Arvella Danniells

Arvella Danniells
Eps. 2


__ADS_3

Tidak ada yang berubah dari Gallen Harisson, pria itu masih tetap bersikap acuh tak acuh pada Arvella. Jangankan menyapanya, melihatnya saja pun ia enggan. Setiap kali mereka berpapasan di lorong, Gallen selalu saja memutar arah agar tidak berpapasan dengan Arvella. Mungkin benar apa kata Shavira, dirinya memang sangat bodoh dengan masih mengharapkan Gallen hingga sekarang.


Ia rela bersabar ketika lagi-lagi pria itu membuang semua makanan pemberiannya itu ke tempat sampah. Selalu saja seperti itu, namun bukan Arvella namanya jika ia menyerah begitu saja. Bahkan gadis itu dengan tidak tahu malunya kembali muncul di hadapan Gallen sembari menunjukkan kotak makan  yang kali ini berisikan beberapa potong Red Velvet buatannya di hadapan wajah Gallen.


“Lihat!! Aku pagi ini membuat Red Velvet untukmu. Shavira juga bilang jika Red Velvet ini sangat---"


Lagi...


Arvella kembali merasakan sakit lagi, ketika lagi-lagi Gallen mengabaikannya dengan melewati tubuh Arvella begitu saja. Namun Arvella bukanlah sosok yang mudah putus asa bukan ?


Alih-alih kecewa dan menangis karena di abaikan Gallen, justru Arvella malah berteriak sembari mengacungkan kotak tersebut, seolah Gallen akan berbalik menatapnya.


“AKU AKAN MENYIMPANNYA DI MEJA MU YA!!” teriaknya. Tidak ada sahutan dari Gallen, sampai yang dapat ia lihat hanya punggung pria itu yang mulai menjauh dari pandangannya.


Arvella sedikit terkikik dengan tingkahnya ini, Astaga! Dia memang sangat konyol sekali.


“Wah! Kau benar-benar tidak punya urat malu ya... Gallen sudah mengabaikanmu selama 2 tahun ini dan kau masih gigih saja untuk meluluhkan hati Gallen. Ck, ck, ck, kau ini! Harusnya kau sadar diri, manusia kuno sepertimu tidak pantas bersanding dengan Gallen...” ujar Audrey dengan gaya sombong seperti biasanya. Gadis itu berdiri di hadapannya dengan Angkuh, sembari memainkan rambut panjangnya yang di cat warna blonde itu.


Arvella hanya mengabaikannya, dia malas berurusan dengan orang seperti sepupunya itu. Yeah, Audrey dan Arvella sudah bermusuhan sejak lama. Bahkan Audrey sering mengatakan jika ia dan Arvella sudah bermusuhan sedari di dalam kandungan ibu mereka. Konyol bukan ?


Audrey yang merasa kesal karena terus diabaikan oleh Arvella merasa geram, ia menjambak rambut Arvella yang di kucir kuda itu dengan keras, hingga kepala Arvella terjungkal ke belakang. Arvella benci ketika Audrey melakukan hal ini, mempermalukan dirinya di depan umum. Tapi ia bisa apa?


“Aku sudah mengatakan padamu untuk menjauhi Gallen. Karena yang pantas bersanding dengannya hanya. HANYA AKU ! Kau dengar itu!” teriaknya yang lagi-lagi membuat mereka menjadi pusat perhatian.

__ADS_1


Semua orang tampak mengejek Arvella, dan mendukung ucapan Audrey bahwa Gallen Harisson hanya pantas bersanding dengan dirinya. Bukan dengan Arvella si gadis kuno yang sangat menyedihkan dimata mereka. Bahkan kini Arvella merasakan beberapa orang dari mereka mulai melempari dirinya dengan kertas dan  menyirami dirinya dengan air hingga seluruh tubuhnya terasa basah kuyup. Belum lagi kepalanya mulai berdenyut akibat tarikan tangan Audrey yang semakin kuat. Matanya sudah mulai berkaca-kaca karena lagi-lagi ia merasakan hal seperti ini, Jangan menangis Arvella... Jangan menangis...


Namun usahanya nihil, kali ini ia menangis. Hingga yang terakhir ia lihat adalah kotak berisi Red Velvet itu di ambil dan di hancurkan ke kepalanya dengan cara yang benar-benar membuatnya menangis semakin keras. Ia telah berusaha membuatnya dengan susah payah untuk Gallen, pria yang ia cintai. Tapi mereka menghancurkannya begitu saja dengan cara yang tidak pernah ia pikirkan.


Seseorang tolong aku...


Gadis itu terus menangis, sembari terus memohon pada tuhan agar mengirimkannya seseorang sebagai penyelamatnya hari ini.


Hingga kemudian tangisnya mendadak terhenti ketika merasakan seseorang memeluk tubuh lemahnya, ia tersenyum karena Tuhan mendengar doanya,  hingga hal terakhir yang dapat ia dengar adalah :”TIDAK BOLEH ADA YANG MENYAKITI ARVELLA LAGI. KARENA HANYA AKU YANG BOLEH MELAKUKANNYA”


Arvella tahu itu suara milik Gallen Harisson, pria yang ia cintai itu telah menyelamatkannya dari amukan para pendukung Audrey yang menginginkannya bersanding dengan Gallen. Dan setelah itu semuanya menjadi gelap.


🍃🍃🍃🍃🍃


Bukan hanya Arvella yang terkejut dengan perlakuan Gallen beberapa menit lalu, tapi Audrey dan semua orang juga merasakan hal yang sama. Bagaimana bisa seorang Gallen yang membenci Arvella setengah mati itu malah menolong Arvella ? Bahkan pria yang anti pada Arvella itu malah memeluk tubuhnya, belum lagi ketika Arvella pingsan di tempat, Gallen sendiri yang membawanya ke ruang kesehatan. Ini sungguh bukan Gallen sekali, Gallen tidak pernah berlaku seperti itu pada gadis mana pun, termasuk Audrey sekalipun, Gallen cenderung dingin dan sulit untuk disentuh.


Di balik keterkejutannya, Audrey mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia tidak suka dengan apa yang tadi ia lihat. Ia tidak suka jika Arvella benar-benar mampu menaklukkan pria sedingin Gallen.


Sialan! Ia tidak boleh kalah dengan gadis kuno itu.


Gallen di sana, berdiri pada daun pintu ruang kesehatan yang tertutup. Sedang matanya tak berhenti memperhatikan petugas kesehatan yang sedang menyeka wajah Arvella dengan handuk basah. Sebenarnya Arvella memiliki wajah yang manis, dengan rambut hitam panjang yang sering di kucir kuda. Arvella juga bukan orang yang famous di kampus, dia hanya gadis biasa dengan kemeja panjang dan sweater rajut yang di padukan dengan celana jeans panjang yang sudah jadi ciri khasnya, serta kacamata minus yang selalu setia menemani.


Arvella juga bukan berasal dari sebuah keluarga berada, ia hanya gadis yang mendadak terkenal karena ungkapan cintanya pada Gallen yang menggemparkan seisi kampus ini. Gallen tidak mengerti mengapa ada gadis sebodoh Arvella ini? Gadis yang tetap bertahan untuk meluluhkan hatinya selama 2 tahun ini.

__ADS_1


“Dasar bodoh! Kenapa dia tidak berteriak minta tolong, atau berlari dari sana? Setidaknya dengan begitu ia akan selamat” desisnya, masih dengan mata yang masih menatap ke arah petugas kesehatan itu yang saat ini sedang memasangkan plester di kening Arvella.


Tiba-tiba pintu ruangan kesehatan terbuka, dan Gallen yang tengah berdiri di balik pintu itu sedikit terhuyung karena dorongan keras.


PLAK!


Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi kirinya, Gallen menatap wajah orang yang baru saja menamparnya. Pelakunya adalah orang yang sama dengan yang kemarin menamparnya.


Siapa lagi jika bukan Shavira Greyson, mengingat hanya gadis itu yang berani melakukan apa pun terhadapnya, ia berdiri di hadapannya, dengan mata yang berkaca-kaca. Sedang matanya menatap dirinya dengan kebencian yang sangat membara.


“Sekarang apalagi yang kau lakukan pada Vella? Apalagi?” lirih Shavira, kali ini ia benar-benar menangis di hadapan Gallen.


Gallen masih bergeming dengan kedua tangan yang mengepal keras. Ia tidak pernah suka jika melihat Shavira menangis, bahkan sedari kecil Gallen tidak pernah tahan jika melihat Shavira menangis. Tapi kali ini, Shavira menangis bukan karena orang lain. Melainkan karena dirinya.


“Shavira...”Gallen mencoba memanggil namanya, namun Shavira mengabaikannya dengan berlari ke arah Arvella yang masih terbaring di brankar dengan keadaan yang sungguh menyedihkan, sweater rajut berwarna abu itu sudah tampak lusuh dan kotor, belum lagi banyak tumpahan cream dan bubuk-bubuk kue Red Velvet berada di rambutnya, ada dua plester di keningnya, sedang matanya terlihat sangat sembab. Shavira yang sudah menangis itu akhirnya menumpahkan tangisnya  lagi di sana.


“Shavira...”Gallen kembali memanggil namanya, namun kali ini Gallen berada di samping Shavira.


“INIKAN YANG KAU INGINKAN? KAU PUAS? ARVELLA  SUDAH SANGAT MENDERITA SEKARANG!! DAN ITU KARENA DIRIMU! SUDAH PUAS SEKARANG!?”


Gallen merasa seperti ada sesuatu yang meremas hatinya dengan kuat, rasanya sungguh sangat sakit melihat Shavira seperti ini, mendengar Shavira berteriak dengan nada setinggi itu di hadapannya. Tidak, Shavira tidak boleh membencinya hanya karena hal ini. Lagi pula yang terjadi pada Arvella adalah kesalahannya sendiri, Gallen sudah memperingatkannya untuk menjauh bukan? Tapi gadis itu malah tidak menggubrisnya sama sekali.


Semua ini karena Arvella, hubungan di antara mereka berdua mulai merenggang karena Arvella, dan sekarang Shavira juga membencinya karena Arvella.

__ADS_1


Ya! Semua karena gadis bodoh itu.


Gadis kuno itu benar-benar pembawa sial baginya.


__ADS_2