Arvella Danniells

Arvella Danniells
Eps.3


__ADS_3

Arvella menatap dirinya di cermin yang berada di kamarnya, sedikit tersenyum miris melihat ada dua plester di keningnya, kemudian ia beralih menatap leher jenjangnya yang terdapat satu buah luka cakar di sana. Arvella tidak ingin menangis lagi karena hal ini, Arvella hanya ingin Gallen tahu bahwa dirinya rela menerima semua ini demi mendapatkannya.


Namun tidak ada yang bisa mengetahui isi hati seseorang bukan ?


Arvella tersenyum miris, selama 2 tahun ini ia sudah seperti orang bodoh yang terus mengejar Gallen yang bahkan sama sekali tidak peduli padanya, sejak pertama kali dirinya menyukai Gallen ia telah melupakan semua rasa malunya untuk berjuang mendapatkan hati Gallen, meski yang ia dapatkan hanya perlakuan kasar Gallen padanya.


Arvella tidak mungkin salah lihat barusan, ketika ia sadar, ia melihat Gallen memeluk tubuh Shavira yang bergetar karena tangis. Tidak ada raut wajah datar di sana, hanya ada raut kekhawatiran dan sedih di sana. Berbeda ketika Gallen bersamanya. Semua orang pun tahu jika Gallen memang menyukai Shavira, meski tidak pernah mengatakannya, tindakann dan tatapannya telah menjelaskan semuanya.


Gallen menyukai Shavira...


Dan untuk pertama kalinya seorang Arvella merasa putus asa. Merasa jika semua usaha yang ia lakukan selama ini untuk mendapatkan Gallen sangatlah sia-sia. Karena sejak dari dulu pria itu tidak pernah menyukai ataupun mencintainya. Hanya ada Shavira Greyson di hatinya.


Hanya ada Shavira Greyson di hatinya. Bukan oranglain apalagi dirinya.


Dan untuk pertama kalinya Arvella kehilangan kepercayaan dirinya...


Lagi pula siapa dirinya yang ingin bersaing dengan Shavira, semua orang pun tahu jika Shavira lebih unggul di atas dirinya. Sedangkan dirinya? Paras yang cantik saja pun ia tidak punya.


Seharusnya sedari dulu ia mundur dan menyerah saja, seperti apa kata Shavira, tapi sayangnya ia bukan orang yang akan menyerah begitu saja. Mengingat semua perjuangan yang ia lakukan selama ini.


Ia percaya jika Gallen akan berbalik mencintainya, nanti.


Dan entah kapan?


“Nak apa yang terjadi? Ku dengar Audrey menyerangmu lagi di kampus?”tutur seseorang yang baru saja memasuki kamarnya, wajah khawatir terlihat jelas disana.


“Aku baik-baik saja mom…”


“Ya tuhan! Kenapa kau selalu mengatakan tidak apa-apa? Padahal banyak sekali plester di wajahmu..”lirih seorang wanita yang kini sudah menatap wajahnya dengan tatapan sedih dan menyesal.


Dia Gretta Fanaro, wanita yang teramat sangat Arvella sayangi di dunia ini.


Gretta memang sebelumnya sudah mendengar kabar jika Audrey menyerang Arvella di kampus, Astaga! Gretta menjadi pusing sendiri dengan tingkah laku Audrey, ayolah dia sudah mendidik Audrey dengan sangat baik. Lantas kenapa Audrey semakin gemar membuat Arvella terluka dan menderita?


Ya tuhan…


“Audrey tidak salah mom, Audrey benar. Harusnya aku sadar diri jika aku memang tidak pantas untuk pria se-sempurna Gallen Harisson…”


Gretta menggeleng, memeluk tubuh ringkih keponakannya itu dengan erat. Merasa kasihan dengan kisah keponakannya, yang kerap kali mendapatkan banyak perlakuan kasar dari Gallen Harisson, pria yang ia cintai.


Belum lagi ia harus menghadapi Audrey, putrinya yang juga terobsesi dengan Gallen Harisson.


“Tidak sayang, jangan katakan itu. Kemana perginya Arvella ku yang percaya diri?”

__ADS_1


Arvella terisak, kepercayaan dirinya kembali lenyap ketika bayang-bayang Gallen yang sedang memeluk Shavira di ruang kesehatan kembali muncul di kepalanya.


Tidak mom.. Aku sama sekali tidak pantas untuk Gallen-ku!


Ingin rasanya Arvella berteriak mengatakan hal itu, namun ia tidak ingin terus membuat Gretta semakin mengkhawatirkannya dan membuat Audrey terlupakan.


Sungguh ia lelah bertengkar seumur hidup dengan Audrey.


Lalu, haruskah ia berhenti sampai disini?


🍃🍃🍃🍃🍃


Arvella menyesap coklat panasnya, sembari sesekali meniup asap yang mengepul dari coklat panas miliknya. Matanya menerawang jauh menatap kegiatan orang-orang yang hilir mudik di luar café. Menghembuskan napas panjang, Arvella ingin menikmati hari weekendnya tanpa mengingat sosok Gallen. Karena semalam ia telah bersumpah untuk melupakan Gallen Harisson.


Ya! Arvella sudah menyerah, meski belum sepenuhnya. Tapi ia akan berusaha.


Ia merogoh meletakan kembali mug berisi coklat panas itu ke atas meja, kemudian melihat ponselnya yang bergetar. Menandakan ada sebuah pesan masuk ke ponselnya. Seketika bibirnya tertarik membuat sebuah senyuman lebar membaca pesan tersebut.


From: Willy


KENAPA KAU TIDAK DATANG SAJA KE KANTORKU? DAN KENAPA HARUS MENUNGGU DI CAFE YANG SANGAT JAUH DARI KANTORKU!


Sekali lagi Arvella tersenyum, namun kali ini di iringi dengan kekehan geli dari bibirnya. Astaga! Well membuat orang yang baru saja mengiriminya pesan itu merasa kesal, benar-benar kegemarannya. Ia kembali menyeruput coklat panasnya sembari berhitung di dalam hati, karena ia yakin setelah ini orang itu akan muncul dan memggebrak meja dan memarahinya.


Kita lihat saja!


“Kenapa kau tidak masuk saja ke ruanganku? Astaga! Kenapa kau senang sekali membuatmu kesal huh?”


Nah kan, benar. Arvella sudah sangat hafal dengan gelagat pria di hadapannya ini. Alih-alih menjawab, Arvella justru memberikan tatapan wajah tanpa dosanya pada pria di hadapannya itu.


“Kau kenapa? Kenapa kau kesal padaku?”


Pria itu mengacak rambutnya kesal, sial! Kenapa Arvella slalu mempermainkannya?


“Kau!” geramnya. “Kenapa kau tidak masuk ke ruanganku saja!”kesalnya.


Demi tuhan! Ia tidak habis pikir mengapa ia bisa mengenal dan berteman dengan gadis jahil ini?


“Karena aku tidak membuat janji denganmu sebelumnya, salahkan sekretaris barumu yang tidak mengizinkan ku masuk”sungut Arvella.


Astaga!


Rasanya Arvella ingin tertawa sekarang, ketika melihat pria itu mendengus kesal, well, well setidaknya rencananya untuk membuat pria itu kesal benar-benar sukses. Pria itu mendengus sekali lagi sebelum akhirnya pria itu berteriak memanggil pelayan untuk memesan secangkir kopi panas.

__ADS_1


“Persetan dengan Nancy! Ayolah ini sama sekali bukan sikapmu Vella!” sambungnya lagi, setelah ia selesai memesan kopi.


“Tapi Nancy tidak mengizinkanku masuk ke ruanganmu William...”


William benar-benar gemas dengan wanita di hadapannya ini. Astaga! Setan pun tahu jika Arvella bukan tipe orang yang mudah menurut pada seseorang. Dan sekarang ia mengaku jika ia baru saja di usir dari kantor William oeh sekretaris barunya itu?


Hell! Yang benar saja!


Arvella memang sebelumnya sengaja pergi ke kantor William, dan sempat di hadang oleh wanita Bernama Nancy, yang merupakan sekretaris baru William. Tapi jika mengenai ia yang di usir oleh Nancy, itu adalah opininya saja. Bukan Nancy yang mengusirnya, melainkan ia yang memilih pergi darisana untuk membuat William kesal.


Well, dan itu berhasil.


“Aku serius!”ujar Arvella lagi.


Dan William hanya mendengus, kemudian meminum coklat panas milik Arvella.


"HEY! ITU MILIKKU!"Kesal Arvella.


Kini giliran William yang tersenyum.


"Kita 1-0"Kekehnya. Yang di jawab oleh dengusan kasar dari Arvella.


🍃🍃🍃🍃


“Jadi bagaimana dengan lelaki pujaan mu itu?”tanya William.


Arvella mendengus kesal. “Aku sedang tidak ingin membahasnya!”ketus Arvella.


William terkekeh, mengacak rambut Arvella dengan gemas, ia memang sering melakukan hal itu kepada Arvella dari kecil. Dan Arvella sudah tidak akan protes lagi. Karena memang sudah terbiasa di perlakukan seperti itu oleh William.


“Sudah Move on heh?”goda William.


Arvella memalingkan wajahnya dari William, Sungguh hari ini ia berniat menghabiskan hari weekendnya tanpa harus membahas Gallen sedikitpun. Tapi si cecurut itu malah membahasnya lagi benar-benar menyebalkan.  Sekarang rasa kesalnya bukan hanya kepada Gallen saja, tapi juga kepada William. Orang ini selalu saja membuatnya kesal dengan membahas hal-hal yang sedang tidak ingin di bahas olehnya.


Dasar pria tua menyebalkan!


“Ku dengar pria pujaanmu itu sedang menjalin hubungan dengan Audrey Fanaro. She is your cousin right?”tanya William.


Arvella hanya membalasnya dengan anggukan saja, ia sama sekali tidak terkejut. Karena bagaimanapun ia sudah dengar dari mulut Audrey sendiri semalam. Untuk itu Arvella tidak ingin berada di rumah, karena pasti Audrey akan mengolok dan mengejeknya karena ia kalah dari Audrey.


Hidup ini benar-benar menyebalkan!


“Mau ikut ke kantor ku nona Fanaro?”tawar William sembari mengulurkan tangannya kepada Arvella yang masih dalam posisi duduk, sedangkan dirinya sudah berdiri. Pria itu bergaya layaknya pangeran yang sedang mengajak sang puteri berkencan.

__ADS_1


Mau tidak mau Arvella terkekeh dan membalas uluran tangan William. “Oh dengan senang hati tuan Jansen…”Balas Arvella.


Mungkin dengan pergi ke kantor William bisa membuat perasaannya sedikit lega.


__ADS_2