang Gallen yang akhirnya justru malah membuat perasaannya semakin sakit? Sudah berapa kali? Sudah ratusan kali dan mungkin ribuan kali. Dan kenapa Arvella dengan bodohnya masih saja bermimpi banyak hal yang sangat mustahil di lakukan Gallen. Jikapun ada maka itu karena Audrey, Audrey dan Audrey. Yang ada di pikirannya hanyalah Audrey, bukan Arvella.
Semua hanya karena Audrey, Arvella…
Jadi berhentilah bermimpi, karena Gallen tetaplah Gallen. Ia tidak akan pernah berubah menjadi Prince Charming seperti Khayalanmu itu.
🍃🍃🍃🍃🍃
Tidak ada yang berbicara setelah percakapan singkat mereka barusan, Arvella yang paling diam, sibuk dengan pemikirannya sembari menatap rintik-rintik hujan yang turun. Arvella benci ini, benci ketika lagi-lagi dirinya menjadi korban perasaan lagi. Arvella tidak pernah mengerti dengan semuanya, kenapa rasanya takdir tidak pernah merestuinya untuk bersatu dengan Gallen.
Arvella mendesah pelan, selalu saja seperti ini. Ia tidak tahan ingin pergi dari sini. Senandainya saja, seandainya saja ia benar-benar pergi menemui William pagi ini, mungkin sekarang ia tidak akan terjebak bersama Gallen. Dan membayangkan yang tidak-tidak tentangnya yang akhirnya hanya akan menyakiti hati dan perasaaanya lagi.
Seandainya saja…
Tak lama kemudian sosok Gallen keluar dari toko kue dengan membawa dua buah paper bag berukiran sedang, sedangkan sebelah tangannya sedang menempelkan ponsel ke telinganya, nampak berbicara dengan seseorang.
“Iya Audrey, aku sudah mengambil cake pesananmu”ucap Gallen. Setelah memasuki mobilnya.
Arvella kembali memalingkan wajahnya ke jendela samping, kembali menatap rinti-rintik hujan yang hinggap disana. Ia tak ingin mendengar pembicaraan apa pun yang hanya akan menyakiti perasaannya. Ia sudah sangat sakit hati melihat bagaimana Gallen susah payah mau mencarinya atas keinginan Audrey, dan melihat Gallen yang merelakan dirinya dan pakaiannya basah menembus hujan deras demi mengambil cake pesanan Audrey. Dan itu cukup menjadi alasan yang kuat untuk Arvella kembali melanjutkan niatnya untuk melupakan Gallen. Bila perlu untuk selamanya…
Iya, selama-lamanya…
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1
Adam Fanaro menghentikan suara tawanya ketika melihat sosok gadis yang sedang ia tunggu-tunggu muncul. Namun Adam mengerutkan keningnya, heran melihat raut wajah Arvella yang sungguh terlihat sangat masam. Sangat berbeda dengan Arvella si periang yang ia kenal selama ini.
“Sayang?”sahut Adam. Yang membuat Audrey muak mendengarnya, kenapa semua orang di rumah ini begitu menyayangi Arvella?
‘Oh ayolah, yang benar saja. Sebenarnya yang keturunan Fanaro itu siapa?’batinnya.
Arvella hanya membalas ucapan Adam dengan senyuman kecil, tubuh dan hatinya benar-benar sudah terasa sangat lelah. Ia ingin segera berbaring ke ranjangnya dan tertidur hingga esok pagi dengan pikiran yang sedikit tenang.
Mungkin bila perlu, ia ingin tertidur untuk selama-lamanya.
“Arvella, kau tidak ingin memeluk daddy?”seru Adam lagi. Namun lagi-lagi Arvella hanya membalasnya dengan senyuman kecil.
“Arvella!”teriak Gretta dan Adam ketika melihat tubuh Arvella mulai limbung.
Namun Adam kalah cepat oleh Gallen, Gallen sudah menggendong tubuh Arvella dengan gaya Brydal Style. Memberikan instruksi pada Adam bahwa ia akan membawa Arvella ke kamarnya, melalui kode matanya. Adam mengangguk mengiyakan tindakan pria itu. Tanpa mereka sadari hati Audrey kembali tersulut emosi dan cemburu. Pasalnya ini sudah kedua kalinya Gallen melakukan hal itu pada Arvella, bahkan Gallen tidak memperdulikan kehadiran dirinya sama sekali.
Audrey benar-benar tidak mengerti dengan Gallen, mengapa Gallen bersikap seolah sangat mengkhawatirkan Arvella si manusia yang sangat di bencinya?
Dan Audrey bersumpah tidak akan pernah kalah dari Arvella, sudah cukup Arvella merebut kasih sayang kedua orangtuanya, dan kali ini ia tidak akan membiarkan Arvella merebut Gallen darinya. Tidak akan pernah.
“Kau mau kemana Audrey?”tanya Adam.
“Menyusul Gallen!”singkatnya.
Adam dan Gretta hanya mampu menggelengkan kepalanya, merasa heran mengapa anak itu begitu sangat membenci Arvella sejak dulu. Gretta mengangguk meminta Adam segera menyusul Audrey ke kamar Arvella, bagaimanapun Gretta tidak ingin kedua putrinya itu bertengkar.
Adam mengecup kening istrinya sebelum akhirnya menyusul langkah Audrey yang sudah hampir sampai ke kamar Arvella.
Baru saja Audrey ingin menerobos masuk ke dalam kamar Arvella, berniat mengawasi Gallen dan Arvella di dalam, ia takut Arvella menggoda Gallen hingga membuat mereka melakukan hal yang macam-macam disana. Namun suara teriakan Arvella yang keras membuat kedua bibirnya tersenyum.
“PERGI DARI KAMARKU!!”
“Akhirnya gadis kuno itu sadar diri juga…” batinnya
__ADS_1
Tanpa Audrey sadari, bahwa apa yang Audrey dengar, tidak sesuai dengan apa yang terjadi sebenarnya.