
“Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di antara kalian berdua!”ujar William yang sudah menyambut Arvella dengan tatapan usilnya.
“Jadi yang di maksud dengan urusan penting barusan adalah pria itu?”goda William.
Arvella hanya tersenyum lebar, kemudian memukul lengan William dengan clutch bag miliknya. Kemudian berjalan menuju kamarnya dengan William yang membuntutinya. Awalnya William sangat heran, ketika Arvella memgirimkannya sebuah pesan bahwa dirinya tidak perlu menjemput Arvella. Untuk itu ia memilih memutuskan tetap pergi ke alamat yang gadis itu kirim sebelumnya. Dan kemudian ia mengerti jika gadis itu sedang di antar pulang oleh pria pujaannya—Gallen Harisson.
“Jadi sekarang kau mengkhianatiku eh?”ujar pria itu.
Arvella hanya mengangkat bahunya dengan acuh, kemudian mengabaikan kehadiran pria itu yang sedang bersandar pada daun pintu kamarnya. Dirinya terlalu senang hari ini.
“AKU BAHAGIA. AKU BAHAGIA WILLIAM!”teriaknya. Membuat pria yang masih bersandar pada daun pintu itu terkekeh kecil. Arvella memang selalu bertingkah berlebihan hanya karena hal kecil.
Oh tuhan…
Bahkan gadis itu sekarang sedang berhambur memeluk tubuhnya. Jangan lupakan teriakan-teriakan penuh kebahagiaan itu yang membuat telinga William benar-benar berdengung.
“Kemarilah, duduk di atas tempat tidurku William!”titah gadis itu setelah melepaskan pelukannya.
“Ayo William!”ujarnya lagi.
__ADS_1
Dan yang selanjutnya terjadi adalah, William hanya bisa menuruti keinginan gadis itu. Jika tidak maka ia akan memastikan jika besok telinganya sudah benar-benar tidak berfungsi lagi.
“Jadi apa yang ingin kau ceritakan?”tanya William. Gadis itu tersenyum lebar, lalu kemudian menggenggam kedua tangan William dengan erat.
“Gallen—ternyata selama ini mencintaiku. GALLEN MENCINTAIKU WILLIAM!!”Pekiknya.
“Ck, kau ini berisik sekali. Lagi pula telingaku belum tuli!”ketus William yang membuat Arvella mencebikan bibirnya.
Gadis itu kemudian bersidekap, sembari menatap wajah William dengan kesal. “Aku menyesal bercerita kepadamu! Pergi sana!”ketus gadis itu.
William mendengus, “Ck, kau ini tunangan macam apa heh? Membicarakan pria lain di hadapan calon tunanganmu sendiri?”decak William.
Mata Arvella melotot, kemudian seperti mendapat sebuah ide mendadak, gadis itu memaksa William turun dari atas tempat tidurnya dengan cara menarik lengan pria itu. Lalu setelah itu Arvella menyeret pria itu keluar dari kamarnya
“Ke ruangan Ayah, ada sesuatu yang ingin ku bicarakan dengan kalian berdua!”
William hanya mampu menggelengkan kepalanya, meluhat tingkah gadis itu. Arvella memang benar-benar sangat unik dan antik.
“Ayahmu sudah tau semuanya”ujar William yang membuat langkah Arvella yang sedang menuruni anak tangga itu terhenti.
__ADS_1
“Apa? Darimana Ayah tau?”tanya gadis itu yang sudah menghadap ke arah William.
“Karena Ayah tidak pernah sedikitpun meninggalkanmu!”
Arvella menoleh ke belakang, dan menemukan sosok Ryan berdiri di belakangnya.
“Ayah…”
Arvella benar-benar terharu mengetahui bahwa selama ini ayahnya selalu mengawasi dirinya dan sangat mengkhawatirkannya.
Ryan tersenyum menerima pelukan hangat dari putrinya, putri kesayangan, dan putri satu-satunya tersebut.
“Jadi aku gagal menjadi menantumu Mr. Danniells?”ujar William yang membuat Ryan dan Arvella terkekeh bersamaan.
“Aku minta maaf soal itu William, keputusan tetap berada di tangan putriku”ujar Ryan sembari mengecup pucuk kepala Arvella yang kini berada di sampingnya.
“Ah, Astaga. Kenapa nasibku seperti ini?”
“Ekspresimu benar-benar berlebihan William!”sungut Arvella.
__ADS_1
Alih-alih mendengarkan ucapan Arvella, William malah semakin berekspresi sesedih mungkin yang membuat Ryan tertawa geli, dan Arvella yang memukul lengan William dengan keras. Dan membuat pria itu tertawa gemas sembari merangkul gadis itu dan mengacak tatanan rambut Arvella yang rapi itu menjadi berantakan.
“WILLIAAAAAM!! AKU MEMBENCIMU!!”teriak Arvella. Yang lagi-lagi membuat Ryan dan William tertawa keras.