Arvella Danniells

Arvella Danniells
Eps. 19


__ADS_3

Arvella baru menyadari bahwa pria di sampingnya itu sedang tertidur. Dengan kepala yang bersandar di bahu miliknya. Awalnya Arvella ingin marah, namun setelah melihat wajah pulas milik pria itu, Arvella mengurungkan niatnya. Arvella yakin pria itu tidak tidur dengan nyenyak semalam, tidak juga mengobati lukanya. Semua itu terlihat sangat jelas sekali. Dan Arvella benar-benar merasa menyesal karena hal itu.


Dan merasa jika dirinya sudah sangat keterlaluan kepada Gallen. Padahal jika di ungkit-ungkit dengan semua yang di lakukan oleh Gallen kepadanya selama ini, belumlah ada apa-apanya.


Tapi memang dasar Arvella, hatinya selalu merasa tidak tega melihat Gallen lecet walaupun hanya sedikit!


“Aku sudah menyebutkan nama tujuannya kepada sopir”gumam pria itu, yang seolah dapat menebak apa yang ada di pikiran Arvella.


“Tidurlah…”ujar Arvella, sembari mengusap pucuk kepala pria itu dengan pelan.


Arvella tahu itu salah, tetapi bagaimanapun Gallen sudah menyelamatkannya dari ke-enam pria mencurigakan di cafe tadi. Jika saja tadi Gallen tidak datang, mungkin sesuatu hal yang buruk telah terjadi kepadanya.


Arvella berhenti mengusap pucuk kepala Gallen ketika merasakan getaran dari ponselnya. Gadis itu segera merogoh clutch bagnya untuk menemukan ponselnya, nama William tertera di layar ponselnya.


“Ya will, Eum—aku ada urusan sebentar, bagaimana jika besok saja?”


“………………..”


“Baiklah, aku menunggumu besok”


Tanpa Arvella sadari, pria yang sedang terpejam di sampingnya itu tidaklah benar-benar tidur, pria itu juga tersenyum ketika Arvella berbohong kepada William dengan mengatakan ada urusan penting, padahal gadis itu sedang berada di dalam taxy bersamanya.


Rupanya gadis itu sudah pandai berbohong sekarang.


“Gallen kepalamu benar-benar berat”desis Arvella.


Alih-alih mengangkat kepalanya, pria itu malah dengan sengaja semakin menggerakkan kepalanya ke bahu Arvella, persis seperti orang yang sedang mencari kenyamanan. Padahal modus! Ia tidak ingin menyia-nyiakan moment ini. Anggap saja jika sekarang dirinya sedang gila moment bersama Arvella.


Arvella mendengus, sia-sia sudah rencana untuk menjauh dari pria itu. Yang ada sekarang ia malah terjebak dengan pria itu. Dunia benar-benar sangat sempit! Dirinya selalu saja terjebak bersama Gallen, seolah di dunia ini hanya ada mereka berdua saja.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃


“Rumah siapa ini Gallen?”tanya Arvella.


“Ayo masuk!”ajak Gallen.


“Aku tidak mau! Aku ingin pulang sekarang!”ketus gadis itu.


Gallen benar-benar tidak dapat di tebak. Arvella pikir Gallen akan membawanya pulang ke mansion keluarganya, namun ternyata pria itu membawanya ke sebuah rumah sederhana yang tidak tahu milik siapa. Dan pria itu malah memaksanya untuk masuk ke rumah itu.


Astaga! Yang benar saja..


“Aku yakin telingamu masih berfungsi Gallen!”sungut Arvella yang ebnar-benar kesal karena pria itu menarik tangannya untuk ikut masuk ke rumah tersebut.


Gallen terkekeh geli, Arvella memang selalu keras kepala sejak dulu. Sedangkan Arvella terpaku mendengar kekehan Gallen yang baru kali ini ia dengar, biasanya Gallen hanya akan menatapnya dingin dan sekalipun bicara hanya untuk menghina dan mengumpati dirinya. Namun sekarang pria itu tertawa?


Sungguh tidak dapat di percaya.


Arvella tidak menanggapi, matanya sibuk memperhatikan desain rumah ini dengan kagum. Desainnya sangat indah dan tata letak barang-barangnya juga sangat rapi.


“Duduklah, aku akan mengambil kotak obat dulu”ujar pria itu.


Arvella menurut, mendudukkan dirinya ke sebuah sofa mini berwarna merah menyala. Matanya terus menatap desain di rumah ini. Hingga dirinya terkejut menemukan ada sebuah figura besar berisi banyak foto dirinya yang di pajang di ruangan yang ia tempati. Gadis itu melangkahkan kakinya menuju figura besar tersebut.


Gadis itu memutup mulutnya, ternyata bukan hanya ada satu foto disana. Melainkan ada banyak foto dirinya dengan berbagai ekspresi yang di cetak dengan ukuran sedang. Arvella benar-benar tidak menyangka, jika Gallen ternyata selama ini memperhatikannya dari kejauhan dan diam-diam mengumpulkan semua foto dirinya.


Arvella tersentak ketika merasakan tubuhnya di peluk dari belakang. “Kau suka?”bisik Gallen. Kemudian pria itu menyerukan wajahnya di lekukan leher Arvella. “Maaf…selama ini aku terlalu pengecut untuk mengatakan semuanya kepadamu…”bisik pria itu.


“Tapi sejak kapan?”

__ADS_1


“Apa kau akan percaya jika aku mengatakannya?”


Arvella mengangguk, masih dengan mata yang terfokus ke figura di hadapannya dengan jantung yang berdebar tidak karuan. Sedari dulu jantungnya selalu berdetak hanya untuk Gallen seorang. Dan rasa itu tidak pernah hilang walau sedikitpun.


“Sejak kau menjadi seorang mahasiswa baru, aku suka rona merah di wajahmu setiap kali tatapan kita bertemu, aku suka semua tentangmu…”jelas Gallen. Yang benar-benar telah membuat sekujur tubuh Arvella membeku.


*Jika sedari dulu Gallen menyukainya, kenapa ia dulu menolak ucapan cintanya?


Kenapa juga ia selalu menghina dan menyakitinya*?


“Aku hanya terlalu terkejut saat itu. Jadi maaf aku telah menolak dan mempermalukan mu…”


Arvella masih terdiam, ia merasa kecewa ketika Gallen melepaskan pelukannya. Namun tanpa gadis itu duga, Gallen berpindah memeluknya dari depan. Arvella tersenyum, perasaannya selama ini tidaklah sia-sia. Gallen juga mencintainya.


Gallen telah membalas perasaannya, dan Gallen bahkan lebih dulu mencintainya…


Arvella membalas pelukan Gallen dengan lebih erat, menghirup aroma maskulin yang menguar dari tubuh pria itu. Persetan dengan rencana balas dendamnya, yang terpenting sekarang dirinya dan Gallen telah sama-sama saling mencintai.


“Maukah kau menjadi kekasihku, Arvella Danniells?”bisik pria itu di telinga Arvella.


Arvella mengangguk. “I’m yours Mr. Harisson…”


Gallen melepaskan pelukannya, kemudian menatap wajah Arvella dengan lekat, memiringkan sedikit wajahnya untuk menatap bibir mungil Arvella. “May I---Kiss you?”tanya Gallen, bahkan kini jemarinya telah menyentuh bibir Arvella dengan lembut, memberikan sensasi berbeda terhadap Arvella.


Arvella masih diam, tidak memberikan tanggapan apa pun. Namun tanpa pria itu duga, Arvella sudah bergerak mengecup bibirnya.


“Ah, Sialan! Kecupan saja tidak akan cukup Arvella!”decak Gallen.


Dan yang terjadi selanjutnya adalah, Gallen telah menyerang bibirnya dengan rakus.

__ADS_1


Dasar Harisson..


__ADS_2