
Gallen tahu jika dirinya telah sangat menyakiti Arvella, ralat---bukan hanya menyakitinya, namun juga membohonginya. Dirinya benar-benar sudah sangat brengsek sekali.
Gallen menatap tajam wajah Audrey yang sedang menyuapkan makanan ke mulutnya dengan santai. Sialan! Audrey benar-benar seekor rubah yang sangat licik. Jika saja Audrey tidak datang ke kantor ayahnya dan mengadukan hal yang tidak-tidak tentang Arvella, maka acara makan malam sialan ini tidak akan pernah terjadi.
“Kau puas?”ketus Gallen.
“Aku kurang puas, kekasihmu itu terlalu baik. Ku kira ia akan menghampirimu, menamparku dan menyiram wajahku dengan jus. Namun sayangnya, kekasihmu itu terlalu baik…”tukas gadis itu dengan santai. Bahkan Audrey tidak terpengaruh sama sekali dengan tatapan penuh amarah daru Gallen.
“Lagi pula, barusan kau sangat menikmati makan malam denganku bukan?”
Sialan!
Gallen menggebrak meja dengan kedua tangannya yang terkepal, pria itu menatap Audrey dengan napas terengah menahan emosi yang sudah memuncak ke ubun-ubun. Jika saja Audrey bukanlah seorang perempuan mungkin Gallen sudah menghajar wajah Audrey sampai babak belur.
“Kau keterlaluan Audrey!”kesal Gallen.
Audrey terkekeh seolah baru saja mendengar sesuatu yang lucu dari mulut Gallen, “Apa kau bilang? Aku hanya mempertahankan sesuatu yang pantas ku pertahankan.”
“Kau tidak pantas untukku!”
“Ah, benarkah?”
Demi tuhan! Gallen sangat ingin menjahit mulut gadis sialan yang berada di hadapannya, sungguh demi apa pun Gallen benar-benar sudah sangat muak dengan semua kelakuan rubah itu. Daripada Gallen meladeni rubah sialan itu, lebih baik dirinya mengejar Arvella dan menjelaskan semua kesalahpahaman yang telah terjadi ini.
“Suamiku, kau mau ke mana?”teriak Audrey yang membuat Gallen menghentikan langkahnya.
Gallen melirik ke segala arah, sialan! Semua orang sedang memperhatikannya dan itu karena ulah si rubah sialan itu, Gallen berbalik kembali menatap wajah Audrey yang kini sedang berakting sedang menangis.
“Jadi, kau meninggalkanku sendirian disini karena wanita simpananmu itu?”isak Audrey.
__ADS_1
Gallen benar-benar sudah muak sekarang, belum lagi telinganya terasa gatal mendengar semua bisikan-bisikan orang yang percaya dengan akting bodoh si rubah itu. Gallen berjalan ke arah Audrey, memanggil pelayan dan membayar semua bill tagihannya. Setelah itu Gallen menyeret Audrey keluar dari restorant itu, persetan dengan teriakan semua orang yang mengatai dirinya sangat kasar.
Toh, rubah ini memang pantas di kasari.
Gallen memberhentikan sebuah taxy, membuka pintunya dengan kasar, kemudian mendorong tubuh Audreh masuk ke dalam taxy, ia juga membayar uang tagihan taxynya dalam jumlah besar.
“Antarkan rubah gila ini ke rumah Fanaro!”titah Gallen. Lalu tak lama taxy itu sudah melaju meninggalkan Gallen yang sedang sangat kesal itu.
Audrey benar-benar sialan!
Tanpa membuang waktu, Gallen segera menaiki mobilnya meninggalkan restorant tersebut. Tujuannya hanya satu, menemui Arvella dan menjelaskan semuanya.
Ia tidak ingin hubungan yang terjalin baik dengan Arvella menjadi renggang karena kesalahpahaman sialan ini!
🍃🍃🍃🍃🍃
Arvella tidak ingin menangis lagi, yang di lakukannya sekarang hanya berdiri di balkon kamarnya dengan pakaian tidur sebatas lutut. Membiarkan angin malam menerpa tubuh rampingnya dan mengusik ketenangan rambutnya yang tergerai. Rasa sesak di dadanya semain bertambah ketika sosok Gallen baru saja turun dari mobilnya, pria itu nampak berbicara kepada penjaga, namun kemudian Arvella dapat mendengar jika pria itu berteriak memanggil namanya sembari menggebrak gerbang rumahnya dengan keras.
“Arvella! Aku tahu kau di dalam!! ARVELLA!!”teriak Gallen lagi.
Arvella masih setia melihat yang pria itu lakukan dari balkon kamarnya. Arvella sungguh tidak ingin melihat pria itu sekarang, karena semakin ia melihatnya dadanya semakin terasa sangat sesak. Gallen masih saja gigih berteriak dan menggebrak pintu gerbang rumahnya, bahkan kini hujan sudah turun dengan deras dan pria itu masih disana. Enggan beranjak sebelum bertemu dengannya.
“Ck, keras kepala!”decak Arvella. Arvella tahu jika setelah ini Gallen akan demam, memgingat pria itu memang mudah sekali terserang demam setelah terkena hujan.
“ARVELLA! AKU INGIN BICARA DENGANMU! AKU TIDAK AKAN PERGI SEBELUM KITA BICARA!”teriak pria itu.
Arvella menutup pintu balkon kamarnya, meraih blazer abu-abu miliknya kemudian melangkah keluar dari kamarnya menemui Gallen yang masih bersikeras tidak ingin pergi.
“Aku ingin payung!”ujar Arvella kepada pelayan di rumahnya. Wanita paruh baya itu segera mengambilkan sebuah payung untuk Arvella.
__ADS_1
“Dimana ayah?”tanya Arvella.
“Tuan sudah tidur nona”
Arvella mengangguk, meneruskan langkahnya sembari membuka payung dan memayungi dirinya dari derasnya air hujan.
“Pulanglah!”titah Arvella yang sudah berdiri di hadapan Gallen. Hanya saja mereka terpisah oleh pintu gerbang.
Gallen mendongkak, menatap wajah sembab Arvella yang pria itu yakin jika Arvella baru saja berhenti menangis. Kemudian pria itu menggeleng, “Kita harus bicara sayang…”ujar Gallen.
“Pulanglah, ini sudah malam. Kau bisa demam nanti!”titah Arvella lagi.
“Persetan dengan demam! Kita harus bicara Arvella!”bentak pria itu yang di iringi oleh suara derasnya air hujan.
“Pulang Gallen. Kita bisa bicara besok!”
Gallen kembali menggeleng dengan keras. “Tidak ada kata besok Arvella! Kita harus bicara sekarang!”
“AKU LELAH GALLEN!! DAN SEBAIKNYA KAU PULANG!”teriak Arvella yang membuat Gallen terdiam.
Gallen sedikit tersenyum, membelai wajah Arvella, “Jangan menangis lagi…”ujar pria itu yang membuat tangis yang Arvella tahan akhirnya pecah.
“Kau bisa demam Gallen, pulanglah…”isak Arvella.
Gallen kembali menggeleng, masih dengan sebelah tangannya yang membelai wajah Arvella. “Dirimu lebih penting untukku, demamku bisa sembuh nanti…”
Arvella menggeleng, “Tapi hatimu, aku tidak bisa menjamin jika hatimu akan sembuh dengan cepat. Jadi maukah kau mendengarkan penjelasanku?”sambung Gallen.
Mau tidak mau Arvella akhirnya mengangguk, mengizinkan pria itu masuk setelah penjaga membukakan pintu gerbangnya. Arvella terkejut ketika Gallen justru menarik tangannya dan memeluk tubuhnya dengan erat, payung yang barusan di pakai oleh Arvella terjatuh begitu saja.
__ADS_1
Keduanya berpelukan mesra di bawah derasnya hujan, berpelukan hangat dan erat seolah tidak akan pernah ada hari esok. Dan berharap jika esok hari segala kesalahpahaman ini telah berakhir.
Dan tidak akan pernah ada kesalahpahaman lagi nantinya…