Arvella Danniells

Arvella Danniells
Eps. 20


__ADS_3

“Awwss--pelan-pelan Arvella!”ringis Gallen.


Arvella berdecak. “Kau ini cerewet sekali! Aku sudah melakukannya dengan pelan-pelan Gallen!”sungut Arvella.


“Tidak Arvella! Kau melakukannya dengan kasar!”sungut Gallen.


Arvella berdecak, kembali meletakkan kotak obat yang barusan berada di tangannya itu dengan kasar ke atas meja. Lantas gadis itu kembali menatap Gallen yang berada di hadapannya dengan kesal. Oh Ayolah, siapa yang merasa tidak akan kesal jika mengobati orang yang super cerewet seperti Gallen? Pria itu benar-benar sangat cengeng, dan juga terlalu banyak bicara.


“Kalau begitu obati saja lukamu sendiri. Lalu aku akan pulang!”ujar Arvella.


Gallen melotot, memberikan tatapan kesalnya kepada Arvella. Ck, ayolah. Kenapa Arvella selalu meminta untuk pulang? Sedangkan Arvella hanya mengangkat sebelah alisnya seolah menantang Gallen.


“Aku tidak akan mengizinkanmu pergi!”


Arvella kembali mengangkat sebelah alisnya “Kenapa? Ayah pasti sedang mencariku!”


Gallen menggerakkan bibirnya tanpa suara, mengikuti ucapan Arvella barusan. Yang membuat Arvella sudah sangat kesal setengah mati itu melemparkan bantalan sofa ke wajah Gallen yang penuh dengan memar.


Gallen mendengus, sembari melempar bantalan sofa itu ke arah lain. “Persetan dengan ayahmu! Aku akan mengurungmu seharian disini jika perlu!”ujar Gallen yang dengan santainya menaikan kedua kakinya ke atas meja.


Arvella benar-benar sudah kesal setengah mati. Ah, ya tuhan. Kenapa Gallen sangat menyebalkan sekali?


“Kau bahkan cemburu kepada ayahku sendiri? Kau ini aneh sekali.”


“Siapa yang cemburu? Aku hanya tidak ingin Ryan terlalu memonopoli dirimu!”


“Itu sama saja namanya kau cemburu kepada ayahku”


“Aku tidak cemburu!”ketus Gallen.


Arvella mendengus, dasar pria menyebalkan.


“Kenapa diam?”tanya pria itu.


'KARENA KAU SELALU MEMBUATKU EMOSI, BODOH!' sungguh rasaanya Arvella ingin berteriak di hadapan wajah pria itu. Namun rasanya percuma saja pria tu akan semakin membuatnya kesal.


Arvella menghela napas lelah, rasanya percuma saja berdebat dengan pria itu. Toh dirinya tetap akan kalah jika melawan pria itu.


“Aku lapar!”dalihnya.


Pria itu mendengus, kemudian beranjak dari posisinya. “Duduk disana. Aku akan membuatkan makanan untukmu! Anggap saja sebagai permintaan maaf karena aku sangat cerewet ketika kau mengobati lukaku”ujarnya.


Arvella berdecak “Hari ini kau terlalu banyak meminta maaf!”


Pria itu mengangkat bahu acuh, kemudian meninggalkan Arvella sendirian di ruang tamu. Arvella benar-benar baru mengetahui jika Gallen benar-benar memiliki sifat asli yang sangat menyebalkan dan---possessif. Pria itu bahkan cemburu kepada ayahnya sendiri? Astaga!


Arvella terkekeh kecil, kemudian beranjak pergi menyusul langkah Gallen. Arvella tersenyum melihat pria yang barusan beradu mulut dengannya itu sedang berkutat dengan beberapa sayur dan ikan yang sedang ia olah. Satu lagi fatkta tentang Gallen yang baru ia ketahui, pria itu adalah pria romantis.


Gallen sedikit tersentak ketika tubuhnya di peluk dari belakang. Tanpa ia menoleh pun ia sudah tahu siapa yang sedang memeluknya itu.

__ADS_1


“Sudah tidak marah lagi eh?”


Arvella menggeleng, “Memangnya siapa yang sedang marah?”ujar gadis itu sembari memperhatikan Gallen yang sedang sibuk memasak tersebut.


Gallen mengecilkan apinya, kemudian menoleh ke arah samping. Mengecup bibir mungil Arvella yang membuat gadis itu terkekeh kecil.


“Aku tahu semua tentangmu sweetheart…”


Arvella kembali tersenyum lebar mendengar panggilan itu dari mulut Gallen. Dulu ia hanya bisa bermimpi dan membayangkan hal ini terjadi. Namun sekarang, semuanya benar-benar telah terjadi. Dan semuanya lebih indah dari khayalannya selama ini…


🍃🍃🍃🍃🍃


“Jangan merusak moodku Greyson!”dengus Gallen yang sedang berbicara dengan Shavira di telepon.


Arvella tidak ingin menjadi penguping, sekarang ia sedang sibuk menyantap makanan di hadapannya dengan lahap. Dan tentu saja terasa sangat enak dan pas di lidah. Arvella baru tahu jika Gallen memiliki hobby memasak. Dan bahkan rasa masakannya benar-benar sangat lezat.


Arvella kembali menyuapi Gallen yang sedang menunggu suapan darinya sambil sesekali menjawab ucapan Shavira.


Gallen benar-benar tidak ingin kehilangan satu moment pun bersama Arvella.


“Kau bisa mengurus itu semua. Jangan ganggu aku. Anggap saja aku sedang berlibur!”ucapnya lagi. Lalu sesaat kemudian Gallen menjauhkan ponselnya dari telinga.


Well, Arvella dapat menebak, jika saat ini Shavira sedang meneriaki kekasihnya. Kekasihnya eh? Arvella terkekeh pelan, sekarang Ia sudah memiliki kekasih rupanya. Dulu rasanya sangatlah mustahil sekali baginya untuk mendapatkan hati seorang Gallen, jangankan untuk mendapatkannya, membuatnya menoleh kepadanya saja rasanya tidak mungkin.


Arvella masih memperhatikan Gallen yang nampak sibuk menghadapi ocehan Shavira dari ujung telepon, Arvella tidak mengerti bagaimana bisa perasaan cintanya semakin membesar kepada pria itu, bahkan ketika pria itu menyakitinya, perasaan cinta di hatinya tidak berkurang sedikitpun kepada pria itu.


“Aku bersumpah, setelah ini aku akan membakarmu hidup-hidup Greyson!”umpat pria itu, sebelum akhirnya ia memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.


“Kau mau lagi?”tanya Arvella sembari menyodorkan sesendok nasi yang telah di campur dengan ikan.


Pria itu mengangguk, dan menerima suapan dari Arvella. “Kenapa kau masih bertahan berteman dengan Shavira?”keluh pria itu.


Arvella mengunyah makanan di mulutnya sebentar, kemudian beralih menatap wajah Gallen yang terlihat sedikit stress. “Aku nyaman berteman dengannya Gallen..”sahutnya.


“Kau tahu? Gadis itu benar-benar berisik.”ketus Gallen.


Arvella terkekeh pelan, kembali menyuapi Gallen yang masih saja kesal karena Shavira. Gallen benar, Shavira memang berisik. Tapi jika bukan karena gadis itu, mungkin dari dulu dirinya sudah nekat bunuh diri karena semua bully-an yang di lakukan oleh Audrey dan yang lainnya.


“Kau melamun?”tanya Gallen. Pria itu menyentuh hidung Arvella dengan sedikit keras. “Apa yang sedang ada di pikiranmu heh?”.


Arvella menggelengkan kepalanya, “Tidak ada Gallen, aku hanya sedang flashback sedikit”ujar gadis itu.


“Tentang apa? Jangan bilang tentang William!”ketus pria itu


Arvella terkekeh, lalu kemudian ia menepuk keningnya. Ya tuhan! Pasti saat ini pria itu dan ayahnya sedang panik mencari dirinya.


“Gallen, bisa kau antarkan aku pulang?”pinta Arvella.


Gallen kembali berdecak, “Kenapa kau selalu meminta ingin pulang?”

__ADS_1


“Gallen ku mohon. Ayahku dan William pasti sedang panik sekarang”ujar Arvella yang tanpa sadar telah membuat Gallen merasa marah. Selalu saja William, William dan William yang ada di pikiran gadis itu.


“Gallen…kumohon…”


“Kau menyukai William?”


“Apa?”Arvella terkejut dengan pertanyaan yang baru di lontarkan oleh pria di hadapannya itu. Bukankah pria itu sudah tahu apa isi hatinya? Lantas kenapa pria itu menanyakan hal yang---aneh seperti barusan.


“Kau selalu mengkhawatirkannya, kau bahkan sama sekali tidak berniat untuk membatalkan pertunanganmu dengannya!”ucap Gallen sinis yang membuat perasaan Arvella terluka.


“Kau meragukanku?”Arvella kemudian berdecih dan terkekeh hambar. “Setelah apa yang telah ku lakukan selama ini kepadamu, kau masih meragukanku? Jadi semua itu belum cukup untuk membuktikan seberapa besar aku mencintaimu?”


Arvella tidak percaya Gallen masih saja meragukan cintanya, setelah apa yang telah ia lalui selama dua tahun untuk mendapatkan dirinya. Dan pria itu masih saja meragukannya?


Arvella benar-benar tidak percaya!


Melihat belum ada respon apa pun dari pria itu, Arvella segera beranjak dari tempatnya, kemudian meraih clutch bag miliknya yang berada di ruang tamu. Dengan airmata yang sudah berderai, Arvella meninggalkan rumah milik Gallen tanpa pamit.


“William---aku ingin pulang…”ujarnya setelah ponselnya terhubung dengan William.


“Ya tuhan Arvella! Apa yang terjadi? Aku akan menjemputmu. Kirimkan aku dimana lokasi mu sekarang!”


Arvella benar-benar tidak mengerti dengan pikiran seorang Gallen Harisson, ia benar-benar tidak percaya jika pria itu masih saja meragukan cintanya. Belum cukupkah semua pengorbanan yang telah ia lakukan?


Arvella terkekeh pelan, harusnya ia dapat menebak jika Gallen hanya ingin mempermainkannya. Dan dirinya tetap saja bodoh dan mempercayai semua bualan yang keluar dari mulut pria itu.


Arvella mencoba berontak ketika Gallen memeluk tubuhnya dari belakang sembari menggumamkan kata maaf berkali-kali. Tapi memang pada dasarnya kekuatan wanita lebih lemah dari laki-laki, dan Arvella kalah. Gallen tahu dirinya bersalah, harusnya ia tidak boleh meragukan sebesar apa Arvella mencintainya, dan menuduh Arvella mencintai pria lain selain dirinya.


Dirinya hanya terlalu takut perasaan Arvella berubah kepadanya. Ia hanya terlalu takut untuk di tinggalkan Arvella lagi…


“Lepaskan aku Gallen!”teriak Arvella.


“Aku minta maaf, sungguh aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk meragukan perasaanmu. Aku---aku hanya…”


‘Terlalu pengecut untuk mengakui semuanya…’batin Gallen


“Aku ingin pulang…”lirih Arvella.


“Kalau begitu aku akan mengantarkanmu pulang”sergah Gallen.


Arvella menggeleng, “William akan segera dat---Akh!!” Arvella memekik ketika tiba-tiba saja Gallen sudah membopong tubuhnya di pundaknya.


“Turunkan aku Gallen!”teriaknya.


“Kau bilang kau ingin pulang!”ujar Gallen.


“Iya! Tapi---"


“Aku akan mengantarmu pulang sekarang!”sergah Gallen

__ADS_1


__ADS_2