
Sedari tadi Arvella terus saja mengumpat kesal kepada William yang tak kunjung datang juga, William selalu saja senang membuatnya menunggu. Hari ini mereka harus fitting baju untuk pertunangan mereka, dan William dengan bodohnya malah membuat Arvella menunggu. Bagaimana dirinya tidak merasa kesal, pria itu benar-benat membuatnya menunggu hampir satu jam, namun sama sekali tidak ada tanda-tanda kemunculan pria itu. Lalu pandangan matanya bertemu dengan kedua bola mata hitam yang terus menerus menatap ke arahnya. Arvella bukan hanya melihat satu orang yang memperhatikannya, tetapi ada enam orang yang berada di meja berbeda. Arvella tahu tatapan itu, itu tatapan tajam seseorang yang ingin menghabisinya, seperti mata Audrey yang selalu menatapnya ketika ia menyiksa dirinya.
Arvella mulai gelisah dalam duduknya sembari memainkan kuku panjangnya yang di cat merah di bawah meja. Arvella takut orang-orang itu memiliki niat yang jahat kepadanya, mengingat kali ini ia tidak datang bersama bodyguard nya. Ia berharap William segera datang dan membawanya pergi dari cafe ini.
Arvella benar-benar merasa sangat ketakutan sekarang.
‘Ya tuhan, kenapa William lama sekali?’batinnya.
Bahkan sekarang Arvella dapat merasakan jika kedua tangannya sudah basah oleh keringat karena ketakutan. Tidak ada yang bisa gadis itu lakukan selain berdoa di dalam hati berharap sosok yang ia tunggu segera datang.
Ting!
Pintu café tersebut berdenting, menandakan ada orang yang datang. Arvella segera menoleh ke arah pintu, ia yakin jika orang yang baru datang itu adalah William. Namun ternyata tebakannya salah, yang ia lihat adalah sosok Gallen Harisson.
Sialan.
Kenapa di saat seperti ini yang muncul malah sosok Gallen?
Gadis itu berpikir sejenak, kemudian segera menyambar clutch bag di atas meja, lalu tanpa aba-aba gadis itu menarik tangan Gallen dan keluar bersama pria itu. Persetan dengan segalanya, yang terpenting sekarang adalah keselamatan dirinya.
“Arvell—"
__ADS_1
Arvella benar-benar tidak memberi kesempatan untuk Gallen berbicara, ia terlalu sibuk melangkah guna menghindari ke enam pria yang barusan mengintainya di cafe. Dan tanpa sadar, tingkahnya itu membuat Gallen tersenyum lebar. Gallen benar-benar tidak ingin menyia-nyiakan moment ini, ia lantas mengangkat tubuh Arvella dan menggendongnya dengan gaya Brydal Style.
“Apa yang kau lakukan?”pekik Arvella.
“Mereka mengejar kita sekarang!”ujar Gallen.
“Apa?”
“Jangan lihat mereka. Atau mereka akan membunuh kita berdua!”terang Gallen.
“Benarkah?”
Gallen mengangguk “Aku serius, lebih baik sembunyikan wajahmu!”titahnya.
Lagi pula wajar saja bukan jika berbohong demi kebaikan?
“Apa mereka masih mengejar kita?”sahut Arvella
“Ah—iya. Mereka masih mengejar kita”
“Kau tidak sedang berbohong kan?”curiga Arvella
__ADS_1
Gallen menggeleng, kemudian dengan secara kebetulan sebuah taxy berhenti di hadapannya, dan dengan cepat Gallen membawa Arvella masuk ke dalam taxy.
“Kau bilang mereka mengejar kita?”Kesal Arvella. Karena ia tidak melihat ada siapa pun yang mengejar taxy yang mereka tumpangi.
“KAU BERBOHONG YA!”kesal Arvella.
Gallen hanya mengangguk pelan sembari menatap wajah kesal Arvella.
“Ah, ya tuhan! Kenapa aku bodoh sekali!”ujarnya.
“Dan kau baru menyadarinya?”decak Gallen.
Arvella mendengus, lalu mengalihkan tatapannya ke arah lain. Gallen benar-benar selalu saja membuat diriny terlihat bodoh.
Benar-benar menyebalkan!
“Lagi pula jika aku tidak berbohong, mana mungkin kau mau pergi bersama ku”sahut Gallen yang membuat Arvella kembali menatap ke arahnya.
Arvella baru menyadari jika wajah pria itu masih sangat memar, dan Arvella yakin jika pria itu tidak mengobatinya dengan benar. Hingga tanpa sadar, tangan Arvella bergerak membelai wajah penuh memar milik Gallen, namun Gallen menghindar. Sepertinya pria itu takut Arvella melakukan hal yang sama seperti kemarin.
“Jangan menyentuhku!”ujarnya dengan nada dingin tak terbantahkan.
__ADS_1
Arvella berdehem, menggerakkan tangannya kembali memegang clutch bag miliknya. Lalu setelah itu keduanya sama-sama terdiam dengan pikiran yang berkecamuk di benak masing-masing.